LOGINAku langsung membungkam bibir mungilnya dengan lumatan yang semakin panas, dalam, dan menuntut. Tidak ada lagi ruang untuk keraguan. Tiara membalasnya dengan sisa-sisa tenaganya, mengikuti irama ciumanku yang kian menggebu.
Kubenamkan wajahku kembali ke ceruk lehernya yang kini basah oleh keringat tipis. Sambil terus menciuminya, tanganku membimbing tubuh molek Tiara untuk berbaring miring, membelakangiku. Dalam posisi side lying back ini, aku merapatkan dadaku yang bidang ke p"Tapi kamu harus tetap makan makanan yang bergizi, Tiara," peringatku tegas."Habis ini, Bang. Aku mau ambil nasi capcai dan ikan dorang goreng tepung nanti. Abang juga makan, dong."Kami akhirnya kembali ke meja setelah mengambil makanan masing-masing. Aku duduk di hadapannya, memperhatikan Tiara yang mulai menyantap nasi dengan lahap, melupakan sejenak kombinasi semangka saus tomatnya yang aneh tadi.Suasana lounge yang tenang menemani makan siang kami, namun pikiranku tetap tidak bisa lepas dari urusan Rully Sondang di Pekanbaru. Kunyahanku terasa hambar karena menahan dongkol.Di sela suapannya, Tiara tiba-tiba mendongak dan menatapku penuh selidik."Bang, masalah di Pekanbaru apa sih? Ada masalah dengan pembukaan lahan? Atau konflik tapal batas sama masyarakat adat lagi?"Aku meletakkan sendok, lalu meminum air putih untuk menetralkan keteganganku. Sorot mataku menatapnya lurus, memastikan tidak ada kepanikan yang lolos
Pagi harinya setelah sarapan, kami langsung menuju rumah sakit terdekat dari hotel. Untung saja malam sebelumnya aku sudah mendaftar secara online, jadi antrean kami tidak terlalu panjang.Di dalam ruangan yang sejuk itu, Tiara tampak gugup saat diminta berbaring di brankar. Dokter kandungan dia seorang wanita paruh baya yang ramah dan mulai mengoleskan gel dingin di perut rata Tiara, lalu menempelkan stik USG di sana. Mataku dan mata Tiara kompak tertuju pada layar monitor hitam-putih di samping brankar."Kita lihat sama-sama ya, Pak, Bu," ujar dokter sambil menggerakkan alatnya dengan teliti.Dokter tersenyum dan menunjuk sebuah titik kecil berbentuk kantung di layar. "Nah, ini dia. Bisa dilihat ya? Ini adalah kantung kehamilannya. Masih sangat kecil, tapi posisinya bagus dan menempel dengan sempurna di dinding rahim."Tiara langsung menoleh menatapku dengan haru. "Bang..." bisiknya lirih, menggenggam tanganku erat.Aku membalas ge
"Abang..." panggilnya sembari mengeratkan pelukan pada tubuh polos kami yang terbungkus selimut hotel."Hmmm...?""Seharusnya bulan ini aku haid. Apa aku hamil ya, Bang? Kita sudah menikah dua bulan. Tapi, aku belum cek sih," bisiknya ragu, ada binar harapan sekaligus kecemasan di sepasang matanya.Mendengar penuturannya, kantukku yang baru saja mau datang seketika menguap. Menikah dua bulan dan dia terlambat bulan? Otak bisnis dan logika bekuku langsung berputar cepat, menimbang segala kemungkinan.Seorang pewaris dari rahim wanita yang sepenuhnya tunduk padaku jelas merupakan investasi masa depan yang sempurna.Aku merenggangkan pelukan sedikit agar bisa menatap wajahnya dengan jelas. Kuusap pipinya yang mendadak merona merah dengan ibu jari, lalu tersenyum tipis—sebuah senyuman penuh kepuasan yang jarang kuperlihatkan."Besok kita ke dokter kandungan terbaik di kota ini. Nggak usah pakai tespek murahan," kataku tegas, tan
