Home / Zaman Kuno / The Prince's Dead Mistress / Menembus Fajar ke Weizendorf

Share

Menembus Fajar ke Weizendorf

Author: Aster Chronos
last update publish date: 2026-09-10 21:21:52

Mara memajukan langkah cepat. "Tunggu! Aku perlu bicara dengan Alaric—maksudku, Yang Mulia Putra Mahkota. Ini salah paham!"

Ksatria yang membawanya acuh tak acuh dan membanting pintu dengan keras, disusul suara gemerincing besi saat selot ganda digeser dan kunci diputar kasar dari luar.

Mara menatap nanar permukaan kayu tebal di hadapannya. Kemudian ia membalikkan badan untuk mengamati keadaan sekitar. Sepi menggantung tebal, menyisakan deru napasnya yang belum stabil.

“Aku benar-benar berdiri di Valedron...”

Malam merayap makin pekat.

Mara menyandarkan tubuhnya di kursi, tak jauh dari jendela yang menghadap langsung ke halaman istana. Obor-obor tampak menyerupai kelip api kecil dari ketinggian menara. Tak menunggu lama, angin yang berhembus menyapu wajahnya mendatangkan kantuk, hingga membuatnya tertidur.

Seketika, derap langkah memecah keheningan kamar. Namun, Mara tak terusik karena matanya terlalu berat untuk dibuka.

Sebuah bayangan jangkung menutupi sorot rembulan yang menembus jendela. Mara mengerjap beberapa kali mengintip dibalik tidurnya.

Alaric berdiri di sana. Jubah perangnya sudah berganti mantel berwarna hitam. Pria itu mengikis jarak, menatap wajah Mara yang setengah terkumpul dari lelap. Tangan Alaric yang terbalut sarung kulit terangkat ragu, jemarinya tertahan di udara, dekat dengan pipi Mara.

Bulu mata Mara bergetar, lalu matanya terbuka sempurna. "A-ada apa?" sontaknya.

Alaric langsung menarik tangannya cepat-cepat. Ia berbalik membelakangi Mara, menatap pelayan yang bersiap di pintu.

"Pakaikan dia baju hangat dan mantel. Antarkan dia ke taman belakang istana sekarang," perintah Alaric.

"Alaric, tunggu!" teriak Mara bangkit dari kursi.

Namun Alaric tetap melanjutkan langkahnya, tanpa menoleh ke Mara yang kebingungan.

Beberapa saat kemudian, Mara sudah terbungkus mantel wol tebal berwarna cokelat dengan tudung yang menutupi kepala. Dua pelayan menuntunnya melewati lorong-lorong yang sepi dan remang, menghindari jalur utama istana hingga tiba di area taman belakang sesuai pesan Alaric.

Di sana, di bawah naungan pohon oak raksasa, Alaric sudah menunggu di samping seekor kuda hitam. Dua ksatria pribadinya—Matthew dan Dietrich—berdiri sigap di sisi lain dengan pedang terikat di pinggang.

"Naik!" titah Alaric singkat.

Belum sempat Mara membalas, Alaric sudah mencengkeram pinggangnya dan mengangkat tubuhnya ke atas pelana kuda, lalu melompat naik di belakangnya.

"Pegangan," bisik Alaric rendah.

Kuda hitam itu melesat cepat, disusul dua kuda lain yang ditunggangi ksatria pribadi Alaric. Dunia di sekitarnya berubah menjadi bayangan kabur.

Mara terpaksa memejamkan mata rapat-rapat, mencengkeram surai kuda dan bagian depan pakaian Alaric demi menahan rasa pening yang menusuk kepala. Seumur hidup baru sekali ia menunggangi kuda; itu pun karena ia kalah melakukan challenge dari teman-temannya saat berlibur.

"Kita mau kemana?" Mara mulai bersuara setelah berhasil mengontrol ketakutannya.

Tidak ada jawaban. Alaric fokus mengendalikan laju kuda tanpa menguapkan sepatah kata pun.

Hanya ada suara sepatu kuda yang berbeturan dengan jalanan berbatu, menembus hutan rimba, hingga melompati celah tebing yang curam. Perjalanan itu berlangsung tanpa henti selama beberapa jam dalam kegelapan malam.

Saat bias jingga fajar mulai menembus ufuk timur, derap langkah kuda akhirnya melambat dan terhenti di depan sebuah mansion.

"Ini daerah Weizendorf," kata Alaric menjawab pertanyaan Mara beberapa waktu lalu dengan sangat terlambat.

"Kenapa kita kemari?"

