เข้าสู่ระบบLucian Philippe Segovia is a happy go lucky type of guy aside from the fact that he is one of the top Young billionaires of the country Maloko siya, lalo sa mga babae. Mapagbiro at minsan bakya ang trip kahit pa saksakan na siya ng yaman. When he met Thea Denise Vergara ay nahulog agad ang loob niya dito pero di gaya ng mga babaeng nakakasama niya, mailap ito at masungit, at ang dahilan, kasi mayaman siya. Thea hates mingling with the rich kaya naman para mapalapit siya dito ay nagpanggap siyang mahirap. And when Thea already learned to love him too, saka naman nito nadiskubre ang katotohanan sa pagkatao nito. And that broke her trust kaya siya lumayo kay Lucian.
ดูเพิ่มเติม“Heiii ... kamu mo ngapain berdiri di situ? Kamu mo merampok ya?” bentak seorang pria gagah di balik pagar hitam yang tinggi itu.
Si pemuda di balik pagar itu seketika memundurkan badannya dari pagar hitam itu karena kaget dengan bentakan bapak-bapak yang ada di balik pagar.
“Gak, Pak! Ehmmm ... anu, Pak ... saya mo ketemu Ibu Sonya!” jawab Arya yang juga memundurkan wajahnya dari pagar besar itu dengan suara gemetaran karena lumayan takut melihat pria bertubuh kekar dan besar di balik pagar itu.
Tak lama kemudian, pintu pagar hitam itu pun terbuka sedikit dan menyembulkan kepala pria kekar tadi.
“Gimana, Mas? Tadi saya kurang dengar!” ucap pria itu yang sekilas kalau dilihat sangat mirip dengan artis pemeran film laga tempo dulu, yaitu Advent Bangun.
Terlihat otot-otot lengan yang besar milik pria itu sangatlah menonjol, juga dengan dada sixpack-nya, karena sang pria hanya menggunakan celana panjang yang digulung hingga dengkulnya.
Tangannya terlihat membawa linggis besi. Hal itu membuat Arya makin ketakutan melihatnya.
“Aa ... aanu, Pak ... sesss ... sssaya mo ketemu Ibu Sonya!” ucap Arya mengulangi ucapannya tadi.
“Ada perlu apa dengan Ibu Sonya?”
“Saya mo melamar jadi sopir, Pak!” jawab Arya sambil agak membungkukkan tubuhnya untuk sedikit memberi hormat kepada pria besar itu.
“Kamu sudah ada janji dengan beliau?” tanya pria itu lagi.
“Ehmm ... sudah, Pak!” jawab Arya sambil sedikit melirik sebagian penampakan bagian depan rumah besar itu.
“Tunggu di sini!” balas sang pria. Pria itu pun memencet sebuah tombol di dekat pintu pagar, semacam interkom, untuk menghubungi seseorang.
“Halo, Bu Sonya. Ini ada laki-laki muda datang, katanya mo melamar jadi sopir!”
“Owh, suruh masuk aja, Pak Dirman!” terdengar suara perempuan di interkom itu, yang mungkin saja itu Ibu Sonya yang ingin ditemui Arya sore itu.
“Baik, Bu!” ucap pria kekar itu yang terdengar dipanggil dengan nama Dirman.
“Oke, Mas. Masnya disuruh masuk!”
“Terima kasih, Pak!”
Arya pun diantar masuk sampai ke teras halaman depan rumah itu dan Arya terbelalak melihat interior bagian depan rumah itu yang ternyata itu benar-benar rumah mewah. Seluruh bentuk interiornya bagaikan istana raja-raja yang suka Arya lihat di buku-buku dongeng kala kecil dahulu.
Terlihat taman yang sangat indah dan juga kolam ikan yang cukup lebar terhampar di bagian depan rumah mewah itu.
Belum lagi tanaman-tanaman yang berwarna-warni yang kayaknya itu tanaman berharga mahal yang menghiasi halaman depan rumah besar itu.
Cukup lama Arya duduk di bagian teras rumah mewah itu.
Saking lamanya, Arya mencoba membuka kembali sosmed I*-nya untuk mengecek kembali percakapan DM Arya dengan Ibu Sonya.
Adapun Arya bisa sampai di tempat ini karena secara tidak sengaja menemukan akun I* Ibu Sonya dan membaca salah satu posting-an Ibu Sonya itu kalau ada info lowongan pekerjaan sebagai sopir di rumah ini.
Arya kembali membuka-buka beberapa posting-an Ibu Sonya yang sekilas nampak sangat cantik dengan topi lebarnya.
Di beberapa posting-an, Arya melihat Ibu Sonya ini sering berada di lokasi-lokasi yang eksotis seperti pantai dan juga hotel-hotel mewah yang dekat dengan lautan.
