MasukPipi itu semakin jelas warnanya. Biru keunguan, kontras dengan kulit Darius yang biasanya tenang dan bersih dari luka mencolok. Josselyn menatapnya beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya. “Apa tidak sakit?” tanyanya akhirnya. Darius tersenyum tipis. Menggosok pipinya pelan. “Tidak seberapa.” Josselyn mendengus pelan. “Kalau tidak segera diobati, warnanya akan semakin buruk.” Ia berbalik tanpa menunggu jawaban. “Ikut. Ke Ruang Herbal.” Darius terdiam sepersekian detik di tempatnya. “…Sekarang?” tanyanya, nadanya sedikit berubah. Josselyn menoleh, alisnya sedikit terangkat. “Tentu saja sekarang. Anda ingin menunggu sampai wajah Anda jadi bahan lelucon para ksatria lain?” “Tidak, aku hanya—” Darius terbatuk pelan, mengalihkan pandangan. “Baik. Aku ikut.” ‘Ada sesuatu yang aneh dengannya.’ pikir Josselyn. Cara pria itu berjalan di sampingnya sedikit kaku. Terlalu sadar akan jarak. Atau justru… terlalu sadar akan kedekatan mereka. Josselyn tidak mengataka
Jarak itu seharusnya tidak pernah ada. Terlalu dekat. Begitu dekat hingga napas mereka saling bertabrakan, hangat dan tidak stabil di antara ruang yang semakin sempit. “Lady Josselyn…” suara Darius rendah, nyaris seperti permintaan yang tidak ia sadari. Josselyn tidak langsung menjawab. Tangannya masih mencengkeram lengan pria itu—entah untuk menahan diri… atau justru karena ia tidak ingin dilepaskan. Ia tahu apa yang sedang terjadi. Dan ia tahu… ia seharusnya menghentikannya. Tapi tubuhnya tidak bergerak. Hanya napasnya yang berubah. Lebih berat. Lebih cepat. Darius menatapnya, mencari sesuatu—penolakan, mungkin. Ketika tidak menemukannya… ia mendekat. Ciuman itu jatuh pelan. Hampir ragu. Hanya sekilas menyentuh bibir Josselyn—ringan, seolah bisa ditarik kembali kapan saja. Dan memang ia berhenti. Menunggu. Josselyn tidak membalas. Tapi juga tidak menjauh. Hanya keheningan yang cukup untuk membuat sesuatu di dalam diri Darius runtuh. Ciuman berikutnya d
Ruangan itu terlalu sunyi—dan Killian membencinya.Tidak ada suara langkah. Tidak ada ketukan di pintu. Tidak ada napas lain selain miliknya sendiri.Killian berdiri di dekat jendela, tatapannya jatuh pada kegelapan taman istana. Tangannya terlipat di belakang punggung, posturnya tegak seperti biasa—terkendali, tak tergoyahkan.Setidaknya… terlihat begitu.Ia tidak bergerak saat jam berdentang pelan di sudut ruangan.Satu kali.Dua kali.Tiga.Sudah lewat dari waktu yang seharusnya.Rahangnya mengeras.Gadis itu akan datang.Dia harus datang.Karena dia selalu datang—dan semua yang menjadi miliknya, selalu kembali.Pikiran itu muncul begitu saja, dingin dan pasti—seperti semua hal lain yang selama ini berjalan sesuai kehendaknya.Namun menit-menit berikutnya berlalu.Dan pintu itu… tetap tertutup.Hening.Killian menggeser pandangannya ke arah pintu. Tatapannya tajam, seolah bisa memaksanya terbuka hanya dengan kehendaknya.Tapi tidak ada yang terjadi.Jari-jarinya menegang perlahan.
