Se connecter
“Ha-hantu! A-Ada hantu Lady Elara!”
Jeritan melengking seorang wanita membuat Mara menoleh. Ia mengerutkan dahi mendengar dialek kuno yang setahun terakhir begitu akrab baginya dari ekspedisi Kerajaan Valedron.
Seingatnya, beberapa saat lalu ia masih berdiri di laboratorium, menatap lukisan wanita bergaun biru. Namun kanvas itu mendadak bergetar, memuntahkan dedaunan kuning yang menelan tubuhnya.
Mara mematung. Kerumunan orang berpakaian ala kerajaan kuno berbaris menuju kastil yang menjulang megah. Para wanitanya mengenakan gaun beludru tebal dengan kerah renda yang menopang leher, sementara para pria tampil tegap dalam balutan mantel berat berlapis bulu.
"Panggil penjaga!" teriak seseorang.
Dua prajurit berzirah menerobos kerumunan dengan tombak terhunus. Kerumunan berhamburan panik. Tanpa berpikir panjang, Mara berlari menerobos masuk ke koridor kastil.
Derap sepatu bot prajurit memantul bising di dinding. Mara berbelok asal demi memutus jarak. Di ujung koridor, ia melihat pintu ruangan yang sedikit terbuka. Mara langsung menyusup masuk, merapatkan pintu, lalu menahan napasnya yang memburu.
Mara menghela napas lega begitu langkah prajurit yang mengejarnya menjauh. Ia merosot di balik pintu, memeluk lututnya. Jemarinya yang gemetar mencengkeram kain jas laboratorium, satu-satunya hal yang familiar baginya.
Udara di sekitarnya terasa asing, didominasi aroma minyak tanah dan kayu lapuk yang menusuk hidung; menegaskan bahwa saat ini bukanlah mimpi.
Mara meraih senter kecil di saku jas labnya dan mengedarkan pandangan. Sorot cahaya senternya terhenti pada kanvas raksasa di dinding utama—kain penutupnya tersingkap kasar, memamerkan sosok wanita bergaun biru malam.
“Lady Elara...” bisik Mara, melangkah mendekat seolah tersihir.
Namun seketika langkah Mara terhenti saat sebuah anak panah melesat menembus udara dan menancap keras di dinding. Ia sangat terkejut sampai senter di tangannya terlepas dan menggelinding di lantai.
Pintu dihantam dari luar. Cahaya jingga sore membingkai siluet pria tegap berpakaian mantel dengan sulaman benang perak di pinggirnya. Rambut keemasannya jatuh berantakan di dahi, dan sebilah pedang berhulu rubi sudah tergenggam erat di tangannya.
Pria itu melangkah cepat melintasi peti-peti tua, lalu menghentikan langkah tepat di hadapan Mara.
Bukannya menebas, ia menjatuhkan pedang di tangannya dengan mata membelalak lebar. “Elara, kau... masih hidup?” ujar pria itu dengan suara parau lalu merengkuh tubuh gadis di depannya dengan erat.
Mara bisa merasakan naik-turun napas yang memburu dari pria itu. Pelukan itu begitu merengkuh mendesak, seolah ia baru saja menemukan sesuatu yang hilang dari alam kubur.
“Maaf Tuan, lepaskan aku! Tuan salah orang, namaku bukan Elara,” seru Mara sambil mendorong dada bidang pria asing bermata biru itu dengan keras.
"Apa maksudmu kau bukan Elara?" balas pria itu dengan suara parau.
Tanpa memberi kesempatan bagi Mara untuk menjawab, pria itu menarik tangannya dengan cengkeraman kuat, menyeretnya hingga berdiri tepat di depan cermin tembaga besar di sudut ruangan.
"Tatap cermin itu!" gertaknya rendah di samping telinga Mara. Tangannya yang lain naik melingkari bahu Mara, mengunci geraknya agar tetap menghadap ke depan.
"Lihat baik-baik! Bintik hitam di sudut mata kiri ini, garis rahang ini, bahkan caramu menatap... siapa lagi yang punya wajah ini kalau bukan Elara-ku, Lady?"
Mara terengah, menatap pantulan mereka berdua di dalam cermin. “Tidak ada yang berubah, ini wajahku,” kata Mara sambil menoleh, hingga memangkas jarak wajah antara mereka berdua.
Pria itu menaikkan alis. “Jika ada yang mengancammu sampai kamu berbuat seperti ini, beritahu padaku Elara, aku akan selalu ada dipihakmu.”
