Beranda / Romansa / The CEO'S Forbidden Bride / 5. Dia Sangat Menarik

Share

5. Dia Sangat Menarik

Penulis: DF Handayani
last update Terakhir Diperbarui: 2025-05-26 02:04:48

Sunrise mencoba menenangkan diri. Segelas capucino mungkin bisa membantunya untuk rileks. Di pantry ruangan, ia membuat minuman favoritnya itu.

Tapi apa yang terjadi? Bayangan Khairen malah terus menggerus pikirannya. Bahkan, ketika ia menuang air panas. Suara CEO itu terngiang di telinganya.

"Arrgggh! Aku bisa gila jika terus seperti ini! Bagaimana aku bisa bekerja dengan waras. Kapan dia akan pergi dari sini?" gerutu Sunrise. Berharap Khairen segera kembali ke habitatnya.

Seperti kabar yang beredar, tujuan Khairen datang ke kantor CNC di Zurich hanya untuk menghadiri acara seremonial dan mengecek rencana proyek baru, tidak lebih. Selama ini, yang mereka tahu jika, putra Tuan Crown itu lebih suka bekerja di balik layar. Dan dia menetap di Rusia.

Tanpa Sunrise sadari, ada yang sejak tadi mengintainya dari belakang. Ia terlalu fokus dengan kecamuk pikirannya, hingga tidak peka dengan keadaan sekitar.

Dan ketika ia berbalik hendak kembali ke mejanya, ia dikagetkan dengan kejutan kecil di ruang divisi teknologi. Rekan-rekannya telah menyiapkan kue, balon sederhana, dan sebuah kotak hadiah dengan pita biru.

“Selamat, Kepala Divisi Sunrise White!” seru semua orang serempak.

Capucino di tangannya hampir saja tumpah karena terlalu terkejut. Beruntung ia kuat menahannya. Sunrise menahan air matanya. Ia benar-benar tidak menyangka akan mendapat perlakuan hangat seperti ini.

“Terima kasih… kalian memang luar biasa,” ucapnya sambil memeluk Carmen yang memelopori kejutan tersebut.

Divisi Teknologi memang terbilang paling kompak diantara divisi-divisi lainnya. Bukan sekedar tim saja, namun rasa kekeluargaan di antara mereka terjalin cukup baik. Itulah mengapa divisi teknologi sering mendapatkan reward.

Selain kinerja mereka yang baik, kesolidan seluruh anggota tim membuat atmosfer perusahaan lebih bewarna. Inovasi mereka tak pernah habis untuk menciptakan kejutan-kejutan teknologi yang canggih bagi perusahaan. Dan tentu hampir seluruh ide proyek berasal dari Sunrise. Tak heran ia dipromosikan menjadi kepala divisi.

Di tengah keceriaan itu, Sunrise mengusulkan sesuatu. “Bagaimana kalau kita rayakan di luar? Pesta kecil di kafe langganan kita malam ini?”

Tentu semua orang langsung menyambut dengan antusias. Setelahnya, semua kembali ke tempat kerjanya masing-masing.

Namun kebahagiaan itu tak bertahan lama, karena beberapa jam kemudian ia harus menghadiri rapat besar koordinasi proyek baru bersama seluruh kepala divisi dan tentu saja, Khairen.

"Bagaimana perasaanmu Sunrise? Ini hari pertamamu menjabat sebagai kepala divisi." ucap Carmen yang paling antusias di antara semua.

"Tidak ada yang istimewa. Aku tetaplah Sunrise. Jangan sungkan jika meminta bantuan padaku." ucap Sunrise tak ingin menjadikan jarak di antara rekan kerjanya.

Meskipun terkenal cerewet dan perfeksionis, namun sifat rendah hati itulah yang membuat semua rekan kerjanya begitu menyayangi dan menghormati seorang Sunrise White.

Carmen lebih mendekat ke arah Sunrise dan berbicara pelan namun cukup terdengar di sekitar.

"Sunrise, hari ini kau akan rapat dengan CEO kan, apa kau tidak gugup? Kau tahu semua orang sedang membicarakannya. Ketampanannya, aura dinginnya membuat kita..." Carmen menepuk dadanya seolah meleleh.

