LOGINApi di paviliun barat tidak menyala seperti api biasa.
Warnanya merah tua, hampir hitam di bagian tengah, seolah ada darah yang terbakar bersama kayu dan sutra. Asapnya membumbung tinggi, membentuk pusaran aneh sebelum pecah di langit istana.
Para pelayan berlari membawa ember air.
Para penjaga berteriak memberi perintah.
Namun setiap kali air disiramkan ke kobaran api, nyala merah itu justru mengamuk lebih besar, seperti mengejek usaha manusia untuk memadamkannya.
Api di paviliun barat tidak menyala seperti api biasa.Warnanya merah tua, hampir hitam di bagian tengah, seolah ada darah yang terbakar bersama kayu dan sutra. Asapnya membumbung tinggi, membentuk pusaran aneh sebelum pecah di langit istana.Para pelayan berlari membawa ember air.Para penjaga berteriak memberi perintah.Namun setiap kali air disiramkan ke kobaran api, nyala merah itu justru mengamuk lebih besar, seperti mengejek usaha manusia untuk memadamkannya.Wang Yin berdiri di halaman paviliun dengan wajah pucat.Qin Lang berada di sampingnya. Pedang di tangannya belum terhunus, tetapi niat membunuh yang menyelimuti tubuhnya membuat tidak ada seorang pun berani mendekat tanpa izin.Di belakang mereka, Qin Lian dan Qin Yue dijaga ketat oleh Qin Ming dan beberapa pengawal pribadi.Qin Lian menggenggam tangan kakaknya sangat erat.“Kakak,” bisiknya, “api itu aneh.”Qin Yue menatap koba
Tidak ada kemenangan malam itu.Mereka berhasil menemukan Qin Lian dan Qin Yue.Mereka berhasil membawa kedua anak itu keluar dari altar hidup-hidup.Namun tak seorang pun merasa menang.Wang Yin duduk di tepi lembah dengan tubuh bersandar pada dada Qin Lang. Wajahnya pucat, bibirnya masih ternoda darah, dan seruling Ren yang retak terbaring di pangkuannya seperti burung terluka.Qin Lang memeluknya dari belakang, tetapi pelukan itu tidak setenang biasanya.Tangannya dingin.Terlalu dingin.Qin Lian dan Qin Yue duduk di hadapan mereka. Tali yang tadi mengikat pergelangan tangan mereka sudah dilepas, tetapi bekas merahnya masih tampak jelas. Qin Lian beberapa kali melirik luka di kaki Qin Yue, lalu menggigit bibirnya keras-keras seolah ingin menangis tetapi menolak melakukannya.Qin Yue sendiri tetap diam.Terlalu diam.Matanya terus menatap sisa altar yang hancur.Di tempat Wang Zhao berdiri beberapa
Tidak ada kuda yang cukup cepat bagi Wang Yin malam itu.Jalan dari perbatasan utara menuju Kerajaan Yi terasa seperti bentangan tak berujung. Angin dingin memukul wajahnya, membuat rambut dan jubahnya berkibar liar, tetapi ia tidak memedulikannya.Yang ada di kepalanya hanya dua nama.Qin Lian.Qin Yue.Dua anak yang baru kemarin ia peluk.Dua anak yang baru ia janjikan tidak akan ditinggalkan lagi.Dua anak yang kini menghilang dari istana saat ia pergi mengejar Liu Ji.“Wang Yin!” seru Qin Lang dari samping.Ia memacu kudanya mendekat, lalu meraih tali kekang kuda Wang Yin agar perempuan itu melambat.Wang Yin menoleh dengan mata tajam. “Lepaskan.”“Kudamu hampir tumbang.”“Ganti kuda.”“Tubuhmu juga hampir tumbang.”“Aku tidak peduli.”“Aku peduli!”Suara Qin Lang memecah angin malam.Untuk sesaat, Wang Yin terdiam.Sejak ia bangun, Qin Lang selalu menaha
Lorong bawah tanah itu terbakar dari dalam.Asap hitam merayap di langit-langit rendah seperti makhluk hidup, mencari celah untuk keluar. Api menjalar di sepanjang garis minyak yang sengaja dituangkan di lantai batu, menyambar kain-kain tua, rantai berkarat, dan tumpukan kayu kering yang rupanya sudah disiapkan sejak lama.Liu Ji tidak hanya menunggu mereka.Ia sudah menyiapkan tempat ini untuk menjadi makam.Qin Lang berlari di depan dengan pedang terhunus. Wajahnya dingin, tetapi setiap langkahnya memancarkan kegelisahan yang tidak bisa sepenuhnya ia sembunyikan. Di belakangnya, Wang Yin mengikuti sambil menggenggam seruling Ren. Tubuhnya belum pulih sempurna, napasnya sesekali terasa berat, tetapi sorot matanya tetap tajam.“Qin Lang,” panggil Wang Yin.Qin Lang tidak berhenti, tetapi ia melambat sedikit.“Aku di sini,” katanya.“Aku tahu kau ingin cepat menemukan kakakmu. Tapi lorong ini tidak
Kuil tua di lereng utara berdiri seperti bangkai masa lalu.Atapnya sebagian runtuh. Pilar-pilar kayunya hitam dimakan usia dan lembap, sementara lumut merayap di lantai batu yang retak. Patung dewa penjaga di gerbang masuk kehilangan satu mata, membuat wajahnya tampak seperti sedang menatap siapa pun yang datang dengan kebencian bisu.Kabut menyelimuti tempat itu sejak tengah malam.Dari kejauhan, kuil itu terlihat kosong.Terlalu kosong.Wang Yin berdiri di balik pepohonan, menatap bangunan itu tanpa berkedip. Jubah hitamnya bergerak pelan tertiup angin. Untuk penyamaran, ia tidak mengenakan pakaian kerajaan. Rambutnya diikat tinggi, dan seruling Ren tergantung di pinggang, tersembunyi di balik lipatan kain gelap.Di sisinya, Qin Lang berdiri dengan wajah sedingin batu.“Penjaganya tidak terlihat,” kata Qin Ming pelan.Wang Yin tersenyum tipis. “Karena mereka ingin aku merasa bisa masuk dengan mudah.”Qin Lang menatap
Perintah Qin Lang turun sebelum matahari mencapai puncak langit.Tidak ada genderang perang yang dipukul.Tidak ada pengumuman besar di alun-alun kerajaan.Tidak ada pejabat yang diberi kesempatan untuk berdebat di aula istana.Namun semua orang yang cukup lama tinggal di Kerajaan Yi tahu, ketika Qin Lang memberi perintah dengan suara sedingin itu, sesuatu yang besar sedang bergerak.Gerbang bagian utara diperketat.Pengawal pribadi raja dipanggil diam-diam.Jenderal Lin Wen menerima perintah untuk menyiapkan pasukan kecil yang bisa bergerak cepat tanpa menarik perhatian. Wen Xiu diperintahkan memeriksa ulang jalur-jalur rahasia yang dulu pernah dipakai pemberontak. Qin Ming mengumpulkan laporan dari perbatasan, sementara Qin Qiu dipanggil ke ruang strategi dengan wajah muram dan janggut yang terus ia elus tanpa sadar.Di tengah semua itu, Wang Yin berdiri di depan peta besar Kerajaan Yi.Peta itu terbentang di atas meja







