LOGIN“No one can replace you.” Mas mahal ng aking ina ang kanyang ampon na anak kaysa sa akin, pero wala ako pakialam dahil hindi naman ako ang tunay na anak ng mayamang pamilya na ito. Sandali lang ako titira dito dahil sa hiling ng kanilang Lolo. walang sinuman sakanila ang sinaktan ko, pero bakit lagi nila akong ginugulo? Gusto nilang sirain ang pagkatao ko pagtapos nila ako gamitin at palagi akong sinisiraan ng mga kapatid ko. Pasensyahan nalang dahil hindi ako mag papa api.
View MoreMas, ada yang nelpon ne dari Mbak Della."
Ze berteriak di balik pintu kamar mandi mengabarkan suaminya bahwa ada sepupu yang menelpon.
"Diangkat aja bentar, kasih tahu Mas lagi mandi."
"Iya, Mas."
Baru hendak mengangkat, panggilan sudah dimatikan.
Ze kembali menatap foto layar di ponsel Ardi, foto dimana lelaki itu memakai pakaian adat Padang saat pernikahan mereka dahulu.
Dia sudut bibir Ze tersenyum tipis.
Dua tahun menikah, dia jarang sekali membuka ponsel Ardi. Sedikit merasa segan dan percaya saja jika lelaki itu adalah tipe lelaki setia.
Tapi siang ini sesuatu menuntun jemarinya untuk iseng membuka lebih jauh isi ponsel tersebut.
Mulai dari W*, sampai chat di inbox. Ze pernah mendengar cerita temannya dimana dia mendapati suaminya ngechat perempuan melalui inbox.
W******p aman. Sekarang giliran massenger. Beberapa nama perempuan yang ngajak kenalan di inbox tak satupun dibalas oleh Ardi. Ze semakin jauh melihat hingga sampai di nama ke sepuluh.
Seruni.
Sebuah nama yang bagus, wanita itu membuka isi chatnya.
[Aku tidak bisa berpura-pura tidak merindukanmu karena aku selalu melihatmu dalam segala hal yang kulakukan.]
*
Jantung Ze seketika berdegup membaca pesan tersebut.
Benarkah ini pesan yang dikirim Mas Ardi?
Karena masih dipenuhi rasa penasaran, akhirnya Ze kembali menscroll pesan di akun itu mulai dari yang paling atas. Ia melirik ke kamar mandi, dimana percikan air masih terdengar berjatuhan.
Aman.
Ze kembali menatap tanggal terkirim dengan seksama. Ada dua puluh empat pesan yang terkirim ke nomor itu setiap bulannya. Tapi benar-benar tak satupun ada balasan.
Ze menelan ludah, terasa bagai menemukan ranjau di dalam rumah. Debar di dada begitu menyesakkan.
Seluruh pesan ia baca hingga sampai pada pesan yang terkirim bulan lalu.
[Saat ini aku hanya bisa menahan rindu dengan menyibukkan diri akan banyak hal. Tapi percayalah, hati selalu menanti waktu untuk menumpahkan kerinduannya, bersamamu. Seruni, kembalilah. Aku merindukanmu.]
Jemari Ze kini terasa kaku, napas seakan tercekat di tenggorokan.
Tidak mungkin orang lain, semua ini pasti dikirim oleh Mas Ardi sendiri. Tapi siapa Seruni? Apa mereka pernah membina hubungan dan terputus karena perjodohannya denganku? Ya Allah ...
Hati Ze seperti teremas, penyesalan mulai menghujam jantung. Selama ini ia berpikir dirinyalah wanita yang paling beruntung di dunia. Bisa menikahi lelaki tampan, mapan dan sholih. Tapi ternyata, itu semua hanya topeng.
Dua tahun bersama, Aedi selalu terlihat baik. Tapi bagaimana bisa lelaki itu menutupi semuanya?
Mas Ardi selama ini memang baik, tapi aku baru sadar dua tahun bersama, dia tidak pernah menyatakan cinta dan rindunya padaku. Apa mungkin karena semua itu telah lebih dulu dimiliki wanita lain.
Ze menyapu air mata yang jatuh tanpa bisa tertahan. Sakit hati tak tahu harus bagaimana meluapkan.
Tiba-tiba, pintu kamar mandi terbuka. Ze terhenyak dan segera mengembalikan ponsel Ardi ke atas ranjang.
"Lagi ngapain?"
Sang wanita menarik napas, tak mungkin langsung ia pertanyakan soal pesan ini pada Ardi. Ze akan mencari tahu kebenaran fakta itu dan setelahnya baru meminta Ardi untuk jujur.
"Cuma lagi buka-buka status w* aja, Mas," jaw*b Ze sekuat tenaga menjaga intonasi suara agar tidak beriringan dengan isakan.
"Kenapa, lagi bosan?"
Ze mengangguk pelan.
"Kalau bosan ajak Sandy ke mall, belanja. Nanti pakai mobil Mas aja. Mau Mas yang nelpon dia?"
