เข้าสู่ระบบ“Syet! Sobrang pogi naman pala sa malapitan. At ang bango! Weakness ko pa naman ang mababangong lalake. Buti na lang nakaupo ako kundi nalaglag na ang panty ko kasama pati bra," ani Kataleia, ang matimtimang birhen sa araw, playgirl bunny sa gabi. Chinito. Mapostura. Mabango. Bukod tanging daks sa lahat ng daks sa mundo. Na-starstruck sya nang makadaupang-palad nya ang Manhattan billionaire na si Kristian Knives sa isang disco bar. At para na rin magamot rin ang natapakang ego sa pagkakahuli nya sa kanyang boyfriend for five months na may tinitirang iba, she lures Knives for a one-night stand. Little did she know na ang lalakeng naging jowa nya for one night na inaasahan nyang hindi na nya makikita pang muli ay ang anak ng mapangasawa ng kanyang ina.
ดูเพิ่มเติมPesawat Garuda mendarat dengan mulus di bandara Soetta, Jakarta. Ghea Ananda Saputri segera persiapkan dirinya yang sedang duduk di kelas ekonomi. Dengan gemetar mendekati bosnya yang duduk di kelas busines, mengambil tas jinjing bosnya lalu keluar dari pesawat menuju apron kedatangan.
Tubuh mungil itu dengan percaya diri, tanpa senyum ciri khas Ghea langsung menuju tempat pengambilan bagasi yang telah dikerumuni para penumpang yang tidak sabar menyerobot ,malah berdesak-desakan mengambil koper. Dari jauh Ghea melihat kopernya , mengambilnya , menunggu koper bosnya , dilihatnya label pada koper warna silver , ternyata cocok ,Ir. Galang Juda Saputra, MSc.
Diseretnya kedua koper dengan kesulitan penuh karena harus memegang tas jinjing bosnya ,di punggungnya tergantung tas punggung berisi laptop dan dokumen-dokumen. Keluar pintu bandara, supir kantor sudah menunggu , langsung mengambil kedua koper.
” Wah, mbak Ghea benar-benar super woman, kuat juga menyeret dua koper ini. Berat banget, banyak oleh-oleh ya mbak?” tanya Gito supir kantor yang terkenal kepo.
“ Oleh-oleh apaan, di Jayapura kalau tidak meeting, tinjau lokasi , meeting lagi, meeting terus , tidak ada kesempatan untuk jalan-jalan. Beli oleh-oleh ? Tidak ada dalam otak bosmu! Isinya pakaian kotor.” Kata Ghea cemberut , bukan terlihat kesal malah menampakkan kedua lesung pipinya yang membuat Ghea semakin menarik.
“ Mana bos?” tanya Ghea sambil melongok ke kiri dan ke kanan.
“ Sudah di mobil mbak.” Jawab supir.
“ Uhh ! Memang enak jadi bos, tinggal perintah, jalan santai , duduk manis di mobil, ” gerundel Ghea perlahan, takut gerundelnya di dengar supir.
" Ini kopernya bos, koper saya pegang sendiri, saya pulang naik bus saja.” Kata Ghea.
Dengan kesal Ghea menuju tempat parkir membuka pintu penumpang, mengembalikan tas kerja bos, sekalian pamit pada bos sengaja memasang wajah capek dengan harapan bosnya mengijinkannya pulang.
“ Maaf pak, ini tas kerja bapak ,” katanya meletakkan tas jinjing di samping duduk bosnya.
“ Saya pamit, “
“ Eh ! Mau kemana kamu? Enak aja pulang ! Masih banyak kerjaan. Ini baru jam tiga sore, masih jam kerja.” perintah bos dengan suara arogan.
“ Hai, mau kemana?” terdengar suara bariton bosnya ketika melihat Ghea akan menutup pintu mobil.
“ Menaruh koper saya di bagasi pak.” Jawab Ghea.
“ Gito, masukkan kopernya mbak Ghea ke bagasi. Kita langsung ke kantor.” Perintah bos.
Gito yang sudah duduk manis di belakang kemudi langsung keluar, mengambil koper Ghea, berbisik ke Ghea, " Kerja lagi," tidak ditanggapi Ghea hanya menatap sopir kepercayaan bos dengan tatapn dingin.
Dengan kesal Ghea duduk di depan, di samping Gito, diliriknya bos melalui kaca spion sibuk dengan ponselnya. Merasa ada melihatnya,bos memandang ke depan, cepat-cepat Ghea memalingkan wajahnya dengan ketakutan, Huh, hampir ketahuan, katanya dalam hati.
Tidak ada pembicaraan di dalam mobil, serasa di kuburan, dengus Ghea dalam hati. Perjalanan dari bandara ke kantor yang terletak di jalan Thamrin membutuhkan waktu yang panjang, belum lagi jalan macet , karena capek akhirnya Ghea tertidur di mobil.
