Inicio / Mafia / The Mafia's Deceptive Bride / BAB 4 - HANTU DI TOKO TEKSTIL

Compartir

BAB 4 - HANTU DI TOKO TEKSTIL

Autor: Shiva Jodi
last update Fecha de publicación: 2025-12-20 11:34:43

Alana berlama-lama di bawah shower sambil terus berfikir. Tetesan air hangat terasa lembut memijati punggungnya.

Dipenuhi oleh tanda tanya, Alana tak mau menunggu hingga keesokan harinya. Setelah mandi, mereka langsung menuju rumah kedua orang tua Alana yang juga sudah tak ditempati.

Motor Ducati hitam—kendaraan andalan Atlas, yang lebih fleksibel dan tangguh daripada mobil—meluncur cepat melintasi Jakarta lalu berhenti tanpa suara di seberang bangunan tua yang gelap gulita. Papan nama lapuk bertuliskan "Toko Tekstil Sejahtera" nyaris tak terbaca di bawah sinar bulan yang suram. Bangunan itu tampak seperti hantu dari masa lalu yang terlupakan.

"Tetap menunduk," perintah Atlas, matanya memindai jalanan sepi Petojo bagaikan seorang predator. "Area ini terlalu sunyi. Terlalu tenang. Itu bukan pertanda baik."

"Ini kawasan mati, Atlas. Memang selalu sunyi di sini pada jam seperti ini," bisik Alana, tangannya melepas mencengkeram erat di pinggang Atlas, merasakan degub jantungnya kembali menguat.

"Tidak ada yang namanya sunyi, Alana. Yang ada hanyalah penyergapan yang sabar. Menunggu mangsa lengah," jawab Atlas, suaranya tenang tapi penuh peringatan. Ia menarik pistol dari sarung bahunya, memeriksa peluru dengan bunyi klik yang renyah dan mematikan. "Ayo. Cepat cari kuncinya."

Mereka meninggalkan motor di depan ruko, bergerak cepat dan sigap. Atlas bergerak seperti bayangan, tubuh besarnya yang tegap melindungi Alana dari pandangan siapa pun yang mungkin mengintai dari sisi tersembunyi.

Alana berjongkok di depan pintu ruko yang kusam dan rapuh, meraba bagian bawah pot tanaman keramik yang pecah. Tempat tersebut berdebu tebal, dedaunan kering berserakan. Jemarinya yang dingin menemukan celah.

"Ketemu?" desak Atlas, berbisik.

"Sabar," bisiknya balik. "Semennya keras... di sini... Ah, dapat!" Alana menarik kunci berkarat dari antara celah semen.

"Ayahmu benar-benar klasik. Cepat buka pintunya. Aku tidak suka berdiri di area terbuka seperti ini."

Suara berderit engsel pintu yang tak diminyaki terdengar sangat berisik di keheningan malam. Atlas langsung mendorong Alana masuk, menodongkan senjatanya dalam kegelapan ruko.

Bau apek, lembap, dan debu langsung menusuk hidung begitu mereka memasuki ruangan. Kain-kain tua terlihat lapuk dan menjamur.

"Nyalakan senter di ponselmu, tapi arahkan ke bawah," perintah Atlas, suaranya meredam saat dia menyapu pandangannya ke sudut-sudut ruangan yang gelap.

Cahaya remang dari ponsel Alana menyinari tumpukan gulungan kain tua yang tampak seperti tubuh berselimut kain. Deretan manekin berwajah dingin berdiri kaku di sudut-sudut ruangan.

"Tempat ini mengerikan," gumam Alana.

"Fokus, Alana. Di mana ruangannya?"

"Aku akan naik ke lantai dua."

Mereka menaiki tangga kayu yang berderit ketika diinjak. Rasanya bangunan itu bisa runtuh kapan saja. Di lantai dua, mereka menemukan sebuah ruangan dengan pintu kayu kokoh menyambut mereka. Pintu itu tidak terkunci!

Ruangan itu bersih dan tertata rapi. Bertolak belakang dengan lantai bawah. Ada tempat tidur lipat yang terpasang di dinding, tumpukan makanan kaleng yang tersusun rapi, dan sebuah meja kerja logam yang kokoh.

"Rumah aman," komentar Atlas, matanya menyapu ruangan dengan sangat teliti. "Ayahmu sudah bersiap untuk kiamat sejak lama. Dia tidak meninggalkan apa pun secara kebetulan." Dia menoleh sekilas pada Alana sambil terus bersikap waspada. "Cari tempat penyimpanannya. Orang seperti ayahmu tidak akan menaruh benda berharga di atas meja atau di tempat yang mudah terlihat."

Alana berdiri di tengah ruangan, mencoba mengingat. "Apa yang harus aku lakukan. Dia sama sekali tidak memberiku petunjuk."

