Home / Mafia / The Mafia's Deceptive Bride / BAB 9 - DINDING BERBISIK

Share

BAB 9 - DINDING BERBISIK

Author: Shiva Jodi
last update Petsa ng paglalathala: 2025-12-24 23:16:36

Aroma cat minyak yang tajam menusuk hidung, namun Alana tidak lagi merasa terganggu. Baginya, bau itu adalah satu-satunya hal yang nyata di rumah besar yang terasa seperti simulasi ini. Kanvas di hadapannya penuh dengan goresan kasar warna merah tua dan biru pekat.

"Nyonya, Anda belum menyentuh teh Anda sejak satu jam yang lalu," suara lirih Bi Inah memecah keheningan studio.

Alana tidak menoleh. Kuasnya masih menari liar. "Aku tidak lapar, Bi. Tehnya pasti sudah sedingin hatinya."

"Maksud Anda
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • The Mafia's Deceptive Bride   Bab 7: Intuisi (flashback)

    Suara wanita di telepon itu seperti embusan angin dari kubur—dingin, berwibawa, dan memiliki aksen aristokrat yang ganjil. Alana membeku di tengah ruko Petojo yang remang-remang. Di hadapannya, monitor besar menunjukkan hitungan mundur yang kini menyisakan delapan menit tiga puluh detik."Siapa kau?" bisik Alana. Tangannya yang bersimbah keringat mencengkeram ponsel itu hingga buku jarinya memutih."Aku adalah alasan kenapa ayahmu membangun labirin ini, Alana," suara itu menjawab datar. "Aku adalah subjek dari potret yang kau kupas di usia delapan tahun. Berhenti menatap layar. Layar adalah distraksi. Layar adalah estetika palsu yang ingin membelokkan tujuanmu."Alana berpaling dari monitor. Dia memaksakan otaknya untuk kembali ke mode kurator. Dia harus melihat lapisan di balik situasi ini. "Kau bilang ada lapisan kesembilan. Ayah hanya mengajariku sampai delapan. 3-5-8.""Karena angka delapan adalah penyelesaian bagi orang luar, tapi bagi seorang Kurator, delapan adalah awal dari de

  • The Mafia's Deceptive Bride   Bab 6: Ghost Riding (flashback)

    Malam di pinggiran Jakarta tidak pernah benar-benar gelap, kecuali di kawasan industri tua yang terlupakan oleh pembangunan. Alana mencengkeram kemudi sebuah sedan tua yang dia curi dari area konstruksi, mobil yang tidak mencolok untuk menjadi hantu. Di sampingnya, tas pemberian ayahnya terasa seperti bom waktu yang siap meledak.Pesan di ponsel itu terus berkedip di kepalanya. Lima jam.Dia sedang menuju ruko di Petojo, namun spion tengahnya menangkap dua pasang lampu xenon yang bergerak dengan kecepatan tidak wajar di belakangnya. Mereka menemukannya. Musuh ayahnya tidak menggunakan pelacak GPS konvensional; mereka menggunakan jaringan pengawas kota yang sudah mereka retas."Pelajaran keenam, Alana," suara ayahnya bergema dalam ingatan, sejelas bisikan di telinganya. "Jika mereka bisa melihatmu, mereka bisa membunuhmu. Seni menghilang bukan tentang menjadi transparan, tapi tentang menyatu dengan kegelapan hingga kau menjadi kegelapan itu sendiri."Alana membelokkan mobil ke arah jal

  • The Mafia's Deceptive Bride   Bab 5: Misteri 3-5-8 (flashback)

    Telinga Alana berdenging. Suara Mercedes yang menghantam pintu depan paviliun terdengar seperti ledakan artileri di ruang tertutup. Bubuk putih dari sistem pemadam api menari-nari di udara, menciptakan selimut kabut yang menyesakkan. Pria di atasnya tersentak, perhatiannya teralih selama satu detik oleh hanturan logam di depan sana—dan Alana hanya memerlukan satu detik.Alana menghantamkan tumit sepatunya ke tulang kering pria itu, lalu menyikut ulu hatinya dengan kekuatan penuh. Cengkeraman di pergelangan kakinya mengendur. Alana merangkak dengan kalap, jemarinya menyambar lembaran kertas transparan yang tergeletak di lantai marmer yang licin, lalu dia menghilang ke dalam kegelapan di balik rak buku antik."Alana! Masuk!"Itu suara ayahnya. Tuan Danu tidak keluar dari mobil. Mercedes perak itu menderu di ambang pintu yang hancur, lampu depannya yang retak menembus kabut kimia seperti mata monster yang marah.Alana melompat ke kursi penumpang tepat saat pria bersenjata itu melepaskan

  • The Mafia's Deceptive Bride   Bab 4: Di Balik Sebuah Kanvas (flashback)

