Masuk"Namanya juga pengantin baru, Tiara. Abang kan sudah beberapa tahun ini tidak bisa ngapa-ngapain sama Teh Sari," ucapku mencari pembenaran sambil melilitkan handuk di tubuhnya."Tapi Abang kan pernah tidur juga sama temanku."Langkahku seketika terhenti mendengarnya. Jantungku berdesir agak aneh, sedikit terkejut karena dia mengetahui kebiasaanku sebelum kami menikah. Sifat defensifku sebagai pria seketika bangkit, berusaha mengingat-ingat siapa saja wanita yang pernah singgah di ranjangku.Aku menatapnya tajam, memastikan ekspresinya. "Temanmu yang mana?"Tiara mencebik sengit. "Namanya Karmila... lalu Farida dan Nisa. Mereka juga penari. Mereka bangga banget lho kalau Abang menyewanya. Mana pamer karena Abang kasih uang banyak, karena aku sering menolak Abang."Aku tertawa hambar, mencoba mencairkan suasana yang mendadak canggung sambil melangkah menuju lemari plastik untuk mengambil baju tidur untuknya. Selama Tiara mengeringkan b
Tiara merapatkan selimut kusam itu ke dadanya, matanya bergerak panik menatap ke arah pintu gubuk. "Takut, Bang. Kalau malam-malam begini ada ular atau kalajengking di telaga bagaimana? Apa tidak bisa besok pagi saja?" Ia menggelengkan kepalanya kuat-kuat. "Kita bersihkan badan di kamar mandi gubuk saja ya, Bang. Aku benar-benar takut kalau ke luar malam-malam begini." Aku terkekeh rendah melihat wajah ketakutannya yang luar biasa menggemaskan. Aku melangkah kembali ke tepi ranjang, menunduk untuk mencium sekilas puncak kepalanya yang wangi. "Ya sudah, kalau begitu kita bersihkan badan di kamar mandi gubuk saja. Tapi..." aku sengaja menggantung kalimatku, melemparkan senyum penuh arti yang membuat matanya menyipit curiga. "...jangan harap Abang akan melepaskanmu begitu saja di dalam sana, Sayang," bisikku nakal sembari langsung menyibak selimutnya dan menyusupkan kedua tanganku di bawah tubuh polosnya, menggendongnya dalam dekapan layakny
"Enak kan rasanya?" tanyaku setengah berbisik, memandangi wajahnya yang tampak begitu cantik dan merona dalam kegelapan yang temaram. Tiara menoleh sedikit, matanya yang sayu mengerjap pelan. "Kenapa tanya begitu? Aku kan jadi malu, Bang!" sahutnya sambil pura-pura cemberut, meskipun tangannya melingkar di pinggangku, memelukku erat seolah takut aku akan pergi. "Punya Abang enak, kan? Sampai membuatmu keluar dua kali dan banjir begitu," godaku lagi, sengaja ingin melihat reaksi malunya yang menggemaskan. Tiara mencubit dada bidangku pelan—cubitan yang sama sekali tidak terasa sakit—lalu menyembunyikan wajahnya yang panas di ketiakku, menghirup aroma tubuh maskulinku yang bercampur peluh gairah. "Iya... punya Abang enak sekali, sampai membuat seluruh tulangku rasanya lemas." Mendengar ucapannya, senyum di wajahku perlahan memudar, digantikan oleh kilasan masa la
Setiap gesekan yang terjadi di antara kulit kami terasa seperti sengatan listrik yang merayap ke seluruh syaraf. Tubuhnya menegang kaku, mengencang dalam ritme yang kami ciptakan bersama di atas ranjang kapuk tua ini. "Abang, rasanya..." kalimatnya menggantung di udara, terputus oleh napasnya yang kian memburu. "Apa rasanya, Sayang?" tanyaku dengan suara serak yang parau, nyaris berupa bisikan di telinganya. Aku mengangkat tanganku, menyeka butiran keringat yang membasahi dahi dan pelipisnya dengan sangat lembut, sementara milikku masih bersarang dengan kehangatan penuh di dalam dirinya, berdenyut seiring dengan detak jantung kami yang berkejaran. "Rasanya... geli, nikmat, dan sangat penuh, Bang," lirihnya dengan kelopak mata yang bergetar sayu. Tatapannya kosong namun tersorot gairah yang pekat. "Aku lemas sekali... tidak bisa bergerak lagi." Mendengar pengakuan jujur
Aku langsung membungkam bibir mungilnya dengan lumatan yang semakin panas, dalam, dan menuntut. Tidak ada lagi ruang untuk keraguan. Tiara membalasnya dengan sisa-sisa tenaganya, mengikuti irama ciumanku yang kian menggebu. Kubenamkan wajahku kembali ke ceruk lehernya yang kini basah oleh keringat tipis. Sambil terus menciuminya, tanganku membimbing tubuh molek Tiara untuk berbaring miring, membelakangiku. Dalam posisi side lying back ini, aku merapatkan dadaku yang bidang ke punggung polosnya yang melengkung indah. Kusatukan tubuh kami sedekat mungkin, membiarkan ia merasakan kehangatan yang menjalar dari dadaku serta ketegangan tubuhku yang sudah tak membendung lagi gairah yang memuncak. "Abang... pelan-pelan ya," bisiknya pelan, melirik dari balik bahunya dengan tatapan sayu yang begitu menggoda. "Iya, Sayang. Nikmati saja," gumamku parau di dekat telinganya. Tangan kiriku merayap ke depan, mencengkeram pinggiran pinggul
Rasa malu Tiara perlahan meleleh bersama kehangatan yang merayap naik ke tubuhnya. Setelah aku puas menandai bagian bawahnya, aku bangkit merangkak ke atas ranjang, menyejajarkan tubuh kekarku dengan tubuh moleknya yang kini gemetar halus. Targetku beralih, mengarah langsung pada dadanya yang naik turun berkejaran dengan napasnya yang kian pendek. Kubenamkan wajahku di tengah gundukan kenyal yang elok itu. Aroma tubuh istri mudaku—perpaduan antara sabun mandi murah, aroma bedak bayi, dan wangi alami kulitnya—masuk memenuhi rongga dadaku, memabukkan akal sehatku. Kedua tanganku merayap naik, meremas perlahan sebelum jemariku mulai memilin putingnya yang ternyata telah mengeras akibat sensasi dingin dan panas yang sedari tadi menerpanya. Aku tidak ingin tergesa-gesa. Aku mencicipinya secara adil, bergantian antara kanan dan kiri, menghisapnya dengan tekanan yang pas hingga meninggalkan jejak basah kemerahan yang kontras di atas kulitnya yang putih bersih. "Abang... hmmm... yang kemar







