LOGIN"Renata," mulai Nate. Suaranya ragu, namun tegas. "Aku tahu, aku mungkin bukan siapa-siapa bagimu. Ya, aku cuma tetangga yang membantu membereskan rumput." "Aha, itu benar." Renata menatap Nate balik dengan senyum manis yang membuat pria itu semakin berdebar duduk di sampingnya. "Tapi kau juga teman masa kecilku, Nate." Kalimat Renata yang terakhir memicu tawa ringan Nate. "Oke. Aku tidak akan mengganggumu, silakan teruskan bicaramu," kata Renata sengaja menggodanya. Ia suka iseng kadang-kadang. Nate berdeham dulu karena ia merasa canggung. Gara-gara perkataannya terputus, kini ia harus mengulanginya lagi. Sebelumnya ia menarik napas lebih dulu. "Begini... Jadi aku sudah lama memperhatikanmu, Rene. Bukan sebagai putri dari seorang walikota, atau dari istri seorang politikus terkemuka," lanjut Nate yang tak disangka ketika membahas soal Julian, ekspresi wajah wanita itu langsung berubah cemberut. Tapi Nate sengaja tak menjelaskan atau minta maaf, karena menyusun keberaniannya
Hujan deras mengguyur atap rumah batu tua milik Ruth, menciptakan irama monoton yang seolah mengejek kekacauan di dalam dada Renata. Udara dingin London yang menusuk tulang terasa lebih tajam di desa pegunungan terpencil ini, tempat waktu seolah berjalan lebih lambat. Namun ketenangan itu hancur berantakan ketika pintu kamar Renata dibuka paksa. Ruth berdiri di ambang pintu, siluetnya tegas diterangi cahaya lampu lorong yang redup. Mata wanita tua itu tajam, menatap cucunya yang masih gemetar. Bukan karena dingin, tapi karena rasa bersalah dan kemarahan yang bercampur aduk. Julian baru saja pergi meninggalkan rumah itu. Mobil hitamnya menghilang di balik kabut tebal jalanan berkelok, membawa serta pria yang selama tiga tahun terakhir menjadi penjara emas bagi Renata. “Kenapa hanya mengintip sayang?” tanya Ruth dengan suara datar, namun mengandung otoritas yang tak terbantahkan saat memperhatikan tingkah kikuk Renata. “Mm, itu ….”“Harusnya kau mengantarkan dia.”Renata menelan l
Tepat setelah menutup pintu dengan sikunya, Julian baru menurunkan Renata di kamar. Renata langsung waspada, langkahnya terus mundur karena hanya ia berdua di kamar itu dengan Julian. “Apakah kau sudah tahu kabar terakhir soal Henry?” Julian menarik tangan Renata, menariknya hingga tubuh wanita itu membentur tubuhnya yang ia peluk dengan erat. Renata mendongak. “Kabar soal Henry yang dinyatakan bersalah atas dakwaan kejahatannya itu?”“Kau sudah tahu rupanya?” Julian mengerutkan kening. Ia menunduk, semakin menyelami kedua mata Renata-mencari kesungguhan perkataan wanita itu.Tiga bulan telah berlalu sejak malam ledakan di pulau pribadi Julian. Renata yang kini tinggal di rumah kayu bersama Ruth, memang hidupnya jauh berbeda saat bersama pria itu. Lebih sederhana, tapi jauh dari mimpi buruk.Namun kenyataan tidak membiarkannya begitu saja. Setiap pagi, sebelum Ruth terbangun. Renata selalu memeriksa berita internasional di laptop kecilnya melalui jaringan satelit rahasia. Henry
Sesaat Julian terdiam mendengar pengakuan Ruth soal itu. Ia tak menyangka, ternyata wanita tua yang terlihat polos dan tak tahu apa-apa selama ini justru menjadi pengamat hubungannya dengan Renata.Julian mendesahkan napas, tidak panjang. Melihat Ruth yang kemudian duduk di kursi goyang model klasik dari anyaman, wanita itu memejamkan mata, tenang. Seperti memang sedang menunggu kesiapan dirinya untuk menjawab. "Renata itu punya Ayah kandung, tapi seperti yatim. Untung waktu itu, setelah ibunya tiada. Aku langsung mengambil alih dia, jika tidak? Dia bisa berakhir di panti asuhan."Tanpa sadar, kedua tangan Julian yang berada di sisi tubuhnya itu mengepal kuat. Rahangnya mengeras dan wajahnya tampak merah padam mengingat kejahatan yang dilakukan Henry. Hewan saja masih sayang pada anaknya, tapi Henry justru mencampakkan Renata dan hanya mengambil keuntungan darinya saat dia butuh.Seketika Julian terkenang masa kecilnya yang tak jauh berbeda dengan Renata. Jika Renata punya Ibu ya