Dia tersentak ketika supir membangunkannya, “ Mbak Ghea kita sudah sampai.”
“ Oh ! Aku ketiduran, “ katanya dengan menahan malu langsung membuat pipinya semburat merah.
Ghea melirik ke kaca mobil tidak nampak bos.
” Bos sudah turun, naik ke atas mbak.Cepatan, koper mbak saya titip di lobbi.”
“ Baik, terima kasih mas Gito.”
Setengah berlari , Ghea naik ke lift dipencetnya tombol 35 , ada kegelisahan di hatinya,” Pasti bos marah melihat aku tertidur di mobil,” bisiknya.
“TING”
Pintu lift terbuka, di depan lift telah berkumpul para karyawan yang akan pulang. Jam sudah menunjukkan jam lima sore.
“ Hallo Ghea, baru nyampe ya… itu bosmu sudah menunggumu dari tadi.” Kata Nyali.
“ Mana oleh-olehnya dari Jayapura.” Teriak Santi.
“ Mana pernah bos beli oleh-oleh, kiamat deh kalau bos beli oleh-oleh.” Nyelutuk Bambang , langsung disambut tawa para staf yang berdiri di depan lift.
Gelisah, takut dimarahin bos, Ghea segera meluncur ke ruang kerja bos.
“ Kerjanya hanya tidur, pantas kerjamu selalu tidak beres. Cepat ambil tabletku yang ada di tas jinjing, kita buat laporan untuk meeting dengan direktur besok.” Perintah bos .
Huh rupanya dia sudah membuat konsep laporan di pesawat dan di mobil, ngedumel Ghea dalam hati , metransfer konsep laporan ke laptopnya. Langsung jemarinya yang lentik menari di atas tuts keyboard memperbaiki konsep bos menjadi laporan memakai program Microsoft Power Point agar memudah bos mempresentasikan ke depan para direktur besok hasil negosiasi pembangunan mall bertaraf internasional di kota Abepura.
Selesai, Ghea menuju ke ruang kerja bos. Dilihatnya bos tertidur di kursi kerjanya, matanya memejam rapat terdengar dengkuran halus . Ghea terpaku sejenak melihat bos tertidur, Sialan dalam tidurpun dia terlihat cakep , tidak nampak kearoganannya, malah terlihat manis seperti bayi, ngedumel Ghea dalam hati.
Berfikir sejenak apakah meletakkan tablet di meja kerja lalu langsung kabur. Ghea melihat jam dinding di ruang kerja bos telah menunjukkan pukul Sembilan lewat sepuluh menit, Uh… sulit mendapatkan bis trans Jakarta pada jam segini, ngedumelnya lagi.
Akhirnya Ghea memutuskan pulang, meletakkan tablet di meja kerja bos dengan beringsut sedikit berjinjit , tanpa bersuara dia membuka pintu ruang kerja bos. Terdengar suara bariton, “ Mau pergi diam-diam ? Tunggu saya belum periksa hasil kerjamu.”
“ Oh… My God, mengapa kamu kirimkan padaku bos arogan , tidak punya hati dan super galak .” bisik Ghea.
“ Jangan ngedumel, memang aku tidak punya hati, kalau aku punya hati perusahaan ini tidak akan maju dan berkembang menjadi perusahaan terbesar di Indonesia !” bentak bos.
Langsung wajah Ghea memerah, ampun Tuhan, dia mendengarnya, batinnya langsung kembali lalu duduk manis di sofa.
" Judul foldernya !" teriak bos.
" Presentasi pembangunan mal Abepura pak," jawab Ghea gelisah, takut jika ada kesalahan dalam mengupgrade konsep bos menjadi Power Point.
Bos membuka tablet, mencari folder Presentasi pembangunan mall Abepura, memandang sekilas, ada rasa puas di wajahnya yang tidak dilihat Ghea yang sedang menunduk lesu dengan pikiran bercabang, cara pulang ke tempat kost , perutnya yang melilit karena lapar belum lagi dia mendapatkan haid membuat keseluruhan tubuhnya apalagi bagian bawahnya terasa nyeri dan gatal. Seharian dia memakia pembalut yang tidak sempat diganti karena sibuk menghadapi bos yang gila kerja.
Tidak saja gila kerja tapi perfeksionis, sedikit kata salah bos sudah meraung menatap Ghea dengan tatapan kejam.
" Kamu boleh pulang, nanti diantar mas Gito. Sudah malam." kata bos tanpa mengangkat wajahnya terus memandang tabletnya.
" Apa pak? " tanya Ghea gugup karena sibuk dengan pikirannya.
" Kamu boleh pulang diantar Gito!"