“Maafkan saya, Paduka. Saya hanya—”Pukulan itu mendarat tanpa peringatan. Cukup keras hingga membuat tubuhnya hampir oleng. Tapi pria besar itu berhasil bergeming.Josselyn menutup mulutnya dengan tatapan ketakutan.Ini bukan pertama kalinya dia melihat murka Killian. Tapi yang membuatnya terkejut ketika sasarannya adalah Darius—orang yang paling dekat dengannya.“Darius…”Tanpa sadar Josselyn membisikkan namanya. Saat pria itu tak membalas pukulan Killian. Hanya terdiam dan menunduk.“Kenapa… Anda memukulnya?”Gumaman Josselyn tanpa ia sadari lebih keras dari yang seharusnya.Dan Killian mendengarnya. Ia menoleh, bersamaan dengan Darius.Mata Josselyn dan Darius sempat bertatapan. Pria itu menggelengkan kepala samar, memberikan isyarat pada Josselyn untuk tetap diam.Tapi di saat situasi seperti ini—Killian sudah keterlaluan.“Kalau ini tentang dia… kenapa kami yang Anda hancurkan? Saya bahkan belum pernah bertemu dengan Madam Angeline, dan Darius—”Tangan Killian sudah mengudara, h
Udara kembali masuk. Tapi terasa seperti pisau.Josselyn terbatuk keras saat cengkeraman di lehernya akhirnya terlepas. Tubuhnya kehilangan keseimbangan, lututnya hampir menyerah sebelum ia menahan diri dengan tangan di dinding.Napasnya tersengal—pendek, kacau, seolah paru-parunya lupa bagaimana bekerja dengan benar.Sakit.Bukan hanya di tenggorokan—tapi di dada. Dan juga kepalanya yang berkunang-kunang.Di hadapannya, Killian berdiri diam.Terlalu diam.Seolah detik barusan, tidak pernah terjadi.Namun bekas merah di leher Josselyn berdenyut pelan, seperti pengingat yang kejam.Killian menatapnya.Tatapan itu masih panas. Masih keras. Tapi, ada sesuatu yang retak di dalamnya.Sesaat. Lalu hilang.Josselyn menelan napas yang terasa seperti api. Tangannya gemetar saat menyentuh lehernya sendiri. Sensasi jari pria itu masih melekat di sana—seolah kulitnya menolak melupakan.Ia tertawa kecil.Patah.“Kalau Anda memang ingin membunuh saya…” suaranya serak, nyaris tidak terdengar, “…seti
“Ya. Madam Angeline dan Putra Mahkota adalah teman dari kecil.”Kalimat itu jatuh begitu saja. Ringan di telinga—tapi anehnya terasa berat di dada.Josselyn tidak langsung menjawab.Tatapannya masih tertuju ke arah taman. Ke gazebo tempat Howarth dan Sebastian duduk santai bersama para wanita itu. Tawa mereka terdengar jelas, ringan, tanpa beban. Seolah dunia tidak sedang berjalan dengan aturan.Berbeda dengan istana ini.Berbeda dengan nama yang baru saja ia dengar.Angeline.“Teman… dari kecil?” ulang Josselyn pelan, seakan butuh memastikan. “Bagaimana bisa?”“Bisa saja.” jawab Yorick ringan. “Keluarga Angeline sudah lama melayani kalangan bangsawan. Bahkan sebelum kita lahir.”Josselyn tertegun. Ada suatu hal yang mengganjal di hatinya.Bukankah rumah hiburan tetap rumah hiburan?Menyediakan wanita yang siap melayani lelaki yang mungkin sudah beristri?Apa itu berarti…“Untuk seseorang yang dibesarkan di dalam istana… Putra Mahkota cukup sering mengunjungi Maison de Lune.” Yorick m
“Sebutkan namanya.”Suara Killian masih rendah. Tidak meninggi. Tidak marah. Tapi justru itu yang membuat dada Josselyn terasa sesak.Ia menatap pecahan kaca di lantai.“S-saya, tidak ingat, Yang Mulia.”Josselyn menelan ludah. Ia mengingatnya dengan jelas. Bagaimana mereka memanggil namanya dengan
“Pagi ini istana terasa lebih tenang,” lanjut Yorick.Josselyn menatap cangkirnya.Saat ibunya masih hidup, ia sering membantu meracik ramuan di laboratorium kecil mereka. Ia hafal hampir semua aroma tumbuhan dan akar kering.‘Aroma ramuan ini beda. Asing.’ Josselyn melirik Yorick. ‘Apa Tuan Yorick
“Tuan Howarth—”Suara Yorick terdengar lebih tajam dari biasanya.“Letakkan dia dengan hati-hati.”Howarth masih menopang tubuh Josselyn yang hampir jatuh di pelukannya. Ia memiringkan kepalanya sedikit, menatap wajah Josselyn dengan alis terangkat.“Aku tidak tahu tabib kerajaan mudah pingsan sepe
Sesuatu yang berat jatuh tepat di tubuhnya.“Bangun.”Josselyn tersentak. Matanya terbuka setengah, napasnya tercekat sejenak sebelum akhirnya ia sadar.Selimut.Ia menatap kain tebal yang kini menutupi tubuhnya, lalu mengangkat pandangan dengan pelan.Darius berdiri di ambang pintu selnya, wajahny







