แชร์

BAB 2 - MANUVER DUA ARAH

ผู้เขียน: Shiva Jodi
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2025-12-20 01:40:55

"Masuk mobil!" Alana berteriak, tangannya dengan cekatan membuka kunci pintu Mercedes C-Class-nya yang ramping. Alarm berbunyi sesaat, memecah keheningan yang menegangkan.

Pria asing itu tidak membantah atau ragu. Ia melompat masuk ke kursi penumpang tepat saat sebuah peluru menghantam aspal di tempat ia berdiri sedetik lalu, meninggalkan bekas gosong yang mengepulkan asap tipis.

"Sial," umpat pria itu, menarik sabuk pengaman dengan gerakan cepat. "Mereka bawa senapan serbu. Jalan, Alana! Jalan! Jangan beri mereka waktu untuk membidik lagi!"

Ban mobil menjerit, melengking panjang di atas aspal panas saat Alana menginjak pedal gas dalam-dalam. Mobil sedan mewah itu melesat keluar dari pelataran parkir galeri, nyaris menyerempet pilar beton di sisi kanan. Di kaca spion, dua SUV hitam meraung mengejar, lampu sorot mereka yang terang benderang menyilaukan, membuat pantulan di jalanan tampak seperti kilatan petir.

"Ke kiri!" perintah pria itu, suaranya tegang tapi terkontrol. "Masuk tol! Sekarang!"

"Jangan memerintahku di dalam mobilku sendiri!" balas Alana sengit, membanting setir ke kiri dengan keahlian yang mengejutkan, memasuki ramp jalan tol dengan kecepatan yang membuat perutnya bergolak dan penumpang di sebelahnya terlempar ke samping.

"Aku hanya berusaha agar kita tidak mati, Nona Nareswari!" seru pria itu, mencengkeram dashboard erat-erat, wajahnya menegang. "Itu SUV lapis baja. Kalau mereka menabrak bokong mobil cantikmu ini, kita tamat seketika. Mereka tidak akan ragu."

"Mercedes ini punya handling lebih baik dari tank rongsokan mereka," gerutu Alana, matanya terpaku pada jalanan lengang di depannya, fokusnya terpecah antara mengemudi dan rasa panik yang terus merayap. Ia bisa merasakan tatapan pria di sebelahnya, sebuah pengawasan yang intens.

BRAK!

Sebuah benturan keras mengguncang sasis mobil dari belakang. Salah satu SUV berhasil menempel dan menabrak bagian belakang. Bumper belakang Alana berderak mengerikan, remuk seketika.

"Kau bilang apa soal handling?" sindir pria itu, suaranya sedikit teredam karena benturan, tapi ada nada kekaguman yang aneh di sana, meskipun tangannya mencengkeram dashboard lebih erat lagi. "Mereka mencoba manuver PIT. Mereka ingin membalikkan kita."

"Pegangan," ucap Alana dingin, suaranya lebih seperti ancaman daripada peringatan.

"Apa?"

"Kubilang pegangan!"

Dalam sepersekian detik yang terasa seperti keabadian, Alana melakukan downshift mendadak. Mesin menderu tinggi, memberikan dorongan tenaga yang dahsyat. Bukannya menjauh, ia justru menginjak rem sedikit, membiarkan SUV yang mengejar menabraknya lagi dengan kekuatan yang lebih besar, lalu dengan sinkronisasi yang gila, ia membanting setir ke kanan secara ekstrem dan menekan gas penuh.

Mobil itu melesat seperti peluru yang lepas dari selongsong, menyelinap di celah sempit yang mustahil antara sebuah truk kontainer raksasa dan pembatas jalan. SUV pengejar yang badannya jauh lebih besar dan kaku terpaksa mengerem mendadak agar tidak menghantam beton pembatas jalan, kehilangan momentum dan posisinya.

Pria di sampingnya menoleh, matanya membelalak takjub, sebuah ekspresi tak terduga di wajah yang biasanya dingin. "Siapa yang mengajarimu menyetir seperti itu? Sekolah kepribadian? Atau kau pernah menjadi pembalap jalanan?"

"Ayahku," jawab Alana singkat, napasnya memburu, adrenalin mulai membanjiri tubuhnya. "Dia bilang diplomat harus bisa melarikan diri dari situasi apa pun. Termasuk dari orang-orang bersenjata yang mengejar mereka di jalanan."