"Apakah ayahmu suka memberikan teka-teki?"

Alana tepekur sejenak. Tiba-tiba, dia menyenandungkan lagu tidur.

Atlas menurunkan senjatanya, menatap Alana dengan alis terangkat, ekspresinya campur aduk antara bingung dan kesal. "Lagu tidur? Kau bercanda, kan?"

"Tidak! Dia bilang begitu waktu terakhir menelepon. 'Ingat lagu tidurmu, Alana. Tiga bintang... lima perahu... delapan burung...'" Alana memejamkan mata, berusaha keras mengingat lirik yang samar.

"Itu bukan lagu, itu kode kombinasi," potong Atlas cepat, otaknya berputar sangat cepat. "3-5-8. Cari brankasnya. Biasanya di dinding di balik lukisan, atau..." Atlas menghentakkan kakinya ke lantai, mendengarkan pantulan suara.

Dug. Dug. Suara lantai terdengar kopong di satu titik.

"Di bawah ubin," kata Atlas. Ia berlutut di lantai, mengeluarkan pisau lipat taktis dari pinggangnya, lalu dengan cepat mencongkel ubin yang suaranya berbeda dari yang lain.

"Hei! Hati-hati!" protes Alana, khawatir merusak tempat itu lebih dari yang diperlukan.

"Kita tidak punya waktu untuk seni restorasi, Nona Kurator. Varma tidak akan menunggu sampai kau selesai mendekorasi ulang."

Ubin terangkat. Sebuah brankas lantai kecil terlihat, tertanam di bawahnya.

"Tiga kanan. Lima kiri. Delapan kanan," pandu Alana, suaranya bergetar penuh harap.

Atlas memutar dial dengan pelan dan fokus. Presisi. Klik! Brankas pun terbuka.

Di dalamnya terlihat sebuah revolver kecil yang terbungkus kain beludru, dan sebuah buku catatan tua bersampul kulit merah usang.

"Buku Besar," bisik Alana. Tangannya hendak meraih buku itu, tapi Atlas menahannya.

"Tunggu." Atlas mengambil revolver itu lebih dulu, mengendusnya dengan hati-hati. "Minyaknya baru. Ayahmu baru saja di sini."

Alana meraih buku merah itu. Membukanya. Halaman demi halaman penuh dengan angka triliunan rupiah, aliran dana haram yang tak terbayangkan, dan inisial nama-nama orang paling berkuasa di negeri ini—politisi, pengusaha, bahkan pejabat tinggi.

"Ini dia," kata Alana, menatap Atlas dengan mata berkaca-kaca. "Ini alasan mereka ingin membunuhku. Ini alasan mereka mengejar kita."

Atlas tidak melihat buku itu. Matanya tertuju pada layar laptop rugged yang tergeletak di meja kerja. Benda itu tiba-tiba menyala sendiri, menampilkan pesan hitam di layar putih.

Lampu indikator webcam berubah hijau.

"Sial," desis Atlas, seketika berubah waspada. Dia menyambar lengan Alana kasar, menariknya berdiri. "Selamatkan bukunya! Kita harus pergi. Sekarang! Mereka sudah tahu kita di sini."

"Kenapa? Apa yang—"

Atlas menunjuk ke arah laptop dengan pistolnya.

"Mereka tahu kita di sini!"

Atlas menarik Alana mundur menuju pintu, wajahnya tegang.

Tiba-tiba dari lantai bawah, terdengar suara pintu depan didobrak keras.

BRAK!

Diikuti oleh deru langkah kaki sepatu bot berat yang bergemuruh menaiki tangga. Banyak langkah kaki.

"Kita terkepung," bisik Alana, pandangannya nanar.

Atlas menatap Alana, lalu menyeringai liar.

"Bagus," kata Atlas, menyimpan senjatanya kembali di balik jasnya. "Aku sudah mulai bosan dengan suasana sunyi ini. Pegang buku itu erat-erat, Alana. Jangan lepaskan apa pun yang terjadi. Ini satu-satunya senjatamu."

"Kita mau ke mana? Tangganya penuh polisi!" teriak Alana.

Atlas menendang jendela kaca di belakang mereka dengan kuat. Kaca pecah berantakan, berhamburan ke luar. Angin malam yang dingin menyeruak masuk, membawa aroma jalanan yang basah oleh gerimis.

"Kita tidak lewat tangga," kata Atlas, menarik pinggang Alana merapat pada tubuhnya hingga mereka berdua menempel rapat, posturnya melindungi Alana dari pecahan kaca. "Kita terbang."

