Share

6. Tania Di rawat

Author: Ria mustika
last update Petsa ng paglalathala: 2023-02-17 10:17:45

"Bapak, boleh ikut saya sebentar, ada yang mau saya jelaskan." 

"Baik, Pak."

Aku membuka mataku perlahan, kulihat di sekeliling tempatku terbaring lemah ini begitu asing bagiku. Bau obat-obatan pun langsung ditangkap oleh indera penciuman. Aku menatap tanganku yang sudah terpasang infus. 

 Kupijat pelan pelipisku dengan tangan, kepalaku terasa sedikit pusing. 

"Mba, Mbak sudah sadar?" tanya Arini. Arini mendekatiku. Aku menoleh dan rasa sakitku kembali tercabik-cabik. Dia begitu sangat  perhatian dan lembut padaku. Apa karena dia belum mengetahui aku telah mengetahuinya. Apa dia hanya berusaha untuk tetap profesional dengan pekerjaannya sebagai asistenku dan aku majikannya. 

Semua rasa berkecamuk di hatiku saat ini. Bulir bening yang kujaga agar tidak runtuh kembali keluar tanpa berpamitan terlebih dahulu. 

Arini ingin menghapus air mataku, aku menepisnya dengan menarik wajahku sedikit menjauh. 

Tangan Arini mengambang, lalu dia menariknya kembali dan dia tersenyum padaku. 

Tatapanku kosong padanya. Entah apa yang ingin aku katakan, semuanya seperti benang kusut yang sulit aku keluarkan satu kata pun. 

"Mbak butuh sesuatu?" tanyanya. 

Aku hanya diam, tidak mampu menjawab satu kata pun. 

Bukan tidak mampu, rasanya hati ini sangat sakit. 

Melihat aku tidak meresponnya, dia kembali berkata. "Tadi, aku menemukan, Mba pingsan di kamar mandi saat aku mau beresin kamar, Mba. Aku langsung telpon Mas Reza untuk pulang. Aku khawatir Mba kenapa-napa?" ucapnya lembut. 

Hatiku berkedut nyeri mendengar penuturannya. 

Entah kenapa, mataku tidak bisa diajak kompromi. Bulir bening itu terus saja keluar  tak henti-hentinya. 

"Rin, aku mau tanya sama kamu, kamu jawab jujur  ya!" kataku. 

Dengan sekuat tenaga aku mencoba mengulas sedikit darinya. 

"Tanya apa, Mbak? Boleh, kok." 

Tidak sedikit pun ada kekhawatiran di wajahnya. Sudah sematang itukah rencananya untuk hadir di mahligai rumah tanggaku dan Mas Reza. 

"Apa kamu ha…." Ucapanku terhenti saat sadar ada yang masuk. 

Pintu kamar rawatku terbuka, Mas Reza muncul dari daun pintu. 

"Sayang, kamu sudah sadar?" tanyanya. Dia terlihat panik mendekatiku. 

Aku menarik nafas dalam, lalu membuang muka ke sembarang arah. 

Hatiku kembali tercabik-cabik. 

Aku sakit berhadapan di antara dua orang yang jelas-jelas mengkhianatiku.

Aku masih tetap tetap memilih diam. Hatiku benar-benar sakit saat dia masih saja peduli padaku. 

Entah apa arti semua ini. 

"Hei, kamu kenapa? Ngapain tadi kamu di kamar mandi begitu? Kamu ada masalah?" Mas Reza bertanya lembut seraya membelai wajahku. 

Aku ingin menolak, namun tidak bisa. Sebisa mungkin aku berusaha agar tidak menumpahkan airmataku di hadapannya. Biar aku simpan sendiri sakitku seperti apa, dia tidak perlu tau untuk itu. 

"Hei, kenapa diam saja? Kamu tau, kamu benar-benar bikin, Mas khawatir sama keadaanmu. Kamu cerita sama Mas kalau ada masalah, jangan seperti ini. Mas mohon sama kamu." Dia berkata sambil mencium tanganku. 

