Mag-log inHe was born to lead and never questioned. While she was born to fight and never obey. When fearless troublemaker Raven Scott is forced into a fake engagement with arrogant billionaire Dean Kingsley by their powerful families, sparks don’t just fly they explode. He’s used to control, silence, and absolute obedience. She’s built on rebellion, fire, and brutal honesty. They hate each other’s guts but have no choice but to play the perfect couple to protect their inheritance. Behind closed doors, they clash like fire and gasoline. But hate has a wicked way of turning into something else. And the most dangerous game of all... might just be love.
view moreJohan menatap ke sekeliling kamar barunya. Ruangan itu sederhana namun nyaman, dengan jendela besar yang menghadap ke taman kecil di belakang rumah kos. Baru beberapa hari ia tinggal di sini, tetapi ada sesuatu yang membuatnya gelisah—lebih tepatnya, seseorang.
Meri, ibu kosnya, adalah seorang wanita paruh baya dengan pesona yang sulit diabaikan. Rambut panjangnya selalu terurai dengan rapi, kulitnya putih terawat, dan cara berbicaranya selalu lembut namun menggoda. Johan merasa ada sesuatu dalam sorot mata perempuan itu yang terus mengusiknya. Saat ia tengah sibuk menata buku di rak, terdengar ketukan pelan di pintu. “Johan, boleh ibu masuk?” Suara Meri terdengar dari luar. Johan segera membetulkan kaosnya yang sedikit berantakan. “Silakan, Bu.” Pintu terbuka perlahan, dan Meri masuk dengan senyum khasnya. Ia mengenakan daster sutra berwarna biru muda yang membalut tubuhnya dengan pas, memperlihatkan lekuk tubuh yang membuat Johan menelan ludah tanpa sadar. “Apa kamarmu sudah rapi?” tanyanya seraya melangkah masuk tanpa sungkan. Aroma parfum lembut yang dipakainya memenuhi ruangan, menyusup ke indra penciuman Johan. “Sudah lumayan, Bu,” jawab Johan sedikit gugup. Meri berjalan mendekat, lalu dengan santai duduk di tepi ranjangnya. “Ibu ingin memastikan kamu betah di sini. Kalau ada yang kurang, bilang saja.” Matanya menatap tajam ke arah Johan, seolah menelanjangi pikirannya. Johan mencoba mengalihkan pandangannya ke rak buku. “Terima kasih, Bu. Sejauh ini saya nyaman.” Meri tersenyum miring. “Panggil saja Tante Meri, jangan terlalu formal. Ibu terdengar terlalu tua.” Johan mengangguk, merasa jantungnya berdetak lebih cepat. “Baik, Tante Meri.” Meri tertawa kecil, lalu mengulurkan tangan, menyentuh bahu Johan dengan lembut. “Santai saja, Johan. Kamu terlalu tegang.” Sentuhan itu membuat Johan seakan membeku di tempatnya. Ia bukan anak kecil yang tak tahu maksud tersembunyi di balik sikap Meri. Ada sesuatu dalam tatapan mata wanita itu yang menggoda, menantangnya untuk bereaksi. Namun, Johan menahan diri. Ia tahu, bermain dengan api bisa berbahaya. Tetapi, apakah ia bisa benar-benar menghindar? Malam itu, Johan masih belum bisa tidur. Bayangan Meri terus berputar di kepalanya. Sikapnya, suaranya, caranya menyentuh bahunya tadi—semua itu membuatnya semakin resah. Di luar, angin malam berhembus pelan. Johan bangkit dari tempat tidurnya, berniat keluar sebentar untuk menghirup udara segar di teras belakang. Saat ia membuka pintu, ia dikejutkan oleh sosok yang berdiri di luar kamarnya. Meri. Wanita itu masih mengenakan dasternya, tetapi kini ia membawa secangkir teh hangat di tangannya. “Belum tidur, Johan?” tanyanya dengan suara lembut. Johan mengangguk kikuk. “Iya, masih belum mengantuk, Tante.” Meri tersenyum, lalu menyerahkan teh yang dibawanya. “Minumlah, ini bisa membuatmu lebih rileks.” Johan menerimanya dengan hati-hati, ujung jarinya bersentuhan dengan tangan Meri yang