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Comentarios (11)
goodnovel comment avatar
ichaanovitha
seru banget ya bacanya deg-degan terus
goodnovel comment avatar
siregarrisda3
atlas ini sigap banget deg degan bacanya
goodnovel comment avatar
Al Rain
The rill ada banyak jalan, terbang pun jadilah
VER TODOS LOS COMENTARIOS

Último capítulo

  • The Mafia's Deceptive Bride   Bab 7: Intuisi (flashback)

    Suara wanita di telepon itu seperti embusan angin dari kubur—dingin, berwibawa, dan memiliki aksen aristokrat yang ganjil. Alana membeku di tengah ruko Petojo yang remang-remang. Di hadapannya, monitor besar menunjukkan hitungan mundur yang kini menyisakan delapan menit tiga puluh detik."Siapa kau?" bisik Alana. Tangannya yang bersimbah keringat mencengkeram ponsel itu hingga buku jarinya memutih."Aku adalah alasan kenapa ayahmu membangun labirin ini, Alana," suara itu menjawab datar. "Aku adalah subjek dari potret yang kau kupas di usia delapan tahun. Berhenti menatap layar. Layar adalah distraksi. Layar adalah estetika palsu yang ingin membelokkan tujuanmu."Alana berpaling dari monitor. Dia memaksakan otaknya untuk kembali ke mode kurator. Dia harus melihat lapisan di balik situasi ini. "Kau bilang ada lapisan kesembilan. Ayah hanya mengajariku sampai delapan. 3-5-8.""Karena angka delapan adalah penyelesaian bagi orang luar, tapi bagi seorang Kurator, delapan adalah awal dari de

  • The Mafia's Deceptive Bride   Bab 6: Ghost Riding (flashback)

    Malam di pinggiran Jakarta tidak pernah benar-benar gelap, kecuali di kawasan industri tua yang terlupakan oleh pembangunan. Alana mencengkeram kemudi sebuah sedan tua yang dia curi dari area konstruksi, mobil yang tidak mencolok untuk menjadi hantu. Di sampingnya, tas pemberian ayahnya terasa seperti bom waktu yang siap meledak.Pesan di ponsel itu terus berkedip di kepalanya. Lima jam.Dia sedang menuju ruko di Petojo, namun spion tengahnya menangkap dua pasang lampu xenon yang bergerak dengan kecepatan tidak wajar di belakangnya. Mereka menemukannya. Musuh ayahnya tidak menggunakan pelacak GPS konvensional; mereka menggunakan jaringan pengawas kota yang sudah mereka retas."Pelajaran keenam, Alana," suara ayahnya bergema dalam ingatan, sejelas bisikan di telinganya. "Jika mereka bisa melihatmu, mereka bisa membunuhmu. Seni menghilang bukan tentang menjadi transparan, tapi tentang menyatu dengan kegelapan hingga kau menjadi kegelapan itu sendiri."Alana membelokkan mobil ke arah jal

  • The Mafia's Deceptive Bride   Bab 5: Misteri 3-5-8 (flashback)

    Telinga Alana berdenging. Suara Mercedes yang menghantam pintu depan paviliun terdengar seperti ledakan artileri di ruang tertutup. Bubuk putih dari sistem pemadam api menari-nari di udara, menciptakan selimut kabut yang menyesakkan. Pria di atasnya tersentak, perhatiannya teralih selama satu detik oleh hanturan logam di depan sana—dan Alana hanya memerlukan satu detik.Alana menghantamkan tumit sepatunya ke tulang kering pria itu, lalu menyikut ulu hatinya dengan kekuatan penuh. Cengkeraman di pergelangan kakinya mengendur. Alana merangkak dengan kalap, jemarinya menyambar lembaran kertas transparan yang tergeletak di lantai marmer yang licin, lalu dia menghilang ke dalam kegelapan di balik rak buku antik."Alana! Masuk!"Itu suara ayahnya. Tuan Danu tidak keluar dari mobil. Mercedes perak itu menderu di ambang pintu yang hancur, lampu depannya yang retak menembus kabut kimia seperti mata monster yang marah.Alana melompat ke kursi penumpang tepat saat pria bersenjata itu melepaskan

  • The Mafia's Deceptive Bride   Bab 4: Di Balik Sebuah Kanvas (flashback)

    Bau lem kanvas yang menyengat dan aroma kayu mahoni baru memenuhi galeri pribadi yang baru saja selesai dibangun di paviliun belakang rumah mereka. Alana, yang kini menginjak usia empat belas tahun, berdiri di tengah ruangan yang diterangi lampu sorot presisi. Ini adalah "Galeri Alana"—setidaknya itu yang tertulis di plakat perunggu di depan pintu. Namun, bagi Alana, tempat ini terasa lebih seperti ruang interogasi estetika daripada ruang pameran.Tuan Danu berdiri di depan sebuah lukisan lanskap klasik karya pelukis lokal yang namanya tidak pernah terdengar di balai lelang besar. Lukisan itu membosankan; hanya pemandangan sawah dan gunung dengan teknik pewarnaan yang medioker."Kenapa kita memajang ini, Pa?" Alana bertanya, tangannya menyilang di dada. "Ini tidak memiliki nilai kurasi. Teknik sapuannya kasar, perspektifnya meleset di bagian cakrawala. Ini sampah yang dibingkai mahal."Danu menoleh, memberikan senyuman tipis yang kini sering Alana artikan sebagai tanda bahwa dia baru

