LOGINIsang babaeng gagawin ang lahat para sa kaniyang pamilya. Iyan si Shaina Castro gagawin niya ang lahat para lang maisalba ang buhay ng kaniyang ina. Tinanggap ni Shaina ang alok na pagpapakasal kay Matteo David isang mayamang negosyante. She's desperate to get a large amount of money, she want to save her mother's life. Bago sila ikasal, nalaman niya ang mga kundisyon ng binata. Labag man sa kaniya ay wala siyang magawa kundi sundin ang lahat ng nakasaad sa kontrata na kaniyang pinirmahan. At sa pananatili niya sa puder ng binata, unti-unti na niyang minamahal ito. Ang lalaking hindi niya inaasahang darating sa buhay niya at ang lalaking magpapabago sa kaniyang buhay. Malalaman pa kaya ni Shaina ang ibang dahilan kung bakit kailangan niyang bigyan ng anak ang isang binatang negosyante? Will you do everything you can just to save the life of the person you love? Shaina Castro-"As a breadwinner of the family, I will do everything to saved my mother's life."
View More“Kak!”
Satu panggilan yang berhasil menghentikan langkah Morgan. Lelaki itu menghembuskan napas kasar sekali sebelum membalikan tubuhnya berhadapan dengan gadis yang barusan memanggilnya.
“Kak Morgan nggak ngangkat telponku dan balas sms-ku. Sebenarnya kak Morgan kemana saja?” Gadis itu bergelanyut manja di lengan Morgan. Morgan tidak tertarik memandang kekasihnya yang bertubuh tinggi sepundaknya itu, bahkan ia berusaha melepaskan pegangan tangan ranting gadis yang cerewetnya melebihi Mama itu di lengannya.
Pantaskah Morgan mengklaim gadis bernama Bianca itu sebagai gadisnya sementara sikapnya tidak pernah menunjukkan rasa cintanya kepada Bianca? Morgan terkenal dengan sikapnya yang dingin, cuek dan tidak suka keramaian, berbanding terbalik dengan Bianca yang periang dan lebih sering terlihat manja kepada orang terdekatnya. Terkadang orang-orang tidak yakin bagaimana hubungan keduanya, Bianca terlihat seperti mengejar Morgan meskipun tak jarang Morgan berada di kampus untuk menemui Bianca ataupun menjemput gadis itu setelah berkuliah.
Ia dan Bianca memang hanya terlibat perjodohan, di mana orangtua Bianca yang menginginkan Morgan menjadi pendamping putri sulungnya serta orangtua Morgan yang juga berharap banyak untuk menjadi besan teman SMA-nya dulu itu. Sebenarnya kedua pihak orangtua tidak memaksa Morgan dengan kata lain memberikan kebebasan penuh untuk pria itu menolak atau menerima perjodohan itu. Namun, sebagai putra tunggal keluarga, Morgan menyadari orangtuanya berharap besar kepadanya. Siapa lagi yang bisa mengabulkan permintaan Papa dan Mama selain Morgan? Ditambah lagi orangtua Bianca yang juga berharap untuknya menerima Bianca.
Morgan memiliki pandangan sendiri terhadap Bianca. Baginya Bianca adalah gadis baik, pintar, periang, dan ramah terhadap siapapun meskipun ia merupakan putri sulung salah satu keluarga terkaya se-Indonesia. Morgan juga tidak bisa memungkiri kecantikan Bianca layaknya dewi dari langit, dengan kilauan mata rusa dan rambut cokelat madu sebahu yang menyilaukan.
Namun Morgan juga tidak menyukai salah satu sifat Bianca yaitu sifat manjanya. Hal yang membuat Morgan membenci Bianca adalah karena gadis itu mudah merengek, ingin semua keinginannya terpenuhi, dan sering marah tidak jelas hanya karena Morgan duduk satu kursi dengan klien-nya yang -demi Tuhan Morgan pastikan- hanya rekan bisnisnya. Morgan adalah pewaris tunggal perusahaan ayahnya, jadi bukan hal tabu jika ia membicarakan bisnis bersama manusia bergender wanita.
Seharusnya Bianca sadar dan memaklumi, namun yang ada dirinya tidak mau tahu. Bianca akan marah dan Morgan tidak memiliki pilihan lain selain mengalah dan membujuk Bianca sebaik mungkin.
