LOGIN
Di depan cermin setinggi plafon yang berbingkai emas murni, Renata Lurian menatap bayangannya sendiri seolah sedang melihat orang asing. Gaun pengantin off shoulder berwarna putih gading itu melekat sempurna di tubuhnya, memperlihatkan lekuk lehernya yang jenjang dan tulang selangka yang rapuh. Ratusan kristal swarovski yang dijahit tangan pada kain lace Prancis itu berkilauan setiap kali dia bernapas. Namun bagi Renata, setiap kilauan itu seperti mata-mata yang mengawasinya.
Tepat sebulan yang lalu, tangan Renata masih kasar karena pekerjaannya sebagai pemanen sayur di desa kecil—Brompton, asal mendiang ibunya. Sekarang jemarinya yang lentik dipoles kuteks bening mahal. Dia bukan lagi Renata si gadis yatim piatu yang miskin. Tapi Renata Doe, putri dari seorang politikus yang sedang naik daun, Henry Doe. Sebuah identitas yang dipaksakan, dia dibawa kembali setelah terpisah lama dari ayahnya. Tapi hanya dijadikan alat agar ayahnya bisa melunasi utang budi politik pada Julian Cooper. "Jangan melamun, Renata. Kau terlihat seperti orang bodoh jika mulutmu terbuka seperti itu." Suara tajam itu memecah keheningan. Renata tersentak mendengar langkah Sandra, ibu tirinya yang masuk ke ruang rias dengan aura mengintimidasi yang kental. Napas Renata tertahan begitu Sandra telah berdiri di belakangnya, menatap pantulan putri tirinya itu dengan tatapan menilai yang dingin. "Kau ini sungguh beruntung," lanjut Sandra sambil meraih tiara berlian dari kotak beludru. "Gadis desa sepertimu biasanya berakhir menjadi pelayan toko atau menikah dengan kuli. Tapi lihat dirimu sekarang! Kau akan menikah dengan Julian, SEKJEN dari Partai Merah. Semua wanita di London akan iri denganmu, karena hanya kau yang berhasil menikahi pria idaman mereka!" Renata meremas buket mawar putih di pangkuannya. Duri yang sengaja tidak dibersihkan sempurna oleh pelayan atau mungkin atas perintah Sandra. Menusuk telapak tangannya, terasa perih namun ia tidak meringis di depan wanita itu yang tak pernah bersikap baik padanya sejak menginjakkan kaki di kediaman Doe. Di belakang ayahnya, Henry, Renata diperlakukan seperti pembantu. "Semua wanita di London iri denganku?" Renata akhirnya bersuara, yang terdengar serak namun tegas. "Maksud Nyonya, mereka iri karena aku bisa tidur dengan pria yang rumornya impoten dan punya penyimpangan seksual? Kenapa tidak berikan saja keberuntungan ini pada putri kandungmu, Alice? Kenapa dia justru dikirim ke luar negeri saat perjodohan ini diumumkan?" PLAK! Tamparan itu mendarat keras di pipi kiri Renata. Rasa panas seketika menjalar di kulitnya yang pucat, hingga membuat kepalanya terhentak ke samping. "Tutup mulutmu!" Sandra melotot. Wajahnya kini hanya berjarak beberapa senti dari wajah Renata. "Alice punya masa depan yang cerah. Dia tidak pantas disandingkan dengan pria cacat seperti Julian. Berbeda denganmu yang hanyalah sampah yang kami pungut dari lumpur." Perkataan itu seperti belati menembus jantung Renata. Matanya seketika memanas, dadanya terasa sesak. Entah kenapa meski seringkali direndahkan oleh Sandra, kali ini rasanya begitu sakit melebihi tamparan tadi? "Buat posisi ayahmu selalu aman." Sandra kembali mengecam, "jika kau sampai berani macam-macam? Mempermalukan keluarga Doe atau melarikan diri ... ingatlah nenekmu yang jompo itu." Dia menyeringai, menunjukkan kekuasaannya yang membuat nyali Renata ciut. "Satu telepon dariku, oksigen di rumah sakit itu akan dicabut!" Debar jantung Renata semakin meningkat mendengar ancaman itu. Air matanya hampir jatuh, namun setengah mati ia tahan. Harus lebih bersabar lagi menelan semua harga dirinya, membiarkan bara kebencian mengendap di dasar hatinya. Menjadikannya fondasi kuat untuk membalas dendam suatu hari nanti. 