LOGINAllegra berdiri dengan tubuh gemetar, berusaha keras untuk menenangkan diri. Terlebih saat pria itu melangkah menghampirinya.
“Lorenzo, aku tadi ingin mencari perpustakaan, tapi tersesat ke ruang kerjamu,” ucapnya cepat dengan wajah tegang. Bukannya marah, Lorenzo justru tersenyum, membuat Allegra merasa lega seketika. “Ah iya, tadi aku berjanji akan membawamu ke perpustakaan.” Lorenzo mengulurkan tangan. Jemarinya yang panjang merapikan sejumput rambut Allegra yang berantakan. “Nanti aku akan menunjukkan tempatnya padamu.” Dia kemudian menoleh ke arah Lucia yang masih mematung. "Lucia, bukankah kamu punya tugas di dapur? Kenapa masih di sini, membiarkan istriku kebingungan di ruang kerja ini?" "S-saya minta maaf, Tuan. Saya akan segera pergi," lirih Lucia. Wanita itu menunduk sedalam mungkin, tangannya meremas foto yang tersembunyi di saku celemeknya, lalu bergegas keluar tanpa berani menatap sang majikan. Kini tinggal mereka berdua. Lorenzo merangkul pinggang Allegra, menariknya mendekat hingga tubuh mereka bersentuhan. Pria itu menunduk, membisikkan sesuatu tepat di telinga Allegra. Embusan napasnya yang hangat membuat bulu kuduk wanita itu berdiri. "Aku sudah membeli banyak gaun untukmu. Sekarang ada di kamar. Ayo kita ke sana.” Saat Lorenzo membimbingnya keluar, Allegra sempat melirik kembali ke arah meja kerja. Berharap pria itu tidak menyadari apa yang dilakukannya tadi. Pintu kamar utama terbuka, menyingkap kemewahan yang sanggup membuat siapa pun terpana. Di atas ranjang besar mereka, berjajar belasan kotak eksklusif dengan logo rumah mode ternama di Milan. "Kamu dulu sangat suka belanja, Allegra," ucap Lorenzo seraya melepaskan rangkulannya dan berjalan menuju tumpukan kotak itu. Suaranya melunak, seolah ia sedang mengenang memori yang manis. "Kamu sering sekali mengeluh bosan di Sicily, lalu kita terbang ke Milan hanya untuk mencari gaun yang tidak dimiliki oleh wanita lain. Kamu selalu ingin menjadi pusat perhatian." Allegra mendekat dengan ragu. Jemarinya menyentuh permukaan halus salah satu kotak itu. "Milan? Jadi aku sering ke sana?" "Hampir setiap bulan," jawab Lorenzo dengan sangat lancar. Dibukanya salah satu kotak, lalu dikeluarkannya gaun malam berwarna merah marun yang tampak sangat indah. "Aku selalu memanjakanmu, Allegra. Apa pun yang kamu inginkan, aku pasti berikan." Allegra menelan saliva. Jika dia memang seorang sosialita yang gemar berbelanja, mengapa hatinya terasa begitu asing dengan semua kemewahan ini? Namun, ia mencoba menepis keraguan itu. "Jika aku dulu sering pergi ke Milan..." Allegra memberanikan diri menatap Lorenzo. "Bolehkah aku keluar sekarang? Aku ingin menghirup udara luar. Aku ingin melihat kota. Aku ingin tahu seperti apa dunia di balik tembok villa ini." Lorenzo berhenti membelai kain gaun tersebut. Pria itu mendekat, mengikis jarak di antara mereka hingga Allegra bisa merasakan hangat tubuhnya. "Tentu saja boleh," Lorenzo berbisik sembari menyelipkan jemarinya ke sela-sela rambut auburn Allegra. Dia menarik wajah wanita itu agar mendongak padanya. "Bahkan, aku sudah merencanakannya. Malam ini kita akan ke Palermo. Ada sebuah pesta besar di palazzo milik seorang kolega." Hati Allegra melonjak. Palermo. Akhirnya ada sebuah kesempatan untuk melihat dunia luar. "Kita benar-benar akan pergi?" "Ya. Tapi kamu harus selalu berada di sisiku," Lorenzo memperingatkan dengan nada yang sedikit lebih berat. "Dunia