เข้าสู่ระบบPERINGATAN! Pagar Zona 3 TELAH DITEMBUS OLEH ENAM ORANG BAWAHAN PEMBERSIHAN DARI FAksi Varma BARAT. PERTAHANAN OTOMATIS TIDAK BERFUNGSI. REVISI PROTOKOL—”
Pintu bangsal yang kedap suara itu bergetar keras karena benturan pertama, menggetarkan tulang-tulang Atlas yang terluka di ranjang. Sensor tubuh Atlas berdentum. Alarmnya berdering keras, memekakkan telinga Alana.“Sialan!” teriak Atlas, memaksa dirinya bangkit, wajahnya pucat pasi menahan tusukan tajam di perutnya. “Aku tidak bisa bergerak! Alana, kamu harus mengambil alih protokol DEFENSE B.1!Alana terpaku. Seluruh keberanian kalkulatifnya menghilang saat suara sepatu bot menggemuruh mendekat. Enam orang. Berjarak kurang dari seratus meter. Ia baru saja bersumpah menjadi manajer aset vital; kini ia dihadapkan pada kenyataan, manajernya adalah tubuh kotor Atlas dan buku di tangannya hanyalah data yang lambat.“Aku… aku bahkan tidak tahu panelnya di mana!” Alana berseru, melihat dinding di sek“Sesuai aturanku,” kata Alana, tangannya melingkar kuat di belakang leher Atlas, memastikan suaminya tunduk, saat Matriark Varma tanpa diduga mengaktifkan darurat ‘Fire-Exit’ di gedung mereka, memaksa Alana menyadari Matriark sedang memposisikan dirinya di atas reruntuhan yang baru mereka ciptakan.Alana tersentak. Alarm Fire-Exit itu bukan ancaman ledakan; itu kode darurat keamanan tertinggi, yang menandakan bahwa ruang itu harus dibersihkan, didukung oleh Matriark. Itu perintah politik, bukan militer. Mereka disuruh bergerak. Lagi-lagi. Seolah Alana dan Atlas hanyalah bidak catur yang diizinkan untuk membersihkan Dewan, tetapi tidak diizinkan untuk berdiam di singgasananya terlalu lama.“Kita diusir dari zona abu kita, Nareswari.” Atlas memiringkan kepala, meskipun matanya dipenuhi gairah setelah ciuman penguasaan itu, naluri pengawalnya sudah bereaksi. “Kita berhasil mengamankan Seroja dan melumpuhkan Ayah, tapi kita tidak diperbolehkan tinggal. Itu kehendak Matriark. Matriark sela
Alana mengawasi asap yang mengepul perlahan dari sudut balkon yang retak di Safe House Menteng. Satu minggu. Tujuh hari sejak ia berdiri berlumuran darah di Perpustakaan Arsip Agra Varma, berdarah dari tikaman pisau dan kepanikan Atlas mengetahui Seroja diculik. Api telah dipadamkan, bau mesiu telah menghilang, dan tukang bersih profesional sudah membersihkan sisa-sisa peluru Varma lama.Ruangan itu sekarang dihiasi karpet beludru abu-abu, meredam suara, membuat keadaan menjadi sepi dan waspada. Seminggu telah berlalu sejak perang Varma antara saudara. Julian diserahkan, identitasnya dienkripsi dan diamankan dalam kekuasaan Matriark Varma. Varma yang tidak kompeten dan mentalnya pun hancur. Agra? Hilang. Ia melarikan diri dari Jakarta, menjadi hantu tanpa dana, dikejar Matriark dan Jaringan Mafia Internasional. Mereka terkejut karena Pembongkaran BAP yang dilalukan oleh Alana. Tim Collective yang menculik Seroja kini memiliki kekuatan negosiasi, tetapi belum menang. Sedangkan Alana be
Dan kemudian... suara listrik padam sepenuhnya, lift darurat Agra meluncur ke bawah, terputus dari rantai. Lima tembakan datang, tetapi tidak ditujukan ke Alana, melainkan ke arah punggung Agra Varma yang berada di depan mereka. DUAR! DUAR! Suara pistol yang bukan pistol Varma. Serangan kejutan itu merobek jubah hitam pengawalnya, mengejutkan Matriark’s Watchdog. Matriark sedang bermain.Kegelapan kembali menyelimuti mereka. Bau mesiu dari senapan Alana dan kawat tembaga dari Vault Card Julian telah memenuhi atmosfer pengap. Alana memanfaatkan kegelapan ini. Ia menjerit, bukan karena terkejut, melainkan perintah tempur.“Agra akan terluka karena Watchdog Matriark ada di sini!” seru Alana. Ia melompat di atas tubuh Atlas yang jatuh, pistol kecilnya (kini kehabisan amunisi) membentur kepala salah satu Pengawal Agra yang terdekat, ia hanya mengandalkan senjata Atlas yang kini tergeletak di lantai marmer dingin. “Fokus ke data! Lindungi terminal!”“Terlambat! Peluru Matriark itu hanya mem
