LOGINLift berdenting halus, pintu baja bergeser menyuguhkan sebuah ruangan penthouse mewah. Dinding kaca raksasa membentang di tiga sisi, memperlihatkan kerlap-kerlip lampu Jakarta dari ketinggian, membuat kota itu tampak seperti lautan bintang. Suasana di dalam ruangan kontras sekali dengan apa yang baru saja mereka alami di jalan tol tadi.
Atlas melepas jasnya yang berbau samar gunpowder dan sedikit asap cerutu, lalu menggantungnya di rak. Gerakannya teratur dan tenang. "Duduklah," perintahnya tanpa menoleh, suaranya sedikit serak. Ia berjalan menuju bar mini yang terisi penuh dengan botol-botol kristal berkilauan. "Kamu mau minum apa?" Alana berusaha membuat nyaman dirinya dengan berkeliling ruangan. "Apa saja." Dia tampak tak peduli dengan tawaran minum tersebut. Atlas menuangkan whiskey amber ke dalam dua gelas kristal yang berat, gerakan tangannya luwes dan efisien. "Kamu berhasil mengecoh mereka. Mereka pasti sedang mencarimu di tempat-tempat gelap dan kumuh." Dia menyodorkan satu gelas pada Alana. "Minumlah. Kau butuh sesuatu untuk menenangkan diri." Alana menatap gelas itu, lalu mengambilnya dari tangan Atlas, tatapannya beralih dari kristal bening ke wajah Atlas yang kini kembali gelap dan sulit dibaca. "Aku tidak biasanya minum dengan orang asing." Dia membiarkan gelas melayang di tangannya. Atlas tak mempedulikan sikap defensif Alana, dia duduk dengan satu kaki di topang, tangan kiri melebar dan tangan kanan menggenggam gelas whisky. "Aku baru saja menyelamatkan nyawamu dari dua mobil pembunuh bayaran yang menembakimu, Nona Nareswari," kata Atlas, senyum tipis terukir di bibirnya. "Kurasa status 'orang asing' itu sudah tidak berlaku lagi. Kita adalah rekan dalam pelarian sekarang." Atlas menenggak minumannya sekali teguk. Lalu matanya kembali menatap lekat Alana. "Kita perlu bicara soal 'Buku Besar' itu. Dan apa artinya bagi kita berdua." Alana masih berdiri, enggan duduk di sofa mewah yang mungkin bisa 'meledak'. Dia meletakkan gelas itu di meja dengan keras, membuat suara dentingan yang bergema di ruangan luas itu. "Kau seperti tahu segalanya. Bagaimana kau bisa tahu soal Buku Besar ayahku? Buku tersebut adalah rahasia tingkat tinggi, hanya segelintir orang yang tahu keberadaannya." Atlas tertawa kecil. Suara tertawanya terdengar kering dan sinis, seperti mengejek Alana. Lalu dia melangkah perlahan mendekati Alana yang masih berdiri, memojokkannya perlahan ke arah dinding kaca yang dingin, membatasi ruang geraknya. Bukan gesture yang intim, melainkan sebuah intimidasi. Dia berdiri begitu dekat sehingga Alana bisa merasakan panas tubuhnya dan mencium aroma lembut cologne yang maskulin. "Di dunia kami, Alana," bisiknya, tangannya terangkat dan menumpu di dinding kaca, tepat di samping kepala Alana, mengurungnya dalam ruang yang semakin sempit, "tidak ada rahasia. Hanya informasi yang belum terjual. Ayahmu, Tuan Danu, adalah pencuci uang legendaris untuk Konsorsium Varma. Dia mengelola aliran dana haram mereka selama bertahun-tahun. Dan dia sudah mencuri daftar dosa mereka untuk jaminan hidupnya." Jantung Alana berdegup kencang. Bukan karena rasa takut yang mencekik, tapi karena kedekatan fisik pria ini. Aura dominan dan maskulinnya begitu kuat. "Ayahku orang baik..." bisiknya, mencoba mempertahankan kepercayaan terakhirnya. "Ayahmu adalah pemain di kolam hiu yang paling berbahaya, Alana," potong Atlas dingin, matanya menatap Alana dalam-dalam. "Dan sekarang hiu-hiu itu lapar. Varma tidak akan berhenti sampai mereka mendapatkan buku itu kembali, atau