ログイン"That's where you will stay till we get married." Xander began to explain, "You will have your chef and all." "I don't have a job." She began to speak, "And I didnt get an education-" "Shh." Xander grinned, placing his finger against her lips, "You do not have to worry about all that. You are mine. You are mine to take care of and you will never have to worry about anything in your life again, my love." ****** Lunaria’s life is upended when the charismatic and determined Xander Ashton barges into her world, claiming her as his wife instead of her glamorous sister, Sylvana St. Clair. In an instant, Lunaria becomes Madam Ashton. As Lunaria settles into her new life, she is caught between the man she fell for—charming, passionate, and protective—and the growing distance between them. Xander’s mother and sister make it clear they don’t accept her, and Xander himself seems to be changing in ways that confuse her. Still, Lunaria can’t shake the love she feels for him and the belief that deep down, he might be the man she needs. But when a mysterious new figure enters the scene, showering her with attention and love, Lunaria faces an impossible choice. Will Xander find his way back to her, or is the love she deserves waiting in the arms of someone else?
もっと見る"Ini naskah skripsi saya, Pak. Semuanya sudah direvisi," ucapku dengan suara bergetar yang sulit disembunyikan.
Aku berdiri di dekat Pak Jefri sambil menundukkan kepala. Jemariku saling meremas di belakang punggung. Keringat dingin merayap di sekujur tubuh, meski ruangan dingin dari embusan AC itu terasa menusuk. Aku merasakan suasana yang mencekam di kantor Pak Jefri siang itu. Wajar saja. Ini sudah kali ke lima aku menulis revisi yang berujung penolakan. Setiap kali skripsi itu kembali, selalu ada coretan —menandakan kegagalanku yang tak ada habisnya. Rasanya bukan lagi revisi, melainkan sebuah siksaan tanpa akhir. Tak salah jika aku memanggilnya 'dosen killer'. Aku merasa dia punya dendam pribadi padaku, seolah ia selalu mencari celah untuk mempersulit skripsiku. Benar saja, hari ini pun sama. Aku melirik Pak Jefri yang hanya membalik-balik kertas itu tanpa membacanya. Wajahku cemberut, dalam batinku bergumam, 'Sialan nih dosen! Dia bahkan nggak ngehargai kerja kerasku.' Secepat kilat, ia mencoret beberapa halaman. Aku spontan mendongak, mataku membelalak lebar diikuti dengan mulutku yang menganga . "Pak... jangan dong, Pak. Saya sudah susah payah merevisi ini. Masak dicoret lagi sih, Pak..." Aku berseru, berusaha merebut dokumen tugas akhir itu. Namun, ia menjauhkan tangannya dengan cepat—membuatku tak bisa menjangkaunya. "Skripsi apa yang kamu buat ini?!" Nadanya bukan lagi sekadar marah, melainkan sebuah ledakan. Suaranya menggelegar di ruang kantor yang sunyi, membuatku berjengit. "Semuanya salah!" Ia terus mencoret tiap halaman di udara, seolah ingin merobeknya. Aku merasa kesal dan terus melompat-lompat, berusaha menggapai skripsi itu. Namun, tanpa sengaja kakiku tertekuk, hingga tubuhku limbung dan terjatuh dalam dekapannya. Mata kami bertemu, dan mematung selama beberapa detik. Mendadak getaran aneh muncul di dadaku. Tubuhku terasa menghangat, seolah ada api yang menyala. Tak berselang... pak Jefri melumat bibirku tanpa aba-aba, dan tanpa sadar aku pun membalasnya. Tanpa sedikitpun rasa sungkan, aku menjulurkan lidahku, mengundang Pak Jefri untuk menelusuri lebih dalam. Semakin lama, ciumannya semakin ganas. Ia mulai menelusuri leherku, meninggalkan jejak kemerahan di sana. "Aahh..." desahan samar lolos dari bibirku. Selama ini, tak ada pria yang menyentuhku. Namun hari ini, seorang dosen killer yang kubenci justru memulai semuanya. Ia meruntuhkan segala pertahananku yang selama ini anti sentuhan fisik. Tangan Pak Jefri semakin berani. Ia tak puas hanya dengan bagian atas, dan mulai menjelajahi bagian dadaku. Perlahan... ia menarik tali tanktop-ku sambil terus mencumbu dengan penuh hasrat. Pucuk balon-ku yang sudah tegang mencuat ke permukaan, saat ia melorotkan tanktop beserta bra yang menempel. Dengan penuh gairah, ia mengisap ujung berwarna merah muda itu, lalu menari liar menggunakan ujung lidahnya. "Mmhhh... Pak..." Mulutku tak bisa diam, apa lagi saat jemari panjangnya mulai