"Nggak usah Mas, nanti aku sendiri yang telpon."
"Yaudah. Oya, Mas mau sekalian ijin ke Bandung selama dua hari."
"Ke Bandung?"
"Iya. Mas ditugaskan untuk ikut pelatihan di sana."
"Kenapa mendadak?"
"Baru dikabari tadi pagi. Kamu nggak papa 'kan tinggal sendiri selama dua hari? Atau kalau kamu takut, nginap di rumah Ibu aja sampai Mas pulang."
Ze menatap lelaki itu, membaca sorot mata yang kini terlihat penuh misteri.
Benarkah dia ke Bandung untuk mengikuti pelatihan? Atau ...
Pikiran buruk seketika merajai jiwa. Ze mencoba menarik napas dalam.
"Mana surat perintah tugasnya Mas, aku boleh lihat?"
Ardi berjalan ke meja lalu mengeluarkan sebuah amplop dari dalam tasnya dan menyerahkan pada Ze. Sang istri meraih benda itu lalu membaca dengan seksama.
Alhamdulillah ada sedikit kelegaan karena sampai sini dia tidak berbohong. Aku kembali menatapnya. Lalu siapa Seruni, Mas?
Ingin sekali Ze menanyakannya, tapi tak jua pita suara mampu bergetar untuk menghasilkan nada.
"Kamu udah percaya 'kan?"
Ze menganggukkan kepala.
"Mau nginap di sini atau di rumah Ibu?" tanya Ardi lagi.
"Aku pulang ke rumah Ibu aja."
"Yaudah, tapi nanti diantar Sandy aja ya. Selalu hati-hati kemanapun kamu mau pergi."
Ardi mengecup kening Ze sekilas, lalu mengenakan pakaian. Lelaki itu tampak begitu gagah, kemeja batik lengan pendek kini telah menyatu dengan tubuh. Sebuah ransel melekat di punggung.
Ardi menarik koper yang telah disiapkannya seorang diri lalu mengajak Ze keluar dari kamar.
Mereka telah sampai di pintu, dan ternyata sebuah mobil memang sudah berhenti di depan pagar.
"Pergi ya, Ze."
Sahabat Mas Ardi yang bernama Agung menyapa dari luar pagar.
"Oke Mas, hati-hati, ya."
Ze melambaikan tangan pada mereka yang kini menjauh pergi. Lalu tubuh dengan lunglai digerakkan untuk kembali ke dalam rumah. Memilih sofa ruang tamu untuk melepas lelah karena memendam gundah sedari tadi.
Bayang pesan di massenger Mas Ardi kembali terlintas. Dadanya seketika kembali terasa sesak.
Tiba-tiba, suara dering ponsel terdengar di bawah bantal sofa. Pikirannya buyar, Ze segera mencari benda tersebut. Betapa terhenyak saat tahu ternyata ponsel Ardi yang tertinggal karena tadi lelaki itu sempat duduk di kursi tamu untuk memakai sepatu. Dan ia sempat membuka ponsel mengetik balasan pesan untuk seseorang.
Mencoba tetap tenang, Ze membuka pesan w* yang masuk untuk kedua kali.
Pesan pertama,
[Hai.]
Pesan kedua,
[Apa kabar, Mas? Maaf ya selama ini aku selalu mengabaikan inbox darimu. Ada beberapa hal yang membuatku harus bersikap seperti itu, terutama jika mengingat status kita yang tak lagi bersama. Kuharap kamu bisa mengerti dan tidak membenciku. Katamu, kau ingin bertemu, baiklah kupenuhi. Temui aku di tempat pertama kita bertemu.]
Seketika tangan Ze bergetar, sedang hati seperti ada yang menusuk kuat hingga darahnya berserakan ke seluruh tubuh. Dia
mencoba menenangkan jiwa dengan menarik napas dalam.
Ze segera melihat akun pengirimnya yang belum diberi nama.
Seruni.
Astaghfirullah, wanita ini lagi? Ternyata inilah wanita yang dirindui suamiku selama ini?
Dua netra Ze membelalak, sedang jantung seolah kehilangan degupnya.
Ya Allah, jika Mas Ardi membaca pesan perempuan ini, mungkinkah mereka akan bertemu di sana?