Setelah menunggu kurang lebih setengah jam lamanya, akhirnya pintu besar di bagian depan rumah mewah itu sedikit terbuka dan muncul seorang perempuan sekira-kira umuran 35 tahun, kulit sawo matang, berwajah manis dengan tubuh yang cukup ideal untuk mempersilakan Arya masuk ke dalam untuk duduk di ruang tengah rumah mewah itu.
“Dengan Mas Arya ya?” tanya sang perempuan itu.
“Iya betul, Mbak,” jawab Arya dengan sopan sambil tersenyum.
“Ayo masuk ke dalam, Mas Arya!”
Arya pun mengikuti ke mana si perempuan itu berjalan. Arya makin terbengong-bengong melihat seluruh isi rumah besar dan mewah itu.
“Monggo, silakan Mas Arya duduk dulu di sini, karena Ibu Sonya masih di lantai atas,” ucap perempuan itu dengan senyum manisnya.
Arya pun duduk sambil tetap menatap kagum dengan seluruh isi dan interior rumah mewah itu.
Ia pun melihat ada tangga putih yang cukup lebar anak tangganya dengan warna putih meliuk sampai ke atas.
Tebakan Arya mungkin kamar Ibu Sonya itu ada di atas tangga itu.
“Oiya, Mas Arya mo minum apa?” tanya si perempuan yang nampak memakai baju semacam kebaya dengan belahan dada cukup rendah sehingga agak terlihat belahan dadanya yang cukup membuat mata Arya terkesiap melihatnya.
“Apa aja, Mbak. Maaf merepotkan!” ucap Arya sambil tersenyum lagi.
Seketika perempuan itu pun berlalu. Saat berbalik badan, nampak sekali tubuh semok si perempuan tadi dengan baju kebaya rumahan dan rok batik yang ia pakai.
Bentuk pinggulnya yang proporsional kembali membuat mata Arya terkesiap dan jakunnya naik turun melihatnya.
Nampaknya perempuan montok itu seorang asisten rumah tangga di rumah mewah itu.
Tak lama kemudian, si perempuan sudah kembali dengan membawa baki berisi segelas teh hangat plus dua toples berisi kue nastar dan kue keju yang biasanya sering muncul di momen-momen Lebaran.
“Ayo, Mas. Monggo diminum dan dicicipi dulu kuenya!” ucap si perempuan tersenyum dengan sopan.
“Baik, Mbak. Terima kasih, Mbak!” ucap Arya sambil mencoba menyeruput gelas yang berisi air teh hangat itu.
Sementara waktu sudah semakin sore mendekati pukul 18.00 sore, yang artinya sebentar lagi azan Magrib akan bergema.
“Gimana, Mas? Rasanya teh buatan saya?” tanya si mbaknya.
“Wahhh ... enak, Mbak ... Mbakkk ...?” ujar Arya sambil bermaksud menanyakan nama perempuan itu.
“Tini, Mas. Nama saya Surtini. Panggil saja Mbak Tini!” ujar Mbak Tini sambil tersenyum menyodorkan tangan kanannya untuk berjabat tangan.
Mereka pun saling berjabatan tangan karena Mbak Tini tahu kalau Arya ini akan menjadi bagian dari rumah itu ke depannya jika memang benar nantinya jadi bekerja sebagai sopir untuk Ibu Sonya.
“Terima kasih atas teh manisnya. Enak, Mbak Tini!” ujar Arya lagi yang kali ini dengan nada yang lebih lepas karena mencoba lebih akrab dari sebelumnya.
Karena Arya pun tahu kalau ia jadi bekerja di situ akan sering bercengkerama dengan Mbak Tini dan juga Pak Dirman tadi.
“Syukurlah kalo Mas Arya suka. Ayo Mas Arya dicoba juga donk dengan kue-kuenya. Itu aku bikin sendiri loh, Mas!” pinta Mbak Tini sambil membuka kedua penutup toples itu untuk mempersilakan Arya mencicipi kedua kue itu.
Arya pun menurut dan mengambil masing-masing satu kue, baik kue nastar maupun kue keju.
“Hmmm ... enak banget, Mbak. Wah, Mbak Tini ini kayaknya memang jago bikin minuman dan makanan!” ujar Arya sambil mengunyah kedua kue tersebut.
Terlihat Mbak Tini tertawa kecil dan merasa puas dengan ucapan Arya tadi.
“Syukurlah kalo Mas Arya suka!”
Baru saja Mbak Tini selesai berucap, tiba-tiba terdengar langkah kaki dari atas tangga yang mengarah turun ke bawah.
Tak tok tak tok tak tok!
Ternyata itu bunyi suara sepatu sandal dari Ibu Sonya.
