LOGINTujuh hari telah berlalu sejak Allegra ‘dilahirkan kembali’ di ranjang besar itu. Kepalanya tidak lagi terasa berat, namun kekosongan di dalam benaknya tetap terasa seperti lubang hitam yang siap menelan kewarasannya.
Pagi ini, untuk pertama kalinya Lorenzo mengizinkannya keluar dari kamar. "Pelan-pelan, Cara," ujar Lorenzo begitu lembut. Tangan pria itu melingkar posesif di pinggang Allegra, menuntunnya dengan teramat berhati-hati. Allegra melangkah dengan ragu, jemarinya meraba dinding yang dihiasi lukisan vintage. Setiap sudut bangunan ini berteriak tentang kekayaan yang tidak masuk akal, namun tidak satu pun dari kemewahan ini yang memicu percikan memori di otaknya. Saat mereka melangkah keluar menuju teras luas yang menghadap langsung ke Laut Ionia, Allegra terkesiap. Dia refleks menggenggam pagar pembatas batu yang kokoh. "Kita ... kita tinggal di villa di atas tebing?" tanyanya dengan suara hampir tenggelam oleh deru angin. Di bawah sana, sekitar ratusan meter jauhnya, ombak Mediterania berwarna biru pekat menghantam batu karang dengan suara yang menggelegar seperti dentuman meriam, menciptakan buih-buih putih yang ganas. Tidak ada pantai landai di sini. Hanya ada dinding batu vertikal. “Benar sekali, Cara. Kamu suka pemandangannya?” tanya Lorenzo yang berdiri tepat di belakang Allegra. Allegra bisa merasakan dada bidang pria itu menempel di punggungnya, menghalangi angin laut yang mulai terasa menusuk. Allegra menatap garis horizon di mana langit dan laut bertemu. "Tapi kita terisolasi, Lorenzo. Aku tidak melihat jalan raya, tidak melihat tetangga. Hanya ada laut dan tebing." "Rumah biasa terlalu terbuka untuk kita. Villa ini bagus untukmu. Di sini, dunia tidak bisa menyentuhmu. Aku tidak bisa membiarkanmu berada di tempat di mana aksesnya terlalu mudah bagi orang-orang yang ingin mencelakaimu,” jawab Lorenzo sembari mengusap bahu Allegra. "Privasi adalah kemewahan tertinggi di Sicily. Dan setelah kecelakaan itu, aku bersumpah tidak akan membiarkanmu berada di jalanan umum sendirian.” "Siapa mereka, Lorenzo?" tanya Allegra pelan sembari memutar tubuh. Lorenzo sedikit menaikkan alisnya. "Maksudmu siapa?" "Orang-orang yang ingin mencelakaiku," Allegra mengulang kalimat Lorenzo. "Kamu bilang akses ke sini sulit agar mereka tidak bisa menjangkauku. Tapi siapa yang ingin mencelakai seorang wanita yang bahkan tidak ingat siapa namanya sendiri? Apa aku punya musuh? Atau... sebenarnya ini bukan tentangku, tapi tentangmu?" Lorenzo terdiam sejenak. Dia menyesap jusnya dengan tenang yang baru diberikan pelayan, barulah menjelaskan lebih lanjut. "Duniaku tidak seindah pemandangan di depan kita ini, Allegra," Lorenzo meletakkan gelasnya. "Keluarga Castellano menjalankan bisnis perkapalan dan ekspor impor yang sangat besar di seluruh Mediterania. Di Sicily, kesuksesan selalu membawa iri hati. Ada persaingan bisnis yang kotor. Mereka tahu bahwa kamu adalah titik lemahku. Kamu adalah jantungku. Dan bagi mereka, menghancurkanmu adalah cara tercepat untuk menghancurkanku. Selain itu, ada lagi hal lain yang akan kuceritakan padamu lain hari. Aku tidak mau kepalamu sakit. Ingat, Cara, kamu baru sembuh.” Lorenzo mengambil tangan Allegra, mengusap punggung tangannya dengan ibu jarinya. Mereka berjalan menuju meja makan di sudut teras yang sudah ditata rapi. Seorang pelayan wanita paruh baya bernama Lucia sedang menuangkan jus segar ke dalam gelas kristal. Wajahnya kaku, kepalanya tertunduk, menghindari kontak mata apa pun. "Lucia sudah bekerja untuk keluarga Castellano sejak lama," Lorenzo menjelaskan sambil menarikkan kursi untuk Allegra. "Dia yang akan memastikan