Morgan berusaha melepas, namun Bi—nama panggilan Bianca—kembali melingkarkan tangannya tanpa peduli tolakan Morgan. Ia tahu Morgan tidak suka bermesraan di depan umum, tapi sekali lagi Bianca tidak peduli.
“Ayolah, Bi-”
“Jelaskan dulu pertanyaanku tadi!”
Pertanyaan yang mana? Morgan sibuk dengan pikirannya sendiri dan tidak mendengar pertanyaan Bianca.
“Ughh Kak Morgan menyebalkan!” Bianca merengek dan Morgan berdecak kesal. Ia sudah pusing dengan pekerjaan kantornya dan kini ditambah rengekan Bianca. “Kakak nggak nyoba selingkuh dibelakangku, kan?”
Pertanyaan yang sama ketika Bianca merajuk.
“Ya Tuhan, Bi. Aku baru selesai meeting, ketemuan sama tiga orang klien, terus jemput kamu yang nggak ngasih tau kalau udah selesai kuliah jam segini. Harusnya kamu ngasih tau dari awal, bukannya nelpon pas aku sedang meeting, Bianca!” jelas Morgan dengan mempertahankan nada suaranya. Meninggi sedikit saja, maka dipastikan Bianca menganggapnya marah dan gadis itu akan semakin merajuk nanti. Morgan masih memiliki jadwal lain selain membujuk Bianca yang merajuk parah.
“Oke. Aku ngerti.”
Lingkaran tangan di lengan Morgan berubah menjadi tarikan-tarikan halus di ujung kemeja Morgan. Siapa lagi pelakunya kecuali si gadis manja? “Maaf. Aku nggak akan curiga lagi!” ucapnya lirih.
Morgan menghiraukannya, ia sudah lama tidak mempercayai ucapan Bianca yang satu itu. Bagaimana bisa percaya Bianca tidak mencurigainya sedangkan hampir setiap hari alasan yang menjadikan bahan rengekan Bianca adalah karena kecurigaannya?
“Yaudah. Ayo kita pulang.”
Morgan meraih tangan kanan Bianca yang masih bertahan di ujung kemejanya. Si gadis tersenyum senang, menurutnya ini adalah salah satu tindakan romantis yang ia sukai. Meskipun tidak yakin itu romantis atau tidak bagi orang lain, tapi Bianca tetap menyukainya. Selama yang melakukan adalah Morgan.
***
Bianca yang tidur adalah satu-satunya wujud Bianca yang Morgan sukai. Entah kenapa melihat Bianca tertidur lebih menarik dibandingkan saat gadis itu terbangun beserta sifat manjanya yang memusingkan. Bianca nampak imut dan menggemaskan dalam tidurnya, bibirnya terbuka sedikit dan hembusan napas hangat terasa di sana. Posisinya menghadap ke kiri, memudahkan Morgan melihat campuran wajah imut dan cantik alami milik Bianca dengan leluasa. Tanpa sadar bibir Morgan melengkung ke atas kendati mata tajamnya tetap memperhatikan wajah Bianca yang masih tertidur meskipun mesin mobil sudah dimatikan.
Hingga beberapa menit Bianca belum juga terbangun membuat Morgan tergugah untuk memberikan kecupan singkat di bibir merah muda itu.
Satu kecupan dan Morgan kembali posisinya seolah tidak terjadi apa-apa. Kendati demikian, Morgan berusaha menyembunyikan debar jantungnya yang menggila dan tangannya yang tanpa diperintah menuju bibirnya. Mengelus bibirnya sendiri yang masih merasakan hangatnya bibir Bianca.
Dadanya berdebar dan hatinya menghangat. Seharusnya Morgan sudah menyadari bahwa si gadis manja berhasil mencuri perhatiannya, Dan hatinya, tentu saja.
Perlahan Morgan meletakkan tubuh Bianca di ranjang empuknya. Kamar Bianca terletak di lantai dua, didominasi oleh warna biru laut dan putih salju di dindingnya.
Morgan meninggalkan kamar Bianca setelah menutupi tubuh Bianca dengan selimut walaupun diluar cuaca panas. Maklum saja, sekarang masih pukul dua siang dan itu berarti Bianca sedang menikmati tidur siangnya.
“Kak Morgan!”
Seseorang memanggilnya saat Morgan baru menutup pintu. Dia adalah Adian, adik kandung Bianca yang kini menginjak usia tujuh belas tahun, berbeda tiga tahun dengan kakak perempuannya.
