Home / Fantasi / The Empress / 8. Ratu yang Baru

Share

8. Ratu yang Baru

Author: Lord Devil
last update publish date: 2024-06-20 12:12:40
Enam bulan kemudian, Qin Lang mengadakan rapat kerajaan untuk mengatur segala urusan dalam dan luar kerajaan.

Semua pejabat kerajaan wajib hadir pada kesempatan itu untuk melaporkan segala kebutuhan, hasil pekerjaan dan juga rekomendasi bagi keberlangsungan Yi.

Dua jenderal, Jenderal Penghancur Jindan dan Jenderal Li Wen juga hadir secara bergantian, karena salah satu dari mereka harus menjaga Wang Yin.

Qin Lang tidak mempercayai siapa pun setelah terjadi penyerangan pada Wang Yin di hari ulang
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • The Empress   21. Tanda Keempat

    Qin Yue pingsan di aula tengah.Tubuh kecilnya terbaring di atas lantai marmer, tepat di antara kursi Qin Qiu dan meja rendah tempat teh baru saja disajikan. Wajahnya pucat seperti kertas. Bibirnya kehilangan warna, sementara jari-jarinya menggenggam lonceng perak pemberian Wang Yin begitu erat sampai buku jarinya memutih.Qin Lian duduk berlutut di sampingnya.Anak itu tidak menangis.Justru karena ia tidak menangis, semua orang tahu sesuatu benar-benar buruk telah terjadi.Biasanya Qin Lian akan berteriak, memanggil tabib, memarahi penjaga, atau mengamuk pada siapa pun yang dianggapnya bersalah. Namun kali ini ia hanya diam, kedua matanya menatap Qin Yue tanpa berkedip.Seperti jika ia berkedip sekali saja, kakaknya akan hilang.“A Yue!”Wang Yin masuk seperti angin badai.Qin Lang menyusul di belakangnya, wajahnya dingin mengerikan. Qin Mo ikut datang beberapa langkah kemudian, tertahan oleh para pengawal

  • The Empress   20. Pangeran dari Gerbang Timur

    Terompet di gerbang timur terdengar sekali lagi.Panjang.Dingin.Mengiris sisa malam yang belum sepenuhnya pergi.Qin Lang berdiri membeku di halaman paviliun barat dengan gulungan pesan masih tergenggam di tangannya. Api di belakangnya mulai mereda, tetapi asap merah tua masih melayang di udara seperti pertanda buruk yang menolak hilang.Wang Yin menatap arah gerbang timur.Matahari belum terbit.Langit masih gelap kebiruan.Namun dari balik tembok istana, suara prajurit mulai bergerak. Derap kaki, dentang baju zirah, dan perintah yang disampaikan cepat terdengar samar dari kejauhan.Seseorang meminta masuk sebagai keluarga kerajaan Qin.Seseorang yang menandai dirinya dengan huruf M.Qin Mo.Nama itu seharusnya hanya menjadi luka lama di keluarga Qin. Bayi laki-laki yang meninggal beberapa hari setelah lahir. Adik bungsu Qin Lang yang tidak pernah tumbuh, tidak pernah berbicara, t

  • The Empress   19. Paviliun Barat

    Api di paviliun barat tidak menyala seperti api biasa.Warnanya merah tua, hampir hitam di bagian tengah, seolah ada darah yang terbakar bersama kayu dan sutra. Asapnya membumbung tinggi, membentuk pusaran aneh sebelum pecah di langit istana.Para pelayan berlari membawa ember air.Para penjaga berteriak memberi perintah.Namun setiap kali air disiramkan ke kobaran api, nyala merah itu justru mengamuk lebih besar, seperti mengejek usaha manusia untuk memadamkannya.Wang Yin berdiri di halaman paviliun dengan wajah pucat.Qin Lang berada di sampingnya. Pedang di tangannya belum terhunus, tetapi niat membunuh yang menyelimuti tubuhnya membuat tidak ada seorang pun berani mendekat tanpa izin.Di belakang mereka, Qin Lian dan Qin Yue dijaga ketat oleh Qin Ming dan beberapa pengawal pribadi.Qin Lian menggenggam tangan kakaknya sangat erat.“Kakak,” bisiknya, “api itu aneh.”Qin Yue menatap koba