"Ayahmu jelas bukan diplomat biasa," kata pria itu, pandangannya kini kembali tertuju pada jalanan di depan, tapi nadanya berbeda, lebih santai, seolah bahaya barusan hanya pemanasan. Ia menengok ke belakang lagi. "Satu SUV tertinggal, sepertinya kerusakan cukup parah. Tapi satu lagi masih menempel, dan sepertinya tidak punya niat untuk berhenti. Kita butuh tempat sembunyi. Keluar di gerbang depan, ada kawasan gudang tua di sana. Itu satu-satunya jalan keluar dari tol ini."

"Itu jalan buntu!" protes Alana, ia mengenal area itu.

"Percaya padaku. Ada celah di sana. Matikan lampumu. Sekarang."

"Apa?" Alana ragu, kegelapan di depan terasa mencekam.

"Matikan lampu mobil. Ghost riding. Sekarang, Alana!"

Alana menggertakkan gigi, memutar tuas lampu ke posisi off. Dunia di depan mereka mendadak gelap gulita, hanya diterangi cahaya bulan samar dan lampu jalan yang berkedip-kedip di kejauhan. Kegelapan itu terasa seperti selimut yang menelan mereka.

"Kau gila," desis Alana, tapi ia menuruti instruksi itu, membiarkan visibilitasnya terbatas hanya pada apa yang bisa ditangkap oleh matanya yang sudah terlatih.

"Kiri di depan. Masuk celah antara dua gudang itu. Cepat."

Alana membelokkan mobil ke dalam kegelapan pekat kawasan pergudangan yang terbengkalai. Tanpa lampu, SUV di belakang mereka yang mengandalkan pandangan visual untuk mengejar, kehilangan jejak mereka seketika. Deru mesin pengejar terdengar melaju lurus, melewati belokan tempat mereka bersembunyi, suara itu perlahan memudar ditelan jarak.

Keheningan perlahan turun saat Alana mematikan mesin mobil, menyisakan hanya suara detak jantung mereka yang berpacu dan napas mereka yang terengah-engah. Di dalam kabin yang sempit dan gelap, udara terasa berat, dipenuhi aroma maskulin pria itu—campuran tembakau mahal dan sesuatu yang lebih tajam, seperti gunpowder—yang kini memenuhi indra penciumannya.

"Kau..." Alana menoleh, menatap siluet wajah pria itu dalam kegelapan. Ia tidak bisa melihat matanya, tapi merasakan tatapannya. "Siapa kau sebenarnya? Kenapa kau membantuku?"

Pria itu membalas tatapan Alana. Dalam jarak sedekat ini, Alana bisa melihat kilatan di matanya yang tajam, seperti bara api dalam kegelapan.

"Namaku Atlas," bisiknya, suaranya rendah dan serak, seperti kerikil yang bergesekan. "Dan aku membantumu karena 'Buku Besar' yang dipegang ayahmu juga mencatat nama orang yang membunuh adikku."

Alana ternganga, bingung dan kaget. "Kau kenal Ayah?"

"Aku kenal reputasinya. Dan sekarang..." Atlas mencondongkan tubuh, tangannya terulur perlahan, menyentuh pipi Alana, mengusap lembut keringat yang menetes di sana. Sentuhannya hangat, namun terasa berbahaya, seperti sentuhan predator. "Sekarang aku tahu putrinya ternyata punya nyali. Dan kecerdasan."

Alana menepis tangan itu. "Jangan sentuh aku. Kita harus segera ke Menteng. Ayah bilang ada sesuatu yang penting di rumah lama."

Atlas tertawa kecil, sebuah tawa yang kering dan sinis. Ia kembali bersandar di kursi, gerakannya santai namun penuh ketegangan. "Menteng? Rumah itu pasti sudah dikepung, Nona Manis. Pihak berwenang—atau lebih tepatnya, kaki tangan Varma yang menyamar sebagai polisi—pasti sudah mengepung setiap sudut. Kita tidak bisa ke sana malam ini."

"Lalu ke mana?" tanya Alana, rasa putus asa mulai menjalar.

"Ke tempatku," jawab Atlas. "Kecuali kau lebih suka tidur di mobil rongsokan ini menunggu mereka kembali dan menggorok leher kita."

Alana terdiam, menimbang pilihan yang ada. Logikanya berteriak untuk lari, mencari tempat aman sendirian, tapi instingnya mengatakan bahwa pria berbahaya ini adalah satu-satunya perisai yang dia miliki.