“Kamu baru pulang?” tanya Morgan—berbasa basi—sembari mengikuti langkah Adian menuju ruang televisi. Lelaki yang baru menginjak usia remaja itu mengangguk, dan meletakkan setoples keripik kentang di atas meja.
“Sebenernya ada latian dance. Tapi aku bolos. Capek banget abis mesra-mesraan sama soal ujian.” Adian menangkup keripik kentang di tangannya. “Apa Kak Bianca ketiduran?”
“Ya. Dia ketiduran di mobil, dan nggak bangun juga pas aku gendong dia ke dalem kamar.”
Adian meraih ponsel kesayangannya untuk ia mainkan. Sesekali tangannya sibuk memasukkan keripik kentang kemulutnya dan mengunyahnya. “Maklum, Kak. Kak Bianca memang begadang semalaman. Katanya sampe baru tidur jam dua pagi.”
Morgan mengangguk paham. Begadang memang bukan hal asing bagi mahasiswa pengenyam bangku kuliah. Apalagi minggu ini sedang jadwalnya ujian akhir semester gasal.
“Kak Morgan!”
Sosok yang menjadi bahan pembicaraan setengah jam lalu datang. Morgan menghentikan obrolan ringannya dengan Adian, sementara Bianca mengucek matanya sembari menuruni tangga, terlihat sekali ia masih mengantuk. “Kukira kakak sudah pulang!” ujarnya dan mengambil posisi ditengah antara Morgan dan Adian. “Hey! Geser sedikit!”
“Ck! Aku lagi main game, jangan ganggu!”
“Aku mau duduk di sebelah kak Morgan! Minggir!”
“Nggak mau!”
“Adian!”
Morgan memijat pelipisnya yang terasa pening. Morgan selalu tidak menyukai ini, mendengar keributan yang ditimbulkan oleh pasangan kakak beradik itu. Padahal hal yang diributkan juga bukan perkara besar.
“Bi, udahlah. Jangan gangguin adikmu.”
“Jadi kamu bela dia?!”
Ugh! Morgan merasakan kepalanya semakin berdenyut sakit menandakan emosinya sudah berada di ujung kepala dan bersiap meledak. Tidak, tidak! Morgan tidak boleh meledakkan emosi jika tidak ingin mendengar rengekan Bianca -lagi-.
“Bukan gitu maksudku, Bi. Tapi-” Morgan menghela napas kasar. “Udahlah. Aku mau balik ke kantor. Lanjutin aja kalo masih mau berantem.”
“Morgaan!!” Seperti yang Morgan duga, Bianca tidak akan membiarkannya pergi. Bianca selalu ingin Morgan membelanya dan membuatnya menang melawan adik laki-lakinya. Namun kali ini Morgan sedang lelah mengurusi rengekannya, bukankah seharusnya Bianca mengerti dilihat dari gurat wajah pria itu?
“Kak Morgan lagi capek, tau. Dasar nggak peka!”
Capek? Ya, Morgan memang capek. Bukan hanya capek karena pekerjaan kantornya yang setinggi gunung, tapi juga capek dengan sifat kekanakan dan manja Bianca.
Berterimakasihlah pada Adian yang jauh lebih peka daripada kakak kesayangannya.
“Yaudah. Kak Morgan nggak usah balik ke kantor. Istirahat aja di sini. Gimana?”
“Nggak bisa, Bi. Aku lagi ada jadwal penting. Lagian aku tadi nunda soalnya mau jemput kamu dulu.”
“Udahlah, kak. Kak Morgan butuh istirahat. Bolos satu hari nggak akan bikin perusahaan Papa bangkrut.”
Oh ya, Morgan lupa kalau Bianca juga memiliki kekeraskepalaan tinggi. Kalau Bianca sudah memaksa seperti itu, Morgan akan susah menjelaskan bahwa urusan kantor tidak semudah tugas kuliah di mana ia bisa membolos sesuka hati. Pekerjaan Morgan menyangkut ratusan pekerja dan Ia bertanggungjawab untuk itu. Aish, bagaimana cara menjelaskannya?
“Bi, cobalah buat nggak kekanakan sekali aja. Aku harus ngasih contoh yang baik buat bawahanku. Kalau aku bolos, itu bisa berdampak jelek pada kinerja mereka. Mereka akan semena-mena dengan kerjaan mereka. Kamu ngerti, kan?” ucap Morgan dengan pelan dan lembut. Semenjak menjadi kekasih Bianca dua bulan lalu, Morgan seakan diajarkan namanya kesabaran, terutama kesabaran dalam menghadapi sosok perempuan yang tidak pernah mendapat bentakan di hidupnya.