Rasa nyaman itu masih sama saat tangan ini digenggam olehnya. Hanya saja, sekarang kenyamanan itu diiringi rasa sakit yang ditorehkan diam-diam. 

Sekuat tenaga aku mencoba kuat, ternyata aku cukup lemah untuk itu. Air mataku akhirnya tumpah juga dari sarangnya. 

Aku melirik ke samping di mana Arini duduk di kursi dengan memangku tangannya di dada menatapku. 

Arini terlihat sedikit gelagapan saat saat mataku bertemu dengan matanya. 

Pandanganku beralih kepada laki-laki yang bergelar suami ini. Aku benar-benar tidak habis pikir kenapa mereka sehebat ini menyembunyikannya dariku. 

"Aku mau pulang, Mas. Aku nggak betah di sini."

"Jangan, Sayang, kondisimu lemah, kamu harus menginap dulu semalam di sini ya. Besok baru boleh pulang. Dokter belum kasih kamu  pulang juga kok." 

"Untuk apa? Aku baik-baik saja, kok. Aku nggak betah di sini, Mas. Di sini nggak akan baik-baik saja. Aku nggak bakal sembuh dirawat di sini. Dokter nggak akan bisa nyembuhin aku." 

"Kenapa kamu bilang begitu? Apa alasan Dokter nggak bisa sembuhkan kamu?" tanya Mas Reza, ia menatap bola mataku dalam. 

Cinta itu masih sangat terlihat nyata di sana, dan ke khawatirannya pun masih terlihat sangat tulus. Tapi, kenapa? Kenapa dia tega padaku. 

"Kamu pikir sendiri, Mas! kenapa aku bisa begini? Aku tidak akan sakit jika kamu tidak menyakiti aku."

"A-a--apa, Maksud kamu, Yang?" Mas Reza tergagap bertanya padaku. 

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Testpack di Kamar Pembantuku   perjodohan

    "Ka–kamu, mendengar semuanya?" Mas Reza tergagap. "Sa–sayang, Mas bisa jelasin. Ini semua tid…." "Aku berangkat dulu, Mas. Nggak usah dipikirkan. Jangan hiraukan aku. Kamu harus menjaga perasaan Arini dan juga Mama. Aku tidak apa-apa." Aku memotong ucapannya dan berlalu pergi meninggalkan mereka. "Sayang! Dengarkan, Mas dulu." Mas Reza mengejarku, aku mempercepat langkahku untuk segera keluar. "Reza! Kamu dengar Mama tidak?" teriak Mama. Aku terus mempercepat langkahku menuju mobil. Jangan tanya seperti apa aku saat ini. Sakit? Iya, sangat sakit! "Sayang, dengarkan Mas dulu." Mas Reza meraih tanganku yang hendak membuka pintu mobil. Dia mencekal kuat untuk menahannya. "Lepas, Mas. Aku mau ke toko.""Nggak! Kamu harus dengar dulu Mas bicara. mas nggak mau kamu keluar dalam keadaan begini.""Apalagi yang harus Mas jelaskan? Semua sudah jelas. Aku di sini bukan lagi perempuan yang berperan penting dalam hidupmu, Mas. Biarkan aku pergi menyibukkan diriku. Setidaknya dengan begi

  • Testpack di Kamar Pembantuku   17. menantu kesayangan

    Sentuhan hangat terasa menyentuh pundakku. Aku seperti berada diangan-angan di tengah kesadaran yang masih separuh dialam mimpi. "Sayang … kamu kenapa tidur di bawah?" Suara Mas Reza terdengar begitu lembut. Aku membuka mataku perlahan, pandangan pertamaku lansung menangkap sosok laki-laki bergelar suamiku tengah menatapku dengan senyumamanya. Senyuman yang selama ini sellau membuatku candu. "Maaf, Mas, aku tadi ketiduran. Ini sudah jam berapa?" tanyaku. Aku mengucek-ngucek mataku yangasih terasa berat. "Ini sudah jam dua pagi, Sayang. Yuk pindah keatas."Aku segera membuka mungkena yang masih melekat di badan. Kulipat lalu kutaruh di tempat biasa. "Sini, Sayang, Mas kangen sama kamu.""Iya, Mas, sama. Aku juga kangen sama suamiku." "Boleh, ya?" bahasa yang sudah kutahu kemana arahnya. "Hu um, boleh." Kami memadu kasih seolah rasa rindu yang lama tidak tertuntaskan. Di tengah kesunyian malam, hanya ada suaraku dan dia sesekali saing bersahutan merasakan kenikmatan. Tok! Tok!