"Baik," putus Alana akhirnya, suaranya tegas meski sedikit bergetar. "Tapi kalau kau macam-macam, aku punya kunci roda di bawah kursi ini. Dan aku tidak ragu menggunakannya."

Atlas menyeringai dalam gelap sehingga menunjukkan deretan gigi putihnya yang rapi. "Aku suka wanita yang waspada. Itu bisa menyelamatkan hidupmu. Jalan."

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
ความคิดเห็น (30)
goodnovel comment avatar
Shiva Jodi
Hahahaha, bisa aja, Kak 🫰
goodnovel comment avatar
Shiva Jodi
Iya, Kak. ...
goodnovel comment avatar
Shiva Jodi
Sama saya juga, Kak ...
ดูความคิดเห็นทั้งหมด

บทล่าสุด

  • The Mafia's Deceptive Bride   Bab 34 - Abu dan Singgasana

    “Sesuai aturanku,” kata Alana, tangannya melingkar kuat di belakang leher Atlas, memastikan suaminya tunduk, saat Matriark Varma tanpa diduga mengaktifkan darurat ‘Fire-Exit’ di gedung mereka, memaksa Alana menyadari Matriark sedang memposisikan dirinya di atas reruntuhan yang baru mereka ciptakan.Alana tersentak. Alarm Fire-Exit itu bukan ancaman ledakan; itu kode darurat keamanan tertinggi, yang menandakan bahwa ruang itu harus dibersihkan, didukung oleh Matriark. Itu perintah politik, bukan militer. Mereka disuruh bergerak. Lagi-lagi. Seolah Alana dan Atlas hanyalah bidak catur yang diizinkan untuk membersihkan Dewan, tetapi tidak diizinkan untuk berdiam di singgasananya terlalu lama.“Kita diusir dari zona abu kita, Nareswari.” Atlas memiringkan kepala, meskipun matanya dipenuhi gairah setelah ciuman penguasaan itu, naluri pengawalnya sudah bereaksi. “Kita berhasil mengamankan Seroja dan melumpuhkan Ayah, tapi kita tidak diperbolehkan tinggal. Itu kehendak Matriark. Matriark sela

  • The Mafia's Deceptive Bride   Bab 33 - Kursi yang Dikosongkan

    Alana mengawasi asap yang mengepul perlahan dari sudut balkon yang retak di Safe House Menteng. Satu minggu. Tujuh hari sejak ia berdiri berlumuran darah di Perpustakaan Arsip Agra Varma, berdarah dari tikaman pisau dan kepanikan Atlas mengetahui Seroja diculik. Api telah dipadamkan, bau mesiu telah menghilang, dan tukang bersih profesional sudah membersihkan sisa-sisa peluru Varma lama.Ruangan itu sekarang dihiasi karpet beludru abu-abu, meredam suara, membuat keadaan menjadi sepi dan waspada. Seminggu telah berlalu sejak perang Varma antara saudara. Julian diserahkan, identitasnya dienkripsi dan diamankan dalam kekuasaan Matriark Varma. Varma yang tidak kompeten dan mentalnya pun hancur. Agra? Hilang. Ia melarikan diri dari Jakarta, menjadi hantu tanpa dana, dikejar Matriark dan Jaringan Mafia Internasional. Mereka terkejut karena Pembongkaran BAP yang dilalukan oleh Alana. Tim Collective yang menculik Seroja kini memiliki kekuatan negosiasi, tetapi belum menang. Sedangkan Alana be

  • The Mafia's Deceptive Bride   Bab 32 - Harga Sebuah Obsesi

    Dan kemudian... suara listrik padam sepenuhnya, lift darurat Agra meluncur ke bawah, terputus dari rantai. Lima tembakan datang, tetapi tidak ditujukan ke Alana, melainkan ke arah punggung Agra Varma yang berada di depan mereka. DUAR! DUAR! Suara pistol yang bukan pistol Varma. Serangan kejutan itu merobek jubah hitam pengawalnya, mengejutkan Matriark’s Watchdog. Matriark sedang bermain.Kegelapan kembali menyelimuti mereka. Bau mesiu dari senapan Alana dan kawat tembaga dari Vault Card Julian telah memenuhi atmosfer pengap. Alana memanfaatkan kegelapan ini. Ia menjerit, bukan karena terkejut, melainkan perintah tempur.“Agra akan terluka karena Watchdog Matriark ada di sini!” seru Alana. Ia melompat di atas tubuh Atlas yang jatuh, pistol kecilnya (kini kehabisan amunisi) membentur kepala salah satu Pengawal Agra yang terdekat, ia hanya mengandalkan senjata Atlas yang kini tergeletak di lantai marmer dingin. “Fokus ke data! Lindungi terminal!”“Terlambat! Peluru Matriark itu hanya mem