'Tidak, aku harus kuat demi Nenek! Lagi pula ini hari terakhirku keluar dari neraka ini!' batinnya menguatkan diri. "Kau mengerti?!" sentak Sandra. "Aku mengerti," jawab Renata. "Aku akan melakukannya." "Bagus!" Sandra tersenyum puas, seolah baru saja menjinakkan seekor hewan liar. Ia lalu memasangkan tiara di kepala Renata dengan gerakan kasar. "Sekarang hapus tatapan sedihmu. Tersenyumlah! Karena di luar sana, ribuan kamera telah menunggumu!" Renata pikir, selepas keluarnya Sandra, ia dapat menyendiri beberapa saat sebelum drama baru hidupnya akan dimulai. Tapi pintu besar itu kembali terbuka. Bukan pelayan yang masuk, melainkan seorang pria muda dengan setelan jas hitam yang sangat pas di tubuh atlestisnya bersandar di bingkai pintu. "Kenapa k-kau di sini?" tanya Renata gugup mendapati keberadaan Kakak tirinya, Devan. Pria yang sejak hari pertama dirinya menginjakkan kaki di rumah itu, selalu menatapnya dengan cara yang membuatnya ingin bersembunyi di bawah tempat tidur. Namun Devan tidak bicara saat melangkah perlahan mendekati Renata yang beranjak dari duduk terburu-buru. Ketukan sepatu pantofelnya bergema di ruangan sunyi itu dan berhenti tepat di belakang Renata, menggantikan posisi ibunya. "Kau tidak seharusnya ada di sini," peringat Renata dengan tubuh membeku, melihat mata gelap Devan menelusuri tubuh Renata begitu dekat. Mulai dari bahu yang terbuka hingga pinggangnya yang ramping. "Bidadariku sangat cantik hari ini," bisik Devan dengan suara berat, dengan nada tidak wajar. "Terlalu cantik bersanding untuk pria impoten seperti Julian." Tubuh Renata menegang saat merasakan jari besar Devan menyentuh bahunya yang terbuka. Sentuhan itu dingin, namun terasa membakar kulitnya. "Pergilah, Dev. Upacara pernikahanku akan dimulai lima menit lagi!" usirnya halus. "Upacaramu resmi menjanda, maksudmu?" kekeh Devan. Renata membelalak. Tapi tangan Devan dengan cepat turun ke arah punggung Renata yang terekspos karena model gaunnya yang rendah. "Ckk! Renata... Julian tidak akan pernah menyentuhmu. Beda denganku ..." Devan mendekatkan wajahnya ke leher Renata yang tersengal napas. Menghirup aroma citrus yang melekat, hingga Renata gelisah merasakan napas panas pria tampan itu. "Jangan lancang, Dev! Aku ini adik tirimu!" peringatnya dengan berusaha kabur, tapi Devan menahan pinggangnya agar bisa dipeluk. "Adik tiri? Tidak. Kau tetaplah gadis desa yang aku inginkan sejak pertama kali melihatmu turun dari bus dengan baju loakmu itu," bisik Devan posesif. Renata meronta. "Lepaskan aku!" "Oke, tapi ingatlah Renata. Jika malam nanti kau kedinginan di ranjang, telepon aku dan aku akan datang menjadi selimutmu." "Kau gila!" Devan tersenyum miring melihat reaksi marah Renata yang menggemaskan, saat ia melepas tangan dari pinggang ramping itu sebelum berbalik pergi. Renata gemetaran hebat, merasa dikelilingi oleh monster. Ayah yang tega menjualnya, Ibu tiri yang mengancam nyawa sang nenek, Kakak tiri yang terobsesi padanya dan sebentar lagi ... ia akan hidup dengan suami misterius