luar sangat berbahaya bagimu yang belum pulih. Jangan bicara pada siapa pun tanpa izin dariku. Jangan heran kalau orang-orang memandang dengan tatapan aneh padamu. Ingat, Allegra, kamu sangat cantik, jadi banyak yang iri dan menginginkan posisimu. Mengerti?" Allegra mengangguk patuh. Kelembutan Lorenzo saat ini terasa seperti obat penenang bagi ketakutannya tadi. Dia merasa beruntung memiliki suami yang begitu protektif. "Sekarang biarkan aku membantumu melepaskan ketegangan ini sebelum kita berangkat," Lorenzo menarik Allegra ke dalam pelukannya, tangannya yang kuat melingkar di punggung wanita itu. Lorenzo mulai menciumi ceruk leher Allegra, sebuah kecupan yang dalam dan penuh tuntutan. Allegra memejamkan mata, merasakan sensasi panas yang mulai menjalar ke seluruh tubuhnya. Meskipun pikirannya dipenuhi banyak pertanyaan tentang masa lalu, tubuhnya memberikan reaksi yang berbeda terhadap sentuhan Lorenzo. Ada kerinduan yang seolah menuntut untuk dipenuhi. Lorenzo membimbing Allegra menuju ranjang mewah besar yang dilapisi sutra abu-abu. Dia melepaskan jasnya dan membiarkannya jatuh ke lantai begitu saja, diikuti dengan dasi yang dia longgarkan dengan satu tangan tanpa sekalipun memutuskan kontak mata dengan Allegra. "Kamu sangat cantik, Allegra," bisik serak Lorenzo dengan pemujaan yang dalam. Pria itu mulai menanggalkan pakaian Allegra dengan gerakan yang sangat perlahan. Tidak ada paksaan atau pun gerakan kasar. Setiap kancing yang terlepas diikuti dengan kecupan lembut di permukaan kulit yang tersingkap, membuat Allegra meremang hebat. Saat tubuh mereka akhirnya bersentuhan tanpa penghalang, Allegra bisa merasakan panas yang memancar dari dada bidang Lorenzo. Pria itu merebahkannya di atas sprei sutra yang dingin, namun suhu tubuh Lorenzo segera menghapus kedinginan itu. Jemari pria itu membelai setiap lekuk tubuh Allegra dengan penuh kelembutan yang memabukkan. Pria itu menyentuhnya di mana-mana. Mulai dari tulang selangka hingga paha bagian dalam. Dia menciumi Allegra, bukan dengan ciuman yang kasar, melainkan ciuman yang dalam, lambat, dan penuh rasa haus yang seolah telah tertahan selama bertahun-tahun. "Lorenzo..." desah Allegra, tangannya meremas rambut hitam pria itu. "Aku di sini, Cara. Hanya ada kamu dan aku," gumam Lorenzo di depan bibirnya. Saat mereka mulai menyatu, Allegra tertegun. Dia mengira pria sekuat dan sedingin Lorenzo akan bersikap dominan dan kasar saat di ranjang, namun kenyataannya justru sebaliknya. Lorenzo bergerak dengan ritme yang sangat sabar, memberikan waktu bagi tubuh Allegra untuk menyesuaikan diri. Setiap gerakan yang dia lakukan disertai dengan tatapan mata abu-abunya yang mengunci Allegra dengan begitu lembut. Tatapan yang kini tidak lagi sedingin salju, melainkan berkilat oleh gairah dan sesuatu yang tampak seperti cinta yang teramat sangat. Lorenzo mengecup kening Allegra, kelopak matanya, ujung hidungnya, lalu bibirnya, setiap kali memberikan dorongan yang semakin dalam. Allegra merasakan gelombang nikmat yang mulai membuncah dari dasar tubuhnya, menjalar ke seluruh saraf hingga ujung jarinya. Dia merasa seolah jiwanya sedang diikat secara permanen dengan pria di atasnya ini. "Kamu milikku, Allegra. Katakan padaku kamu milik siapa," bisik Lorenzo, suaranya yang berat dan dalam bergetar di telinga Allegra saat mempercepat ritmenya sedikit demi sedikit. "Aku ... aku milikmu, Lorenzo," rintih Allegra yang menyerah