semua kebutuhanmu terpenuhi." Lorenzo kemudian berjalan ke ujung teras untuk menerima telepon yang terus berbunyi di saku jasnya. Saat pria itu menjauh, Allegra mengambil kesempatan itu. Dia menatap Lucia yang sedang menata piring. "Lucia," panggil Allegra pelan. Pelayan itu tersentak. Bahunya menegang. Dia melirik sekilas ke arah punggung Lorenzo yang berada sekitar sepuluh meter dari mereka, lalu kembali menunduk. "Ya, Nyonya?" "Apa... apa aku dulu sering menghabiskan waktu di sini? Di teras ini?" Allegra bertanya dengan nada memohon. "Tolong, katakan sesuatu padaku. Apa pun. Apa aku bahagia di sini sebelum kecelakaan itu?" Tangan Lucia yang memegang penjepit serbet berhenti di udara. Matanya perlahan terangkat, bertemu dengan mata Allegra yang penuh rasa haus akan kebenaran. "Nyonya, Anda..." Lucia berujar lirih, suaranya nyaris tidak terdengar. "Anda harus banyak beristirahat." "Katakan padaku, Lucia. Apakah aku benar-benar mencintai suami–" "Lucia!" Teguran Lorenzo memotong perkataan Allegra sebelum dia berhasil menyelesaikannya. Pria itu sudah kembali, berdiri dengan aura yang begitu dominan. Lucia segera menundukkan kepala begitu dalam hingga dagunya menyentuh dada bagian atas. Tanpa kata, pelayan itu bergegas pergi dengan langkah kaki terburu-buru seolah baru saja melarikan diri dari maut. Lorenzo duduk di hadapan Allegra, wajahnya kembali tenang, seolah interupsi tadi tidak pernah terjadi. Lengan kemejanya yang digulung memperlihatkan jam tangan mewah dan urat-urat tangannya yang kuat. Dia mengambil pisau lalu mulai memotong daging. "Kenapa kamu membentaknya?" tanya Allegra, suaranya sedikit gemetar namun penuh protes. "Aku hanya ingin tahu siapa aku sebelum terbangun di sini." "Dia hanya pelayan, Allegra. Dia dibayar untuk bekerja, bukan untuk bercerita," iris mata abu-abu Lorenzo menatapnya lekat. "Kenapa harus bertanya pada orang asing jika suamimu ada di sini? Aku tahu segalanya tentangmu. Aku tahu makanan favoritmu, aku tahu setiap inci kulitmu, aku tahu apa yang membuatmu terjaga di malam hari." Allegra terdiam. Dia meremas serbet di pangkuannya, merasakan jantungnya berdegup kencang. Dia ingin membantah, tapi tatapan Lorenzo seolah mengunci suaranya di tenggorokan. Lorenzo meletakkan pisaunya. Dia mencondongkan tubuh ke depan dan menangkup wajah Allegra dengan satu tangan. Jemarinya yang panjang menekan rahang Allegra dengan lembut namun penuh penekanan. “Kebingungan yang kamu rasakan sekarang, itu bukan karena aku merahasiakan sesuatu," bisik Lorenzo dengan suara berat yang dalam tepat di depan wajah Allegra. "Itu adalah efek dari kecelakaan itu. Otakmu sedang mencoba mencari pegangan, dan kamu justru mencarinya pada orang yang salah. Lucia tidak bisa menyelamatkanmu, Allegra. Hanya aku yang bisa." Lorenzo mengusap sudut bibir Allegra dengan mata berkilat tajam. "Ingatlah satu hal. Di seluruh Sicily, hanya namaku yang menjagamu tetap aman. Jangan hancurkan rasa aman itu hanya karena rasa penasaran yang tidak berguna.” Allegra terpaku. Cara Lorenzo menatapnya nyaris membuatnya tidak bisa bernapas. "Makanlah," perintah Lorenzo sambil melepaskan cengkeramannya dan kembali melembutkan ekspresinya. "Setelah ini, aku akan menunjukkan perpustakaan. Ada banyak buku di sana. Mungkin salah satunya bisa membantu mengembalikan senyummu yang sangat aku rindukan.” Bunyi nyaring dari ponsel Lorenzo kembali memecah ketegangan di atas meja makan. Lorenzo berdecak pelan, terlihat terganggu karena momen intimnya terusik. Dia melihat layar ponselnya sejenak. Tanpa berkata apa-apa, dia bangkit dan menjauh dari meja, berjalan hingga ke ujung teras untuk