Beranda / Romansa / Tetangga Bikin Nagih / 1. Pria dari Kamar Sebelah

Share

Tetangga Bikin Nagih
Tetangga Bikin Nagih
Penulis: Mokaciinoo

1. Pria dari Kamar Sebelah

Penulis: Mokaciinoo
last update Tanggal publikasi: 2026-08-31 08:38:12

"Udah jam tiga."

Rania melirik arloji murahan yang melingkar di lengan kirinya sambil menghela nafas panjang. Menatap jalanan yang sunyi, Rania mengeratkan genggaman pada tali tas selempangnya.

Tidak ingin menunda, Rania menyeret tungkai panjangnya menyusuri trotoar jalan. Ini sudah menjadi rutinitas hariannya sejak tiga bulan lalu. Meski begitu, Rania belum juga terbiasa.

Melalui jalan sepi ini sendirian, Rania tidak bisa mengurangi perasaan waspada. Sesekali dia akan celingak-celinguk melihat sekitar untuk memastikan tidak ada orang jahat yang mengikutinya.

Sampai di kos-kosan lusuh yang dia tempati, barulah Rania menarik sedikit napas lega.

"Fiuuhh, selamat," gumamnya.

"Ah... Ahh.. "

Dengungan tertahan yang sampai di telinganya tiba-tiba menghentikan Rania dari gerakan membuka pintu kamar. Nafasnya pun tertahan selama beberapa detik sebelum kemudian dihembuskan dengan kasar.

Suara ini lagi.

Seandainya dia masih memiliki energi yang tersisa, Rania ingin sekali rasanya melabrak orang yang tinggal tepat di sebelah kamarnya itu.

"Ah... sayang... pelan-pelan~"

Rania membanting pintu kamarnya dengan cukup keras. Sengaja dia lakukan sebagai pengingat bahwa tetangga samping kamarnya bukan satu-satunya orang yang tinggal di tempat ini.

Tanpa berganti pakaian, Rania langsung saja membaringkan tubuh lelahnya di atas kasur tipis yang membentang di lantai. Rania tidak pernah hidup serampangan macam ini sebelumnya. Dia biasanya selalu sangat rapi dan bersih. Dia paling anti berbaring di atas kasur dengan pakaian yang sudah dipakai berkelana keluar rumah.

Namun, jungkir balik kehidupan yang dijalani selama tiga bulan belakangan ini telah mengubah hampir semua kebiasaannya.

Karena tubuh dan pikiran yang sudah lelah, Rania langsung terlelap begitu kepalanya menyentuh bantal. Suara-suara mengganggu dari kamar sebelah tidak lagi dia hiraukan.

Keesokan harinya, dering telepon membangunkan Rania. Melalui mata yang terbuka setengah, dia menekan tombol hijau pada layar.

"Halo?" sapanya pada orang di seberang telepon.

"Lo ke kampus hari ini?"

"Iya."

"Gue tungguin di kantin fakultas ya. Berangkat jam 9 'kan?"

"Hm."

Klik,

Begitu obrolan singkat dengan sahabat baiknya, Rania menggeliatkan tubuh yang terasa kaku. Suara langkah kaki dan obrolan kecil para penghuni kosan ini mulai terdengar samar-samar. Rania membuka matanya dengan agak enggan.

Melihat bercak kekuningan akibat rembesan hujan di setiap sudut plafon, Rania yang baru saja merasa malas langsung beranjak dari kasur tipisnya. Dia lalu menyambar handuk yang tergantung di belakang pintu dan gayung berisi peralatan mandinya sebelum kemudian keluar dari kamar.

Kebangkrutan orang tuanya benar-benar telah membuat hidup Rania jatuh ke titik terendah. Bahkan untuk menyewa kos-kosan yang sedikit lebih layak tidak lagi mampu dia lakukan. Dia hanya bisa menyewa kamar kos kumuh di pinggiran ibukota ini.

Dengan kamar mandi luar, Rania tentu harus sabar mengantre. Saat ini, dia menunggu di depan pintu kamar mandi bersama seorang pria berparas tampan. Pria ini adalah tetangga di kamar sebelahnya yang selalu membuat suara-suara ambigu setiap malam.

Keluhan akan perilaku pria ini sudah Rania simpan lama di dalam hati. Hanya menunggu momen yang pas untuknya mengeluarkan unek-unek.

"Heh, ngapain lo lihat-lihat gue dengan muka julid begitu."

Suara berat pria itu yang tiba-tiba menegurnya membuat Rania yang baru saja sibuk dengan pikirannya langsung tersadar.

Dia lalu menunjuk dirinya sendiri. "Lo ngomong sama gue?" tanya Rania memastikan.

"Ya iyalah. Nggak ada orang selain lo di sini," tukas pria itu.

Merasa momennya pas, Rania menggerakkan matanya memindai pria di depannya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Sorot mata yang dia tunjukkan mengandung cibiran pekat.

"Gue punya mata. Terserah gue dong mau melihat apa," balas Rania sewot.