Alaric melompat turun lebih dulu, lalu menarik Mara turun dari atas pelana. "Bukankah kau meminta untuk dipertemukan dengan orang yang mengenal Elara, Lady?"

Mara mengepalkan tangan di balik lipatan mantelnya.

"Kau gila," bisik Mara menatap Alaric tajam. "Kau membawaku ke orang yang sedang berduka hanya untuk membuktikan kecurigaanmu?"

Alaric tak menjawab. Ia hanya menggerakkan dagunya ke arah pintu jati di hadapan mereka yang mulai berkeriut terbuka.

Seorang pelayan tua yang membukakan pintu mendadak membelalakkan mata saat sorot matanya jatuh pada wajah Mara di balik tudung mantel. Nampan kecil di tangannya terlepas, menghantam lantai dengan dentang nyaring.

"L-Lady Elara...?" bisiknya bergetar, mundur dengan wajah pucat pasi dan berlari terbirit-birit menaiki tangga.

"Countess! Tuan Muda Eron! Lady Elara kembali!"

Mara mematung.

Tak lama kemudian, langkah kaki terburu-buru terdengar dari arah tangga. Seorang wanita anggun berusia sekitar empat puluh delapan tahun bergaun hitam muncul. Air mata telah memenuhi pelupuk matanya.

Tanpa memedulikan apa pun wanita itu memeluk tubuh Mara erat-erat hingga Mara hampir terdorong ke belakang.

"PUTRIKU!"

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • The Prince's Dead Mistress   Rumah

    "Ah benar, maafkan aku... aku lupa bahwa kau pasti punya keluarga. Bagaimana jika kita memberi kabar pada keluargamu terlebih dahulu?" Mara tidak menjawab."Mereka juga akan ditempatkan di tempat yang aman, selama dirimu nanti hidup bersamaku," bisik Isolda lembut, jemarinya yang hangat menyeka bulir air mata yang terus meleleh di pipi gadis itu.Pertanyaan itu justru menghantam dada Mara lebih keras. Isaknya pecah, semakin tak terkendali. Pulang? Bagaimana bisa ia pulang jika dunia tempat ia berpijak sekarang terpisah oleh dimensi dan rentang waktu yang tak masuk akal?Lagi pula, rumah mana yang menunggunya? Di zamannya sendiri pun, ia sudah sebatang kara sejak kakeknya—satu-satunya keluarga yang ia miliki—meninggal dunia tahun lalu.Rasa kehilangan yang belum sepenuhnya sembuh kini berpadu dengan ketidakberdayaan di dunia asing ini, menggulung Mara dalam rasa sepi yang menghimpit dada."Countess, biarkan saya yang mengantarnya ke kamar," suara Alaric akhirnya memecah keheningan di r

  • The Prince's Dead Mistress   Aku Hanya Ingin Pulang

    Countess Isolda merangkul bahu Mara yang masih gemetar basah kuyup, menuntun gadis itu berbalik memunggungi takhta. Mara sempat melirik ke belakang untuk sekilas—mendapati Adelaide menatapnya dengan rahang mengeras dan mata yang dipenuhi kebencian.Di luar halaman aula istana, sebuah kereta kuda telah menunggu dan membentangkan daun pintunya, menyambut Mara dan Countess Isolda. Dua perempuan itu lantas masuk, menduduki kursi berpelapis beludru di dalamnya.Situasi mendadak hening dan canggung. Sejak kereta kuda meninggalkan istana, tak ada yang memulai pembicaraan, dua perempuan itu sibuk dengan pikiran masing-masing, membiarkan rasa itu berlarut hingga kereta kuda berhenti di depan sebuah mansion.Mansion itu dikelilingi hamparan mawar putih di tamannya. Kelopak-kelopak yang berguguran tertiup angin sore berserakan di sepanjang jalan, membuat ilusi sebuah bentangan altar pernikahan.Alaric yang sejak tadi mengiringi perjalanan mereka dari atas kuda hitamnya melompat turun dengan gerak