    Bau lem kanvas yang menyengat dan aroma kayu mahoni baru memenuhi galeri pribadi yang baru saja selesai dibangun di paviliun belakang rumah mereka. Alana, yang kini menginjak usia empat belas tahun, berdiri di tengah ruangan yang diterangi lampu sorot presisi. Ini adalah "Galeri Alana"—setidaknya itu yang tertulis di plakat perunggu di depan pintu. Namun, bagi Alana, tempat ini terasa lebih seperti ruang interogasi estetika daripada ruang pameran.Tuan Danu berdiri di depan sebuah lukisan lanskap klasik karya pelukis lokal yang namanya tidak pernah terdengar di balai lelang besar. Lukisan itu membosankan; hanya pemandangan sawah dan gunung dengan teknik pewarnaan yang medioker."Kenapa kita memajang ini, Pa?" Alana bertanya, tangannya menyilang di dada. "Ini tidak memiliki nilai kurasi. Teknik sapuannya kasar, perspektifnya meleset di bagian cakrawala. Ini sampah yang dibingkai mahal."Danu menoleh, memberikan senyuman tipis yang kini sering Alana artikan sebagai tanda bahwa dia baru

  • The Mafia's Deceptive Bride   Bab 3: Mesin dan Estetika

    Dunia Alana tidak pernah tentang taman bermain. Sementara anak-anak seusianya asyik bermain sepeda roda tiga dengan rumbai-rumbai di stangnya, Alana menghabiskan waktunya di sebuah sirkuit pribadi di pinggiran Bogor, tersembunyi di balik barisan pohon mahoni raksasa. Udara di sana tidak berbau bunga; tetapi campuran memabukkan dari bensin oktan tinggi, ban yang terbakar, dan oli mesin yang panas.Di depannya saat itu terparkir sebuah Mercedes-Benz W124 E-Class berwarna perak metalik. Di tangan yang tepat, mobil itu akan menjadi tank yang mematikan."Masuk, Alana," perintah Tuan Danu. Alana, yang kini berusia dua belas tahun, memanjat ke kursi pengemudi. Kakinya nyaris tidak sampai ke pedal, tetapi ganjalan khusus yang dipasang mekanik ayahnya membuat semuanya terasa pas. Setahun lagi Alana akan menjadi lebih tinggi sehingga pas dengan interior kendaraan."Ayah, aku belum bisa melihat melewati dasbor dengan jelas," protes Alana, tangannya mencengkeram kemudi kulit yang dingin."Seoran

  • The Mafia's Deceptive Bride   Bab 2: Sekolah Diplomat (flashback)

    "Kenapa aku tidak punya seragam seperti anak-anak di TV, Pa?"Alana, sepuluh tahun, berdiri di depan cermin besar di lorong rumah aman mereka yang baru di pinggiran Jakarta. Dia mengenakan blazer wol abu-abu yang dijahit khusus oleh penjahit pribadi ayahnya, potongan yang terlalu kaku dan dewasa untuk anak seusianya. Di tangannya bukan tas punggung berwarna cerah bergambar kartun, melainkan sebuah koper kulit kecil berisi jurnal sketsa, satu set pensil grafit, dan sebuah kamera Leica tua yang berat.Tuan Danu muncul di belakangnya, bayangannya menjulang tinggi di cermin. Dia merapikan kerah Alana dengan gerakan mekanis yang tidak menyisakan ruang untuk kehangatan. "Kau sedang menempuh kurikulum diplomat khusus, Alana. Sekolah umum hanya mengajarkan cara menjadi bagian dari kerumunan—menjadi rata-rata. Ayah mengajarimu cara menguasai kerumunan itu tanpa pernah menjadi bagian darinya.”Sekolah Alana bukanlah gedung dengan papan tulis, bel istirahat, dan bau kapur. "Kelasnya" adalah enti

  • The Mafia's Deceptive Bride   Bab 79 - Pelarian ke Singapura

    Atlas merasakan paru-parunya seperti akan meledak saat cengkeraman Alana akhirnya terlepas. Istrinya jatuh lunglai ke dalam dekapannya, kepalanya terkulai lemas dengan sisa pendar biru yang meredup di balik kelopak mata yang terpejam. Cairan penenang yang disuntikkan Atlas bekerja cepat, mematika

  • The Mafia's Deceptive Bride   Bab 78 - Cengkeraman Ibu

    Cengkeraman di leher Atlas semakin menguat. Ia bisa merasakan tulang rawan di tenggorokannya mulai berderit di bawah tekanan jari-jari Alana yang dingin. Di depannya, wanita yang ia cintai menatapnya dengan pendar biru elektrik yang stabil dan hampa. Tidak ada keraguan di sana. Tidak ada belas ka

  • The Mafia's Deceptive Bride   Bab 77 - Tamu dari Masa Lalu

    Atlas menodongkan moncong senapannya tepat ke arah dahi pria yang baru saja muncul dari kegelapan lorong bunker. Julian tampak mengerikan. Setengah wajahnya tertutup luka bakar kemerahan yang melepuh, pakaiannya compang-camping, dan napasnya terdengar seperti gesekan amplas pada kayu."Sat

  • The Mafia's Deceptive Bride   Bab 76 - Protokol Reinkarnasi

    "Jangan lepaskan tanganku, Atlas."Suara Alana bergetar saat pintu baja di belakang mereka tertutup dengan dentuman yang menggetarkan seisi bunker. Kegelapan total menyergap selama beberapa detik sebelum lampu-lampu neon di langit-langit berkedip dan menyala satu per satu, memancarkan caha

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status