menjawab panggilan itu seperti tadi. Allegra hanya bisa memerhatikan dari kejauhan. Dia merasa sangat penasaran siapa yang menelepon. Beberapa menit kemudian, Lorenzo kembali. "Aku harus pergi, Allegra," ucapnya sambil merapikan jasnya. "Ada masalah mendesak di kantor yang butuh perhatianku segera." Dia membungkuk, menangkup wajah Allegra dengan kedua tangannya yang dingin, lalu mengecup kening wanita itu dengan lembut. "Tetaplah di sini. Jangan pergi ke mana-mana. Aku tidak akan lama.” Allegra hanya diam. Sebelum pria itu benar-benar melangkah keluar, Allegra melihat Lorenzo berhenti di depan Lucia. Lorenzo mencondongkan tubuhnya yang tinggi ke arah pelayan tua itu, membisikkan serangkaian instruksi tepat di telinganya. Suaranya tidak terdengar, namun Allegra bisa merasakan beratnya otoritas dalam setiap kata yang diucapkan suaminya. Sambil mendengarkan instruksi sang tuan, Lucia melirik ke arah Allegra. Sekilas, hanya satu detik, namun Allegra menangkap sesuatu yang ganjil dalam tatapan itu. Lalu, tanpa menoleh lagi, Lorenzo melangkah pergi. "Apa yang dia katakan padamu, Lucia?" Allegra bertanya, suaranya memecah kesunyian tepat saat Lucia hendak merapikan peralatan makan. Lucia tersentak. Dia segera mundur selangkah, menggelengkan kepalanya dengan gerakan patah-patah. Tangannya gemetar saat menyibukkan diri dengan hidangan di meja. Wanita itu terus menghindari kontak mata dengan Allegra. "Tidak ada, Nyonya. Tidak ada apa-apa," jawab Lucia cepat. "Tuan hanya berkata agar aku menjaga Anda dengan baik. Jangan biarkan Anda kelelahan." Allegra menyipitkan mata. Lucia tidak sedang berbohong tentang menjaganya, tapi wanita itu jelas menyembunyikan bagian yang lebih gelap dari perintah Lorenzo. Gestur Lucia yang terus menunduk menjadi tanda bagi Allegra bahwa ada sesuatu yang besar yang disembunyikan darinya. Begitu Lucia bergerak menuju dapur, Allegra berdiri dengan kaki yang masih agak lemas. Dia menatap lorong panjang villa. Dia harus menemukan sesuatu yang bisa memberinya informasi yang jelas. Dia mulai melangkah. Jantungnya berdegup kencang melawan rasa takutnya sendiri. Satu pertanyaan terus terngiang di benaknya. Jika mereka memang saling mencintai, kenapa Lorenzo harus memberikan instruksi rahasia untuk mengawasinya seperti seorang tawanan? ***Lorenzo mengemudikan Maserati hitamnya membelah kegelapan malam. Tangannya yang besar mencengkeram kemudi dengan kuat, sementara tangan yang lain tak pernah melepaskan jemari Allegra. Di spion tengah, Lorenzo sesekali melirik sepasang lampu depan dari SUV hitam yang menjaga jarak sekitar seratus meter di belakang mereka. Mobil tersebut berisi anak buah pilihannya yang dipimpin oleh Dante, tangan kanannya yang paling kejam.Suasana di dalam kabin terasa sunyi. Hanya ada deru mesin yang halus dan aroma parfum maskulin Lorenzo yang memenuhi indera penciuman Allegra.Sementara Allegra sejak tadi hanya termenung sambil memandang ke luar jendela mobil. Pikirannya ikut berlari bersama laju mobil Lorenzo."Lorenzo," panggil Allegra bermenit-menit kemudian, memecah kesunyian."Ya, Cara?""Sudah berapa lama kita menikah?"Lorenzo tidak langsung menjawab. Dia memutar kemudi, menepikan mobil di sebuah celah tebing tinggi yang menghadap langsung ke hamparan laut yang gelap dan bergemuruh. Di