"Cih," pria itu mendengkus sambil tersenyum tipis. "Gue tahu muka gue tampan paripurna. Lo pasti terpesona 'kan?"

Pupil mata Rania otomatis melebar mendengar ucapan narsis itu. "Gue? Terpesona sama lo? Mimpi aja sana. Yang ada gue mau nyakar muka lo tahu nggak!" serunya bersungut-sungut.

"Lah, tiba-tiba banget mau nyakar muka tampan gue. Kenapa?" pria itu berjengit tidak mengerti.

"Lo berisik. Suara desahan pacar lo setiap malam itu mengganggu kemana-mana. Lo tahu nggak sih kalau setiap kamar di kosan ini dindingnya tipis. Malu dong!" omel Rania panjang lebar.

Setelah lama memendam, dia akhirnya bisa mengeluarkan kata-kata yang telah lama mengganjal di hatinya. Tetapi bukannya sadar, pria ini justru menyunggingkan senyum misterius. Pria itu yang semula bersandar pada pilar di seberang Rania tiba-tiba menyeret langkah mendekatinya.

"Eh, mau ngapain lo?" tuding Rania agak panik.

Pria itu tidak menjawab. Senyum di wajahnya justru semakin lebar. Hanya setelah tiga langkah panjang, jarak di antara mereka terkikis sepenuhnya. Kedua telapak tangan pria itu kemudian menempel di dinding belakang kepala Rania. Pose ini mengungkung Rania antara dinding yang kokoh dan pria itu.

Dalam jarak yang begitu dekat, Rania bisa mencium aroma kayu lembut yang menguar samar dari tubuh pria itu. Tanpa sadar dia menelan ludah dengan susah payah. Gayung berwarna pink berisi peralatan mandinya, Rania peluk di dada dengan erat untuk dijadikan sebagai penghalang antara mereka.

"L-Lo mau ngapain?" Rania mengulang ucapannya dengan nada tercekat serak. Pupil matanya bergerak-gerak menghindari tatapan pria itu.

Ini bukan pertama kalinya Rania berada dalam jarak yang begitu dekat dengan seorang lawan jenis, tapi aura penindasan dari pria di depannya ini benar-benar membuat Rania tidak bisa berkutik.

"Lo yakin merasa terganggu? Bukan karena lo ikutan merasa horny?" bisik pria itu di depan wajah Rania. Hembusan napasnya membuat Rania bergidik ngeri.

***​

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Tetangga Bikin Nagih    6. Menerima nasib

    'Setiap malam lo harus tidur sama gue.' Kalimat yang baru saja dilontarkan Reygan bergema di setiap relung otak Rania. Dia sempat berpikir bahwa pria ini mungkin tidak seburuk kesan pertama yang dia miliki setelah aksi penyelamatan yang dilakukan semalam. Tapi sekarang Rania benar-benar kecewa. Tanpa basa-basi, dia beranjak dari posisi duduknya. Ditunjuknya pintu yang terbuka lebar, lantas berkata. "Keluar!" usir Rania. Nadanya dingin dan terasing. "Eh, gue belum selesai ngomong," tukas Reygan. "Ke-lu-ar!" "Dengarin dulu... " Tanpa membiarkan Reygan menyelesaikan ucapannya, Rania langsung mendorong tubuh pria itu agar segera keluar dari kamarnya. "Lo jangan coba-coba mencuri kesempatan dalam kesempitan ya. Dasar cowok brengsek!" maki Rania. Begitu Reygan sudah berada di luar, Rania segera menutup pintu kamarnya dengan sekali bantingan keras. Wajahnya cemberut maksimal. Dulu ketika dia masih menjadi nona muda keluarga Harjadinata, mana ada orang yang berani melemparkan

  • Tetangga Bikin Nagih    5. Tawaran Tetangga Sebelah

    "Brengsek!" Pria mabuk yang jatuh tersungkur itu berteriak dengan marah. Dia lalu bangkit berdiri dan menuding wajah tampan Reygan."Minggir lo. Jangan ikut campur urusan gue. Ini cewek gue duluan yang liat.""Cih!" Reygan mendengkus. "Ini cewek gue. Lo kalau nggak mau lebih babak belur dari ini, mending minggat," ujar Reygan."Lo pikir gue takut sama lo?" tantang pria itu dengan sombong. "Oh, jadi lo nggak takut? Bagus deh," balas Reygan.Dia lalu menggerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan. Ke dua lengannya juga diputar seperti sedang peregangan. Setelahnya, tanpa aba-aba dia kembali memberikan bogem keras di wajah pria yang telah mengganggu Rania.Pria itu kembali tersungkur. Melalui cahaya temaram lampu pinggir jalan, Rania bisa melihat sudut bibir pria itu berdarah. Namun, pria pengganggu itu tampaknya tidak mau menyerah. Tangannya terkepal. Dia siap melakukan aksi balasan. Tetapi Reygan dengan lincah menghindar. Alhasil pria itu hanya bisa memukul udara kosong. "Sialan!" mak