"Jaga bicaramu Carmen!" tegur Sunrise mengingatkan jika seluruh kantor dapat terlihat di CCTV.

"Apa kau saja yang tidak tertarik padanya?" Carmen heran. Ia membuka layar tabletnya dan memperlihatkan foto ketika Sunrise menerima penghargaan di podium. Ekspresinya yang begitu datar seolah tak kagum pada sosok Khairen.

"Lihat wajahmu ini Sunrise! Kau sangat payah!" Carmen benar-benar tidak mengerti.

Sunrise menghela napas panjang, seandainya Carmen tahu jika saat itu dirinya hampir mati karena berusaha menyembunyikan masalah besar dari semua orang.

"Kau tahu sendiri saat itu aku sedang tidak enak badan." Sunrise beralasan.

"Dan ada apa dengan penampilanmu ini?" tanyanya keherana, ia baru sadar perubahan penampilan sahabatnya yang berponi dan berkacamata. "Apa ini termasuk gebrakan baru?"

"Berhentilah bicara!" Sunrise menepis tangan Carmen yang menyentuh poninya.

Carmen mencebik. "Seandainya saja sejak dulu CNC Zurich di pimpin olehnya, aku pasti tidak akan pernah mengambil jatah cutiku!" gumamnya kembali membahas CEO-nya.

Bugh! Sunrise menimpuk Carmen dengan buku note yang cukup tebal. "Apa kau sudah bosan kerja di sini?"

"Aaawwhh!" keluh Carmen sambil mengusik punggungnya. "Kau sangat kasar!" umpatnya.

"Cepat kembali ke tempatmu, atau surat peringatan akan ada di mejamu hari ini!" ancam Sunrise menggunakan wewenangnya.

"Baru beberapa jam kau menjabat, tapi sudah ingin menendangku! Awas saja kau!" gerutu Carmen yang segera beranjak pergi dari meja kerja Sunrise. Meskipun ia tahu sahabatnya itu hanya sekedar bercanda.

Sebelum keluar dari ruangan Sunrise, sempat-sempatnya Carmen berpesan. "Bisakah aku menggantikanmu rapat hari ini?"

"Carmen!" bentak Sunrise dengan matanya yang membulat penuh peringatan. Carmen pun segera berlari keluar sambil tertawa kecil.

Siang harinya.

Ruang rapat dipenuhi wajah-wajah serius. Sunrise duduk di posisi strategis, berseberangan langsung dengan Khairen. Sekali lagi, jantungnya berdebar. Tapi ia tahu, ini saatnya menunjukkan kemampuannya di hari pertama menjabat.

Saat sesi pembahasan strategi teknologi dimulai, Sunrise angkat bicara. Ia mempresentasikan konsep optimalisasi AI untuk analisis data klien dengan presisi dan efisiensi yang mengesankan. Grafik, angka, dan logika di baliknya membuat ruangan hening mendengarkan.

Bahkan Khairen, yang awalnya duduk santai, kini duduk lebih tegak dan memperhatikan setiap kata yang keluar dari mulut Sunrise.

“Pendekatan itu cukup berani, tapi saya suka. Siapa yang merancang sistem algoritmanya?” tanya salah satu kepala divisi pemasaran.

“Saya." jawab Sunrise dengan tenang.

Tatapan Khairen tak lepas darinya. Di balik profesionalismenya, ada sesuatu yang membuatnya terpesona. Sunrise tak hanya menarik secara fisik, tapi juga punya kecemerlangan yang sulit diabaikan.

“Sangat menarik,” gumam Khairen dengan senyum samar. “Baiklah, kita akan bahas lebih lanjut skema anggarannya.”

Rapat berlangsung selama dua jam. Sunrise keluar dari ruangan dengan kepala tegak. Tapi di dalam pikirannya, ia masih waspada. Tatapan Khairen terlalu intens. Ia tidak tahu apakah itu pertanda kekaguman atau kecurigaan.

Sunrise tak ingin ambil pusing kali ini. Ia hanya merasa lega karena rapat selesai. Dan malam nanti, ia berhak bersenang-senang. Setidaknya sekali, sebelum badai berikutnya datang.

