เข้าสู่ระบบAlana berlama-lama di bawah shower sambil terus berfikir. Tetesan air hangat terasa lembut memijati punggungnya.
Dipenuhi oleh tanda tanya, Alana tak mau menunggu hingga keesokan harinya. Setelah mandi, mereka langsung menuju rumah kedua orang tua Alana yang juga sudah tak ditempati. Motor Ducati hitam—kendaraan andalan Atlas, yang lebih fleksibel dan tangguh daripada mobil—meluncur cepat melintasi Jakarta lalu berhenti tanpa suara di seberang bangunan tua yang gelap gulita. Papan nama lapuk bertuliskan "Toko Tekstil Sejahtera" nyaris tak terbaca di bawah sinar bulan yang suram. Bangunan itu tampak seperti hantu dari masa lalu yang terlupakan. "Tetap menunduk," perintah Atlas, matanya memindai jalanan sepi Petojo bagaikan seorang predator. "Area ini terlalu sunyi. Terlalu tenang. Itu bukan pertanda baik." "Ini kawasan mati, Atlas. Memang selalu sunyi di sini pada jam seperti ini," bisik Alana, tangannya melepas mencengkeram erat di pinggang Atlas, merasakan degub jantungnya kembali menguat. "Tidak ada yang namanya sunyi, Alana. Yang ada hanyalah penyergapan yang sabar. Menunggu mangsa lengah," jawab Atlas, suaranya tenang tapi penuh peringatan. Ia menarik pistol dari sarung bahunya, memeriksa peluru dengan bunyi klik yang renyah dan mematikan. "Ayo. Cepat cari kuncinya." Mereka meninggalkan motor di depan ruko, bergerak cepat dan sigap. Atlas bergerak seperti bayangan, tubuh besarnya yang tegap melindungi Alana dari pandangan siapa pun yang mungkin mengintai dari sisi tersembunyi. Alana berjongkok di depan pintu ruko yang kusam dan rapuh, meraba bagian bawah pot tanaman keramik yang pecah. Tempat tersebut berdebu tebal, dedaunan kering berserakan. Jemarinya yang dingin menemukan celah. "Ketemu?" desak Atlas, berbisik. "Sabar," bisiknya balik. "Semennya keras... di sini... Ah, dapat!" Alana menarik kunci berkarat dari antara celah semen. "Ayahmu benar-benar klasik. Cepat buka pintunya. Aku tidak suka berdiri di area terbuka seperti ini." Suara berderit engsel pintu yang tak diminyaki terdengar sangat berisik di keheningan malam. Atlas langsung mendorong Alana masuk, menodongkan senjatanya dalam kegelapan ruko. Bau apek, lembap, dan debu langsung menusuk hidung begitu mereka memasuki ruangan. Kain-kain tua terlihat lapuk dan menjamur. "Nyalakan senter di ponselmu, tapi arahkan ke bawah," perintah Atlas, suaranya meredam saat dia menyapu pandangannya ke sudut-sudut ruangan yang gelap. Cahaya remang dari ponsel Alana menyinari tumpukan gulungan kain tua yang tampak seperti tubuh berselimut kain. Deretan manekin berwajah dingin berdiri kaku di sudut-sudut ruangan. "Tempat ini mengerikan," gumam Alana. "Fokus, Alana. Di mana ruangannya?" "Aku akan naik ke lantai dua." Mereka menaiki tangga kayu yang berderit ketika diinjak. Rasanya bangunan itu bisa runtuh kapan saja. Di lantai dua, mereka menemukan sebuah ruangan dengan pintu kayu kokoh menyambut mereka. Pintu itu tidak terkunci! Ruangan itu bersih dan tertata rapi. Bertolak belakang dengan lantai bawah. Ada tempat tidur lipat yang terpasang di dinding, tumpukan makanan kaleng yang tersusun rapi, dan sebuah meja kerja logam yang kokoh. "Rumah aman," komentar Atlas, matanya menyapu ruangan dengan sangat teliti. "Ayahmu sudah bersiap untuk kiamat sejak lama. Dia tidak meninggalkan