Alana meraih earpiece Atlas, menanggalkan kabelnya dari tubuh Atlas dan membuangnya ke jok belakang.“Kamu tidak membutuhkan ancaman saat berburu, Pemilikku,” ujar Alana. Ia melilitkan kawat tipis dari saku tas malamnya yang kotor ke jari-jari. “Cukup berikan aku Ayahmu.”Atlas mengemudi tanpa earpiece, suara ancaman Collective Timur yang menargetkan 'hati suaminya' telah dilepaskan Alana dari pikiran mereka, digantikan oleh obsesi baru yang beracun. Dia melesat di jalan tol pinggiran Menteng, fokusnya hanya pada satu koordinat yang Alana tunjuk di GPS: Perpustakaan Arsip Agra di lantai enam Gedung Sentral Varma. Tempat perlindungan Ayahnya yang rahasia, kini terlihat.“Aku sudah menyalurkan data Pembongkaran BAP itu melalui Matriark Varma, sehingga Matriark berpikir Ayahku sengaja melakukannya untuknya, Alana. Strategi kamu kejam. Tapi jika Collective menyerang Matriark untuk menekan kita, seluruh rantai Nomar Varma akan hancur,” Atlas berujar, melajukan mobil anti-balistik itu sampa
Layar Buku Besar berkedip merah. Kode BAP (Batal Akses Pusat) menyala, mengeksekusi perintah yang selama ini terkunci rapat."Tekan, Alana! Hancurkan semuanya!" Atlas berteriak di tengah desingan peluru.Alana menekan tombol eksekusi. Brak! Lampu LED utama di perapian Tulus meledak, menghujani ruangan dengan pecahan kristal dan kegelapan total. Suara tempur Kolektif menggema, beradu dengan teriakan Atlas."Ke depan, Alana! Pintu keluar utara! Tulus mati!" Atlas menarik lengan Alana kasar, menyeretnya melewati mayat Tulus yang terkapar di beton berminyak. Bau amis ikan asin dan tembaga panas menyerbu indra."Ambil ini!" Alana menyambar pistol Atlas di tanah, mengisi ulang amunisi dengan gerakan mekanis yang didorong adrenalin. "Kita ke belakang gudang pendingin! Cepat!""Jangan buang peluru! Fokus ke exfil!"Mereka meluncur melewati barisan rak jurnal lama, menembus pintu layanan sempit tepat saat gerombolan Kolektif menjebol gerbang depan. Di luar, sebuah mobil lapis baja Nomad menung
“Alana,” suara Atlas parau, tangannya masih menggenggam kemudi yang bergetar, “kalau kau masih punya keraguan, katakan sekarang. Jangan setelah aku banting setir ini.” “Aku tidak ragu,” jawab Alana pelan, matanya menatap jalan gelap di depan. “Aku hanya sedang menghitung berapa banyak yang akan hilang malam ini.” “Hitunganmu selalu akurat,” Atlas tertawa singkat, pahit. “Tapi untuk sekali ini, aku berharap kau salah.” “Terlalu banyak nyawa bergantung pada kesalahan,” balas Alana. “Belok ke kanan. Terowongan sanitasi itu.” “Kau yakin itu masih bisa dilewati?” Atlas menurunkan kecepatan. “Tempat itu sudah mati puluhan tahun.” “Justru karena itu,” jawab Alana. “Yang mati tidak diawasi.” Mobil mereka meluncur masuk ke lorong beton sempit. Suara tembakan memantul, lalu menghilang. Hanya suara mesin dan napas mereka yang tersisa. Atlas menghela napas panjang. “Kita lolos untuk sementara. Tapi jangan bohongi aku. Mereka tidak akan berhenti.” “Aku tidak berniat membohongimu,” k