“Yaudahlah. Aku ngerti. Tapi abisnya dari kantor, Kak Morgan harus istirahat, oke?”
Morgan memberi anggukan setelah itu. Tidak ada senyuman di wajah tegasnya meski tangannya mengusap pipi Bianca lembut. Mengetahui Bianca menurut membuat Morgan bernapas lega. Morgan harus lebih dan lebih sabar menghadapi gadis itu.
“Kalau gitu aku pergi. Adian, aku pergi dulu!” pamit Morgan.
“Ya. Hati-hati!”
Morgan telah menghilang mengendarai mobilnya, tetapi Bianca masih tetap di posisinya. Diam-diam bibirnya mengulas senyum miris yang tidak pernah ia tunjukan oleh ekspresi wajah cerahnya. Bianca tidak ingin mengakui ini, namun perlakuan kaku dan keterpaksaan Morgan membuatnya sadar dengan jelas,
Morgan tidak menyukainya ....
Morgan tidak mencintainya ....
Dan Morgan hanya ingin menghormati orangtua Bianca tanpa memandang Bianca sebagai seorang gadis.
“Shaina Point of View” Ito na iyong pinaka masayang nangyari sa buhay ko. Iyong pinapangarap ko na magkaroon ng masaya at kumpletong pamilya ay natupad ko na. Totoong-totoo na ito, totoo ng kasal ang mangyayari sa tana ng buhay ko. Nandito ako ngayon sa harapan ng altar habang kaharap ang lalaking bumago sa buhay ko. Ang lalaking nag-alok sa akin ng kasal, at ng kontrata na kailangan kong sundin. PIGIL ang luha ko habang nakatitig sa perpektong mukha ni Matteo. “Matteo, salamat dahil minahal mo ako. Salamat dahil dumating ka sa buhay ko, dahil nandito tayo sa sitwasyong ito,” sambit ko. Sa mga sandaling ito tila nakalimutan ko na napapalibutan kaming dalawa ng maraming tao. Mga taong magiging saksi sa kasalang ito, mga pamilya namin ni Matteo na masaya para sa aming dalawa. At hindi magpapahuli ang kambal na anak namin ni Matteo. Buhat-buhat ni Jade si Shella ang kakambal ni Matt, limang buwan na sila at ngayon lang naganap ang kasal naming dalawa. Gusto kasi ng mga magulang namin ni
“Shaina Point of View”HINDI ako makapaniwala, hindi kaagad pumasok sa utak ko ang sinabi ni Matteo. Hindi ko mapigilang hindi maiyak, pumunta siya dito upang sabihin ang totoo niyang nararamdaman sa akin. At upang sabihin ang lahat-lahat, ngunit naguguluhan pa rin ako. Paanong nangyari na wala na sila ni Carmela? Perfect couple sila at wala akong nakikitang dahilan upang maghiwalay sila. “B-bakit wala na kayo ni C-carmela, Matteo? Hiniwalayan mo siya dahil sa akin? Matteo, perfect couple kayong dalawa. Mas malalim ang pinagsamahan ninyo kaysa sa akin,” nag-aalangan kong sabi. Bumuntong hininga siya at ngumiti, habang nakatingin sa akin. “Carmela is lier, she has a boyfriend. At habang lumilipas ang mga araw na kasama kita ay nakikilala kita ng lubusan. Hindi ko inakala na mahuhulog ang loob ko sa ‘yo habang kami pang dalawa. Kung hindi ko nalaman ang tungkol sa sikreto niya ay hindi ako matatauhan. Hindi ko mare-realize ang nararamdaman ko sa ‘yo, mahal kita. M
“LETI POINT OF VIEW”“WALA si Shaina dito. Bakit dito mo siya hinahanap? Di ba asawa mo siya? Ano naman ang kinalaman ko sa inyong dalawa ng bestfriend ko?” sarkastiko kong tanong sa lalaking ito. Ang aga-aga iistorbohin lang ako para tanungin kung nandito ba si Shaina. Naiinis ako sa bestfriend ko, dahil nagsinungaling siya sa akin. Wala naman akong magagawa kundi tulungan siya. Naiintindihan ko si Shaina kung bakit niya sinakripisyo ang sarili. Pero kung alam ko lang noong simula pa lamang ang tungkol sa kasunduan nila ni Matteo David ay hindi ako makakapayag. Naguguluhan din ako dahil bakit nandito ngayon ang lalaking ito? At bakit gusto niyang makita ang kaibigan ko? Samantalang nagawa na ni Shaina ang nasa kasunduan nila. Sa sitwasyon ngayon ni Matteo ay parang ayaw niyang mawala si Shaina sa piling niya. In-love kaya siya sa bestfriend ko? “Please, gusto ko siyang makita, may mahalaga akong sasabihin sa kaniya.” N