menjelajahi lahan bunga matahariku yang basah. Aku bisa mendengar embusan napas Pak Jefri yang memburu. Tak kusangka, dosen yang kuanggap buas dalam merevisi skripsi ternyata lebih buas dari bayanganku. Ia mengangkat tubuhku yang kecil, lalu mendudukkanku di atas meja kerjanya. Rok mini yang kupakai memudahkannya menjangkau area paling sensitifku. Perlahan... pak Jefri menurunkan celana dalamku, lalu membuka lebar pintu goa yang menutupinya. Dengan cepat ia menarik tuas kursi putar yang didudukinya —hingga merendah, membuat lidahnya dengan mudah menjangkau lipatan terdalamku. "Aahhh... Pak..." Aku mendesah kenikmatan sambil meremas rambut Pak Jefri. Bokongku terus bergerak, mencari sensasi terdalam dalam permainan lidahnya. Hingga tanpa terasa, genggaman tanganku pada rambutnya tergelincir. Tubuhku tiba-tiba melayang, bukan karena kenikmatan—melainkan jatuh dari ketinggian. Bruak! Aku tersentak karena tubuhku tiba-tiba terguling dari kasur, lalu mendarat di lantai yang dingin. Napasku terengah, mataku menyapu ke segala arah sambil bergumam, "Di mana ini?" Keningku berkerut saat melihat kertas skripsi berserakan di mana-mana. Laptopku masih menyala, dan buku-buku tercecer di segala tempat. Melihat kekacauan yang terjadi aku baru sadar—ini apartemen kontrakanku, bukan kantor Pak Jefri. "Sialan! Ternyata aku hanya mimpi." Beberapa jam lalu, aku sibuk menyelesaikan revisi sambil mengumpat. Saking kesalnya dengan Pak Jefri, aku sampai ketiduran dan bermimpi aneh di siang bolong. Aku meraba selangkanganku yang terasa basah. Dan... Benar saja. Cairan bening seperti lem masih terperangkap dalam celana dalamku. "Begok! Bisa-bisanya aku mimpi basah sama dosen killer itu," rutukku pada diri sendiri. Cling! Suara notifikasi ponsel yang tergeletak di kasur tedengar. Aku mengabaikannya dan masih bersandar lemas di sisi ranjang. Dadaku terasa sesak karena mimpi barusan. Selain jijik, aku merasa kesal dan tak terima. Aku yang selama ini tak pernah tersentuh pria, justru disentuh pertama kali oleh orang yang aku benci—meski itu hanya dalam mimpi. Tak pernah sedikitpun aku membayangkan disentuh olehnya, bahkan melihat wajahnya saja membuatku naik darah. Heran saja, kok bisa ia menjadi dosen idaman para mahasiswi. Padahal wajahnya sangat kaku dan minim emosi. Sikapnya dingin mengalahkan kutub Utara. Meskipun, ya... Dia memang ganteng, sih. Ddrrzzztttt! Suara dering ponselku disertai dengan getaran memecah keheningan. "Siapa sih?" Dengan gerakan lemas, tanganku meraba-raba kasur, berusaha meraih ponsel itu dari lantai. "Pak Jefri?!" Mataku seketika membelalak melihat namanya terpampang jelas di layar. Aku segera menekan tombol hijau, lalu bergegas menjawab. "Halo, Pak..." Mendadak aku berubah total. Berbicara dengan selembut mungkin, seolah tak pernah ada rasa kesal sedikitpun. "Kalau kamu tidak mau menyelesaikan skripsi bilang saja! Saya tidak mau capek-capek menunggu kamu di kampus!" Suara Pak Jefri terdengar seperti sedang menahan amarah. "A-apa? Bapak nunggu saya?!" Mataku melotot karena kaget. Tubuhku membeku, seolah paru-paruku berhenti bernapas. "Kamu tidak baca pesan? Saya sudah mengirim pesan beberapa kali, Erika!" Seketika, jantungku seperti mau melompat dari tempatnya. Jemariku bergerak cepat, buru-buru mengecek layar ponsel. Dan... Benar saja. Pak Jefri mengirimku pesan sejak pukul dua belas siang, memintaku datang untuk bimbingan skripsi pukul tiga sore. Dan sekarang? Aku melirik jam weker di rak belajar. Jarum jam sudah menunjukkan pukul setengah empat. Tanpa pikir panjang, aku segera bangkit, menempelkan kembali ponsel itu di telinga sambil melangkah kebingungan. "Iya, Pak. Saya akan segera datang!" jawabku dengan suara serak, lalu mematikan ponsel. Aku panik, berlari ke sana kemari mencari celana panjang dan kemeja. "Ke mana, sih? Padahal tadi kan di sini." Seolah menghilang ditelan bumi. Khas sekali, barang yang paling dibutuhkan selalu lenyap saat genting. Padahal aku yakin betul celana itu tadi pagi tergeletak di kasur. Kontrakan apartemenku ini tidak besar. Hanya ada satu kasur, rak yang jadi satu sama meja belajar, satu sofa panjang dan lemari berkabinet. Harusnya celana itu tidak lari kemana-mana. Aku berlari ke segala tempat, membuka semua