Mara menghembuskan napas kasar. Elara yang ia tahu yaitu selir Putra Mahkota Valedron yang dieksekusi karena skandal perzinaan dengan Pangeran Lucien—sosok dalam lukisan yang ia teliti enam bulan terakhir.
“Ka-kalau begitu…” gumam Mara sambil berjalan mundur. “Kau Alaric?”
Alaric melangkah maju mendekati Mara.
“Berhenti disitu!” teriak Mara panik sambil menatap sekelilingnya. “I-ini dimana?”
“Apa kau begitu mendambakan Lucien hingga kau bahkan bersandiwara hanya untuk menghapus jejakmu dengannya?” tuturnya penuh dengan penekanan.
Mara mengerutkan dahinya. “Bersandiwara? Apa keuntungan bagiku melakukan itu? Aku benar-benar bukan gadis yang kau maksud, dan… aku tidak tahu bagaimana aku sampai disini.”
“Cukup, Elara!” potong Alaric.
“Aku bahkan memejamkan mata saat kau menghabiskan waktu bersamanya di ruang melukis. Tapi jika kau pikir aku akan membiarkanmu lari sekali lagi dengan berpura-pura menjadi orang lain... kau salah besar.”
“Demi Tuhan, aku berbicara jujur! Jika memang kau begitu tidak percaya dan curiga lebih baik langsung pertemukan aku ke orang-orang yang kamu sangka ada di belakangku, atau pertemukan aku dengan orang yang benar-benar kenal Elara. Pelayan pribadinya, sahabat, keluarganya, siapa pun!” ucap Mara frustrasi.
"Kau pikir aku butuh orang lain untuk mengenali istriku sendiri?" timpal Alaric seraya menggertakkan gigi, "Aku yang tidur di sampingnya setiap malam selama tiga tahun. Aku–“
“Lalu, apa hasil dari tinggal bersama selama tiga tahun itu? Mustahil ada orang yang sama persis kepribadiannya, bahkan anak kembar pasti memiliki karakteristik yang berbeda.”
“Matthew! Bawa dia ke kamar menara paviliun timur!”
***
Alaric yang mendengar pertanyaan itu mendadak membeku, raut wajahnya tak kalah kaget. "Hubungan? Bisa kamu jelaskan, Mara?"Mara maju dua langkah mendekat ke arah Alaric. Jarak di antara mereka terkikis, menyisakan napas yang bertaut di tengah keheningan malam."'Manfaatkanlah aku sesukamu.' Apa itu tawaran, Yang Mulia?" ujar Mara, suaranya masih parau bekas tangis namun mengeras oleh sesuatu yang baru saja mengendap jernih di kepalanya.Alaric mengerutkan dahi. "Itu memang tawaran.""Bukan," potong Mara cepat. "Itu beban yang kau lempar padaku."Kesunyian menyergap koridor. Cahaya lilin yang bergoyang pelan menciptakan bayangan panjang di wajah Alaric—bayangan yang menyembunyikan sebagian ekspresinya, namun tidak cukup untuk menutupi rahangnya yang mengeras."Kau merasa bersalah, dan alih-alih bertanya apa yang sebenarnya aku butuhkan, kau malah menyerahkan dirimu sendiri sebagai... apa, tebusan? Supaya kau bisa berhenti merasa bersalah begitu aku 'mengambil' sesuatu darimu?" Mara me
"Ah benar, maafkan aku... aku lupa bahwa kau pasti punya keluarga. Bagaimana jika kita memberi kabar pada keluargamu terlebih dahulu?" Mara tidak menjawab."Mereka juga akan ditempatkan di tempat yang aman, selama dirimu nanti hidup bersamaku," bisik Isolda lembut, jemarinya yang hangat menyeka bulir air mata yang terus meleleh di pipi gadis itu.Pertanyaan itu justru menghantam dada Mara lebih keras. Isaknya pecah, semakin tak terkendali. Pulang? Bagaimana bisa ia pulang jika dunia tempat ia berpijak sekarang terpisah oleh dimensi dan rentang waktu yang tak masuk akal?Lagi pula, rumah mana yang menunggunya? Di zamannya sendiri pun, ia sudah sebatang kara sejak kakeknya—satu-satunya keluarga yang ia miliki—meninggal dunia tahun lalu.Rasa kehilangan yang belum sepenuhnya sembuh kini berpadu dengan ketidakberdayaan di dunia asing ini, menggulung Mara dalam rasa sepi yang menghimpit dada."Countess, biarkan saya yang mengantarnya ke kamar," suara Alaric akhirnya memecah keheningan di r