  • Testpack di Kamar Pembantuku   16. Suara desahan

    Aku berjalan melangkah pelan menuju ruang keluarga. Ruang keluarga yang dulu hangat kini terasa begitu suram dan menyakitkan. Apa ada yang peduli dengan rasaku? Apa ada mereka meminta maaf atas apa yang mereka tutupi dibelakangku? Tidak.Aku duduk di kursi tunggal yang ada di sudut. Tepat di hadapanku Mas Reza dan Arini duduk di sana. Mas Reza seolah lupa dengan janjinya, dia hanya sibuk dengan Arini tanpa menghiraukan ada aku yang tersakiti menyaksikan mereka. Entahlah. Apakah dia sengaja atau tidak yang pasti aku sakit menyaksikan ini. "Tan. Mama mau bilang sama kamu di sini kalau sebenarnya Reza dan Arini ini mereka sud….""Aku sudah tau, Ma." Aku memotong cepat ucapan Mama. Mereka semua menatapku bergantian. "Oh, baguslah kalau kamu sudah tau. Jadi kita tidak lagi harus kucing-kucingan menutupi ini dari kamu. Jadi Mama Minta sama kamu, berbaik-baiklah pada Arini, ya. Karena bagaimana juga dia isteri Reza dan sekarang dia tengah hamil anak Reza, calon cucu Mama. Beruntungnya d

  • Testpack di Kamar Pembantuku   apa kamu cemburu?

    "Hm… Amar. Dia Amar." Aku menjawab dengan santai. Mas Reza segera menarik kursi dan duduk disampingku. Aku melihat wajah suamiku tidak bersahabat sama sekali menatapku dan menatap Amnar bergantian. Ammar segera mengulurkan tangannya pada Mas Reza untuk berkenalan. Kulihat Mas Reza seperti enggan menyambut tangan Ammar namun sepersekian detik Mas Reza menerimanya. "Kenalkan, saya Ammar.""Saya sudah tahu kalau anda itu namanya Amar. Kenalkan saya Reza. Suami Tania.""Oh, anda suaminya Tania Bro. Sorry ya bro, saya kira Tania belum punya suami," ujar Amar "Kalau dia belum punya kenapa?" tanya Mar Reza balik. "Maaf, Bro, saya mengagumi istri anda sejak pertama kali saya bertemu denganya." Mas Reza memberi tatapan tajam paku, lalu dia bertanya. "Jadi selama ini kamu di belakangku sering bertemu dengan pria lain?" "Sorry, Bro, saya belum pernah bertemu secara langsung dengan istri anda. Hanya kebetulan sempat beberapa kali berpapasan saat saya menyambangi panti asuhan cinta kasih.

  • Testpack di Kamar Pembantuku   pria asing

    Jawab jujur aku, Mas, apa kamu pernah menolak saat Mama menawarkan itu padamu dibelakangku? Sejak kapan Mama memintamu untuk menikah lagi? Apa Mama juga minta kamu untuk menceraikan aku? Jujur lah jangan ada lagi yang kamu tutupi. Aku sudah terlanjur sakit Mas. Tidak perlu lagi berbohong padaku." Mas Reza tidak menjawab apa yang aku tanyakan padanya. Dia memilih untuk diam dan menunduk membuat aku bisa menyimpulkan jawaban dari apa yang dia tunjukkan. "Diammu adalah sebuah jawaban yang bisa ketebak, Mas. Semoga kamu bahagia dengan pilihanmu." "Maaf, Sayang," ucapnya lesu. Aku kembali menyeka bulir kristal yang mengalir tanpa diminta dari sudut mataku. Sakit. Aku sakit menerima semua ini. Namun hati ini tidak bisa untuk bohong bahwa rasa itu masih untuknya. Ya, untuk dia yang sekarang ada dihadapanku. Terkadang cinta memang sebodoh itu, sudah disakiti masih saja memberi rasa. Apa mau dikata, aku memang mencintainya. Tapi aku terluka oleh sikapnya. "Mari kita pulang, Sayang. Kamu

