Share

Bab 44

Author: Santari Kirani
"Bibi, maafkan aku. Aku janji, lain kali nggak akan mengulanginya lagi. Tapi, untuk kali ini, apa boleh …."

"Nggak bisa! Kalau kalian semua begini, gimana aku bisa tidur?"

Ibu asrama memotong kata-kata Amara dengan kesal.

"Lihatlah Bibi, aku sudah ada di sini. Tolong bukakan sebentar, Bi. Sudah larut malam begini, aku nggak punya tempat tujuan lain."

Amara memohon dengan suara pelan, tetapi ibu asrama tetap tidak bergeming.

Tepat di saat Amara mengira sudah tidak ada harapan lagi untuk masuk dan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Transaksi Manis dengan Dokter Dingin   Bab 50

    Aryan langsung tersadar. Dia baru ingat jika belum sempat memberi tahu tujuannya menyuruh Amara datang ke sini.Pantas saja Amara salah paham dengan niatnya. Namun, kenapa wajah gadis itu malah merona?Jangan-jangan, dia mengira ….Dengan kaki menyilang dan tubuh setengah bersandar di dinding, Aryan menatap punggung Amara dengan tatapan menggoda.Meja di ruang tamu tampak begitu bersih, hanya ada sekotak tisu dan sebuah kantong plastik di atasnya.Kantong plastik yang tampak penuh menggembung itu dibuka Amara dengan wajah yang masih merona.Di dalamnya, menyembul sebuah sudut benda. Ternyata, itu adalah palet lukis.Amara sempat tertegun untuk sesaat. Dia baru menyadari jika isi kantong itu semuanya adalah peralatan melukis, mulai dari kuas, papan sketsa, hingga cat warna.Namun, bahkan, setelah mengubek-ubeknya sampai ke bagian paling bawah, Amara tetap tidak menemukan barang yang sempat ada dalam bayangannya itu.Amara benar-benar dibuat melongo. Jadi, Aryan membeli semua ini?"Kenap

  • Transaksi Manis dengan Dokter Dingin   Bab 49

    Sementara risikonya? Jika sampai ada yang sedang sial dan mendapat tiga rekan tim yang payah, itu bisa jadi bencana.Namun, Amara tetap merasa senang. Setidaknya, dia tidak perlu satu tim dengan orang-orang di kamar asramanya.Tanpa ragu lagi, Amara langsung mengirimkan formulir pendaftaran kompetisi. Begitu mendapat notifikasi jika pendaftarannya berhasil, Amara segera mempelajari jadwal perlombaan dengan saksama.Kompetisi ini benar-benar penting bagi masa depannya. Jadi, Amara harus mencurahkan seluruh perhatiannya ke kompetisi tersebut. Amara perlu memahami jadwal acara sejak awal agar bisa meluangkan waktu untuk bersiap-siap.Jika sudah seperti ini, artinya Amara harus izin libur dahulu dari beberapa kerja paruh waktunya.Untungnya, selama ini performa kerja Amara selalu bagus. Begitu Amara meminta izin, para bos di beberapa tempat kerjanya langsung setuju tanpa ragu. Bahkan, mereka menyuruh Amara untuk fokus mempersiapkan diri menghadapi kompetisi.Setelah itu, Amara sempat mampi

  • Transaksi Manis dengan Dokter Dingin   Bab 48

    Amara sudah bisa menebak jika Yoga akan bertanya seperti itu."Kami cuma kebetulan kenal. Dokter Aryan orang yang baik."Amara sengaja menjawabnya secara tidak langsung, berputar-putar demi menghindari inti pertanyaannya.Akan tetapi, wajah Yoga langsung terlihat masam.Apa-apaan sih?Aryan dibilang orang baik?Amara pasti belum pernah melihat sisi iblis pria itu."Kakakku nggak naksir kamu, 'kan?"Yoga jauh lebih memedulikan pertanyaan yang satu ini.Itu karena, jawabannya menentukan apakah Amara akan menjadi kakak iparnya di masa depan atau tidak.Amara memikirkannya baik-baik, sepertinya memang tidak ada.Sejak awal, hubungannya dengan Aryan hanya murni transaksi bisnis, sama sekali tidak melibatkan perasaan."Nggak ada."Yoga merasa agak lega di dalam hati. Baguslah jika kakaknya memang tidak ada rasa.Jika sampai Aryan tahu dia pernah menyatakan cinta pada orang yang disukainya, ditambah juga sempat merundungnya, Yoga pasti akan langsung berakhir di kolom berita pembunuhan besok p

