The Billionaire's Perfect Match

The Billionaire's Perfect Match

last updateHuling Na-update : 2025-06-17
By:  EmotionlessMissKOngoing
Language: Filipino
goodnovel16goodnovel
10
1 Rating. 1 Rebyu
29Mga Kabanata
2.0Kviews
Basahin
Idagdag sa library

Share:  

Iulat
Buod
katalogo
I-scan ang code para mabasa sa App

He was born to lead and never questioned. While she was born to fight and never obey. When fearless troublemaker Raven Scott is forced into a fake engagement with arrogant billionaire Dean Kingsley by their powerful families, sparks don’t just fly they explode. He’s used to control, silence, and absolute obedience. She’s built on rebellion, fire, and brutal honesty. They hate each other’s guts but have no choice but to play the perfect couple to protect their inheritance. Behind closed doors, they clash like fire and gasoline. But hate has a wicked way of turning into something else. And the most dangerous game of all... might just be love.

view more

Kabanata 1

CHAPTER 1: Contract Engagement

Johan menatap ke sekeliling kamar barunya. Ruangan itu sederhana namun nyaman, dengan jendela besar yang menghadap ke taman kecil di belakang rumah kos. Baru beberapa hari ia tinggal di sini, tetapi ada sesuatu yang membuatnya gelisah—lebih tepatnya, seseorang.

Meri, ibu kosnya, adalah seorang wanita paruh baya dengan pesona yang sulit diabaikan. Rambut panjangnya selalu terurai dengan rapi, kulitnya putih terawat, dan cara berbicaranya selalu lembut namun menggoda. Johan merasa ada sesuatu dalam sorot mata perempuan itu yang terus mengusiknya.

Saat ia tengah sibuk menata buku di rak, terdengar ketukan pelan di pintu.

“Johan, boleh ibu masuk?” Suara Meri terdengar dari luar.

Johan segera membetulkan kaosnya yang sedikit berantakan. “Silakan, Bu.”

Pintu terbuka perlahan, dan Meri masuk dengan senyum khasnya. Ia mengenakan daster sutra berwarna biru muda yang membalut tubuhnya dengan pas, memperlihatkan lekuk tubuh yang membuat Johan menelan ludah tanpa sadar.

“Apa kamarmu sudah rapi?” tanyanya seraya melangkah masuk tanpa sungkan. Aroma parfum lembut yang dipakainya memenuhi ruangan, menyusup ke indra penciuman Johan.

“Sudah lumayan, Bu,” jawab Johan sedikit gugup.

Meri berjalan mendekat, lalu dengan santai duduk di tepi ranjangnya. “Ibu ingin memastikan kamu betah di sini. Kalau ada yang kurang, bilang saja.” Matanya menatap tajam ke arah Johan, seolah menelanjangi pikirannya.

Johan mencoba mengalihkan pandangannya ke rak buku. “Terima kasih, Bu. Sejauh ini saya nyaman.”

Meri tersenyum miring. “Panggil saja Tante Meri, jangan terlalu formal. Ibu terdengar terlalu tua.”

Johan mengangguk, merasa jantungnya berdetak lebih cepat. “Baik, Tante Meri.”

Meri tertawa kecil, lalu mengulurkan tangan, menyentuh bahu Johan dengan lembut. “Santai saja, Johan. Kamu terlalu tegang.”

Sentuhan itu membuat Johan seakan membeku di tempatnya. Ia bukan anak kecil yang tak tahu maksud tersembunyi di balik sikap Meri. Ada sesuatu dalam tatapan mata wanita itu yang menggoda, menantangnya untuk bereaksi.

Namun, Johan menahan diri. Ia tahu, bermain dengan api bisa berbahaya. Tetapi, apakah ia bisa benar-benar menghindar?

Malam itu, Johan masih belum bisa tidur. Bayangan Meri terus berputar di kepalanya. Sikapnya, suaranya, caranya menyentuh bahunya tadi—semua itu membuatnya semakin resah.

Di luar, angin malam berhembus pelan. Johan bangkit dari tempat tidurnya, berniat keluar sebentar untuk menghirup udara segar di teras belakang.

Saat ia membuka pintu, ia dikejutkan oleh sosok yang berdiri di luar kamarnya.

Meri.

Wanita itu masih mengenakan dasternya, tetapi kini ia membawa secangkir teh hangat di tangannya. “Belum tidur, Johan?” tanyanya dengan suara lembut.

Johan mengangguk kikuk. “Iya, masih belum mengantuk, Tante.”