sampai seluruh keturunan Danu mati." Ia sedikit menundukkan kepalanya, wajahnya kini hanya berjarak beberapa inci dari wajah Alana. "Dan kalau kau pikir aku adalah salah satu dari mereka, kau salah besar." "Kenapa aku harus percaya padamu? Kau sendiri?" tantang Alana, mendongak menatap mata kelam Atlas, mencoba membaca siasatnya di balik tatapan intimidatifnya. "Kau hiu jenis apa?" Atlas menyeringai, senyum yang mengancam. "Aku bukan hiu. Aku adalah nelayan yang ingin membakar seluruh lautan itu. Aku di sini bukan untuk memakan ikan, tapi untuk memusnahkan para pengebom kapal dan pencemar." Dia tiba-tiba bergerak menjauh, membiarkan Alana kembali bernapas lega, merasakan dinginnya dinding kaca di punggungnya. "Malam ini kita aman di sini," kata Atlas, kembali ke mode bisnis yang dingin. "Tapi besok, kita harus mengambil paket yang ditinggalkan ayahmu. Sesuatu yang lebih penting dari sekadar buku catatan." "Kita tidak bisa ke Menteng. Kau sendiri yang bilang rumah itu dikepung," sahut Alana, kembali memikirkan instruksi ayahnya. "Memang. Tapi ayahmu cerdik. Dia tidak mungkin menaruh barang sepenting itu di rumah utama yang paling mudah diawasi. Dia akan menyembunyikannya di tempat yang paling tidak terduga." Atlas mengeluarkan tablet tipis dari laci meja, jari-jarinya menari cepat di atas layar sentuh, mengakses aplikasi yang tampaknya sangat rahasia dan rumit. "Aku sudah meretas CCTV lalu lintas di sekitar Menteng. Polisi—yang sebenarnya adalah anjing peliharaan Varma, seperti yang kau lihat di sini—sudah menyisir area itu dengan sangat teliti." Mata Alana membelalak melihat pemandangan tangkapan kamera CCTV di sekitar rumahnya. Lalu dia merenung."Ruko tekstil..." gumamnya, sebuah teori melintas di benaknya. Atlas berhenti mengetik, menatap Alana dengan alis terangkat. "Apa?" "Aku teringat saat dulu... saat aku masih kecil. Ada sebuah ruko yang terkadang kami kunjungi. Itu sudah seperti rumah kedua kami." Atlas tersenyum, kali ini senyum yang tulus dan berbahaya, menunjukkan seringai yang membuat Alana merasa sedikit geli sekaligus takut. "Bingo. Tempat yang sempurna untuk menyembunyikan bangkai. Atau barang berharga." "Tapi kuncinya..." Alana berusaha mengingat-ingat. "Kuncinya ada di..." "Di pot tanaman depan ruko?" tebak Atlas, seolah ia mengetahui segalanya. "Bagaimana kau—" "Itu trik lama spymaster era 80-an. Ayahmu sangat old school," ejek Atlas. Dia masuk ke lemari dindingnya yang besar, lalu menutupnya kembali sambil melempar sebuah kemeja putih bersih ke arah Alana. Kemeja itu terasa lembut di tangan Alana. "Mandilah. Kau bau keringat. Kau tidur di kamar sebelah kiri. Kunci pintunya kalau itu membuatmu merasa aman, meskipun aku punya kunci cadangan untuk setiap pintu di sini." Alana menangkap kemeja itu, lalu menatap Atlas sejenak. "Dan kau?" "Aku akan tidur di sofa. Sambil mengawasi ruangan ini dan CCTV gedung. Aku harus memastikan tidak ada tamu tak diundang yang datang." Atlas duduk kembali di kursi, memunggungi Alana, wajahnya kini kembali tertutup oleh bayangan. "Jangan bermimpi indah, Alana. Besok kita akan masuk ke neraka." Alana menatap punggung lebar pria itu sejenak. Ada rasa aman menyusupi dirinya, meskipun kenyataannya Atlas begitu kasar dan dingin. "Terima kasih, Atlas," ucapnya pelan, tulus. "Simpan rasa terima kasihmu," jawab Atlas tanpa menoleh. "Kau akan membayarku dengan isi Buku Besar itu. Dan mungkin sedikit lebih banyak."Suara wanita di telepon itu seperti embusan angin dari kubur—dingin, berwibawa, dan memiliki aksen aristokrat yang