  • Tetangga Bikin Nagih    4. Pria ini Ada Dimana-mana

    Melihat gelagat pria ini yang ingin bersikap sok kenal dengannya, Rania buru-buru mengalihkan pandangan. Dia pura-pura tidak kenal sambil dengan cepat meletakkan gelas-gelas dalam nampan ke atas meja. Selesai menjalankan tugasnya di ruangan ini, Rania siap melangkah pergi. Akan tetapi, pergelangan tangannya tiba-tiba ditarik dengan kuat oleh Reygan sehingga tubuhnya limbung dan jatuh ke atas pangkuan pria itu. "Issh, lo apa-apaan sih!" keluh Rania risih. Wajahnya berkerut kusut tanda tidak senang. Dia lalu bangkit dengan marah. Akan tetapi, lengannya lagi-lagi ditarik hingga dia kembali jatuh ke pangkuan pria itu. Kesabaran Rania hilang. Dia memutar matanya sambil menghela napas panjang. "Kita tidak saling mengenal. Jangan kurang ajar!" desisnya. Rania tidak berani marah dengan terlalu keras karena takut menciptakan drama tidak perlu yang bisa membuatnya dipecat. "Kalau begitu, ayo kenalan. Tadi pagi gue udah bilang nama gue Reygan. Kalau boleh tahu, nama lo siapa nona canti

  • Tetangga Bikin Nagih    3. Putus?

    Rania tidak langsung menanggapi. Sepasang netranya pertama-tama menatap lekat pria yang sudah lama tidak dilihatnya. Pria ini masih sama tampan dan mempesona seperti yang selalu dia ingat. Namun, kali ini tidak ada antusiasme pertemuan yang meletup di dalam diri Rania. Semuanya terasa datar dan hambar."Mau bicara di mana?" tanya Rania dengan tenang.Tanpa menjawab, Abian melepaskan lengannya dari Sissy, lalu berjalan begitu saja keluar dari kantin. Rania pun mengikuti dengan langkah pelan di belakang. Mereka baru berhenti ketika mencapai pohon akasia tua yang tidak jauh dari pintu masuk kantin. Rania berdiri tegak di depan Abian. Matanya menatap lurus pada manik mata pria itu. Hatinya sudah siap mendengar kata putus dilontarkan untuknya.Tetapi di luar dugaan, Abian malah diam. Ekspresi di wajah pria itu justru terlihat rumit. Seperti banyak kata yang ingin dia ucapkan, tapi tidak mampu diungkapkan.Menit demi menit pun berlalu, mereka saling tatap untuk waktu yang lama. Sampai ak

  • Tetangga Bikin Nagih    2. Hubungan yang Menggantung

    "Horny sama orang kayak lo sih nggak mungkin ya," bantah Rania. "Yakin?""Ya iyalah. Minggir lo!" hardik Rania dengan tidak sabar.Akan tetapi, pria ini tidak bergeming. "Lain kali kalau mau gabung bilang aja," bisiknya dengan kurang ajar.Bibir Rania megap-megap. Namun, belum sempat dia mengucapkan sepatah katapun sebagai balasan, suara siulan tiba-tiba menginterupsi mereka.Rania menoleh ke arah sumber suara. Di depan pintu kamar mandi, seorang pria paruh baya yang baru saja keluar menatap mereka dengan penuh arti. "Setelah malam yang panjang, masih belum puas juga bro?" sindir pria itu. Rania merutuk dalam hati. Ini benar-benar memalukan. Dia lantas mendorong keras-keras dada pria yang belum diketahui namanya itu, lalu melesat menuju kamar mandi. Dia tidak peduli kalau pria itu sudah mengantre lebih dulu. Rania bersandar di balik pintu kamar mandi yang tertutup rapat. Bahunya yang semula tegang, perlahan merosot rileks. Tok tok tok,Pintu di belakangnya diketuk dari luar. "Na

  • Tetangga Bikin Nagih    1. Pria dari Kamar Sebelah

    "Udah jam tiga."Rania melirik arloji murahan yang melingkar di lengan kirinya sambil menghela nafas panjang. Menatap jalanan yang sunyi, Rania mengeratkan genggaman pada tali tas selempangnya.Tidak ingin menunda, Rania menyeret tungkai panjangnya menyusuri trotoar jalan. Ini sudah menjadi rutinitas hariannya sejak tiga bulan lalu. Meski begitu, Rania belum juga terbiasa. Melalui jalan sepi ini sendirian, Rania tidak bisa mengurangi perasaan waspada. Sesekali dia akan celingak-celinguk melihat sekitar untuk memastikan tidak ada orang jahat yang mengikutinya.Sampai di kos-kosan lusuh yang dia tempati, barulah Rania menarik sedikit napas lega."Fiuuhh, selamat," gumamnya. "Ah... Ahh.. "Dengungan tertahan yang sampai di telinganya tiba-tiba menghentikan Rania dari gerakan membuka pintu kamar. Nafasnya pun tertahan selama beberapa detik sebelum kemudian dihembuskan dengan kasar. Suara ini lagi.Seandainya dia masih memiliki energi yang tersisa, Rania ingin sekali rasanya melabrak or

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status