  • The Prince's Dead Mistress   Peti Mati di Tengah Aula Istana

    Countess Isolda Veyne berlari menerobos barisan prajurit, disusul oleh Alaric yang melangkah lebar dengan pedang berhulu rubi di tangannya.Kaisar Aurelian yang melihat kedatangan mereka perlahan menyunggingkan senyum sinis. "Ah, putraku yang beberapa waktu lalu kembali dari medan perang membawa kemenangan dan sulit sekali ditemui... akhirnya muncul juga," sambutnya seraya bertepuk tangan pelan.Alaric sama sekali tidak membalas sapaan itu. Tanpa mengalihkan pandangan, ia melangkah lebar menghampiri Mara yang masih berlutut di lantai.Dengan satu tebasan pedang, ia memotong tali yang mengikat kedua tangan Mara ke belakang, lalu membantunya berdiri. Rahang Alaric mengeras seketika saat mendapati sudut bibir gadis itu bengkak dan mengeluarkan amis darah segar.Adelaide yang melihat pemandangan itu menggigit bibirnya kesal, matanya menyala penuh dengki.Aurelian menyipitkan mata, kembali bersuara dingin, "Untuk seorang selir yang berzina, kau memperlakukannya terlalu baik, Putraku."Tat

  • The Prince's Dead Mistress   Berhadapan Dengan Ayah Sang Tiran

    Kehidupan istana dimulai sejak fajar menyingsing. Lonceng istana berbunyi, diiringi para pelayan yang berpacu waktu menyiapkan hidangan untuk sarapan, dan melayani majikan mereka untuk bersiap memulai hari. Alaric telah meninggalkan istana sejak subuh bersama ksatria pribadinya. Sementara itu, Mara memulai harinya dengan duduk bersantai di meja kerja Alaric.Rasa bosan mendera. Jemarinya sibuk melipat lembaran kertas menjadi origami berbentuk burung, sampai seorang pelayan masuk membawa nampan berisi sarapan."Silakan, Lady," ujar pelayan itu seraya menundukkan kepala.Mara menatap wajah pelayan itu sejenak. Sorot matanya terasa asing—jelas bukan pelayan yang kemarin memandikannya. Namun, enggan memperpanjang curiga, ia mengabaikannya dan meraih sendok untuk menyantap makanan.Pelayan itu bergeser ke arah jendela di belakang Mara, menata tirai yang terkulai.Tanpa peringatan, sebuah kain tebal berbau apak mendadak menyergap dari belakang, membekap rapat mulut dan hidung Mara!"Diam k

  • The Prince's Dead Mistress   Rencana Kudeta

    Setelah pemeriksaan selesai, Mara, Alaric, dan Dokter Gordon menuju ruang tengah mansion untuk mengabarkan hasil otopsi."Hasil pemeriksaan organ dalam membuktikan tuduhan perzinaan itu sama sekali tidak benar," ujar Dokter Gordon.Pria tua itu membenarkan posisi kacamatanya, menatap Countess Isolda dan Eron bergantian."Saya tidak menemukan sisa cairan sperma di dalam rahim Lady Elara. Bahkan... kondisi jaringan organ reproduksinya membuktikan bahwa beliau sama sekali tidak melakukan hubungan seksual dalam waktu dekat sebelum eksekusi."Countess Isolda langsung menangis seraya memeluk Eron erat-erat. Eron menepuk punggung ibunya dengan rahang berkilat menahan murka."Bukan hanya itu. Kami juga menemukan material asing yang tersumbat di bawah kuku-kuku Lady Elara," lanjut Mara seraya menunjukkan sampel di dalam plastik tersebut ke hadapan semua orang.Eron mengepalkan tangan hingga buku-buku jarinya memutih."Ini adalah campuran cat dan tanah liat merah. Dokter Gordon mengonfirmasi ba

  • The Prince's Dead Mistress   Jejak Merah di Bawah Kuku

    "Sebelum kita menyentuh jasadnya, kalian semua harus menggunakan pelindung," potong Mara cepat ketika Alaric dan Eron bersiap melangkah keluar dari mansion."Maksudku… apakah ada kain linen tebal di rumah ini? Bersentuhan langsung dengan jenazah yang sudah membusuk tanpa pelindung sangat berbahaya.""Katakan apa saja kebutuhanmu, Lady. Aku akan meminta para pelayan menyiapkannya sekarang juga," ujar Countess Isolda yang berdiri di sebelahnya.Mara kemudian menyebutkan satu persatu kebutuhan untuk melindungi diri dalam proses pengangkatan jenazah, yang bisa ditemukan di era Valedron.Begitu barang-barang itu dibawa, ia bergerak cepat memotong dan mengikat kain hingga menyerupai jubah pelindung."Pakai ini, Yang Mulia," ujar Mara seraya memakaikan kain itu ke tubuh Alaric. Pelayan membantu memasangkannya pada Eron dan Dietrich.Mereka melaju menunggangi kuda menuju lereng pegunungan terpencil di belakang wilayah keluarga Veyne. Hanya butuh beberapa menit sampai mereka tiba di makam ters

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status