“MATTEO POINT OF VIEW”All this time niloloko lang ako ng girlfriend ko. Carmela is cheating on me. Malinaw na sa akin ang lahat. Masakit sa akin dahil ibinuhos ko ang oras ko para sa kaniya. Ginawa niya akong gago at tuta sa tuwing magkasama kami. But I’m not totally angry to her. Siguro dahil hindi ko na siya ganoon kamahal para magalit at magwala dahil niloko niya ako sa mahabang panahon. Pero hindi ko pa rin matanggap, nabulag ako sa pagmamahal ko sa kaniya. Pero kung hindi dahil sa mga palusot niya at pagsisinungaling sa akin ay hindi ko makilala si Shaina. Ang babaeng nagpabaliw sa akin sa maikling panahon. Ang babaeng nagpabago sa takbo ng buhay ko. Si Shaina ang dahilan kung bakit gusto kong mamuhay ng masaya at bumuo ng pamilya. Pagkatapos kong mapanood ang video ni Carmela at ng lalaki niya ay doon ko na tinapos ang lahat. Sapat nang dahilan iyon para hiwalayan siya. Hindi man sabihin sa akin ni Shaina ang totoo niyang nararamdaman sa akin. Pero nakikita ko mula
“SHAINA POINT OF VIEW”WALONG buwan na ang tiyan ko at simula noong huling pag-uusap namin ng girlfriend ni Matteo sa hospital. Ay hindi ko na siya masyadong kinakausap. Magkakausap lang kami sa tuwing may tinatanong siya about sa pinagbubuntis ko. Alam kong nagtataka na iyon dahil sa pagiging ma
“SHAINA POINT OF VIEW”“Best?” gulat na Ani ni Leti ng makita niya akong nakatayo sa labas ng pintuan niya. Nagpaalam kasi ako kay Matteo na pupunta ako sa apartment ni Leti para kamustahin ito. Hindi kasi ako matatahimik kung hanggang ngayon ay hindi ko pa rin pinapaalam sa kaniya ang tungkol sa pi
“THIRD PERSON POINT OF VIEW” Nagising ang dalaga nang maramdaman niyang may mabigat na nakadagan sa kaniyang ibabaw. Madilim ang silid at ang tanging nagbibigay liwanag lamang ay ang liwanag ng buwan na nanggaling sa labas ng bintana. Ang kamay ng binata ay kung saan- saan na umaabot sa katawan
“SHAINA POINT OF VIEW”NAGING maginhawa na ang pakiramdam ko dahil naoperahan na si Mama. At kasalukuyan siyang nagre-recover at dahil sa magandang balita na iyon ay gumaan ang pasanin ko. Hindi na ako mag-aalala sa kalagayan ni Mama dahil wala na siyang dinaramdam na sakit sa puso. Ang kailang








![Mr. Bodyguard, It's Hard To Love You [Filipino]](https://www.goodnovel.com/pcdist/src/assets/images/book/43949cad-default_cover.png)









Maligayang pagdating sa aming mundo ng katha - Goodnovel. Kung gusto mo ang nobelang ito o ikaw ay isang idealista,nais tuklasin ang isang perpektong mundo, at gusto mo ring maging isang manunulat ng nobela online upang kumita, maaari kang sumali sa aming pamilya upang magbasa o lumikha ng iba't ibang uri ng mga libro, tulad ng romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel at iba pa. Kung ikaw ay isang mambabasa, ang mga magandang nobela ay maaaring mapili dito. Kung ikaw ay isang may-akda, maaari kang makakuha ng higit na inspirasyon mula sa iba para makalikha ng mas makikinang na mga gawa, at higit pa, ang iyong mga gawa sa aming platform ay mas maraming pansin at makakakuha ng higit na paghanga mula sa mga mambabasa.
reviews