LOGINAllegra berjalan menyusuri lorong panjang dengan deretan pintu kayu yang menjulang tinggi. Setiap pintu tampak identik, namun ada satu pintu di ujung lorong yang menarik perhatiannya secara insting. Aroma parfum maskulin Lorenzo tercium sangat kuat dari sana.
Allegra berhenti di depan pintu. Dia teringat peringatan Lorenzo, jangan pergi ke mana-mana. Namun, rasa haus akan informasi jauh lebih kuat daripada rasa takutnya. Saat dia menyentuh kenop pintu ternyata langsung terbuka. Pintu itu tidak terkunci. Sepertinya Lorenzo akibat keterburu-buruannya lupa memutar kunci. Allegra mendorong pintu tersebut dengan begitu perlahan. Dia menemukan dinding ruangan yang ditutupi oleh rak buku setinggi langit-langit. Perhatian Allegra lalu tertuju pada sebuah meja kerja besar dari kayu gelap di tengah ruangan. Ruangan itu terasa sangat Lorenzo. Dingin, berkuasa, dan penuh rahasia. Allegra melangkah masuk, napasnya tertahan. Dia merasa seperti penyusup di rumahnya sendiri. Matanya menyapu permukaan meja yang di atasnya terlihat beberapa tumpukan dokumen. Allegra mendekati meja itu. Jemarinya terasa gemetar saat mulai membalik tumpukan kertas. Sebagian besar adalah dokumen pekerjaan. Allegra membuka laci. Tidak ada yang menarik perhatiannya di sana. Iseng, dia membuka map kulit berwarna hitam tanpa label. Selembar foto terjatuh. Allegra langsung memungutnya. Bukan foto pernikahan. Di dalam foto itu, seorang pria dan seorang wanita sedang duduk di sebuah kafe terbuka di pinggir jalan yang tampak seperti sebuah kota di Italia. Keduanya membelakangi kamera, sehingga wajah mereka tidak terlihat sama sekali. Namun, postur tubuh wanita di foto itu... Allegra menyentuh rambutnya sendiri. Sangat mirip dengannya. Sang wanita menyandarkan kepala ke bahu pria. Sementara si pria merangkul wanita. Allegra membalik foto itu. Sebuah tulisan tangan menyapa matanya. ‘Kalau aku tidak bisa memilikimu, maka orang lain juga tidak akan kuiizinkan menjadikanmu sebagai miliknya!’ Tanpa disadari, Allegra bergidik ngeri membaca tulisan bernada posesif di sana. Tiba-tiba ruang pintu ruang kerja terbuka lebar, Lucia masuk dan terkejut luar biasa menyaksikan nyonyanya ada di sana. "Nyonya!" Allegra tersentak hebat. Jantungnya seolah melompat keluar dari dada. Karena terkejut, foto di tangannya terlepas dan melayang jatuh ke lantai. Lucia berdiri di ambang pintu. Napasnya tersengal, wajahnya tampak penuh kecemasan. Matanya beralih dari Allegra pada foto di lantai. Lucia segera mendekat, membungkuk, menyambar foto itu dengan cepat dan menyembunyikan di balik punggungnya. "Sedang apa Anda di sini, Nyonya?" tanya wanita tua itu. "Tuan melarang siapa pun masuk ke ruangan ini." Allegra berusaha menenangkan jantungnya yang menderu terlalu cepat. "Foto siapa itu, Lucia?" Allegra balas bertanya. "Siapa laki-laki dan perempuan di dalamnya? Dan apa maksud tulisan di baliknya?” Lucia terdiam. Matanya menatap foto itu sebelum memberi jawaban. "Ini adalah Anda, Nyonya. Anda dan Tuan Lorenzo. Tuan sangat menghargai foto ini karena saat itu dia berjanji untuk selalu menjaga Anda." Allegra terdiam, keningnya berkerut. Dia mencoba mengingat kembali sosok pria di foto tadi. "Lorenzo? Tapi... punggung