로그인Di pelabuhan. Sehari setelah kepergian Iris dari pelabuhan, pagi itu suasana di sana tampak lebih sibuk dari biasanya. Silas belum kembali sejak pergi bertemu dengan menteri. Sementara Dominic yang telah izin dari kemarin, akhirnya baru bisa kembali pagi ini. Kata sebentar baginya bukan pergi satu atau dua jam, tapi bisa sampai belasan jam. Ekspresi kusut terlihat di wajah tuanya saat dia berjalan menuju rumahnya. Ada lingkaran hitam di bawah mata. Menunjukkan jika Dominic mengalami gangguan tidur. Hingga telinganya nyaris tidak mendengar atau merespons panggilan anak buahnya sendiri. Langkahnya gontai sambil sesekali dia mengecek sesuatu di ponselnya. Tidak ada penampilan eksekutif yang rapi. Penampilan dan rambutnya tampak berantakan. Sampai sebuah pesan masuk dari Silas sempat menghentikan langkahnya. 'Jangan tinggalkan pelabuhan. Tetaplah tenang.'Perintah singkat tanpa penjelasan seperti biasa. Dominic dengan wajah lelah dan setengah kesal, hanya mendengkus."Anak ini. Bagai
Pagi itu, Iris telah bangun lebih dulu dibanding Lona. Dia telah selesai menyiapkan sarapan dengan beberapa bahan yang ditemukannya di kulkas. Membersihkan apartemen, termasuk mengecek jendela dan area balkon. Dia terlalu sibuk. Hingga tidak menyadari Lona telah keluar kamar dan berdiri beberapa langkah di belakangnya. "Apa yang sedang kau lakukan di sana?"Iris yang sedang fokus memeriksa jendela, seketika terkejut. Dia menoleh cepat menatap Lona. "Ah, kau. Aku hanya memeriksa apakah jendela ini kokoh atau tidak. Apakah kuncinya ini masih berfungsi atau tidak?"Perkataan Iris terdengar aneh di telinga Lona. Kerutan samar terlihat menghiasi dahinya. Dia mendekat dengan senyum kecil. "Tentu saja kokoh. Pertanyaanmu aneh sekali."Iris menghembuskan napas kasar. "Aku hanya takut ada orang asing yang memanjat masuk.""Orang asing? Iris, aku sudah tiga tahun di apartemen ini. Meski tempat ini murah, tapi hampir tidak ada kejadian seperti itu."Lona tertawa kecil sembari menggeleng, seol
Beberapa saat setelah luapan kekesalan Iris dan pelukan menenangkan Lona, mereka kini duduk satu meja sambil makan malam bersama. Lona tidak lagi membahas soal kejadian sebelumnya atau mengomeli Iris lagi. Sedangkan Iris, dia kini menyantap makanannya dengan lahap. Menikmati makanan itu seperti orang yang belum makan tiga hari. Sampai Lona menatapnya sedikit aneh. "Pelan-pelan, kau seperti belum makan seminggu."Iris tidak berhenti mengunyah. "Masakanmu enak, Lona. Aku merindukannya.""Ckck, apa itu pujian atau kau memang lapar?"Iris tidak menjawab. Dia hanya nyengir. Tak dipungkiri, dia memang kelaparan setelah melarikan diri dari pelabuhan. Iris naik kendaraan umum dari sisa perhiasan yang menempel di tubuhnya, dan uang yang tertinggal di saku bajunya. Sisanya, Iris harus jalan kaki saat berpindah-pindah untuk mengirit ongkos perjalanan yang memang jauh. Beruntung, dia bisa sampai tanpa harus berjalan kaki berpuluh-puluh kilometer. "Ngomong-ngomong, kau sudah kembali, kau akan
"Aku senang kau masih di sini, Lona."Iris mendongak. Menatap langit-langit ruangan yang tak asing dalam ingatannya. Dia berjalan menyusuri apartemen sederhana temannya. Sementara Lona muncul sambil membawa nampan yang di atasnya terdapat segelas minuman. Dia meletakkan nampan itu di meja sambil mengamati punggung temannya yang dulu tiba-tiba menghilang. "Aku masih tidak percaya kau ada di sini."Iris membalikkan badannya saat mendengar suara temannya. Dia tersenyum kecil. Senyum yang tampak lega, yang nyaris tidak pernah terlihat saat bersama Silas. Kakinya mendekat. Melangkah dan duduk di sofa tua, di mana Lona juga duduk di hadapannya. Iris mengambil minuman itu tanpa sungkan. Menikmati kembali sesuatu yang pernah menjadi bagian dirinya dulu. "Aku juga. Aku... aku tidak menyangka akan bertemu denganmu lagi."Suaranya melemah. Iris meletakkan gelasnya kembali. Menatap mata Lona yang tidak menunjukkan senyum sama sekali sejak tadi. Ekspresi temannya tampak serius dan sedikit te