"Sunrise White...aku akan mencari tahu tentangmu." gumam Khairen sebelum ia pergi meninggalkan ruang rapat.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Juhaina R
cari tahu saja klo bisa ...
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • The CEO'S Forbidden Bride    108. Tertangkap Basah

    Di kediaman ibunya, suasana berubah mencekam sejak kabar itu tiba.Lucas berdiri di ruang tengah dengan rahang mengeras, telapak tangannya mengepal begitu kuat hingga buku-bukunya memutih. “Dia kabur,” ucapnya dingin, seperti vonis. “Pergi tanpa izin. Tanpa penjelasan.”Sang ibu duduk kaku di sofa, wajahnya pucat. Di sampingnya, Summer berdiri dengan dada naik turun, jelas menahan amarah yang selama ini ia simpan.“Bukan kabur,” potong Summer tajam. “Sunrise pergi karena dia memilih hidupnya sendiri.”Lucas menoleh cepat. “Kau membelanya?” Nada suaranya meninggi. “Setelah semua yang kita lakukan? Setelah semua rencana itu?”“Justru karena semua itu,” jawab Summer tanpa gentar. “Sudah cukup Sunrise berkorban. Sudah cukup dia menderita demi rencana yang bahkan bukan pilihannya sejak awal.” Ia melangkah mendekat, menatap Lucas lurus dengan air mata yang menggenang. “Kita tidak berhak mengatur hidupnya. Dia butuh hidupnya sendiri, kebahagiaannya sendiri”Lucas tertawa pendek, “Dia memili

  • The CEO'S Forbidden Bride    107. Melindungimu adalah Tugasku

    Cahaya pagi menyusup perlahan, membelah tirai dengan garis keemasan yang lembut. Sunrise terbangun lebih dulu. Ia tidak langsung bergerak, hanya memandangi wajah Khairen yang tertidur di sampingnya.Pria itu terlihat berbeda dalam tidur tidak ada ketegangan di rahang, tidak ada dahi yang berkerut menahan beban dunia. Hanya napas teratur dan garis wajah yang akhirnya beristirahat.Sunrise mengangkat tangan, ragu sejenak, lalu menyentuh pipi Khairen dengan ujung jarinya, begitu hangat. Rahangnya tegas ditumbuhi jambang yang terawat rapi, membuatnya nampak tampan. Ia menelan ludah, menahan gelombang emosi yang kembali menguat.Namun, ada ketakutan yang masih tersisa, bersembunyi di sudut-sudut hatinya.Khairen bergerak, kelopak matanya bergetar sebelum akhirnya terbuka. Tatapannya langsung menemukan Sunrise. Sekilas, kebingungan melintas. Lalu matanya melembut, dan senyum kecil terukir, senyum yang jarang ia berikan pada siapa pun.“Kau masih di sini,” ucapnya lirih, seperti menguji keny

  • The CEO'S Forbidden Bride    106. Rindu dan Gairah

    Dunia Khairen seolah berhenti. Ia mendongak. Matanya membesar, lalu menyipit, seolah takut ini hanya bayangan.“Sunrise?” panggilnya lirih.Ia berdiri setengah, terhuyung, lalu duduk kembali. Sunrise mendekat dan berlutut di depannya. Khairen mengangkat tangan, menyentuh wajahnya dengan ragu, seolah memastikan ia nyata.“Kau… kembali,” bisiknya. "Benarkah ini kau? Aku tidak sedang bermimpi?Sunrise memegang tangan itu, menempelkannya ke pipinya. Air matanya jatuh tanpa ia sadari. “Aku di sini.”Sekejap kemudian, Khairen memeluknya begitu erat, seperti seseorang yang baru saja selamat dari tenggelam. Napasnya berantakan.“Jangan pergi lagi,” pintanya parau. “Aku tidak peduli pada siapa pun. Jangan tinggalkan aku.”Sunrise membalas pelukan itu, menyembunyikan wajahnya di dada Khairen. “Aku tidak akan pergi.”Ciuman mereka terjadi tanpa kata. Awalnya gemetar, penuh rindu dan ketakutan. Lalu berubah semakin dalam, semakin menuntut, seolah keduanya berusah