  • The Empress   18. Darah Bukit Ying

    Tidak ada kemenangan malam itu.Mereka berhasil menemukan Qin Lian dan Qin Yue.Mereka berhasil membawa kedua anak itu keluar dari altar hidup-hidup.Namun tak seorang pun merasa menang.Wang Yin duduk di tepi lembah dengan tubuh bersandar pada dada Qin Lang. Wajahnya pucat, bibirnya masih ternoda darah, dan seruling Ren yang retak terbaring di pangkuannya seperti burung terluka.Qin Lang memeluknya dari belakang, tetapi pelukan itu tidak setenang biasanya.Tangannya dingin.Terlalu dingin.Qin Lian dan Qin Yue duduk di hadapan mereka. Tali yang tadi mengikat pergelangan tangan mereka sudah dilepas, tetapi bekas merahnya masih tampak jelas. Qin Lian beberapa kali melirik luka di kaki Qin Yue, lalu menggigit bibirnya keras-keras seolah ingin menangis tetapi menolak melakukannya.Qin Yue sendiri tetap diam.Terlalu diam.Matanya terus menatap sisa altar yang hancur.Di tempat Wang Zhao berdiri beberapa

  • The Empress   17. Anak-Anak yang Hilang

    Tidak ada kuda yang cukup cepat bagi Wang Yin malam itu.Jalan dari perbatasan utara menuju Kerajaan Yi terasa seperti bentangan tak berujung. Angin dingin memukul wajahnya, membuat rambut dan jubahnya berkibar liar, tetapi ia tidak memedulikannya.Yang ada di kepalanya hanya dua nama.Qin Lian.Qin Yue.Dua anak yang baru kemarin ia peluk.Dua anak yang baru ia janjikan tidak akan ditinggalkan lagi.Dua anak yang kini menghilang dari istana saat ia pergi mengejar Liu Ji.“Wang Yin!” seru Qin Lang dari samping.Ia memacu kudanya mendekat, lalu meraih tali kekang kuda Wang Yin agar perempuan itu melambat.Wang Yin menoleh dengan mata tajam. “Lepaskan.”“Kudamu hampir tumbang.”“Ganti kuda.”“Tubuhmu juga hampir tumbang.”“Aku tidak peduli.”“Aku peduli!”Suara Qin Lang memecah angin malam.Untuk sesaat, Wang Yin terdiam.Sejak ia bangun, Qin Lang selalu menaha

  • The Empress   16. Saudara yang Hilang

    Lorong bawah tanah itu terbakar dari dalam.Asap hitam merayap di langit-langit rendah seperti makhluk hidup, mencari celah untuk keluar. Api menjalar di sepanjang garis minyak yang sengaja dituangkan di lantai batu, menyambar kain-kain tua, rantai berkarat, dan tumpukan kayu kering yang rupanya sudah disiapkan sejak lama.Liu Ji tidak hanya menunggu mereka.Ia sudah menyiapkan tempat ini untuk menjadi makam.Qin Lang berlari di depan dengan pedang terhunus. Wajahnya dingin, tetapi setiap langkahnya memancarkan kegelisahan yang tidak bisa sepenuhnya ia sembunyikan. Di belakangnya, Wang Yin mengikuti sambil menggenggam seruling Ren. Tubuhnya belum pulih sempurna, napasnya sesekali terasa berat, tetapi sorot matanya tetap tajam.“Qin Lang,” panggil Wang Yin.Qin Lang tidak berhenti, tetapi ia melambat sedikit.“Aku di sini,” katanya.“Aku tahu kau ingin cepat menemukan kakakmu. Tapi lorong ini tidak

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status