Seketika Mbak Tini pun memberitahukan Arya kalau yang sedang berjalan dari tangga atas itu adalah Ibu Sonya.
“Tiniiii ... sudah kamu sediakan tamu kita minuman dan makanan?” teriak suara perempuan cantik yang sedang berjalan turun di tangga lebar itu.
Arya pun mendongak ke atas, matanya tertuju ke arah suara perempuan tadi.
Nampaklah di pandangan Arya yang bikin Arya takjub karena Ibu Sonya yang ia sempat lihat di akun I*******m-nya itu ternyata jauh lebih cantik aslinya saat Arya melihat langsung.
Perempuan yang bernama Sonya itu berkisar umur 40 tahun, berkulit putih bening, dan bertubuh sintal berbalut baju tidur dengan rambutnya ditutupi handuk yang melibat kepalanya.
Wajahnya sangat mirip dengan bintang film India Kareena Kapoor yang cantik dan seksi.
Bibir Ibu Sonya terlihat tebal dan matanya besar. Ia saat itu memakai baju tidur berbahan handuk halus dengan bagian atas baju tidurnya agak terbuka, sehingga dada putih bagian atasnya agak terlihat sangat bening dan mulus.
Sangat terlihat kalau Ibu Sonya itu rajin perawatan tubuh.
“Wah, Ibu Sonya abis mandi ya, Bu?” ujar Mbak Tini yang tetap saja ikut terpesona melihat sang majikan, padahal ia telah bertahun-tahun bekerja di rumah itu, namun tetap saja Mbak Tini sangat mengagumi kecantikan sang majikan.
“Ya, Mbak. Aku cukup kecapean kemarin pulang larut malam sehingga seharian tadi ketiduran cukup lama dan baru tadi baru sempat mandi!” balas sang majikan.
“Sekarang Mbak Tini boleh pergi dari sini. Saya mo interogasi dulu ini anak!” ucapnya sambil melirik Arya dengan pandangan yang dingin.
“Baik, Bu!” ujar Mbak Tini sambil menatap sebentar ke wajah Arya. Dalam hatinya, Mbak Tini bergumam kalau menurutnya Arya terlalu ganteng untuk menjadi sopir karena melihat perawakan Arya.
Arya memiliki kulit putih bersih, berwajah tampan dengan hidung mancung, rambut cepak seperti tentara, nampak seperti sosok artis Adjie Massaid.
Bibir Arya juga terlihat seksi untuk ukuran seorang laki-laki.
Thea “Are you ready?” tanong sa akin ni Lucian bago kami bumaba ng kotse He held my hand at kumapit naman ako sa kanya ng mahigpit. I smiled at him and I nodded. “Yes Hon! I’m ready at palagi akong magiging handa sa kahit na ako kasi nandyan ka!” Binigyan ako ni Lucian ng magaan na halik sa aking labi. Kahit na nadagdagan ang edad namin, hindi nabawasan ang pagiging sweet namin sa isa’t-isa. Nandito kami ngayon sa hotel kung saan gaganapin ang 20th anniversary ng Tanya Marie Vergara Foundation. Ito ang foundation na itinayo namin ni Lucian para matulungan ang mga batang deserving mag-aral ng college pero kapos naman sa budget. Naalala ko na sa Malibu nabuo ang konsepto nito during our honeymoon. Pagbalik namin ng Pilipinas ay naging busy na ako lalo ng maipanganak ko si Hyacinth at hindi ko alam na ongoing na pala ang processing nito at nang mabigyan ito ng approval sa SEC ay saka lang ito sinabi ni Lucian sa akin. It was my birthday ng pormal itong buksan ni Lucian at
LucianHindi na ako mapakali the moment na ipasok si Thea sa labor room. Si Nancy ang nakasama ko dito sa ospital dahil hindi naman pwedeng si Nurse Joy since walang maiiwan kay Inay.I called my parents at agad naman silang nagpunta dito sa ospital kasama si Margarette. They are all excited to see their first-born apo.“Kuya please, relax okay!” narinig kong sabi ni Margarette kaya naman napalingon ako dito“Paano naman ako magre-relax? Hanggang ngayon nasa loob pa si Thea at wala akong balita kung ano na ang nangyayari sa kanya!” sagot ko sa kapatid ko na prenteng nakaupo sa tabi ni Mommy“I’m sure the doctor’s are doing their job, iho. At kung may problema naman for sure malalaman natin yun!” sabi naman ng Mommy ko“Eh bakit nga ba ang tagal-tagal!” sabi naman ni Daddy na napatayo na din tulad ko“Tony utang na loob ha, huwag ka ng makisali kay Lucian!” suway naman ni Mommy kay Daddy na halatang kinakabahan din gaya ko“Jane, unang apo ko iyon! Natural kabahan ako!” katwiram namn