" Baik pak, saya pamit. Terima kasih menginjinkan mas Gito mengantar saya. Eh ! Tapi bagaimana dengan bapak jika mas Gito mengantar saya?" tanya Ghea.
" Bukan urusanmu !"
Dengan cepat Ghea merapikan meja kerjanya , sebelum bos berubah pikiran.
" Ghea !!" terdengar suara bos.
" Uh ! Betul kan, dia berubah pikiran?" bisiknya , dengan langkah lunglai menuju ruang kerja bos.
" Besok, Sabtu masuk kerja ! Ada beberapa konsep rancangan proyek yang saya ingin kamu buatkan presentasinya! " perintah bos.
" Baik pak ! Saya pamit." jawab Ghea.
" Hmmm..."
Cepat-cepat Ghea meninggalkan ruang kerja bos , bagaikan kilat dia lari menuju lift. Setelah sampai di lobbi dia menghela nafasnya terbebas dari bos yang arogan , tak punya hati, tapi pikiran itu kemudian dibantahnya, " Dia ternyata punya hati baik, bayangkan aku harus menyeret koper sepanjang jalan Thamrin mencari taksi," bisiknya sambil mencari mas Gito yang sudah menunggunya di depan pintu gedung Griya Artha Langgeng Jaya .
Dibukanya tas ransel, mengambil bungkusan kecil. Sampai di tempat kost, Ghea mengucapkan terima kasih kepada Rio, memberikan bungkusan kepada Rio.
" Mas Rio ini oleh-oleh buat mas Rio, khusus buat mas Rio yang telah mengantar saya."
" Eh, bos yang suruh saya antar mbak Ghea, katanya sudah malam sulit mendapatkan Trans Jakarta."
" Iya, banyak sih taksi , tapi saya takut naik taksi malam-malam.Satu lagi mas Rio, jangan bilang saya kasih oleh-oleh, ini kue sagu enak ditemani dengan kopi pahit."
" Wah, saya sih suka kopi hitam pakai susu kental manis. Kopi pahit? Hidupku sudah pahit mbak, sepahit kopi hitam." seloroh Rio, menstarter mobil meninggalkan Ghea yang menyeret kopernya ke ruang tamu.
Pinagmamasdan ko ang mga microwavable tubs na pinahatid ni Mama sa driver ng mansyon dito kanina. Buti hindi sya nagalit noong tumawag si Seiji para magpaalam na hindi na kami tutuloy sa dinner ngayon, hindi naman kasi sya nagagalit kay Seiji kahit na anong sabihin nito. Pero kung ako ‘yung tumawag malamang sa natulig na naman ang aking tenga sa sermon nya.“I will reheat all of this so you can eat it warm, madame,” ani Mamancona na isinasalansan ang mga tub sa isa nyang braso. “Seiji is upstairs. He will join you later after he finishes the meeting.”“Yes, please. Thanks, Mamancona,” ngiti ko sa kanya. Napatingin ako sa hagdan paakyat ng third floor. Pagdating na pagdating namin dito sa bahay, dumiretso na sya agad sa taas; ni hindi nga nya naiparada nang maayos ang kanyang sasakyan. Maski si Veronica na iniwan namin sa ospital ay hindi pa rin dumarating. Napakatagal naman ng meeting na iyon ni Seiji. Nakatapos na akong kumain at nakapagpalit na ng damit-pantulog pero hindi pa rin
I smiled and gently touched Kataleia’s knees para magpaalam na lalabas ako para sagutin ang tumatawag. She just gave me a nod at nagbaling muli ng tingin kay Veronica na nangingiwi habang nilalapatan ng lunas ang sugat sa noo. “Ii shiai datta ne, Oyabun. Nani ga atta ka wakannai kedo, shiai mite nakatta n da yo ne, (It was a good match, Boss. I don’t know what happened; I wasn’t watching the fight,)” mahinang sagot habang nilalakad ko ang palabas ng ER. “Our friends are not happy with the result, and so am I. Losing that huge amount of money to a useless fight is so frustrating. You disappointed me for the second time, Shateigashira.” Yasou sounded calm, yet there was no mistaking the fury beneath his measured tone. “I sincerely apologize. I wasn’t expecting that, too. It won’t happen again, Oyabun. I assure you. ” “Where were you? I was calling you, but you seem to always disappear when you are needed.” "I'm just taking care of a few things, Oyabun. I’m sorry, I was about to