Allegra berdiri dengan tubuh gemetar, berusaha keras untuk menenangkan diri. Terlebih saat pria itu melangkah menghampirinya.“Lorenzo, aku tadi ingin mencari perpustakaan, tapi tersesat ke ruang kerjamu,” ucapnya cepat dengan wajah tegang.Bukannya marah, Lorenzo justru tersenyum, membuat Allegra merasa lega seketika.“Ah iya, tadi aku berjanji akan membawamu ke perpustakaan.” Lorenzo mengulurkan tangan. Jemarinya yang panjang merapikan sejumput rambut Allegra yang berantakan. “Nanti aku akan menunjukkan tempatnya padamu.” Dia kemudian menoleh ke arah Lucia yang masih mematung. "Lucia, bukankah kamu punya tugas di dapur? Kenapa masih di sini, membiarkan istriku kebingungan di ruang kerja ini?""S-saya minta maaf, Tuan. Saya akan segera pergi," lirih Lucia. Wanita itu menunduk sedalam mungkin, tangannya meremas foto yang tersembunyi di saku celemeknya, lalu bergegas keluar tanpa berani menatap sang majikan.Kini tinggal mereka berdua. Lorenzo merangkul pinggang Allegra, menariknya
Allegra berjalan menyusuri lorong panjang dengan deretan pintu kayu yang menjulang tinggi. Setiap pintu tampak identik, namun ada satu pintu di ujung lorong yang menarik perhatiannya secara insting. Aroma parfum maskulin Lorenzo tercium sangat kuat dari sana. Allegra berhenti di depan pintu. Dia teringat peringatan Lorenzo, jangan pergi ke mana-mana. Namun, rasa haus akan informasi jauh lebih kuat daripada rasa takutnya. Saat dia menyentuh kenop pintu ternyata langsung terbuka.Pintu itu tidak terkunci. Sepertinya Lorenzo akibat keterburu-buruannya lupa memutar kunci.Allegra mendorong pintu tersebut dengan begitu perlahan. Dia menemukan dinding ruangan yang ditutupi oleh rak buku setinggi langit-langit. Perhatian Allegra lalu tertuju pada sebuah meja kerja besar dari kayu gelap di tengah ruangan.Ruangan itu terasa sangat Lorenzo. Dingin, berkuasa, dan penuh rahasia.Allegra melangkah masuk, napasnya tertahan. Dia merasa seperti penyusup di rumahnya sendiri. Matanya menyapu per
Tujuh hari telah berlalu sejak Allegra ‘dilahirkan kembali’ di ranjang besar itu. Kepalanya tidak lagi terasa berat, namun kekosongan di dalam benaknya tetap terasa seperti lubang hitam yang siap menelan kewarasannya.Pagi ini, untuk pertama kalinya Lorenzo mengizinkannya keluar dari kamar."Pelan-pelan, Cara," ujar Lorenzo begitu lembut.Tangan pria itu melingkar posesif di pinggang Allegra, menuntunnya dengan teramat berhati-hati.Allegra melangkah dengan ragu, jemarinya meraba dinding yang dihiasi lukisan vintage. Setiap sudut bangunan ini berteriak tentang kekayaan yang tidak masuk akal, namun tidak satu pun dari kemewahan ini yang memicu percikan memori di otaknya.Saat mereka melangkah keluar menuju teras luas yang menghadap langsung ke Laut Ionia, Allegra terkesiap. Dia refleks menggenggam pagar pembatas batu yang kokoh."Kita ... kita tinggal di villa di atas tebing?" tanyanya dengan suara hampir tenggelam oleh deru angin.Di bawah sana, sekitar ratusan meter jauhnya, om
Cahaya matahari yang menyengat menembus celah tirai, jatuh tepat di atas kelopak mata seorang perempuan yang terlelap selama satu minggu penuh. Panasnya begitu tajam, memicu denyut nyeri di kepalanya yang terasa remuk.Lamat-lamat, kelopak matanya terbuka. Hal pertama yang dirasakannya adalah rasa berat yang menghantam kepalanya, seolah ribuan jarum menusuk sarafnya secara bersamaan. Rambut panjangnya yang berwarna auburn tergerai di atas bantal sutra putih, tampak demikian kontras seperti tumpahan anggur merah di atas salju."Ugh..." Erangan halus terlepas dari bibirnya yang pucat dan pecah-pecah.Dia mencoba mengangkat tangan untuk memegang pelipisnya, namun setiap gerakan sekecil apa pun memicu rasa mual yang hebat. Tubuhnya terasa asing, kaku, dan penuh dengan sisa rasa sakit yang tidak bisa dia jelaskan.Dia menatap langit-langit kamar. Ruangan itu begitu tinggi dan mewah, dengan ukiran stucco rumit yang menghiasi sudut-sudutnya. Namun, tidak ada satu pun detail di sana yang