dan berbahaya. "Aku tidak boleh lemah begini." Sesaat Renata menarik napas panjang, menenangkan diri dan menatap pantulannya sekali lagi. Tidak, bekas tamparan di pipinya yang merah harus segera ditutupi. Dengan gerakan amatir Renata menutup bekas itu, mengaplikasikan ulang bedak dengan gemetaran. Selesai. Bertepatan setelah itu Aliyah, pelayan yang khusus mendampinginya selama tinggal di kediaman Doe mengetuk pintu. "Nona Renata, sudah saatnya." Renata berdiri. Ia mengangkat dagunya tinggi saat keluar menuju altar, disambut Aliyah yang mengangkat ekor gaunnya yang panjang. Melewati lorong gereja yang dipenuhi orang-orang penting yang menatapnya penuh penilaian. Sementara itu di depan Pendeta, berdiri seorang pria tinggi dengan aura begitu mendominasi hingga udara di sekitarnya terasa menipis. Tidak salah lagi, itu pasti Julian. Renata baru pertama kali mengetahui wajahnya dengan jelas. Pria itu tidak tersenyum. Matanya tajam seperti elang menatap Renata yang berada di sampingnya. Bukan sebagai pengantin wanitanya, melainkan seperti musuh yang harus diwaspadai. "Mulai saja, Pendeta!" suruh Julian yang terkesan dingin. Renata terpaku mendengar Julian mengabaikan kesakralan pernikahan mereka, yang dijalani hanya demi misi politik. Detik berikutnya, Julian meraih tangan Renata untuk menyematkan cincin, ia merasakan dingin luar biasa, bukan karena AC gereja melainkan aura Julian. "Lalu sekarang cium istrimu, Tuan Julian!" Pendeta memberi aba-aba dengan tersenyum. Jantung Renata seolah berhenti saat mata mereka berdua bertemu, walau dibatasi veil dia bisa melihat jelas tatapan Julian yang sulit ia deskripsikan. Seketika mengingatkannya ucapan terakhir Devan di ruang rias. 'Kalau Julian mau menciumku, berarti rumor kalau dia impoten adalah bohong!'Renata tersentak. Ia teringat ancaman Julian semalam yang tidak memperbolehkannya dekat dengan pria manapun, lalu saat tadi dia pamit ke toilet yang tidak boleh lama-lama. Juga soal map? 'Oh, tidak! Julian pasti marah besar!' batin Renata kacau. "Pergilah," ucap Arthur sambil memberi kartu nama kecil ke tangan Renata yang terpaku melihat itu. "Hubungi aku saat kau menyadari menjadi istri Julian adalah malapetaka buatmu." Renata berbalik dan berlari menuju ke dalam, meninggalkan Arthur yang masih berdiri di taman. Menatap kegelapan dengan senyuman yang kini tampak mengerikan. Namun saat Renata sampai, ia melihat Julian berdiri di sana dikelilingi oleh pengawal pribadinya. Wajah Julian lebih pucat dari biasanya dan kemarahannya begitu nyata hingga orang-orang di sekitarnya menyingkir ketakutan. "Tu-Tuan Cooper ...," sebut Renata dengan kecemasan berlebih saat menyeret kakinya lebih dekat pada pria itu. Mata Julian terkunci pada Renata. Ia mencengkeram lengan gadis itu dengan k
Suara itu muncul dari bayang-bayang pilar putih. Renata menegang. Ia tidak perlu menoleh untuk tahu siapa pemilik suara serak dan penuh tekanan itu. "Pergilah, Dev! Tinggalkan aku sendiri," ucap Renata yang tak ingin diganggu. Devan tersenyum menatap siluet Renata yang seksi dari belakang sambil menimang gelas kristal berisi wiski yang tersisa separuh. "Padahal aku belum menunjukkan diri, tapi kau sudah tahu kalau itu aku," katanya dengan bangga. "Ini menandakan kalau kita sehati." Renata tak mengindahkannya, malah bersiap untuk kabur kalau Devan macam-macam. "Jangan memancing keributan di sini!" "Siapa yang memancing keributan?" Devan tertawa pendek yang terdengar pahit, hingga berhenti dan berdiri di belakang tubuh Renata. "Mungkin seluruh kota ini yang ribut membahas pernikahanmu. Soal Henry menjualmu pada pria impoten itu hanya demi jabatan dan kau ... menerimanya seperti kambing congek." Renata diam, membenarkan hal itu dengan tersiksa. Tapi ia tak berdaya sama sekal