ganjil. Alana membeku di tengah ruko Petojo yang remang-remang. Di hadapannya, monitor besar menunjukkan hitungan mundur yang kini menyisakan delapan menit tiga puluh detik."Siapa kau?" bisik Alana. Tangannya yang bersimbah keringat mencengkeram ponsel itu hingga buku jarinya memutih."Aku adalah alasan kenapa ayahmu membangun labirin ini, Alana," suara itu menjawab datar. "Aku adalah subjek dari potret yang kau kupas di usia delapan tahun. Berhenti menatap layar. Layar adalah distraksi. Layar adalah estetika palsu yang ingin membelokkan tujuanmu."Alana berpaling dari monitor. Dia memaksakan otaknya untuk kembali ke mode kurator. Dia harus melihat lapisan di balik situasi ini. "Kau bilang ada lapisan kesembilan. Ayah hanya mengajariku sampai delapan. 3-5-8.""Karena angka delapan adalah penyelesaian bagi orang luar, tapi bagi seorang Kurator, delapan adalah awal dari de
Malam di pinggiran Jakarta tidak pernah benar-benar gelap, kecuali di kawasan industri tua yang terlupakan oleh pembangunan. Alana mencengkeram kemudi sebuah sedan tua yang dia curi dari area konstruksi, mobil yang tidak mencolok untuk menjadi hantu. Di sampingnya, tas pemberian ayahnya terasa seperti bom waktu yang siap meledak.Pesan di ponsel itu terus berkedip di kepalanya. Lima jam.Dia sedang menuju ruko di Petojo, namun spion tengahnya menangkap dua pasang lampu xenon yang bergerak dengan kecepatan tidak wajar di belakangnya. Mereka menemukannya. Musuh ayahnya tidak menggunakan pelacak GPS konvensional; mereka menggunakan jaringan pengawas kota yang sudah mereka retas."Pelajaran keenam, Alana," suara ayahnya bergema dalam ingatan, sejelas bisikan di telinganya. "Jika mereka bisa melihatmu, mereka bisa membunuhmu. Seni menghilang bukan tentang menjadi transparan, tapi tentang menyatu dengan kegelapan hingga kau menjadi kegelapan itu sendiri."Alana membelokkan mobil ke arah jal
Telinga Alana berdenging. Suara Mercedes yang menghantam pintu depan paviliun terdengar seperti ledakan artileri di ruang tertutup. Bubuk putih dari sistem pemadam api menari-nari di udara, menciptakan selimut kabut yang menyesakkan. Pria di atasnya tersentak, perhatiannya teralih selama satu detik oleh hanturan logam di depan sana—dan Alana hanya memerlukan satu detik.Alana menghantamkan tumit sepatunya ke tulang kering pria itu, lalu menyikut ulu hatinya dengan kekuatan penuh. Cengkeraman di pergelangan kakinya mengendur. Alana merangkak dengan kalap, jemarinya menyambar lembaran kertas transparan yang tergeletak di lantai marmer yang licin, lalu dia menghilang ke dalam kegelapan di balik rak buku antik."Alana! Masuk!"Itu suara ayahnya. Tuan Danu tidak keluar dari mobil. Mercedes perak itu menderu di ambang pintu yang hancur, lampu depannya yang retak menembus kabut kimia seperti mata monster yang marah.Alana melompat ke kursi penumpang tepat saat pria bersenjata itu melepaskan
Bau lem kanvas yang menyengat dan aroma kayu mahoni baru memenuhi galeri pribadi yang baru saja selesai dibangun di paviliun belakang rumah mereka. Alana, yang kini menginjak usia empat belas tahun, berdiri di tengah ruangan yang diterangi lampu sorot presisi. Ini adalah "Galeri Alana"—setidaknya itu yang tertulis di plakat perunggu di depan pintu. Namun, bagi Alana, tempat ini terasa lebih seperti ruang interogasi estetika daripada ruang pameran.Tuan Danu berdiri di depan sebuah lukisan lanskap klasik karya pelukis lokal yang namanya tidak pernah terdengar di balai lelang besar. Lukisan itu membosankan; hanya pemandangan sawah dan gunung dengan teknik pewarnaan yang medioker."Kenapa kita memajang ini, Pa?" Alana bertanya, tangannya menyilang di dada. "Ini tidak memiliki nilai kurasi. Teknik sapuannya kasar, perspektifnya meleset di bagian cakrawala. Ini sampah yang dibingkai mahal."Danu menoleh, memberikan senyuman tipis yang kini sering Alana artikan sebagai tanda bahwa dia baru