apa pun secara kebetulan." Dia menoleh sekilas pada Alana sambil terus bersikap waspada. "Cari tempat penyimpanannya. Orang seperti ayahmu tidak akan menaruh benda berharga di atas meja atau di tempat yang mudah terlihat." Alana berdiri di tengah ruangan, mencoba mengingat. "Apa yang harus aku lakukan. Dia sama sekali tidak memberiku petunjuk." "Apakah ayahmu suka memberikan teka-teki?" Alana tepekur sejenak. Tiba-tiba, dia menyenandungkan lagu tidur. Atlas menurunkan senjatanya, menatap Alana dengan alis terangkat, ekspresinya campur aduk antara bingung dan kesal. "Lagu tidur? Kau bercanda, kan?" "Tidak! Dia bilang begitu waktu terakhir menelepon. 'Ingat lagu tidurmu, Alana. Tiga bintang... lima perahu... delapan burung...'" Alana memejamkan mata, berusaha keras mengingat lirik yang samar. "Itu bukan lagu, itu kode kombinasi," potong Atlas cepat, otaknya berputar sangat cepat. "3-5-8. Cari brankasnya. Biasanya di dinding di balik lukisan, atau..." Atlas menghentakkan kakinya ke lantai, mendengarkan pantulan suara. Dug. Dug. Suara lantai terdengar kopong di satu titik. "Di bawah ubin," kata Atlas. Ia berlutut di lantai, mengeluarkan pisau lipat taktis dari pinggangnya, lalu dengan cepat mencongkel ubin yang suaranya berbeda dari yang lain. "Hei! Hati-hati!" protes Alana, khawatir merusak tempat itu lebih dari yang diperlukan. "Kita tidak punya waktu untuk seni restorasi, Nona Kurator. Varma tidak akan menunggu sampai kau selesai mendekorasi ulang." Ubin terangkat. Sebuah brankas lantai kecil terlihat, tertanam di bawahnya. "Tiga kanan. Lima kiri. Delapan kanan," pandu Alana, suaranya bergetar penuh harap. Atlas memutar dial dengan pelan dan fokus. Presisi. Klik! Brankas pun terbuka. Di dalamnya terlihat sebuah revolver kecil yang terbungkus kain beludru, dan sebuah buku catatan tua bersampul kulit merah usang. "Buku Besar," bisik Alana. Tangannya hendak meraih buku itu, tapi Atlas menahannya. "Tunggu." Atlas mengambil revolver itu lebih dulu, mengendusnya dengan hati-hati. "Minyaknya baru. Ayahmu baru saja di sini." Alana meraih buku merah itu. Membukanya. Halaman demi halaman penuh dengan angka triliunan rupiah, aliran dana haram yang tak terbayangkan, dan inisial nama-nama orang paling berkuasa di negeri ini—politisi, pengusaha, bahkan pejabat tinggi. "Ini dia," kata Alana, menatap Atlas dengan mata berkaca-kaca. "Ini alasan mereka ingin membunuhku. Ini alasan mereka mengejar kita." Atlas tidak melihat buku itu. Matanya tertuju pada layar laptop rugged yang tergeletak di meja kerja. Benda itu tiba-tiba menyala sendiri, menampilkan pesan hitam di layar putih. Lampu indikator webcam berubah hijau. "Sial," desis Atlas, seketika berubah waspada. Dia menyambar lengan Alana kasar, menariknya berdiri. "Selamatkan bukunya! Kita harus pergi. Sekarang! Mereka sudah tahu kita di sini." "Kenapa? Apa yang—" Atlas menunjuk ke arah laptop dengan pistolnya. "Mereka tahu kita di sini!" Atlas menarik Alana mundur menuju pintu, wajahnya tegang. Tiba-tiba dari lantai bawah, terdengar suara pintu depan didobrak keras. BRAK! Diikuti oleh deru langkah kaki sepatu bot berat yang bergemuruh menaiki tangga. Banyak langkah kaki. "Kita terkepung," bisik Alana, pandangannya nanar. Atlas menatap Alana, lalu menyeringai liar. "Bagus," kata Atlas, menyimpan