sepenuhnya pada sensasi luar biasa yang meledak di dalam dirinya. “Katakan kamu mencintaiku,” titah Lorenzo lagi sembari terus bergerak erotis di atas Allegra. “Aku mencintaimu, Lorenzo,” suara Allegra bercampur desahan, tidak tahan atas kenikmatan yang diberikan pria bertato itu. Kenikmatan yang dirasakannya begitu intens, begitu dalam, begitu indah, hingga air mata haru sedikit menggenang di sudut matanya. Allegra merasa benar-benar dijaga, dipuja, dicintai dan dihargai. Lorenzo terus memacu dirinya di dalam Allegra. Bulir-bulir peluh membasuh tubuh mereka berdua yang melebur menjadi satu. “Aku hampir keluar. Desahkan namaku, Allegra. Katakan kamu sangat mencintaiku,” perintah itu diberikan di sela-sela sengal napas Lorenzo. Tubuh mereka mengejang saat klimaks menyapa keduanya. Allegra mengeratkan dekapannya di punggung lebar Lorenzo. “Aku mencintaimu, Lorenzo. Aku sangat mencintaimu,” desah wanita itu sembari membenamkan dirinya ke ceruk leher Lorenzo. Lorenzo tidak langsung melepaskannya. Dia membiarkan berat tubuhnya menindih Allegra sejenak, menikmati bagaimana jantung wanita itu berdetak kencang di balik dadanya. Butuh beberapa menit untuk menenangkan napas mereka yang memburu. Lorenzo tidak menjauh. Dia justru mendekap Allegra dalam pelukan yang protektif, menyembunyikan tubuh polos mereka dengan selimut, lalu mengecup pipi Allegra berkali-kali. "Istirahatlah sebentar," bisik Lorenzo lembut sambil mengusap sisa keringat di dahi Allegra. "Nanti kita berangkat ke Palermo. Aku ingin kamu menjadi wanita paling bahagia di kota itu malam ini." Allegra memejamkan mata, menyandarkan kepalanya di dada bidang Lorenzo. Rasa simpati dan ketergantungan pada lelaki itu kini mulai berakar. Dia mulai berpikir bahwa mungkin semua kecurigaannya selama ini salah besar. Bagaimana mungkin pria yang mencintainya selembut dan sedalam ini adalah orang jahat? ***Lorenzo mengemudikan Maserati hitamnya membelah kegelapan malam. Tangannya yang besar mencengkeram kemudi dengan kuat, sementara tangan yang lain tak pernah melepaskan jemari Allegra. Di spion tengah, Lorenzo sesekali melirik sepasang lampu depan dari SUV hitam yang menjaga jarak sekitar seratus meter di belakang mereka. Mobil tersebut berisi anak buah pilihannya yang dipimpin oleh Dante, tangan kanannya yang paling kejam.Suasana di dalam kabin terasa sunyi. Hanya ada deru mesin yang halus dan aroma parfum maskulin Lorenzo yang memenuhi indera penciuman Allegra.Sementara Allegra sejak tadi hanya termenung sambil memandang ke luar jendela mobil. Pikirannya ikut berlari bersama laju mobil Lorenzo."Lorenzo," panggil Allegra bermenit-menit kemudian, memecah kesunyian."Ya, Cara?""Sudah berapa lama kita menikah?"Lorenzo tidak langsung menjawab. Dia memutar kemudi, menepikan mobil di sebuah celah tebing tinggi yang menghadap langsung ke hamparan laut yang gelap dan bergemuruh. Di
Allegra berdiri dengan tubuh gemetar, berusaha keras untuk menenangkan diri. Terlebih saat pria itu melangkah menghampirinya.“Lorenzo, aku tadi ingin mencari perpustakaan, tapi tersesat ke ruang kerjamu,” ucapnya cepat dengan wajah tegang.Bukannya marah, Lorenzo justru tersenyum, membuat Allegra merasa lega seketika.“Ah iya, tadi aku berjanji akan membawamu ke perpustakaan.” Lorenzo mengulurkan tangan. Jemarinya yang panjang merapikan sejumput rambut Allegra yang berantakan. “Nanti aku akan menunjukkan tempatnya padamu.” Dia kemudian menoleh ke arah Lucia yang masih mematung. "Lucia, bukankah kamu punya tugas di dapur? Kenapa masih di sini, membiarkan istriku kebingungan di ruang kerja ini?""S-saya minta maaf, Tuan. Saya akan segera pergi," lirih Lucia. Wanita itu menunduk sedalam mungkin, tangannya meremas foto yang tersembunyi di saku celemeknya, lalu bergegas keluar tanpa berani menatap sang majikan.Kini tinggal mereka berdua. Lorenzo merangkul pinggang Allegra, menariknya