hangat. Seketika, ada percikan aneh yang membuatnya merinding. Meri masih berdiri di sana, menatapnya tanpa terburu-buru. “Kau tahu, Johan… kadang, suasana malam bisa membawa banyak hal yang tak terduga.” Johan merasa tenggorokannya kering. Ia tahu, batas antara ibu kos dan anak kos sudah mulai kabur. Tetapi, seberapa jauh ia berani melangkah? Malam itu, udara terasa lebih panas dari biasanya. Keesokan paginya, Johan bangun dengan kepala yang masih dipenuhi kebingungan. Ia berusaha mengabaikan perasaan aneh yang terus menghantuinya, tetapi tatapan Meri yang menggoda semalam masih melekat jelas dalam ingatannya. Saat sarapan di ruang makan, Meri sudah duduk di kursi favoritnya. Ia mengenakan kaos ketat dan celana pendek yang memperlihatkan betis jenjangnya. Johan menelan ludah, mencoba mengalihkan pandangannya. “Kamu tidur nyenyak semalam?” tanya Meri dengan senyum menggoda. Johan mengangguk, meskipun sebenarnya ia hampir tidak tidur sama sekali. “Iya, lumayan.” Meri tertawa kecil, lalu menyesap kopinya. “Baguslah. Aku ingin kamu selalu merasa nyaman di sini.” Johan merasa ada makna tersembunyi di balik kata-kata itu. Ia berusaha tetap tenang, tetapi tatapan mata Meri membuatnya merasa seperti buruan yang sedang dipermainkan. Hari itu berjalan seperti biasa. Johan menghabiskan waktunya di kamar, membaca buku dan mengerjakan skripsi. Namun, pikirannya tetap tak bisa lepas dari sosok Meri. Menjelang sore, saat ia keluar untuk mengambil air di dapur, ia mendengar suara Meri dari ruang tamu. “Johan, bisa tolong bantu Tante sebentar?” panggilnya. Johan segera berjalan ke arah suara itu. Saat tiba di ruang tamu, ia menemukan Meri sedang berdiri di depan rak buku yang tinggi. “Aku butuh bantuan mengambil buku di rak atas. Bisa?” Tanpa berpikir panjang, Johan melangkah maju dan mengulurkan tangan untuk mengambil buku yang dimaksud. Namun, saat ia berusaha meraihnya, tubuhnya secara tak sengaja bersentuhan dengan tubuh Meri yang berdiri sangat dekat. Johan terdiam, merasakan detak jantungnya semakin cepat. Ia bisa merasakan kehangatan tubuh Meri, aroma parfumnya yang begitu menggoda. Meri tidak bergerak menjauh. Sebaliknya, ia justru tersenyum tipis dan berbisik, “Kau gugup, Johan?” Johan menelan ludah, berusaha mengendalikan dirinya. Namun, semakin ia mencoba menahan diri, semakin ia merasa terbawa arus. Saat itu, Johan sadar, ia telah melewati batas yang seharusnya tidak dilewati. Tetapi, apakah ia benar-benar ingin kembali?Raven Elise POV Paglabas namin ng vine-covered pavilion, riyan kami naglakad, tahimik na rumaradyo ang sariling tibok ng puso. Wet dress? Okey lang. Soaked suit? Pasok. Pero may mga mata pa rin sa amin—asiatica, European tourists, staff—all captivated by our drama-slash-romance. Hindi kami nagpaapekto. We owned that moment.Dinala niya ako sa mismong veranda overlooking the vineyard at ang ilaw ng buwan ay nagkhiliti sa aking basa at matagal nang giniling na puso. He wrapped the towel around us both. Imitasyon na lang ng bride and groom retreat, pero mas wild.“Naalala mo noong una tayong nag-away dito?” tanong ni Dean, mahina.“Nakakalimutan man ako madalas, hindi ko nakakalimutan kung kailan ako dinala mo dito,” sagot ko, nakaluhod siya sa harap ko para hindi maramdaman yung dip ng veranda.Tumango siya. “At naalala mo rin yung dahilan?”“Excuse me?”“Yung unang dinner. Ikaw ang nag-pour ng Merlot sa jacket ko. Akala ko wala kang paggalang.”Napatawa ako. “Akala ko pregnant ako sa
