The Forsaken Heiress : Pampered By The Billionaire

The Forsaken Heiress : Pampered By The Billionaire

last update最終更新日 : 2025-02-17
作家:  Moyahx連載中
言語: English
goodnovel18goodnovel
10
1 評価. 1 レビュー
22チャプター
3.5Kビュー
読む
本棚に追加

共有:  

報告
あらすじ
カタログ
コードをスキャンしてアプリで読む

概要

Contemporary

Drama

Sweet Love

CEO

Heir/Heirness

Betrayal

Revenge

"That's where you will stay till we get married." Xander began to explain, "You will have your chef and all." "I don't have a job." She began to speak, "And I didnt get an education-" "Shh." Xander grinned, placing his finger against her lips, "You do not have to worry about all that. You are mine. You are mine to take care of and you will never have to worry about anything in your life again, my love." ****** Lunaria’s life is upended when the charismatic and determined Xander Ashton barges into her world, claiming her as his wife instead of her glamorous sister, Sylvana St. Clair. In an instant, Lunaria becomes Madam Ashton. As Lunaria settles into her new life, she is caught between the man she fell for—charming, passionate, and protective—and the growing distance between them. Xander’s mother and sister make it clear they don’t accept her, and Xander himself seems to be changing in ways that confuse her. Still, Lunaria can’t shake the love she feels for him and the belief that deep down, he might be the man she needs. But when a mysterious new figure enters the scene, showering her with attention and love, Lunaria faces an impossible choice. Will Xander find his way back to her, or is the love she deserves waiting in the arms of someone else?

もっと見る

第1話

Prologue- I don’t want that ugly child

"Ini naskah skripsi saya, Pak. Semuanya sudah direvisi," ucapku dengan suara bergetar yang sulit disembunyikan.

Aku berdiri di dekat Pak Jefri sambil menundukkan kepala. Jemariku saling meremas di belakang punggung. Keringat dingin merayap di sekujur tubuh, meski ruangan dingin dari embusan AC itu terasa menusuk.

Aku merasakan suasana yang mencekam di kantor Pak Jefri siang itu. Wajar saja. Ini sudah kali ke lima aku menulis revisi yang berujung penolakan. Setiap kali skripsi itu kembali, selalu ada coretan —menandakan kegagalanku yang tak ada habisnya.

Rasanya bukan lagi revisi, melainkan sebuah siksaan tanpa akhir. Tak salah jika aku memanggilnya 'dosen killer'. Aku merasa dia punya dendam pribadi padaku, seolah ia selalu mencari celah untuk mempersulit skripsiku.

Benar saja, hari ini pun sama. Aku melirik Pak Jefri yang hanya membalik-balik kertas itu tanpa membacanya. Wajahku cemberut, dalam batinku bergumam, 'Sialan nih dosen! Dia bahkan nggak ngehargai kerja kerasku.'

Secepat kilat, ia mencoret beberapa halaman. Aku spontan mendongak, mataku membelalak lebar diikuti dengan mulutku yang menganga .

"Pak... jangan dong, Pak. Saya sudah susah payah merevisi ini. Masak dicoret lagi sih, Pak..." Aku berseru, berusaha merebut dokumen tugas akhir itu.

Namun, ia menjauhkan tangannya dengan cepat—membuatku tak bisa menjangkaunya.

"Skripsi apa yang kamu buat ini?!" Nadanya bukan lagi sekadar marah, melainkan sebuah ledakan. Suaranya menggelegar di ruang kantor yang sunyi, membuatku berjengit.

"Semuanya salah!" Ia terus mencoret tiap halaman di udara, seolah ingin merobeknya.

Aku merasa kesal dan terus melompat-lompat, berusaha menggapai skripsi itu. Namun, tanpa sengaja kakiku tertekuk, hingga tubuhku limbung dan terjatuh dalam dekapannya.

Mata kami bertemu, dan mematung selama beberapa detik. Mendadak getaran aneh muncul di dadaku. Tubuhku terasa menghangat, seolah ada api yang menyala.

Tak berselang... pak Jefri melumat bibirku tanpa aba-aba, dan tanpa sadar aku pun membalasnya.

Tanpa sedikitpun rasa sungkan, aku menjulurkan lidahku, mengundang Pak Jefri untuk menelusuri lebih dalam.

Semakin lama, ciumannya semakin ganas. Ia mulai menelusuri leherku, meninggalkan jejak kemerahan di sana.

"Aahh..." desahan samar lolos dari bibirku.

Selama ini, tak ada pria yang menyentuhku. Namun hari ini, seorang dosen killer yang kubenci justru memulai semuanya. Ia meruntuhkan segala pertahananku yang selama ini anti sentuhan fisik.

Tangan Pak Jefri semakin berani. Ia tak puas hanya dengan bagian atas, dan mulai menjelajahi bagian dadaku. Perlahan... ia menarik tali tanktop-ku sambil terus mencumbu dengan penuh hasrat.

Pucuk balon-ku yang sudah tegang mencuat ke permukaan, saat ia melorotkan tanktop beserta bra yang menempel.

Dengan penuh gairah, ia mengisap ujung berwarna merah muda itu, lalu menari liar menggunakan ujung lidahnya.

"Mmhhh... Pak..."

Mulutku tak bisa diam, apa lagi saat jemari panjangnya mulai menjelajahi lahan bunga matahariku yang basah.

Aku bisa mendengar embusan napas Pak Jefri yang memburu. Tak kusangka, dosen yang kuanggap buas dalam merevisi skripsi ternyata lebih buas dari bayanganku.