pria itu tidak selebar Lorenzo. Dia terlihat berbeda. Aku tidak merasa itu dia." "Itu karena Anda lupa. Tuan juga sudah banyak berubah," sela Lucia cepat, seolah sudah menghafal jawaban tersebut. "Beban menjaga Anda dan menjalankan bisnis sebesar ini mengubah banyak hal. Tapi cintanya pada Anda tetap sama. Dan tentang tulisan itu hanyalah ungkapan hati Tuan yang sangat mencintai Anda. Sekarang saya minta Anda keluar. Ini ruang kerja Tuan. Dia tidak akan senang melihat siapa pun ada di sini.” “Termasuk aku?” Allegra menyentuh dadanya. “Bukankah aku adalah istrinya?” Tepat di saat itu, suara langkah kaki bersepatu bergema di lorong. "Nyonya, tolong, keluarlah sekarang! Tuan sudah pulang," bisik Lucia panik. Wajah wanita itu terlihat begitu ketakutan. Langkah kaki itu semakin dekat dan terdengar jelas, membuat detak jantung yang sinkron dengan rasa cemas Allegra. Lucia dengan gemetar memasukkan foto itu ke dalam saku celemeknya, lalu mendorong Allegra menjauh dari meja kerja tepat saat sosok tinggi besar itu muncul di ambang pintu. Lorenzo Castellano berdiri di sana. Wajahnya tampak begitu dingin. Dia tidak langsung masuk. Dia hanya berdiri tegak. Aura dinginnya yang begitu mendominasi membuat Allegra merasa terintimidasi. Setelan jasnya yang gelap tampak menyatu dengan kegelapan lorong di belakangnya, membuat mata abu-abunya berkilat jauh lebih terang dan tampak tajam dari biasanya. ***Lorenzo mengemudikan Maserati hitamnya membelah kegelapan malam. Tangannya yang besar mencengkeram kemudi dengan kuat, sementara tangan yang lain tak pernah melepaskan jemari Allegra. Di spion tengah, Lorenzo sesekali melirik sepasang lampu depan dari SUV hitam yang menjaga jarak sekitar seratus meter di belakang mereka. Mobil tersebut berisi anak buah pilihannya yang dipimpin oleh Dante, tangan kanannya yang paling kejam.Suasana di dalam kabin terasa sunyi. Hanya ada deru mesin yang halus dan aroma parfum maskulin Lorenzo yang memenuhi indera penciuman Allegra.Sementara Allegra sejak tadi hanya termenung sambil memandang ke luar jendela mobil. Pikirannya ikut berlari bersama laju mobil Lorenzo."Lorenzo," panggil Allegra bermenit-menit kemudian, memecah kesunyian."Ya, Cara?""Sudah berapa lama kita menikah?"Lorenzo tidak langsung menjawab. Dia memutar kemudi, menepikan mobil di sebuah celah tebing tinggi yang menghadap langsung ke hamparan laut yang gelap dan bergemuruh. Di
Allegra berdiri dengan tubuh gemetar, berusaha keras untuk menenangkan diri. Terlebih saat pria itu melangkah menghampirinya.“Lorenzo, aku tadi ingin mencari perpustakaan, tapi tersesat ke ruang kerjamu,” ucapnya cepat dengan wajah tegang.Bukannya marah, Lorenzo justru tersenyum, membuat Allegra merasa lega seketika.“Ah iya, tadi aku berjanji akan membawamu ke perpustakaan.” Lorenzo mengulurkan tangan. Jemarinya yang panjang merapikan sejumput rambut Allegra yang berantakan. “Nanti aku akan menunjukkan tempatnya padamu.” Dia kemudian menoleh ke arah Lucia yang masih mematung. "Lucia, bukankah kamu punya tugas di dapur? Kenapa masih di sini, membiarkan istriku kebingungan di ruang kerja ini?""S-saya minta maaf, Tuan. Saya akan segera pergi," lirih Lucia. Wanita itu menunduk sedalam mungkin, tangannya meremas foto yang tersembunyi di saku celemeknya, lalu bergegas keluar tanpa berani menatap sang majikan.Kini tinggal mereka berdua. Lorenzo merangkul pinggang Allegra, menariknya