senjatanya kembali di balik jasnya. "Aku sudah mulai bosan dengan suasana sunyi ini. Pegang buku itu erat-erat, Alana. Jangan lepaskan apa pun yang terjadi. Ini satu-satunya senjatamu." "Kita mau ke mana? Tangganya penuh polisi!" teriak Alana. Atlas menendang jendela kaca di belakang mereka dengan kuat. Kaca pecah berantakan, berhamburan ke luar. Angin malam yang dingin menyeruak masuk, membawa aroma jalanan yang basah oleh gerimis. "Kita tidak lewat tangga," kata Atlas, menarik pinggang Alana merapat pada tubuhnya hingga mereka berdua menempel rapat, posturnya melindungi Alana dari pecahan kaca. "Kita terbang."“Sesuai aturanku,” kata Alana, tangannya melingkar kuat di belakang leher Atlas, memastikan suaminya tunduk, saat Matriark Varma tanpa diduga mengaktifkan darurat ‘Fire-Exit’ di gedung mereka, memaksa Alana menyadari Matriark sedang memposisikan dirinya di atas reruntuhan yang baru mereka ciptakan.Alana tersentak. Alarm Fire-Exit itu bukan ancaman ledakan; itu kode darurat keamanan tertinggi, yang menandakan bahwa ruang itu harus dibersihkan, didukung oleh Matriark. Itu perintah politik, bukan militer. Mereka disuruh bergerak. Lagi-lagi. Seolah Alana dan Atlas hanyalah bidak catur yang diizinkan untuk membersihkan Dewan, tetapi tidak diizinkan untuk berdiam di singgasananya terlalu lama.“Kita diusir dari zona abu kita, Nareswari.” Atlas memiringkan kepala, meskipun matanya dipenuhi gairah setelah ciuman penguasaan itu, naluri pengawalnya sudah bereaksi. “Kita berhasil mengamankan Seroja dan melumpuhkan Ayah, tapi kita tidak diperbolehkan tinggal. Itu kehendak Matriark. Matriark sela
Alana mengawasi asap yang mengepul perlahan dari sudut balkon yang retak di Safe House Menteng. Satu minggu. Tujuh hari sejak ia berdiri berlumuran darah di Perpustakaan Arsip Agra Varma, berdarah dari tikaman pisau dan kepanikan Atlas mengetahui Seroja diculik. Api telah dipadamkan, bau mesiu telah menghilang, dan tukang bersih profesional sudah membersihkan sisa-sisa peluru Varma lama.Ruangan itu sekarang dihiasi karpet beludru abu-abu, meredam suara, membuat keadaan menjadi sepi dan waspada. Seminggu telah berlalu sejak perang Varma antara saudara. Julian diserahkan, identitasnya dienkripsi dan diamankan dalam kekuasaan Matriark Varma. Varma yang tidak kompeten dan mentalnya pun hancur. Agra? Hilang. Ia melarikan diri dari Jakarta, menjadi hantu tanpa dana, dikejar Matriark dan Jaringan Mafia Internasional. Mereka terkejut karena Pembongkaran BAP yang dilalukan oleh Alana. Tim Collective yang menculik Seroja kini memiliki kekuatan negosiasi, tetapi belum menang. Sedangkan Alana be
Dan kemudian... suara listrik padam sepenuhnya, lift darurat Agra meluncur ke bawah, terputus dari rantai. Lima tembakan datang, tetapi tidak ditujukan ke Alana, melainkan ke arah punggung Agra Varma yang berada di depan mereka. DUAR! DUAR! Suara pistol yang bukan pistol Varma. Serangan kejutan itu merobek jubah hitam pengawalnya, mengejutkan Matriark’s Watchdog. Matriark sedang bermain.Kegelapan kembali menyelimuti mereka. Bau mesiu dari senapan Alana dan kawat tembaga dari Vault Card Julian telah memenuhi atmosfer pengap. Alana memanfaatkan kegelapan ini. Ia menjerit, bukan karena terkejut, melainkan perintah tempur.“Agra akan terluka karena Watchdog Matriark ada di sini!” seru Alana. Ia melompat di atas tubuh Atlas yang jatuh, pistol kecilnya (kini kehabisan amunisi) membentur kepala salah satu Pengawal Agra yang terdekat, ia hanya mengandalkan senjata Atlas yang kini tergeletak di lantai marmer dingin. “Fokus ke data! Lindungi terminal!”“Terlambat! Peluru Matriark itu hanya mem