Ia mengangkat tubuhku yang kecil, lalu mendudukkanku di atas meja kerjanya. Rok mini yang kupakai memudahkannya menjangkau area paling sensitifku.

Perlahan... pak Jefri menurunkan celana dalamku, lalu membuka lebar pintu goa yang menutupinya. Dengan cepat ia menarik tuas kursi putar yang didudukinya —hingga merendah, membuat lidahnya dengan mudah menjangkau lipatan terdalamku.

"Aahhh... Pak..."

Aku mendesah kenikmatan sambil meremas rambut Pak Jefri. Bokongku terus bergerak, mencari sensasi terdalam dalam permainan lidahnya.

Hingga tanpa terasa, genggaman tanganku pada rambutnya tergelincir. Tubuhku tiba-tiba melayang, bukan karena kenikmatan—melainkan jatuh dari ketinggian.

Bruak!

Aku tersentak karena tubuhku tiba-tiba terguling dari kasur, lalu mendarat di lantai yang dingin. Napasku terengah, mataku menyapu ke segala arah sambil bergumam, "Di mana ini?"

Keningku berkerut saat melihat kertas skripsi berserakan di mana-mana. Laptopku masih menyala, dan buku-buku tercecer di segala tempat. Melihat kekacauan yang terjadi aku baru sadar—ini apartemen kontrakanku, bukan kantor Pak Jefri.

"Sialan! Ternyata aku hanya mimpi."

Beberapa jam lalu, aku sibuk menyelesaikan revisi sambil mengumpat. Saking kesalnya dengan Pak Jefri, aku sampai ketiduran dan bermimpi aneh di siang bolong.

Aku meraba selangkanganku yang terasa basah. Dan... Benar saja. Cairan bening seperti lem masih terperangkap dalam celana dalamku.

"Begok! Bisa-bisanya aku mimpi basah sama dosen killer itu," rutukku pada diri sendiri.

Cling!

Suara notifikasi ponsel yang tergeletak di kasur tedengar. Aku mengabaikannya dan masih bersandar lemas di sisi ranjang.

Dadaku terasa sesak karena mimpi barusan. Selain jijik, aku merasa kesal dan tak terima. Aku yang selama ini tak pernah tersentuh pria, justru disentuh pertama kali oleh orang yang aku benci—meski itu hanya dalam mimpi.

Tak pernah sedikitpun aku membayangkan disentuh olehnya, bahkan melihat wajahnya saja membuatku naik darah. Heran saja, kok bisa ia menjadi dosen idaman para mahasiswi. Padahal wajahnya sangat kaku dan minim emosi. Sikapnya dingin mengalahkan kutub Utara.

Meskipun, ya... Dia memang ganteng, sih.

Ddrrzzztttt!

Suara dering ponselku disertai dengan getaran memecah keheningan.

"Siapa sih?"

Dengan gerakan lemas, tanganku meraba-raba kasur, berusaha meraih ponsel itu dari lantai.

"Pak Jefri?!"

Mataku seketika membelalak melihat namanya terpampang jelas di layar. Aku segera menekan tombol hijau, lalu bergegas menjawab.

"Halo, Pak..."

Mendadak aku berubah total. Berbicara dengan selembut mungkin, seolah tak pernah ada rasa kesal sedikitpun.

"Kalau kamu tidak mau menyelesaikan skripsi bilang saja! Saya tidak mau capek-capek menunggu kamu di kampus!" Suara Pak Jefri terdengar seperti sedang menahan amarah.

"A-apa? Bapak nunggu saya?!" Mataku melotot karena kaget. Tubuhku membeku, seolah paru-paruku berhenti bernapas.

"Kamu tidak baca pesan? Saya sudah mengirim pesan beberapa kali, Erika!"

Seketika, jantungku seperti mau melompat dari tempatnya. Jemariku bergerak cepat, buru-buru mengecek layar ponsel.

Dan... Benar saja. Pak Jefri mengirimku pesan sejak pukul dua belas siang, memintaku datang untuk bimbingan skripsi pukul tiga sore.

Dan sekarang?

Aku melirik jam weker di rak belajar. Jarum jam sudah menunjukkan pukul setengah empat. Tanpa pikir panjang, aku segera bangkit, menempelkan kembali ponsel itu di telinga sambil melangkah kebingungan.

"Iya, Pak. Saya akan segera datang!" jawabku dengan suara serak, lalu mematikan ponsel.

Aku panik, berlari ke sana kemari mencari celana panjang dan kemeja.

"Ke mana, sih? Padahal tadi kan di sini."

Seolah menghilang ditelan bumi. Khas sekali, barang yang paling dibutuhkan selalu lenyap saat genting. Padahal aku yakin betul celana itu tadi pagi tergeletak di kasur.

Kontrakan apartemenku ini tidak besar. Hanya ada satu kasur, rak yang jadi satu sama meja belajar, satu sofa panjang dan lemari berkabinet. Harusnya celana itu tidak lari kemana-mana.

Aku berlari ke segala tempat, membuka semua kabinet lemari. Kosong. Tak ada celana yang tersisa. Aku terduduk lemas di lantai. Berteriak sambil menjambak rambutku sendiri.

"Aarrrgghh.... Kenapa bajuku kotor semua?!"

もっと見る
次へ
ダウンロード

最新チャプター

続きを読む

読者の皆様へ

Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.

レビュー

hafizah aman
hafizah aman
Wonderful story Please update! .... I can't wait to see what next happens at the event.
2025-02-11 18:17:14
0
0
22 チャプター
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status