TheaSa mansion na kami dumiretso when we arrived at the Philippines at muli na naman akong sinorpresa ni Lucian. Pag-uwi namin sa bahay ay nandoon na si Arvie pero ang labis na nagpaluha sa akin ay nang makita ko ang inay.Nakaupo siya sa wheelchair habang nasa likod naman niya si nurse Joy. “Inay?” Agad ko siyang nilapitan at saka ko kinuha ang kamay niyaHindi naman nag-react si Inay pero ayos lang naman sa akin iyon. Ang mahalaga sa ngayon ay kasama na namin siya. Hindi pa rin ako mapapagod na magdasal na sana dumating ang araw na gumaling na siya.Makalipas ang isang buwan ay nagkaroon naman kami ng housewarming party. Invited lahat ng mga taong malapit sa buhay namin at masaya sila para sa amin ni Lucian at sa bagong tahanan namin.Nakita din ng mga taga-looban si Inay at hindi mapigil ni Aling Toyang at Tita Beth ang sarili nila na mapaiyak nang muli nilang makita ang kaibigang nawalay sa kanila.Maayos naman ang lahat pwera lang talaga ang paglilihi ko dahil noong tatlong
TheaSunundo ulit kami ng service para sa isa na namang tour na pina-book ni Lucian. Halos maghapon ang tour na ito and the guide reminded us to bring water and snacks just in case gutumin kami habang na sa sasakyan.Lucian made sure that we will have our breakfast first bago kami umalis ng hotel. Nagdala din siya ng tubig sa dalawang flask and snacks too.“Let’s go hon!” sabi niya saka niya inilahad ang kamay sa akinI can’t help but admire my husband kasi kahit anong isuot nito ay kayang-kaya niyang dalhin. He was just wearing short-sleeved polo and cargo shorts. May shades na nakasabit sa polo niya and topsider shoes. Nakasuot lang naman ako ng maong shorts since maliit pa naman ang tiyan ko. Naka sando lang ako at may shades din with my white rubber shoes.“Ang seksi naman ni buntis!” pang-aasar sa akin ni Lucian kaya natawa ako kasi minsan iyon ang itinatawag niya sa akin.Magkahawak kamay kaming lumabas ng hotel at nasa baba naman na ang service namin.Unang destinasyon ng tou
TheaSa private plane ni Drake kami sumakay papunta sa Malibu para sa honeymoon namin. Bago mananghali ay nakarating na kami dito at mabuti na lang nakisama ang katawan ko sa biyahe. Hindi naman ako nahilo or nagsuka man lang. Mukhang excited din ang anak ko sa trip na ito.Nagcheck-in kami ni Lucian
Thea Magkahawak-kamay kaming pumasok ni Lucian sa malaking pavillion kung saan gaganapin ang reception ng kasal namin. Bago kami makarating sa venue ay magkayakap lang kami sa kotse habang hindi namin mapigil ni Lucian ang mga emosyon namin. Magkayakap kami habang pareho kaming umiiyak. Pero ngayo
Third person’s POVIto na ang araw na tuluyan ng palalayain ni Lucian si Thea. Pagkatapos ng lahat ng ito, they will just be parents for their baby. Nothing more, nothing less.Naligo na si Lucian at nagbihis matapos siyang kuhaan ng video at pictures ng mga taong magco-cover ng kasal. Nakakatawa l
Thea(One day before the wedding)Hindi ko mapigilang umiyak the moment I saw the wedding gown that Sophia Conti has designed for me. Dumating ito kahapon kasama ng gown ni Karen at ang amerikana ni Arvie. Naninikip ang dibdib ko habang inaalala ang nakaraan namin ni Lucian. Kung paano namin inayos a


















Maligayang pagdating sa aming mundo ng katha - Goodnovel. Kung gusto mo ang nobelang ito o ikaw ay isang idealista,nais tuklasin ang isang perpektong mundo, at gusto mo ring maging isang manunulat ng nobela online upang kumita, maaari kang sumali sa aming pamilya upang magbasa o lumikha ng iba't ibang uri ng mga libro, tulad ng romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel at iba pa. Kung ikaw ay isang mambabasa, ang mga magandang nobela ay maaaring mapili dito. Kung ikaw ay isang may-akda, maaari kang makakuha ng higit na inspirasyon mula sa iba para makalikha ng mas makikinang na mga gawa, at higit pa, ang iyong mga gawa sa aming platform ay mas maraming pansin at makakakuha ng higit na paghanga mula sa mga mambabasa.
ความคิดเห็นเพิ่มเติม