Tumahimik ang paligid ng ilang segundo na tila napakatagal para sa akin, hanggang sa sinagot na rin nya ang tanong ni Kataleia. “Uhm, oo, nauntog. Nauntog ako. Hindi ko kasi nakita… Madilim dito,” napakahinang bulong ni Veronica na halos hindi bumuka ang mga namamaga nang labi. Para akong nabunutan nang malaking tinik sa lalamunan. “See? Nauntog. Nagulat na nga lang ako pag-akyat ko dito umiiyak na sya eh. Hay naku! Ipapalipat ko na nga 'yang pasong ‘yan, laging na lang may nadidisgrasya rito,” natatawa na naiiling ako. Daig ko pang nakapasa sa bar exams nang maibsan ang kaba ko. “Magpahinga ka na Veronica. Ipapasunod ko na lang sa kwarto mo ang first aid kit... ‘Lika na, love.” yakag ko sa kanya. “Gutom na ‘ko, baka hindi pa sila kumakain kakahintay sa ‘tin,” Hinawakan ko syang muli sa braso pero tinapik nya nang malakas ang aking braso. “Hindi pwede! Anong first aid kit?! Kelangan ‘tong matahi,” although may pagpa-panic, marahan nyang sinapo ng panyo ang tumulong dugo sa pisngi ni
“Hindi ba sinabi kong h’wag mong aalisin ang tingin mo sa kanya?!” gumaralgal ang boses ko sa lakas ng aking hiyaw. “Napakawala mong silbi!” “Pa-pasensya na, Boss. A-aalis na po ako nga-ngayon— hahanapin ko si Madame,” nagkakandautal sya sa takot sa nag-aapoy kong titig. Tumalikod sya sa akin at akmang lalayasan ako kaya hinablot ko ang maiksi nyang blonde na buhok, hinatak ko ‘yun at naglakad patungo sa bahay. Hanggang sa napahiga sya sa semento ay hindi ko binitawan ang buhok nya at nagpatuloy sa bilis ng paglalakad. Dumidilim ang utak ko sa nagpupuyos kong galit. Hindi ko na naririnig ang mga matitinis nyang tili sa sakit na dulot ng pagkakakaladkad ko sa kanya paakyat sa hagdan patungo sa ikatlong palapag. “Saan sya nagpunta??!” nanggagalaiting hiyaw ko pagbalibag ko sa maliit nyang katawan sa gilid ng sofa, nauntog pa sya sa matulis na gilid ng kwadradong paso ng halaman kaya dumugo ang malapit sa kanyang kilay . “Nasampal na kita kanina bago kayo umalis, ‘di ba? Hindi ka p
“Eh, ‘Ma, kasi… Hindi ba parang maaga pa masyado para magpakasal? Naisip ko lang… Magsusukob ang kasal natin kung sakali—” “Hindi ka aalis!” pagalit na bulyaw nya. Hinatak nya ako sa braso at kinaladkad papunta sa elevator. “Hayaan n’yo na lang po muna ako, ‘Ma. Ayoko pa po munang magpakasal,” ma
“Huh?! Bakit po ako o-oo?” nagugulantang na tanong ko. “Eh, magpo-propose na nga eh! Natural sasabihin mo, ‘Yes, love, I will marry you!’” kinikilig na inilahad pa nya ang isang kamay na parang sya ang sinusuotan ng invisible na singsing at nagkunwang naiiyak sa sobrang saya. “Hindi natural ‘y
“Okay lang,” mahinang tugon ko. “Hindi pwedeng okay lang, beks. Hindi ka man lang magbago, depota ka! Napalayas mo na si Knives, anong balak mong gawin kay Seiji?” “Correction! Hindi ko sya pinalayas, kusa syang umalis. Paano ko sya papaalisin eh bahay nila ‘yun. Mainam na rin ‘yun para magtino
[Kataleia’s POV] “Heto na, love.” Sinulyapan ko si Seiji sa ilalim ng shades ko pagbalik nya dala-dala ang juice na hiniling ko. Inilapag nya iyon sa katabi kong maliit na lamesa. “Wow! Ambilis mo ah, thanks!” ngiti ko. Hinila ko muna paakyat ang harapan ng itim kong bra saka naupo mula sa pa


















Maligayang pagdating sa aming mundo ng katha - Goodnovel. Kung gusto mo ang nobelang ito o ikaw ay isang idealista,nais tuklasin ang isang perpektong mundo, at gusto mo ring maging isang manunulat ng nobela online upang kumita, maaari kang sumali sa aming pamilya upang magbasa o lumikha ng iba't ibang uri ng mga libro, tulad ng romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel at iba pa. Kung ikaw ay isang mambabasa, ang mga magandang nobela ay maaaring mapili dito. Kung ikaw ay isang may-akda, maaari kang makakuha ng higit na inspirasyon mula sa iba para makalikha ng mas makikinang na mga gawa, at higit pa, ang iyong mga gawa sa aming platform ay mas maraming pansin at makakakuha ng higit na paghanga mula sa mga mambabasa.
ความคิดเห็น