  • The Mafia's Deceptive Bride   Bab 31 - Perangkap untuk Julian

    Alana meraih earpiece Atlas, menanggalkan kabelnya dari tubuh Atlas dan membuangnya ke jok belakang.“Kamu tidak membutuhkan ancaman saat berburu, Pemilikku,” ujar Alana. Ia melilitkan kawat tipis dari saku tas malamnya yang kotor ke jari-jari. “Cukup berikan aku Ayahmu.”Atlas mengemudi tanpa earpiece, suara ancaman Collective Timur yang menargetkan 'hati suaminya' telah dilepaskan Alana dari pikiran mereka, digantikan oleh obsesi baru yang beracun. Dia melesat di jalan tol pinggiran Menteng, fokusnya hanya pada satu koordinat yang Alana tunjuk di GPS: Perpustakaan Arsip Agra di lantai enam Gedung Sentral Varma. Tempat perlindungan Ayahnya yang rahasia, kini terlihat.“Aku sudah menyalurkan data Pembongkaran BAP itu melalui Matriark Varma, sehingga Matriark berpikir Ayahku sengaja melakukannya untuknya, Alana. Strategi kamu kejam. Tapi jika Collective menyerang Matriark untuk menekan kita, seluruh rantai Nomar Varma akan hancur,” Atlas berujar, melajukan mobil anti-balistik itu sampa

  • The Mafia's Deceptive Bride   Bab 30 - Pengurangan Mutlak

    Layar Buku Besar berkedip merah. Kode BAP (Batal Akses Pusat) menyala, mengeksekusi perintah yang selama ini terkunci rapat."Tekan, Alana! Hancurkan semuanya!" Atlas berteriak di tengah desingan peluru.Alana menekan tombol eksekusi. Brak! Lampu LED utama di perapian Tulus meledak, menghujani ruangan dengan pecahan kristal dan kegelapan total. Suara tempur Kolektif menggema, beradu dengan teriakan Atlas."Ke depan, Alana! Pintu keluar utara! Tulus mati!" Atlas menarik lengan Alana kasar, menyeretnya melewati mayat Tulus yang terkapar di beton berminyak. Bau amis ikan asin dan tembaga panas menyerbu indra."Ambil ini!" Alana menyambar pistol Atlas di tanah, mengisi ulang amunisi dengan gerakan mekanis yang didorong adrenalin. "Kita ke belakang gudang pendingin! Cepat!""Jangan buang peluru! Fokus ke exfil!"Mereka meluncur melewati barisan rak jurnal lama, menembus pintu layanan sempit tepat saat gerombolan Kolektif menjebol gerbang depan. Di luar, sebuah mobil lapis baja Nomad menung

  • The Mafia's Deceptive Bride   Bab 29 - Harga Sebuah Kehilangan

    “Alana,” suara Atlas parau, tangannya masih menggenggam kemudi yang bergetar, “kalau kau masih punya keraguan, katakan sekarang. Jangan setelah aku banting setir ini.” “Aku tidak ragu,” jawab Alana pelan, matanya menatap jalan gelap di depan. “Aku hanya sedang menghitung berapa banyak yang akan hilang malam ini.” “Hitunganmu selalu akurat,” Atlas tertawa singkat, pahit. “Tapi untuk sekali ini, aku berharap kau salah.” “Terlalu banyak nyawa bergantung pada kesalahan,” balas Alana. “Belok ke kanan. Terowongan sanitasi itu.” “Kau yakin itu masih bisa dilewati?” Atlas menurunkan kecepatan. “Tempat itu sudah mati puluhan tahun.” “Justru karena itu,” jawab Alana. “Yang mati tidak diawasi.” Mobil mereka meluncur masuk ke lorong beton sempit. Suara tembakan memantul, lalu menghilang. Hanya suara mesin dan napas mereka yang tersisa. Atlas menghela napas panjang. “Kita lolos untuk sementara. Tapi jangan bohongi aku. Mereka tidak akan berhenti.” “Aku tidak berniat membohongimu,” k

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status