Dunia Alana tidak pernah tentang taman bermain. Sementara anak-anak seusianya asyik bermain sepeda roda tiga dengan rumbai-rumbai di stangnya, Alana menghabiskan waktunya di sebuah sirkuit pribadi di pinggiran Bogor, tersembunyi di balik barisan pohon mahoni raksasa. Udara di sana tidak berbau bunga; tetapi campuran memabukkan dari bensin oktan tinggi, ban yang terbakar, dan oli mesin yang panas.Di depannya saat itu terparkir sebuah Mercedes-Benz W124 E-Class berwarna perak metalik. Di tangan yang tepat, mobil itu akan menjadi tank yang mematikan."Masuk, Alana," perintah Tuan Danu. Alana, yang kini berusia dua belas tahun, memanjat ke kursi pengemudi. Kakinya nyaris tidak sampai ke pedal, tetapi ganjalan khusus yang dipasang mekanik ayahnya membuat semuanya terasa pas. Setahun lagi Alana akan menjadi lebih tinggi sehingga pas dengan interior kendaraan."Ayah, aku belum bisa melihat melewati dasbor dengan jelas," protes Alana, tangannya mencengkeram kemudi kulit yang dingin."Seoran
"Kenapa aku tidak punya seragam seperti anak-anak di TV, Pa?"Alana, sepuluh tahun, berdiri di depan cermin besar di lorong rumah aman mereka yang baru di pinggiran Jakarta. Dia mengenakan blazer wol abu-abu yang dijahit khusus oleh penjahit pribadi ayahnya, potongan yang terlalu kaku dan dewasa untuk anak seusianya. Di tangannya bukan tas punggung berwarna cerah bergambar kartun, melainkan sebuah koper kulit kecil berisi jurnal sketsa, satu set pensil grafit, dan sebuah kamera Leica tua yang berat.Tuan Danu muncul di belakangnya, bayangannya menjulang tinggi di cermin. Dia merapikan kerah Alana dengan gerakan mekanis yang tidak menyisakan ruang untuk kehangatan. "Kau sedang menempuh kurikulum diplomat khusus, Alana. Sekolah umum hanya mengajarkan cara menjadi bagian dari kerumunan—menjadi rata-rata. Ayah mengajarimu cara menguasai kerumunan itu tanpa pernah menjadi bagian darinya.”Sekolah Alana bukanlah gedung dengan papan tulis, bel istirahat, dan bau kapur. "Kelasnya" adalah enti
Koper perak itu meluncur di atas lantai marmer yang dingin, berhenti tepat di ujung sepatu bot wanita yang sangat mirip dengan Alana. Pendar biru dari kristal di dalamnya memantul pada mata elektrik sosok yang mengklaim diri sebagai evolusi itu. Di sudut lobi yang hancur, dua agen elit New Order
Air laut Hong Kong yang membeku menghantam paru-paru Alana seperti ribuan jarum es. Gelap. Garam menyengat matanya yang terbelalak. Di tengah kekacauan arus bawah laut dan sisa-sisa puing pesawat yang tenggelam, sebuah tangan kokoh menyambar kerah jaketnya. Atlas. Pria itu menariknya ke permukaan
Pesawat kargo itu bergetar hebat saat menembus gumpalan awan badai. Suara deru mesin turbin yang memekakkan telinga seolah berusaha merobek kesunyian mematikan di dalam kabin yang dingin. Cahaya lampu darurat yang remang-remang memantul di permukaan lantai logam yang licin. Di tengah ruangan, seb
Deru mesin perahu yang membelah ombak Selat Malaka tiba-tiba tenggelam oleh suara mendesing yang tajam dari langit. Atlas bereaksi lebih cepat daripada pikiran Alana. Ia menyentak kemudi, membelokkan perahu ke arah dermaga tua yang dipenuhi bangkai kapal tanker tepat saat sebuah rudal udara-ke-pe