Julian masih belum mendapatkan jawaban dari Renata yang tampak syok. Tubuhnya membeku, diam dengan perasaan campur aduk ketika dia berusaha mencerna pengakuan Julian yang seperti hujan meteor jatuh menembus ke jantungnya begitu cepat. Antara mimpi dan kenyataan membaur ke otaknya, ia masih tak percaya apa yang pria itu ucapkan karena selama ini seorang Julian anti dengan wanita.“Rene….”“Ha … ha … ha,” tawa wanita itu dicicil, tersenyum saat menoleh pada Julian yang mengangkat sebelah alisnya. “Apanya yang lucu?” tanya Julian saat pandangannya dan Renata bertemu.“Kau.”“Aku serius soal perasaanku.” Julian keukuh. "Aku sama sekali tidak berbohong. Demi Tuhan, percayalah."“Oh, ya?” sahut Renata enteng kendati dia masih ragu. Dia bahkan sangat percaya diri dengan apa yang dia pikirkan. “Mana mungkin seorang Julian mencintai wanita? Bukankah katamu lebih baik, aku menganggapmu sebagai gay daripada sampai aku tertarik?”Julian mengatupkan mulut. Namun Renata dapat merasakan aura kema
"Suami?" Dengan nada keheranan Nate mengulangi itu."Ya, pria tadi adalah suaminya," jelas Ruth membanggakan Julian sambil senyum-senyum. "Dia tampan, bukan?"Pertanyaan Ruth tak bisa Nate jawab, pria itu hanya nyengir dan menahan dadanya yang bergejolak seperti air mendidih."Tapi kudengar, katanya mereka mau bercerai, Ruth. Apa itu benar?" tanya Nate.---Julian mengekori Renata dari belakang, saat wanita itu masuk ke dalam kamar yang diduga adalah kamarnya. Dia sama sekali tak mengajaknya bicara, wanita itu sibuk sendiri melepas seprai--seolah tidak ada siapapun di sana kecuali dirinya sendiri."Aku bantu," kata Julian bergerak cepat memegang ujung seprai yang tidak terjangkau oleh Renata."Memangnya kau bisa?""Jangan remehkan aku, Rene. Mengganti seprai adalah soal kecil."Renata masih tak mempercayai mulut manis Julian, setelah beberapa bulan dia menjadi istrinya. Sedikit banyak dia tahu karakter pria itu yang tidak pernah mengerjakan apapun sendiri, selain sifatnya yang misteri
Di dalam rumah itu sangat sunyi, setiap tarikan napas bahkan samar-samar dapat didengar. Rasanya seperti berada di rumah kosong yang angker. Ia tidak melihat siapapun kecuali dia dan Julian. Entah ke mana Jun tiba-tiba menghilang? Kondisi ini terlalu kontras dengan debar jantungnya setelah insiden
Sejenak Renata merasa jemawa berhasil menyudutkan suaminya itu. Namun ketika Julian membuka matanya, nyali Renata mengkerut. Kilatan di mata keabuan pria itu bukan lagi kemarahan, melainkan ketertarikan yang dingin. Ketika Julian menoleh ke arahnya dengan perlahan, Renata buru-buru mengalihkan wa
Arthur melirik Renata yang tiba-tiba memangkas jarak. Ia dapat merasakan kecurigaan wanita itu yang mundur perlahan, memindai sekeliling dengan mata kecoklatannya yang liar untuk berjaga-jaga."Tenanglah Renata. Aku hanya mengamankannya sebelum Julian menyadari ada yang hilang," ucapnya meyakinkan.
Renata tersentak. Ia teringat ancaman Julian semalam yang tidak memperbolehkannya dekat dengan pria manapun, lalu saat tadi dia pamit ke toilet yang tidak boleh lama-lama. Juga soal map? 'Oh, tidak! Julian pasti marah besar!' batin Renata kacau. "Pergilah," ucap Arthur sambil memberi kartu nama







