ホーム / Romansa / The Day We Do It / Bab 110 - Penuturan Leo

共有

Bab 110 - Penuturan Leo

作者: Anidania
last update 公開日: 2026-10-12 22:04:27

Raia terdiam seribu bahasa. Sorot mata Leo yang menyala di tengah temaram kabin mobil tampak begitu pekat, tidak menyisakan sedikit pun celah keraguan. Pembelaan tanpa syarat itu menghantam dada Raia begitu keras, namun kenyataan silsilah keluarga Vaneric segera menyadarkannya kembali dari keterpukauan sesaat.

"Om Roberts bukan sekadar anggota dewan komisaris biasa, Leo," bisik Raia lirih, napasnya bergetar menahan kegundahan yang sesungguhnya. "Dia adik kandung almarhum Papa kamu. Sejak Papa k
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • The Day We Do It   Bab 155 - Kau Milikku

    "Pak Leo, ini masih di ruang rapat komisaris—" protes Raia tertahan, matanya membulat panik menatap pintu kaca berlapis tirai di belakang mereka."Persetan dengan ruang rapat," geram Leo seraya menangkup wajah Raia dengan kedua telapak tangannya yang hangat. "Kamu luar biasa tadi. Dingin, mematikan, dan begitu cantik sampai aku hampir lupa naskah ancamanku sendiri."Sudut bibir Raia berkedut menahan senyum. Tangannya yang bebas terangkat menyentuh kerah kemeja Leo, merapikan letaknya yang sedikit bergeser. "Aku cuma membacakan fakta audit yang mereka buat sendiri. Om Robert terlalu serakah sampai lupa memeriksa jejak digital putranya.""Tetap saja," bisik Leo serak. Wajahnya merunduk, mengikis jarak hingga ujung hidung mereka bersentuhan, napas hangat pria itu membelai bibir Raia yang sedikit terbuka. "Mulai hari ini, seluruh keluarga tahu siapa ratu di sampingku. Tidak akan ada lagi yang berani merendahkanmu sebagai sekretaris biasa.""Termasuk kamu?" pancing Raia dengan nada berbisi

  • The Day We Do It   Bab 154 - Dasar Jalang

    "Kembalikan penjelasannya pada tim penyidik publik, Sandy," tukas Raia sebelum Leo sempat menyahut. Raia merapikan lembaran audit di hadapannya dengan cekatan, lalu menutup map hitam itu dengan satu ketukan tegas. "Dana yayasan dan dividen perseroan bukan brankas pribadi yang bisa kalian kuras lalu dikembalikan seenaknya saat tertangkap basah," lanjut Raia tajam, menatap lurus ke arah Sandy yang gemetar. Robert yang sejak tadi mematung di kursinya perlahan mengangkat kepala. Napasnya memburu, urat lehernya mencuat tegang saat matanya yang memerah menatap Raia dengan dendam yang mendidih. "Kamu... jalang kecil tak tahu diri," desis Robert penuh bisa, suaranya tercekat kebencian pekat. "Kamu pikir setelah menghancurkan kami, posisimu akan aman di keluarga ini?!" Brak! Tongkat elang perak Kakek Edward menghantam meja marmer dengan kekuatan penuh. Cangkir-cangkir porselen melompat dan salah satunya retak seketika, memercikkan sisa teh ke atas taplak linen. "Tutup mulut kotormu, Ro

  • The Day We Do It   Bab 153 - Berapa Milyar?

    "Tuduhan gila! Ini fitnah murahan!"​Sandy melompat berdiri hingga kursi kulit di belakangnya terdorong mundur dengan decit kasar di lantai marmer. Tangannya yang gemetar menyambar berkas audit di depannya, matanya membelalak liar menelusuri rincian mutasi rekening, nomor referensi perbankan, dan stempel verifikasi otoritas keuangan internasional yang tercetak jelas di sana. Keringat dingin mulai merembes di pelipisnya. "Aku tidak pernah menandatangani pembukaan rekening apa pun di Zurich! Ini konspirasi sengaja untuk menjebakku dan Ayah!"​"Tanda tangan basahmu mungkin bisa kamu elak, Sandy," potong Leo dengan nada bariton yang begitu tenang, kontras dengan kekacauan di seberang meja. Ia mengetukkan ujung jari telunjuknya ke layar tablet di hadapannya, menghubungkannya ke proyektor raksasa di dinding utama ruangan. "Tapi rekaman otentikasi biometrik dan pemindaian retina saat pembukaan akun di cabang Banque Cantonale de Genève... apa itu juga hasil rekayasa?"​Layar proyektor seketik