  • The Mafia's Deceptive Bride   Bab 3: Mesin dan Estetika

    Dunia Alana tidak pernah tentang taman bermain. Sementara anak-anak seusianya asyik bermain sepeda roda tiga dengan rumbai-rumbai di stangnya, Alana menghabiskan waktunya di sebuah sirkuit pribadi di pinggiran Bogor, tersembunyi di balik barisan pohon mahoni raksasa. Udara di sana tidak berbau bunga; tetapi campuran memabukkan dari bensin oktan tinggi, ban yang terbakar, dan oli mesin yang panas.Di depannya saat itu terparkir sebuah Mercedes-Benz W124 E-Class berwarna perak metalik. Di tangan yang tepat, mobil itu akan menjadi tank yang mematikan."Masuk, Alana," perintah Tuan Danu. Alana, yang kini berusia dua belas tahun, memanjat ke kursi pengemudi. Kakinya nyaris tidak sampai ke pedal, tetapi ganjalan khusus yang dipasang mekanik ayahnya membuat semuanya terasa pas. Setahun lagi Alana akan menjadi lebih tinggi sehingga pas dengan interior kendaraan."Ayah, aku belum bisa melihat melewati dasbor dengan jelas," protes Alana, tangannya mencengkeram kemudi kulit yang dingin."Seoran

  • The Mafia's Deceptive Bride   Bab 2: Sekolah Diplomat (flashback)

    "Kenapa aku tidak punya seragam seperti anak-anak di TV, Pa?"Alana, sepuluh tahun, berdiri di depan cermin besar di lorong rumah aman mereka yang baru di pinggiran Jakarta. Dia mengenakan blazer wol abu-abu yang dijahit khusus oleh penjahit pribadi ayahnya, potongan yang terlalu kaku dan dewasa untuk anak seusianya. Di tangannya bukan tas punggung berwarna cerah bergambar kartun, melainkan sebuah koper kulit kecil berisi jurnal sketsa, satu set pensil grafit, dan sebuah kamera Leica tua yang berat.Tuan Danu muncul di belakangnya, bayangannya menjulang tinggi di cermin. Dia merapikan kerah Alana dengan gerakan mekanis yang tidak menyisakan ruang untuk kehangatan. "Kau sedang menempuh kurikulum diplomat khusus, Alana. Sekolah umum hanya mengajarkan cara menjadi bagian dari kerumunan—menjadi rata-rata. Ayah mengajarimu cara menguasai kerumunan itu tanpa pernah menjadi bagian darinya.”Sekolah Alana bukanlah gedung dengan papan tulis, bel istirahat, dan bau kapur. "Kelasnya" adalah enti

  • The Mafia's Deceptive Bride   Bab 58 - Sel Bawah Tanah

    "Turunkan senjatamu sebelum aku mematahkan pergelangan tanganmu."Atlas tidak berteriak. Suaranya rendah, nyaris berbisik, namun getaran ancamannya memenuhi ruangan sempit di bawah distrik Mapo itu. Ujung laras senapan laras pendek masih menempel di pelipisnya, tapi ekspresi Atlas tetap se

  • The Mafia's Deceptive Bride   Bab 57 - Abunya Sang Pemilik

    Cahaya matahari pagi yang menyentuh permukaan laut Jeju tidak membawa kehangatan yang biasanya. Dunia di luar kabin kapal amfibi itu sedang gempar. Di layar radar yang masih menyala, Atlas melihat berita-berita global mulai bermunculan. Pusat-pusat data di Singapura lumpuh. Bursa saham Tokyo memb

  • The Mafia's Deceptive Bride   Bab 55 - Pilihan Terakhir Sang Arsitek

    Air laut yang dingin mulai membasahi lutut Atlas. Suara gemuruh dari dinding beton yang retak terdengar seperti erangan raksasa yang sekarat. Di dalam ruangan isolasi yang steril itu, waktu seolah membeku, meski maut sedang merayap naik melalui celah lantai."Ayah, apa maksudmu?" suara Ala

  • The Mafia's Deceptive Bride   Bab 52 - Hantu Sang Ibu

    Debu semen yang runtuh dari langit-langit menyumbat tenggorokan Atlas, namun ia tidak berhenti menembak. Di belakangnya, Alana masih terduduk kaku dengan kabel-kabel yang mengeluarkan percikan api. Suara sirene dan deru helikopter di luar sana terasa begitu dekat, seolah-olah maut sedang mengetuk

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status