Suara memelas Iris membuat Viviane dn Sebastian saling memandang. Keduanya tampak berkomunikasi lewat gerakan mata. Menatap tubuh Iris yang menunduk pasrah. Tampak kecil dan rapuh, seolah tidak memiliki harapan selain bebas. "Pergilah." Satu kalimat singkat keluar dari bibir Vivienne. Memecah kesunyian dan ketegangan di ruang tengah. Hingga ucapan itu berhasil menyentak Iris. Memaksanya kembali mengangkat wajah. Mata Iris membulat. Ada ketidakpercayaan yang sekilas terlihat. Dia mematung. Namun sebelum satu kata keluar dari mulutnya, Sebastian menyela, "Jangan gegabah, Vivienne. Silas tidak akan senang. Iris juga saksi kejadian.""Ada banyak saksi di sana, bukan hanya dia dan Silas tidak ada sekarang," jelas Vivienne sambil melirik suaminya yang tidak setuju. Ekspresi gusar terlihat di wajah keriput Sebastian. "Vivienne—""Apa yang kau tunggu? Kau ingin bebas kan? Pergilah sekarang."Iris terperanjat saat tatapan Vivienne tertuju kembali padanya. Wanita paruh baya itu mengambil m
Ruang tengah diselimuti hawa dingin. Bukan karena AC yang menyala, tapi karena tatapan dua orang yang kini duduk di hadapan Iris. Tidak ada siapa pun lagi di rumah itu. Hanya mereka bertiga. Tubuh Iris sedikit kaku di sofa. Dia nyaris tidak bergerak, sosial gerakan sedikit saja, bisa membuatnya mati. Namun diam-diam, matanya melirik sepasang suami istri paruh baya yang tidak asing. Orang yang ingin Iris hindari sejauh mungkin dan berharap tidak bertemu lagi. Sebastian dan Vivienne. Mereka adalah orang tua Silas yang sebelumnya Iris kira adalah Silas dan Dominic. Sialnya karena mereka telah melihatnya, dia harus terjebak untuk menjamu mereka. Meski sejak lima belas menit berlalu, belum ada sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Kedua orang di depannya juga tidak membuka mulut. Hanya diam menatap menatapnya dengan penuh penilaian. Iris tidak tahu niat mereka, tapi kini, dia merasa seolah duduk di atas kursi panas, di bawah tuntutan hakim. Hingga untunglah, terdengar suara langka
Suasana mendadak hening. Ketukan sepatu Silas berhenti. Elliot juga tak bersuara. Hanya detak jam tangan yang terdengar dan jelas, ini bukan keheningan yang Iris inginkan. Iris menunduk semakin rendah. Tak berani mengangkat kepalanya untuk melihat reaksi Silas atau Elliot, tapi matanya melihat seb
"A-aku, aku tidak akan m-mengatakan apa pun. Aku akan tutup mulut. Tolong, Tuan."Suara Iris terdengar memelas dan gagal, percampuran antara rasa putus asa dan takut. Dia bersimpuh di bawah kaki Silas dengan tubuh gemetar hebat. Menjadi saksi pembunuhan seorang pria asing, bukanlah sesuatu yang dia
Langkah Iris terhenti. Dia mematung di tempat dan berkedip beberapa kali. Menatap ke depan sekali lagi untuk memperjelas penglihatannya yang buram akibat hujan. Mobil yang tak asing dan siluet seorang pria. Saat Iris mencoba memicingkan mata, dia semakin yakin itu adalah Silas. Pria itu berdiri be
"Kenapa wajahmu terus ditekuk seperti itu, Iris? Apa ada sesuatu yang terjadi?"Iris menoleh pada seorang pria yang merupakan barista sekaligus rekan kerjanya. Mereka telah selesai bekerja dan akan pulang karena shift kedua akan segera datang.Sekarang harusnya menjadi saat-saat yang menyenangkan b