Allegra berjalan menyusuri lorong panjang dengan deretan pintu kayu yang menjulang tinggi. Setiap pintu tampak identik, namun ada satu pintu di ujung lorong yang menarik perhatiannya secara insting. Aroma parfum maskulin Lorenzo tercium sangat kuat dari sana. Allegra berhenti di depan pintu. Dia teringat peringatan Lorenzo, jangan pergi ke mana-mana. Namun, rasa haus akan informasi jauh lebih kuat daripada rasa takutnya. Saat dia menyentuh kenop pintu ternyata langsung terbuka.Pintu itu tidak terkunci. Sepertinya Lorenzo akibat keterburu-buruannya lupa memutar kunci.Allegra mendorong pintu tersebut dengan begitu perlahan. Dia menemukan dinding ruangan yang ditutupi oleh rak buku setinggi langit-langit. Perhatian Allegra lalu tertuju pada sebuah meja kerja besar dari kayu gelap di tengah ruangan.Ruangan itu terasa sangat Lorenzo. Dingin, berkuasa, dan penuh rahasia.Allegra melangkah masuk, napasnya tertahan. Dia merasa seperti penyusup di rumahnya sendiri. Matanya menyapu per
Tujuh hari telah berlalu sejak Allegra ‘dilahirkan kembali’ di ranjang besar itu. Kepalanya tidak lagi terasa berat, namun kekosongan di dalam benaknya tetap terasa seperti lubang hitam yang siap menelan kewarasannya.Pagi ini, untuk pertama kalinya Lorenzo mengizinkannya keluar dari kamar."Pelan-pelan, Cara," ujar Lorenzo begitu lembut.Tangan pria itu melingkar posesif di pinggang Allegra, menuntunnya dengan teramat berhati-hati.Allegra melangkah dengan ragu, jemarinya meraba dinding yang dihiasi lukisan vintage. Setiap sudut bangunan ini berteriak tentang kekayaan yang tidak masuk akal, namun tidak satu pun dari kemewahan ini yang memicu percikan memori di otaknya.Saat mereka melangkah keluar menuju teras luas yang menghadap langsung ke Laut Ionia, Allegra terkesiap. Dia refleks menggenggam pagar pembatas batu yang kokoh."Kita ... kita tinggal di villa di atas tebing?" tanyanya dengan suara hampir tenggelam oleh deru angin.Di bawah sana, sekitar ratusan meter jauhnya, om
Cahaya matahari yang menyengat menembus celah tirai, jatuh tepat di atas kelopak mata seorang perempuan yang terlelap selama satu minggu penuh. Panasnya begitu tajam, memicu denyut nyeri di kepalanya yang terasa remuk.Lamat-lamat, kelopak matanya terbuka. Hal pertama yang dirasakannya adalah rasa berat yang menghantam kepalanya, seolah ribuan jarum menusuk sarafnya secara bersamaan. Rambut panjangnya yang berwarna auburn tergerai di atas bantal sutra putih, tampak demikian kontras seperti tumpahan anggur merah di atas salju."Ugh..." Erangan halus terlepas dari bibirnya yang pucat dan pecah-pecah.Dia mencoba mengangkat tangan untuk memegang pelipisnya, namun setiap gerakan sekecil apa pun memicu rasa mual yang hebat. Tubuhnya terasa asing, kaku, dan penuh dengan sisa rasa sakit yang tidak bisa dia jelaskan.Dia menatap langit-langit kamar. Ruangan itu begitu tinggi dan mewah, dengan ukiran stucco rumit yang menghiasi sudut-sudutnya. Namun, tidak ada satu pun detail di sana yang