Alana meraih earpiece Atlas, menanggalkan kabelnya dari tubuh Atlas dan membuangnya ke jok belakang.“Kamu tidak membutuhkan ancaman saat berburu, Pemilikku,” ujar Alana. Ia melilitkan kawat tipis dari saku tas malamnya yang kotor ke jari-jari. “Cukup berikan aku Ayahmu.”Atlas mengemudi tanpa earpiece, suara ancaman Collective Timur yang menargetkan 'hati suaminya' telah dilepaskan Alana dari pikiran mereka, digantikan oleh obsesi baru yang beracun. Dia melesat di jalan tol pinggiran Menteng, fokusnya hanya pada satu koordinat yang Alana tunjuk di GPS: Perpustakaan Arsip Agra di lantai enam Gedung Sentral Varma. Tempat perlindungan Ayahnya yang rahasia, kini terlihat.“Aku sudah menyalurkan data Pembongkaran BAP itu melalui Matriark Varma, sehingga Matriark berpikir Ayahku sengaja melakukannya untuknya, Alana. Strategi kamu kejam. Tapi jika Collective menyerang Matriark untuk menekan kita, seluruh rantai Nomar Varma akan hancur,” Atlas berujar, melajukan mobil anti-balistik itu sampa
Layar Buku Besar berkedip merah. Kode BAP (Batal Akses Pusat) menyala, mengeksekusi perintah yang selama ini terkunci rapat."Tekan, Alana! Hancurkan semuanya!" Atlas berteriak di tengah desingan peluru.Alana menekan tombol eksekusi. Brak! Lampu LED utama di perapian Tulus meledak, menghujani ruangan dengan pecahan kristal dan kegelapan total. Suara tempur Kolektif menggema, beradu dengan teriakan Atlas."Ke depan, Alana! Pintu keluar utara! Tulus mati!" Atlas menarik lengan Alana kasar, menyeretnya melewati mayat Tulus yang terkapar di beton berminyak. Bau amis ikan asin dan tembaga panas menyerbu indra."Ambil ini!" Alana menyambar pistol Atlas di tanah, mengisi ulang amunisi dengan gerakan mekanis yang didorong adrenalin. "Kita ke belakang gudang pendingin! Cepat!""Jangan buang peluru! Fokus ke exfil!"Mereka meluncur melewati barisan rak jurnal lama, menembus pintu layanan sempit tepat saat gerombolan Kolektif menjebol gerbang depan. Di luar, sebuah mobil lapis baja Nomad menung
“Alana,” suara Atlas parau, tangannya masih menggenggam kemudi yang bergetar, “kalau kau masih punya keraguan, katakan sekarang. Jangan setelah aku banting setir ini.” “Aku tidak ragu,” jawab Alana pelan, matanya menatap jalan gelap di depan. “Aku hanya sedang menghitung berapa banyak yang akan hilang malam ini.” “Hitunganmu selalu akurat,” Atlas tertawa singkat, pahit. “Tapi untuk sekali ini, aku berharap kau salah.” “Terlalu banyak nyawa bergantung pada kesalahan,” balas Alana. “Belok ke kanan. Terowongan sanitasi itu.” “Kau yakin itu masih bisa dilewati?” Atlas menurunkan kecepatan. “Tempat itu sudah mati puluhan tahun.” “Justru karena itu,” jawab Alana. “Yang mati tidak diawasi.” Mobil mereka meluncur masuk ke lorong beton sempit. Suara tembakan memantul, lalu menghilang. Hanya suara mesin dan napas mereka yang tersisa. Atlas menghela napas panjang. “Kita lolos untuk sementara. Tapi jangan bohongi aku. Mereka tidak akan berhenti.” “Aku tidak berniat membohongimu,” k