Allegra berjalan menyusuri lorong panjang dengan deretan pintu kayu yang menjulang tinggi. Setiap pintu tampak identik, namun ada satu pintu di ujung lorong yang menarik perhatiannya secara insting. Aroma parfum maskulin Lorenzo tercium sangat kuat dari sana. Allegra berhenti di depan pintu. Dia teringat peringatan Lorenzo, jangan pergi ke mana-mana. Namun, rasa haus akan informasi jauh lebih kuat daripada rasa takutnya. Saat dia menyentuh kenop pintu ternyata langsung terbuka.Pintu itu tidak terkunci. Sepertinya Lorenzo akibat keterburu-buruannya lupa memutar kunci.Allegra mendorong pintu tersebut dengan begitu perlahan. Dia menemukan dinding ruangan yang ditutupi oleh rak buku setinggi langit-langit. Perhatian Allegra lalu tertuju pada sebuah meja kerja besar dari kayu gelap di tengah ruangan.Ruangan itu terasa sangat Lorenzo. Dingin, berkuasa, dan penuh rahasia.Allegra melangkah masuk, napasnya tertahan. Dia merasa seperti penyusup di rumahnya sendiri. Matanya menyapu per
Tujuh hari telah berlalu sejak Allegra ‘dilahirkan kembali’ di ranjang besar itu. Kepalanya tidak lagi terasa berat, namun kekosongan di dalam benaknya tetap terasa seperti lubang hitam yang siap menelan kewarasannya.Pagi ini, untuk pertama kalinya Lorenzo mengizinkannya keluar dari kamar."Pelan-pelan, Cara," ujar Lorenzo begitu lembut.Tangan pria itu melingkar posesif di pinggang Allegra, menuntunnya dengan teramat berhati-hati.Allegra melangkah dengan ragu, jemarinya meraba dinding yang dihiasi lukisan vintage. Setiap sudut bangunan ini berteriak tentang kekayaan yang tidak masuk akal, namun tidak satu pun dari kemewahan ini yang memicu percikan memori di otaknya.Saat mereka melangkah keluar menuju teras luas yang menghadap langsung ke Laut Ionia, Allegra terkesiap. Dia refleks menggenggam pagar pembatas batu yang kokoh."Kita ... kita tinggal di villa di atas tebing?" tanyanya dengan suara hampir tenggelam oleh deru angin.Di bawah sana, sekitar ratusan meter jauhnya, om
Cahaya matahari yang menyengat menembus celah tirai, jatuh tepat di atas kelopak mata seorang perempuan yang terlelap selama satu minggu penuh. Panasnya begitu tajam, memicu denyut nyeri di kepalanya yang terasa remuk.Lamat-lamat, kelopak matanya terbuka. Hal pertama yang dirasakannya adalah rasa berat yang menghantam kepalanya, seolah ribuan jarum menusuk sarafnya secara bersamaan. Rambut panjangnya yang berwarna auburn tergerai di atas bantal sutra putih, tampak demikian kontras seperti tumpahan anggur merah di atas salju."Ugh..." Erangan halus terlepas dari bibirnya yang pucat dan pecah-pecah.Dia mencoba mengangkat tangan untuk memegang pelipisnya, namun setiap gerakan sekecil apa pun memicu rasa mual yang hebat. Tubuhnya terasa asing, kaku, dan penuh dengan sisa rasa sakit yang tidak bisa dia jelaskan.Dia menatap langit-langit kamar. Ruangan itu begitu tinggi dan mewah, dengan ukiran stucco rumit yang menghiasi sudut-sudutnya. Namun, tidak ada satu pun detail di sana yang