Ciuman di antara kami tak bisa terelakkan lagi. Telapak tangan kiriku mencengkeram pinggul rampingnya, sementara tangan kananku merayap naik, meremas dadanya yang terasa semakin padat dan penuh sejak dia kuperistri—buah dari sentuhanku yang tak pernah absen setiap malam. Remasan yang awalnya lembut mulai berubah kasar dan menuntut, memicu gairahnya hingga memuncak. Aku memuntir dan mempermainkan puting dadanya yang membusung keras di balik kain tipis baju tidurnya, membuat tubuh Tiara seketika menegang. "Ahhh... Abanghh..." Tiara mendesah, meremas bahu kekarku erat saat kepalanya terdongak ke belakang. Deru napasnya memburu, memohon penyatuan yang lebih dalam. "Apa sakit, Sayang?" gumamku. Pertanyaan bodoh sengaja kulontarkan pada istri mudaku ini. Wanita yang kuambil dari kalangan bawah dengan status perawan. Dulu aku yang mengajarinya bagaimana menikmati surga dunia, menuntunnya dari yang sama sekali tidak tahu
Malam itu, Karina yang sedang menggulir media sosialnya mendadak tercekat dan menjatuhkan ponselnya."Ada apa, Karin?" tanya Rendra.Ponsel itu jatuh tepat di depan meja Tiara. Tiara menatap layar yang menyala dengan mata membelalak dan jantung yang mendadak berdegup kencang karena syok."Ada apa, Sayang?" Aku menatap istriku yang memungut ponsel Karin."Itu, Bang..." Tiara menyerahkannya dengan tangan gemetar.Video itu menampilkan Tiara yang sedang menari seksi saat shimmy chest. Sebuah video amatir. Tiara memang memang menari demi mencari uang untuk nakan bukan menjual diri. Namun, narasi di unggahan tersebut menyudutkannya seolah dia wanita nakal. Bonar memang sudah menerima masa lalunya, karena itulah pria itu menikahinya dengan status mulia sebagai istri sah.Karina langsung tersenyum tipis, sementara Rendra mendadak salah tingkah dan berdeham canggung. Atmosfer di meja makan restoran Menteng ini seketika berubah mence
Karena waktu pertemuanku dengan Rendra masih lama, aku dan Tiara kembali ke hotel dengan mendorong koper berisi barang-barang kami.Sambil meletakkan kopi dan jajanan kekinian yang kami beli di booth mal."Bang, kalau kosnya nanti sudah menghasilkan, aku mau bergabung dengan kemitraan kopi di dekat rumah saja, boleh enggak, Bang?"Aku menyesap kopiku sejenak lalu menatapnya santai. "Boleh saja kalau kamu mau belajar bisnis, tapi biar Abang yang modalin, tidak perlu tunggu hasil kos-kosan.""Satu-satu dulu, Bang. Aku enggak enak sama Teh Sari. Ngomong-ngomong, Abang berikan aset juga tidak ke Teteh? Ya, supaya tidak ada iri dengki saja."Aku menghentikan sesapan kopiku, lalu menatap Tiara lekat-lekat. Pertanyaannya yang tiba-tiba membawa nama istri pertamaku membuat suasana mendadak agak canggung, namun aku tahu dia hanya ingin memastikan posisinya aman."Sari sudah punya bagiannya sendiri, rumah dan ruko di Pekanbaru it
Aku kembali ke kursi kebesaranku, menyandarkan punggung dengan santai sambil menyesap wiski. Bunyi denting es batu dalam gelas kristal menjadi satu-satunya musik di ruangan ini. Mataku tak lepas darinya, menatap intens setiap jengkal kulitnya yang kini memerah karena malu.Tiara berdiri mematung di
Tanganku terangkat, jemariku yang kasar mengusap pelan pundaknya yang terbuka, turun perlahan mengikuti garis tulang selangkangnya. "Bayangkan, Tiara... malam ini saja kau menolak, besok bapakmu mungkin sudah membusuk di sel kabupaten, dan kau akan berakhir di ranjang pengap para aki-aki itu."Aku
Sadikin menyulutkan korek ke ujung cerutuku. Asap tebal langsung mengepul, aromanya berat menyengat di ruangan yang remang itu. Aku duduk santai, menyilangkan satu kaki di atas paha. Aku selalu berbaju serba hitam, kontras dengan kulitku yang sawo matang khas orang lapangan yang sering terpa
Alert! Seluruh nama tokoh, alur cerita, serta latar tempat dalam kisah ini merupakan karya fiksi. Apabila terdapat kesamaan nama, karakter, peristiwa, maupun lokasi dengan kehidupan nyata, hal tersebut semata-mata merupakan kebetulan dan tidak disengaja. Cerita ini ditulis untuk tujuan hiburan da