Raven Elise’s Point of ViewMaagang umaga na kami dumating sa vineyard retreat. Dreamy vibes: rolling hills, rows of vines, chandeliers nakasabit sa mga puno for that Pinterest-worthy effect. Perfect setting para sa restorative weekend (o eso ang sabi ni Dean sa contract briefing). Pero we all know: kahit gaano ka-romantic ang lugar, kapag kasama ako at ang future husband kong sinaing ang kalaban sa katatawanan, expect chaos.First day, first mistake: tinuruan nila akong mag-wine tasting. Nang mag-"sip" ako ng Merlot at mukhang wine connoisseur, nakapikit na. Nang lumapit si Dean—nakasuot ng linen blazer na pampainit ng puso—tinanggal ko ang baso niya at minix ng Chardonnay.“Raven!” utol niya habang kumikirot ang kilay niya. “Ano’ng ginagawa mo?”“Experimenting,” sagot ko, pilit na kalmado. “Mas adventurous.”Tumingin siya sa pyesta ng alamak ko sa virb, sabay inabot ng glass. Boardwalk ang itsura ng runway, pero kulang stigma na disastrous fashion line.Pero hindi iyon ang climax. H
Raven Elise POV "Alin ba naman kasi ang hindi ko pa napapasok sa bahay na 'to?" bulong ko habang iniikot ang mata ko sa study ni Dean. Boring na kulay grey ang walls, naka-align lahat ng libro, may tatlong monitors sa table, at parang wala yatang kahit anong kaluluwa ang ever nanirahan dito.Pero hindi iyon ang dahilan kung bakit ako narito. Nope. Naka-trip ako ng curiosity overload nang makita ko kaninang umaga na may maliit na itim na notebook sa ilalim ng couch. At dahil Raven Elise ako, syempre, hindi ko pinalampas. Di ba nga, curiosity kills the cat—pero satisfaction brings it back to life.Naupo ako sa leather chair, binuksan ang notebook, at nanlaki ang mga mata ko. Therapy notes. May date pa bawat entry. At ang handwriting?“March 10 – The tension in the house is suffocating. She’s loud, chaotic, always trying to get a reaction from me. I don’t know why she affects me this much.”Umiling ako. "Aba ayos ka ah, Mr. Stoic. Deep pala ‘tong taong ‘to."Pinagpatuloy ko pa. Parang t
Raven Elise POV"Dean!" sigaw ko habang binubuksan ang bawat pinto sa bahay na parang baliw. "Nasaan si Loki? Huwag mong sabihing ginawa mo siyang throw pillow ha!"Walang sumagot. Typical. Pero hindi ako titigil. Hinanap ko sa ilalim ng sofa, sa loob ng cabinet, sa laundry basket. Kahit sa ref sinilip ko, baka naman sinubukan ni Loki maging yogurt.Nang walang resulta, dumiretso ako sa opisina ni Dean. Ibinangga ko ang pinto. Nakaupo siya roon, tahimik, habang nagbabasa ng report. Hindi man lang lumingon."Nasaan ang pusa ko?""I have no idea what you're talking about," sagot niya nang malamig. "Your cat probably ran away from all your screaming.""Baka kasi niligpit mo! O binenta sa black market! Or worse, pina-kidnap mo!"Dean finally looked at me. "Are you insane?""Yes! Kasi nawawala si Loki at ang huling taong nagalit sa kanya ay ikaw!" Nakaturo ang daliri ko sa kanya na parang baril. "Hindi mo ba maalala yung nangihi siya sa loob ng sapatos mo? Sabi mo ipapahuli mo siya.""That






Maligayang pagdating sa aming mundo ng katha - Goodnovel. Kung gusto mo ang nobelang ito o ikaw ay isang idealista,nais tuklasin ang isang perpektong mundo, at gusto mo ring maging isang manunulat ng nobela online upang kumita, maaari kang sumali sa aming pamilya upang magbasa o lumikha ng iba't ibang uri ng mga libro, tulad ng romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel at iba pa. Kung ikaw ay isang mambabasa, ang mga magandang nobela ay maaaring mapili dito. Kung ikaw ay isang may-akda, maaari kang makakuha ng higit na inspirasyon mula sa iba para makalikha ng mas makikinang na mga gawa, at higit pa, ang iyong mga gawa sa aming platform ay mas maraming pansin at makakakuha ng higit na paghanga mula sa mga mambabasa.
Rebyu