kabinet lemari. Kosong. Tak ada celana yang tersisa. Aku terduduk lemas di lantai. Berteriak sambil menjambak rambutku sendiri. "Aarrrgghh.... Kenapa bajuku kotor semua?!"Marco walked away from her, as fast as he could with hands stuck in his pockets, fingers curling in them as he felt his heart rhythm increasing more than usual. The sight of those sad brown eyes stuck with him, the softness of her voice, her inviting beauty, and the way she smiled. It was all embedded in his head. But it was wrong, too wrong. He couldn't desire another man's wife. He shook his head, a bitter laugh coming from him as he brought his hand out of his pocket, the silver band glinting almost mocking him at the way he felt at the moment. The band was a reminder of why he should tame himself and ignore the fire kindling, started by the woman he had saved from falling but he couldn't help himself. She's married, he reminded himself, and on the other hand, you have got a lot going on. He gazed at the band again, a small smile coming to his face, a reminder of his purpose here. He wasn't here to be besotted by a woman. He had loyalty to prove and faithfulness to uphold.
I am married. The words echoed in Lunaria's head causing the warmth she felt from the man to evaporate quickly and she hurriedly pushed against him in an attempt to get off. He released his hold and she slid away from him standing to her feet immediately, her palms smoothing awkwardly over her gown, her eyes darting in all directions apart from him but she could see from her peripheral vision that he had risen, standing up with his palms brushing across his trousers. "Are you alright?" The strange man asked, his voice cascading over her causing a certain coolness and she forced herself to look up at him even with the dimness provided by the night sky. She could see those electrifying blue eyes beneath the mask he wore, she sensed a vague familiarity but she couldn't quite make out his face. She hadn’t met much people in her life. "I am fine." She whispered slowly taking steps back and he gently walked towards her, "I am sorry." "You shouldn't be. You only tripped." "Right." Sh
Lunaria looked down at her chapped fingers, she could hear the laughter coming from downstairs while she was huddled in the bedroom under the pretense that she needed some time alone as she had a headache. Xander had flown in hours ago, she had gone with his mother and sister to welcome him at the airport. She had carefully orchestrated how she wanted to tell him the situation about home as she knew she couldn't die in silence but to her surprise, her mother and sister-in-law were Oscar-worthy actresses. If one were to see them at the airport, they would think that Lunaria was a lovely family member of theirs. The way they talked softly to her, and treated her nicely was something that shocked Lunaria to the core. Xander loved the state in which he met his family, seeing that his mother and sister had warmed up to his wife made him elated and Lunaria noticed this, she couldn't ruin it all by telling him what had occurred while he was away. Madam Ashton and Claire had made it a g
Madam Ashton's words bore venom, her stares as well as Claire's stares towards Lunaria were laced with hate bearing worse malice than she had ever seen. Its okay Lunaria, they are just meeting you. You need to show them you are worth it. She smiled softly at them, trying to push out the words of her mother in law, "I understand the mistake ma'am." she bowed a little, "My apologies for not living up to your expectations but I am Xander's wife. He explained why you both couldn't make it to the wedding." They both stared at her, saying nothing but with gazes that spoke volumes. "I anticipated your coming today mother, sister." Lunaria widened her smile, "I even cooked. You must be famished, I would l-" "Enough!" Claire was the one who barked this time, "Shut the hell up, acting like you are the lady of the house!" "Oh Xander." Madam Ashton took in a deep sigh like she was about to faint, "I asked for a daughter in law and he brought some horrible creature, did he push aside the lov


















Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
レビュー