Satu malam panjang, berhasil Renata lewati dengan dingin dan mencekam. Ia menarik tubuhnya yang kaku di sofa tunggal itu, memijat lehernya dan menselonjorkan kakinya yang semalam terus menekuk. Kondisinya begitu kontras dengan si egois itu yang mungkin bangun kesiangan karena terlalu nyaman tidur di ranjang. Tapi Renata terkejut begitu ia tak mendapati Julian berada di sana. "Ke mana dia?" Tidak ada siapapun kecuali Renata sendiri, suasana kamar begitu lengang dan ranjang itu bahkan sudah rapi. Hingga timbul kecurigaan dalam benaknya, apakah semalam Julian pergi saat dirinya terlelap? Ini mungkin kesempatan baginya untuk kabur. Namun saat ia bangun dengan tergesa, ekor gaun pengantinnya tersangkut kaki meja kecil. "Auw!" desinya hampir saja roboh jika tak berhasil berpegangan pada meja tersebut untuk menyeimbangkan diri. Tangannya justru menyentuh sebuah map kulit yang setengah terbuka. Dengan penglihatan bangun tidur yang belum jelas, Renata menyipit saat mendapati secarik kert
“Sampai kapan kau mau berdiri di sana seperti manekin?!” Suara tajam Julian merobek kesunyian. Renata yang berdiri di tengah ruangan dan masih mengenakan gaun pengantinnya yang berat saat tiba di kediaman pribadi Julian itu tersentak. “Aku … aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan.”Pandangannya yang menunduk lalu terlempar pada ranjang king size dengan sprei hitam berkilau di bawah lampu gantung kristal yang cahayanya diredupkan itu. Kamar utama di penthouse lantai teratas gedung yang tersiar bernilai belasan triliunan itu, malah lebih mirip sebuah galeri seni yang steril daripada kamar pengantin. Renata meringis kecut. Sementara Julian berdiri di dekat jendela kaca besar, yang menampilkan pemandangan lampu-lampu kota London yang gemerlap dari ketinggian. Namun terasa kontras“Jawabanmu terlalu munafik, Renata.” Julian melepas jas hitamnya, menyampirkan benda mahal itu di kursi kulit. Sebelum kemudian ia membuka kancing kemeja putihnya satu persatu.Renata menelan ludahny
Di depan cermin setinggi plafon yang berbingkai emas murni, Renata Lurian menatap bayangannya sendiri seolah sedang melihat orang asing. Gaun pengantin off shoulder berwarna putih gading itu melekat sempurna di tubuhnya, memperlihatkan lekuk lehernya yang jenjang dan tulang selangka yang rapuh. Ratusan kristal swarovski yang dijahit tangan pada kain lace Prancis itu berkilauan setiap kali dia bernapas. Namun bagi Renata, setiap kilauan itu seperti mata-mata yang mengawasinya. Tepat sebulan yang lalu, tangan Renata masih kasar karena pekerjaannya sebagai pemanen sayur di desa kecil—Brompton, asal mendiang ibunya. Sekarang jemarinya yang lentik dipoles kuteks bening mahal. Dia bukan lagi Renata si gadis yatim piatu yang miskin. Tapi Renata Doe, putri dari seorang politikus yang sedang naik daun, Henry Doe. Sebuah identitas yang dipaksakan, dia dibawa kembali setelah terpisah lama dari ayahnya. Tapi hanya dijadikan alat agar ayahnya bisa melunasi utang budi politik pada Julian Cooper.