  • The CEO'S Forbidden Bride    105. Pilihan Sunrise

    Lampu kamar Sunrise redup. Tirai jendela setengah terbuka, membiarkan cahaya kota menyusup samar ke lantai marmer. Sunrise duduk di tepi ranjang, punggungnya bersandar pada sandaran kepala ranjang, ponsel berada di tangannya sejak satu jam lalu, layarnya mati, tak ada notifikasi, tak ada pesan.Tidak ada nama Khairen yang muncul.Dadanya terasa sesak. Ia tahu pria itu tak mungkin diam tanpa alasan. Amarah yang tak bisa dikendalikan dan kekecewaan yang terlalu dalam untuk diucapkan. Serangan di CNC pagi tadi bukan kebetulan. Ia terlibat, meski tidak sepenuhnya seperti yang orang-orang bayangkan. Namun di mata Khairen, keterlibatan tetaplah pengkhianatan.Sunrise memejamkan mata. Bayangan wajah Khairen yang dingin, tajam, dan penuh kendali kembali terlintas. Ia menarik napas panjang, menekan perasaan bersalah yang menggerogoti dadanya.Di sisi lain rumah, di ruang kerja Lucas, suasana jauh dari tenang.Lucas berdiri di dekat jendela, punggungnya tegak, tangan

  • The CEO'S Forbidden Bride    104. Saling Menyerang

    Sunrise menarik napas panjang. “Aku butuh udara,” katanya dingin.Sunrise berjalan keluar dari ruangan itu tanpa menoleh lagi. Pintu tertutup pelan di belakangnya.Koridor AndersonNet sunyi. Lampu-lampu putih menyinari dinding logam yang dingin. Ia berjalan beberapa langkah sebelum berhenti.“Steve.”Langkah di belakangnya ikut berhenti. Steve muncul dari pintu ruangan tadi dan menutupnya kembali. Wajahnya masih dengan ekspresi tenang seperti biasa.Sunrise menoleh perlahan. Tatapannya tajam. “Aku ingin bicara denganmu.”Steve menatapnya beberapa detik sebelum mengangguk. Ia berjalan mendekat hingga hanya berjarak beberapa langkah darinya.“Silakan.”Sunrise menatap lurus ke matanya. “Apa kau memberi tahu kakakku tentang pernikahanku dengan Khairen?”Pertanyaan itu keluar tanpa ragu.Steve tidak langsung menjawab. Ia malah menyandarkan punggungnya ke dinding koridor dan memasukkan tangan ke saku celana.Sunrise menunggu.Beberapa detik berlalu sebelum Steve akhirnya berkata pelan.“Ti

  • The CEO'S Forbidden Bride    103. Serangan Awal untuk Crown

    Sunrise tidak bergerak. Tatapannya masih terpaku pada sosok yang berdiri di ambang pintu.Lampu ruang kerja AndersonNet yang redup membuat bayangan Steve memanjang di lantai marmer. Wajahnya tenang seperti biasa, sama seperti saat ia membahas kesepakatan dengannya.“Steve?” suaranya rendah.Steve mengangguk pelan dengan seringainya yang khas. “Apa kabar, Nona Eleonora?”Lucas yang berdiri di dekat jendela tersenyum samar. Ia menyesap anggurnya dengan santai seolah sedang menikmati sebuah pertunjukan yang sudah lama ia tunggu.Sunrise masih tidak bergerak.“Kenapa kau ada di sini?”Steve melangkah masuk sepenuhnya ke dalam ruangan. Pintu di belakangnya tertutup pelan.“Lucas yang memintaku datang,” jawab Steve tenang.Sunrise menoleh perlahan ke arah kakaknya. Tatapannya tajam.“Jelaskan padaku, apa maksud semua ini?”Lucas tidak langsung menjawab. Ia memutar gelas anggurnya perlahan, memperhatikan cairan merah itu berputar seperti pusaran kecil.“Steve bekerja untukku.”Sunrise tertaw

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status