  • The Day We Do It   Bab 152 - Keputusan Leo

    "Bukannya kursi itu bukan lagi milikmu, Leo?"​Suara lantang Sandy membelah keheningan begitu pintu ruang rapat lantai empat puluh dua terbuka lebar. Pemuda itu melempar seringai penuh kemenangan dari seberang meja marmer, menatap Leo yang baru saja melangkah masuk bersama Kakek Edward dan Raia di sampingnya.​Tanpa menunggu rapat resmi dibuka, Sandy sengaja menghempaskan selembar dokumen resmi berkop surat perseroan ke tengah meja.​"Bukankah keputusanmu sudah bulat akhir bulan lalu?" cecar Sandy pongah, melirik para komisaris yang duduk di samping ayahnya. "Dewan komisaris sudah menerima draf pernyataan mundurnya Leonardo Vaneric dari kursi CEO. Surat itu sudah kamu serahkan sendiri, dan kepemimpinan grup ini secara sah seharusnya sudah lowong mulai pagi ini!"​Robert tersenyum tipis menyandarkan punggungnya, menikmati apa yang ia kira sebagai pukulan telak bagi keponakannya.​Namun, Leo sama sekali tidak bergeming. Pria itu justru melangkah tenang menuju pucuk meja, menarik kursi

  • The Day We Do It   Bab 151 - Manuver Leo

    ​"Mari kita temui Kakek Edward, Pak Presdir," ujar Raia tenang dengan dagu terangkat.​Leo menyunggingkan seringai tipis yang mematikan. Pria itu membetulkan kancing jasnya, lalu melangkah mendahului untuk membukakan pintu ruangan itu lebar-lebar.​Keduanya melangkah keluar menuju lorong eksekutif, di ujung lorong, Kakek Edward berdiri tegak bertumpu pada tongkat elang peraknya, dikawal oleh dua orang notaris senior bersetelan resmi dan pengawal pribadi.​Mata tua sang patriarki memandang lurus ke arah Leo dan Raia yang berjalan berdampingan. "Kalian berdua tampak siap menelan hidup-hidup siapa pun yang bernapas di ruang rapat nanti," suara Kakek Edward memecah hening lorong eksekutif, disusul ketukan ujung tongkat elang peraknya yang berdentang mantap di atas marmer.​Langkah Leo dan Raia berhenti tepat dua jengkal di hadapan sang patriark. Dua notaris senior di belakang pria tua itu membungkuk takzim pada Leo, sementara tatapan tajam Kakek Edward langsung terkunci pada cincin berma

  • The Day We Do It   Bab 150 - Hari yang Dinanti

    "Jangan bergerak, Raia."​Bibir Leo merangsek maju, meredam seluruh sanggahan wanita itu di antara lumatan panas dan menuntut. Tangan pria itu yang semula menahan dagunya kini menyusup cepat ke tengkuk, jemarinya membelai rambut Raia seraya menariknya semakin merapat.​"Leo..." gumam Raia serak. Tangannya terangkat, merapikan dasi sutra Leo yang sedikit miring akibat tarikannya. "Lipstikku pasti berantakan."​"Biar aku yang tanggung jawab merapikannya lagi nanti," sahut Leo enteng tanpa rasa bersalah sedikit pun. Ibu jarinya menyeka sudut bibir Raia.​Leo menegakkan tubuhnya, melangkah mundur untuk memberi ruang bagi Raia mengatur napasnya kembali.​"Pukul sembilan Kakek Edward tiba bersama notaris untuk serah terima saham yayasan," ujar Leo. Matanya melirik ke arah jam dinding di seberang ruangan. "Dan tepat pukul sepuluh, dewan komisaris akan berkumpul."​Raia merapikan letak blazer-nya, menghembuskan napas panjang untuk menstabilkan detak jantungnya yang liar. Ia mengangkat map kul

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status