***
Bersambung
Hindi maiwasang madurog ang puso ni Shaun sa kaswal na paggamit ni Yesha ng salitang "patay." Napatingin siya kay Captain Kim nang may galit, sinisisi ito sa pagbukas ng malungkot na nakaraan ng bata.Ngunit maging si Captain Kim ay tila nahihiya. Nang tingnan niya si Yesha, isang batang mukhang nagdusa ng sobra sa murang edad, hindi niya mapigilang humanga. Sa kabila ng hirap, nagawa nitong panatilihin ang kabutihan sa puso at magpakita ng tapang na bihirang makita kahit sa mga nakatatanda.Sa huli, napagpasyahan ni Captain Kim na huwag nang magtanong pa. Tumayo siya kasama ang kanyang mga tauhan, muling nagpasalamat kay Yesha, at umalis nang may mabigat na damdamin."Anong klaseng mga tao sila? Hindi sila marunong humawak ng kaso, pinaghihinalaan nila ang sarili nilang mga tao." Masama ang loob ni Shaun kay Captain Kim at sa iba pa. Habang hinihila si Yesha pabalik sa bahay, patuloy siyang nagrereklamo. Pagtingin niya sa payat na pulso ni Yesha, agad niyang inutusan ang kusina na
Gusto ni Andi na makontrol niya si Yesha, kahit ayaw man niyang aminin ito nang diretso. Alam niyang kailangang manatili si Yesha bilang "anak" ng pamilya Moon upang mapanatili ang lihim na kanilang itinatago.Bago umalis, iniabot ni William ang kanyang number kay Yesha. "Kung may kailangan ka, tawagan mo ako." Tumango si Yesha at inilagay ang papel sa kanyang bulsa. Lagi niyang pinapahalagahan ang kabutihang ipinapakita sa kanya ni William.Nang makabalik sa bahay, si Shaun na lang ang sumama kay Yesha. Nagpaalam na sila dahil si Angel ay maiiwan sa hospital para sa karagdagang pagsusuri.Matapos makapag-shower ang dalawa, biglang dumating ang mga pulis upang kunin ang kanilang pahayag.Sa Sala ng pamilya Moon Bukod sa captain at taga record ng sasabihin ng dalawa bata, higit sa isang dosenang pulis ang nakatayo sa sala.Sa tapat ng sofa, nakakunot-noo si Shaun habang nagtatanong, "Kailangan ba talaga ng ganito karaming tao para sa pagkuha ng salaysay?" Kung hindi mo alam, maiis
Mabilis na kumilos si Yesha. Ang maliit niyang katawan ay parang hangin na dumaan sa gilid at likuran ng lalaki. Sa isang kisap ng malamig na liwanag mula sa kanyang kamay, mabilis niyang tinaga ang pulso ng lalaki. "Agh!" Kasabay ng sigaw, nalaglag ang baril mula sa kamay ng lalaki. Bumagsak siya sa sahig at nangisay. Napansin niyang may paparating na grupo ng mga tao. Isang bakas ng kawalang-pag-asa ang lumitaw sa kanyang mga mata. Hindi niya alam kung saan nanggaling ang lakas na ginamit niya upang hawakan ang gatilyo ng baril gamit ang kabilang kamay at itutok ito sa kanyang tiyan. Nang makita ang eksena na iyon, sumigaw ang mga pulis na nasa ilang metro ang layo "Lahat, dumapa!" Agad na dumapa ang lahat ng papalapit, nakatakip sa ulo ang kanilang mga kamay. Dahil hindi nila alam kung gaano kalakas ang posibleng pagsabog, ang pinakamadali na paraan para mapanatili ang kaligtasan ay ang pagdapa ng hindi dumami ang sugatan.Ngunit sa susunod na sandali, narinig ng lahat ang is
Si William at Shaun ay yumuko at tumingin sa ibaba, ngunit ang maliit na katawan niya ay mabilis nang nagtago. Hindi lang ang lalaking may baril, kundi pati na rin ang mga tao sa paligid ay napansin ang kanyang presensya. Tumitig sila sa direksyon na iyon na may pagtataka, hindi alam kung ano ang nangyayari.Nakita ni Shaun si Yesha na nakaupo, maingat na gumagapang sa gitna ng mga tao, papalapit kina Mrs.Moon at Angel, dahan-dahan. Bigla niyang hinawakan ang braso ni William at nagsalita nang may kaba, “tama ba tong ginawa ko? Kababalik lang niya…”Alam niyang ang kanyang ama ay pera lamang ang mahalaga, at ang kanyang ina ay tiyak na mas gusto si Angel. Para sa kanya, ang batang ito ay bigla lamang niyang isinama sa lakad nang walang plano. “Sulit ba ang salitang ‘kapatid’ para sa panganib na ito?” tanong niya sa sarili.Lumingon si William upang tingnan siya ngunit hindi niya masabi na hindi iyon kanilang tunay na pamilya kundi nagpapanggap lamang. Ngunit sa sandaling ito, iisa l
Maligayang pagdating sa aming mundo ng katha - Goodnovel. Kung gusto mo ang nobelang ito o ikaw ay isang idealista,nais tuklasin ang isang perpektong mundo, at gusto mo ring maging isang manunulat ng nobela online upang kumita, maaari kang sumali sa aming pamilya upang magbasa o lumikha ng iba't ibang uri ng mga libro, tulad ng romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel at iba pa. Kung ikaw ay isang mambabasa, ang mga magandang nobela ay maaaring mapili dito. Kung ikaw ay isang may-akda, maaari kang makakuha ng higit na inspirasyon mula sa iba para makalikha ng mas makikinang na mga gawa, at higit pa, ang iyong mga gawa sa aming platform ay mas maraming pansin at makakakuha ng higit na paghanga mula sa mga mambabasa.