Meri tersenyum, lalu menyerahkan teh yang dibawanya. “Minumlah, ini bisa membuatmu lebih rileks.”

Johan menerimanya dengan hati-hati, ujung jarinya bersentuhan dengan tangan Meri yang hangat. Seketika, ada percikan aneh yang membuatnya merinding.

Meri masih berdiri di sana, menatapnya tanpa terburu-buru. “Kau tahu, Johan… kadang, suasana malam bisa membawa banyak hal yang tak terduga.”

Johan merasa tenggorokannya kering. Ia tahu, batas antara ibu kos dan anak kos sudah mulai kabur. Tetapi, seberapa jauh ia berani melangkah?

Malam itu, udara terasa lebih panas dari biasanya.

Keesokan paginya, Johan bangun dengan kepala yang masih dipenuhi kebingungan. Ia berusaha mengabaikan perasaan aneh yang terus menghantuinya, tetapi tatapan Meri yang menggoda semalam masih melekat jelas dalam ingatannya.

Saat sarapan di ruang makan, Meri sudah duduk di kursi favoritnya. Ia mengenakan kaos ketat dan celana pendek yang memperlihatkan betis jenjangnya. Johan menelan ludah, mencoba mengalihkan pandangannya.

“Kamu tidur nyenyak semalam?” tanya Meri dengan senyum menggoda.

Johan mengangguk, meskipun sebenarnya ia hampir tidak tidur sama sekali. “Iya, lumayan.”

Meri tertawa kecil, lalu menyesap kopinya. “Baguslah. Aku ingin kamu selalu merasa nyaman di sini.”

Johan merasa ada makna tersembunyi di balik kata-kata itu. Ia berusaha tetap tenang, tetapi tatapan mata Meri membuatnya merasa seperti buruan yang sedang dipermainkan.

Hari itu berjalan seperti biasa. Johan menghabiskan waktunya di kamar, membaca buku dan mengerjakan skripsi. Namun, pikirannya tetap tak bisa lepas dari sosok Meri.

Menjelang sore, saat ia keluar untuk mengambil air di dapur, ia mendengar suara Meri dari ruang tamu.

“Johan, bisa tolong bantu Tante sebentar?” panggilnya.

Johan segera berjalan ke arah suara itu. Saat tiba di ruang tamu, ia menemukan Meri sedang berdiri di depan rak buku yang tinggi. “Aku butuh bantuan mengambil buku di rak atas. Bisa?”

Tanpa berpikir panjang, Johan melangkah maju dan mengulurkan tangan untuk mengambil buku yang dimaksud. Namun, saat ia berusaha meraihnya, tubuhnya secara tak sengaja bersentuhan dengan tubuh Meri yang berdiri sangat dekat.

Johan terdiam, merasakan detak jantungnya semakin cepat. Ia bisa merasakan kehangatan tubuh Meri, aroma parfumnya yang begitu menggoda.

Meri tidak bergerak menjauh. Sebaliknya, ia justru tersenyum tipis dan berbisik, “Kau gugup, Johan?”

Johan menelan ludah, berusaha mengendalikan dirinya. Namun, semakin ia mencoba menahan diri, semakin ia merasa terbawa arus.

Saat itu, Johan sadar, ia telah melewati batas yang seharusnya tidak dilewati. Tetapi, apakah ia benar-benar ingin kembali?

Palawakin
Susunod na Kabanata
I-download

Pinakabagong kabanata

Higit pang Kabanata

To Readers

Maligayang pagdating sa aming mundo ng katha - Goodnovel. Kung gusto mo ang nobelang ito o ikaw ay isang idealista,nais tuklasin ang isang perpektong mundo, at gusto mo ring maging isang  manunulat ng nobela online upang kumita, maaari kang sumali sa aming pamilya upang magbasa o lumikha ng iba't ibang uri ng mga libro, tulad ng romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel at iba pa. Kung ikaw ay isang mambabasa, ang mga magandang nobela ay maaaring mapili dito. Kung ikaw ay isang may-akda, maaari kang makakuha ng higit na inspirasyon mula sa iba para makalikha ng mas makikinang na mga gawa, at higit pa, ang iyong mga gawa sa aming platform ay mas maraming pansin at makakakuha ng higit na paghanga mula sa mga mambabasa.

Rebyu

EmotionlessMissK
EmotionlessMissK
Please leave your rate and feedback here at the comment section thank you.
2025-05-28 23:21:57
0
0
29 Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status