Countess Isolda merangkul bahu Mara yang masih gemetar basah kuyup, menuntun gadis itu berbalik memunggungi takhta. Mara sempat melirik ke belakang untuk sekilas—mendapati Adelaide menatapnya dengan rahang mengeras dan mata yang dipenuhi kebencian.Di luar halaman aula istana, sebuah kereta kuda telah menunggu dan membentangkan daun pintunya, menyambut Mara dan Countess Isolda. Dua perempuan itu lantas masuk, menduduki kursi berpelapis beludru di dalamnya.Situasi mendadak hening dan canggung. Sejak kereta kuda meninggalkan istana, tak ada yang memulai pembicaraan, dua perempuan itu sibuk dengan pikiran masing-masing, membiarkan rasa itu berlarut hingga kereta kuda berhenti di depan sebuah mansion.Mansion itu dikelilingi hamparan mawar putih di tamannya. Kelopak-kelopak yang berguguran tertiup angin sore berserakan di sepanjang jalan, membuat ilusi sebuah bentangan altar pernikahan.Alaric yang sejak tadi mengiringi perjalanan mereka dari atas kuda hitamnya melompat turun dengan gerak
Countess Isolda Veyne berlari menerobos barisan prajurit, disusul oleh Alaric yang melangkah lebar dengan pedang berhulu rubi di tangannya.Kaisar Aurelian yang melihat kedatangan mereka perlahan menyunggingkan senyum sinis. "Ah, putraku yang beberapa waktu lalu kembali dari medan perang membawa kemenangan dan sulit sekali ditemui... akhirnya muncul juga," sambutnya seraya bertepuk tangan pelan.Alaric sama sekali tidak membalas sapaan itu. Tanpa mengalihkan pandangan, ia melangkah lebar menghampiri Mara yang masih berlutut di lantai.Dengan satu tebasan pedang, ia memotong tali yang mengikat kedua tangan Mara ke belakang, lalu membantunya berdiri. Rahang Alaric mengeras seketika saat mendapati sudut bibir gadis itu bengkak dan mengeluarkan amis darah segar.Adelaide yang melihat pemandangan itu menggigit bibirnya kesal, matanya menyala penuh dengki.Aurelian menyipitkan mata, kembali bersuara dingin, "Untuk seorang selir yang berzina, kau memperlakukannya terlalu baik, Putraku."Tat
Kehidupan istana dimulai sejak fajar menyingsing. Lonceng istana berbunyi, diiringi para pelayan yang berpacu waktu menyiapkan hidangan untuk sarapan, dan melayani majikan mereka untuk bersiap memulai hari. Alaric telah meninggalkan istana sejak subuh bersama ksatria pribadinya. Sementara itu, Mara memulai harinya dengan duduk bersantai di meja kerja Alaric.Rasa bosan mendera. Jemarinya sibuk melipat lembaran kertas menjadi origami berbentuk burung, sampai seorang pelayan masuk membawa nampan berisi sarapan."Silakan, Lady," ujar pelayan itu seraya menundukkan kepala.Mara menatap wajah pelayan itu sejenak. Sorot matanya terasa asing—jelas bukan pelayan yang kemarin memandikannya. Namun, enggan memperpanjang curiga, ia mengabaikannya dan meraih sendok untuk menyantap makanan.Pelayan itu bergeser ke arah jendela di belakang Mara, menata tirai yang terkulai.Tanpa peringatan, sebuah kain tebal berbau apak mendadak menyergap dari belakang, membekap rapat mulut dan hidung Mara!"Diam k
Setelah pemeriksaan selesai, Mara, Alaric, dan Dokter Gordon menuju ruang tengah mansion untuk mengabarkan hasil otopsi."Hasil pemeriksaan organ dalam membuktikan tuduhan perzinaan itu sama sekali tidak benar," ujar Dokter Gordon.Pria tua itu membenarkan posisi kacamatanya, menatap Countess Isolda dan Eron bergantian."Saya tidak menemukan sisa cairan sperma di dalam rahim Lady Elara. Bahkan... kondisi jaringan organ reproduksinya membuktikan bahwa beliau sama sekali tidak melakukan hubungan seksual dalam waktu dekat sebelum eksekusi."Countess Isolda langsung menangis seraya memeluk Eron erat-erat. Eron menepuk punggung ibunya dengan rahang berkilat menahan murka."Bukan hanya itu. Kami juga menemukan material asing yang tersumbat di bawah kuku-kuku Lady Elara," lanjut Mara seraya menunjukkan sampel di dalam plastik tersebut ke hadapan semua orang.Eron mengepalkan tangan hingga buku-buku jarinya memutih."Ini adalah campuran cat dan tanah liat merah. Dokter Gordon mengonfirmasi ba