  • Testpack di Kamar Pembantuku   13. pengakuan Reza

    "Kamu di mana, Sayang?" ucapanku terpotong oleh suara yang tidak asing adalah suamiku sendiri. Aku menjauhkan HP itu segera dari telingaku. Seolah ada sengatan listrik yang menjalar di tubuhku secara tiba-tiba. Tanganku bergetar, tubuhku melemah kembali. "Aku pikir kamu tidak akan mencariku, Mas? Untuk apa? Bukankah wanita itu sudah mengalihkan duniamu?" gumamku. Aku menatap nanar HP itu dengan hati yang terasa hancur berkeping-keping. "Sayang! Kamu dengar, Mas, nggak? Kamu di mana?" tanyanya. "Sayang, kamu kenapa? Kamu baik-baik saja, 'kan? Kamu kenapa blokir nomor, Mas? Ayo ngomong dong, jangan bikin Mas khawatir sama kamu. Kamu di mana?" sambungnya lagi. Aku masih diam membisu mendengar pertanyaannya. Tidak kuat untuk mengeluarkan satu patah kata pun. Kuremas-remas jemariku untuk menetralisirkan hatiku yang tidak baik-baik saja.Entah apa yang ada pikiran laki-laki yang bergelar suamiku itu, dia masih bertanya aku kenapa? Apa dia masih meyakini jika aku belum mengetahuinya? Ap

  • Testpack di Kamar Pembantuku   9. pertarungan sengit Tania dan Arini

    "Aku nggak ada maksud apa-apa, Mbak. Hanya saja, laki-laki jika sudah mendua biasanya yang kedua yang lebih diprioritaskan. Apa lagi sekarang aku tengah hamil anaknya Mas Reza, suami kita. Tapi Mbak nggak usah khawatir, aku akan tetap meminta Mas Reza untuk tetap sama Mbak Tania. Dan tidak akan meni

    last updateHuling Na-update : 2026-03-17
  • Testpack di Kamar Pembantuku   10. pergi dari RS

    Arini memegang perutnya dan terus meringis. "Mbak! Tolong perutku sakit, Mbak." Ucapnya. Langkahku tertahan saat di daun pintu, aku menoleh dan melihat keadaan Arini. Cairan putih bercampur warna kecoklatan keluar memberi noda pada celana warna cream yang Arini kenakan. "Arini?!" Mataku melotot meli

    last updateHuling Na-update : 2026-03-17
  • Testpack di Kamar Pembantuku   11. buku nikah

    Tanganku masih bergetar hebat menyentuh benda yang menimpa tepat di kakiku. Dua buah buku berwarna merah dan hijau bertuliskan buku nikah dan mana yang tersemat di sana adalah laki-laki yang bergelar suamiku. Jangan ditanya bagaimana gemuruh dan gejolak hatiku saat ini. Hancur berkeping-keping? Itu

    last updateHuling Na-update : 2026-03-17
  • Testpack di Kamar Pembantuku   8. Kejujuran Arini.

    Mbak tau aku ha … mil?!" Arini terlihat terkejut dengan pertanyaanku. "Aku menemukan testpack di kamarmu kemarin, dan itu sudah bergaris dua. Siapa pemilik tespack itu kalau bukan dirimu. Aku menemukannya di kamarmu, di tempat sampah." Tidak ada jawaban dari Arini, dia diam dan hanya menunduk. "Ken

    last updateHuling Na-update : 2026-03-17
Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status