  • Transaksi Manis dengan Dokter Dingin   Bab 47

    Setelah menahan amarah sekian lama, hanya kalimat itu yang akhirnya bisa keluar dari mulut Yoga.Amara menengadah untuk menatap Yoga dan gerombolan sahabatnya. Tanpa terburu-buru, Amara menggigit rotinya, lalu kembali menyesap susu kedelainya."Bukan aku yang merusak kunci pintunya."Ucapan Amara terdengar datar, diiikuti dengan ekspresi wajah yang seakan menyuruh Yoga untuk menyimpulkannya sendiri.Yoga tertegun untuk sesaat. Sebuah jawaban mendadak terlintas di benaknya, tetapi Yoga langsung merasa hal itu sama sekali tidak mungkin.Lagi pula, sepupunya itu bukan orang sembarangan.Selama 20 tahun lebih hidup di dunia, selain ibunya sendiri, tidak ada satu pun perempuan yang bisa berada dekat-dekat dengan sepupunya itu.Zaman sekolah dahulu, ada banyak sekali gadis yang menulis surat cinta untuk Aryan, tetapi tidak pernah dilirik oleh Aryan.Setelah bekerja sekalipun, banyak perempuan yang terang-terangan mengejar dan menyerahkan diri pada Aryan. Namun, tidak peduli seberapa cantikny

  • Transaksi Manis dengan Dokter Dingin   Bab 46

    Amara mengupas telur rebusnya dengan santai dan pelan-pelan, berpura-pura tidak melihat mereka yang sedang saling bertukar pandang.Jujur saja, akting mereka terlalu payah.Berharap Amara tidak menyadari kejanggalannya, itu benar-benar mustahil.Sambil menunduk dan menyesap susu kedelainya, tiba-tiba saja Amara teringat sesuatu."Sarapannya habis berapa? Sini, aku transfer ke kalian."Amara mengeluarkan ponselnya, lalu membuka grup obrolan asrama yang sudah lama tidak dibuka.Riwayat obrolan di sana masih tertahan di musim penghujan tahun lalu, tepatnya saat Amara mengirimkan rincian tagihan listrik asrama.Amara tahu betul jika Kezia dan yang lainnya punya beberapa grup obrolan asrama lain yang sengaja tidak mengajak dirinya.Sehari-hari, mereka memang selalu mengobrol di grup-grup terpisah itu.Cuma berenam, tetapi punya tujuh sampai delapan grup obrolan.Kelihatannya pertemanan mereka tidak sekompak itu, tetapi apa urusannya dengan Amara?Kezia sama sekali tidak ambil pusing soal ua

  • Transaksi Manis dengan Dokter Dingin   Bab 45

    Dalam kegelapan, Kezia menyibak tirai ranjangnya.Seketika itu juga, beberapa tirai ranjang lainnya ikut terbuka secara bersamaan. Teman-teman sekamarnya melongokkan kepala dan melihat ke arah Kezia."Kok bisa sih? Amara itu bebal banget, nggak mempan diapa-apain!"Salah satu dari mereka angkat bicara.Tasya sedikit mengerutkan kening. "Apa kita ketahuan, atau Amara sudah dengar desas-desus?"Setelah berkata seperti itu, Tasya menatap curiga ke arah gadis-gadis lain di kamar asrama itu.Meski sebenarnya, dalam kegelapan seperti ini, Tasya tidak bisa melihat apa-apa."Mana mungkin! Nggak bakalan aku bocorin info ke dia!""Iya, bener! Menurutku, jangan-jangan sikap kalian yang kurang natural, makanya bikin dia curiga?"Kamar asrama itu langsung riuh saat gadis-gadis itu mulai menyahut dan berebut untuk bicara.Meski mereka sudah merendahkan suara, Amara tetap bisa mendengarnya.Awalnya, Amara tidak mendengar dengan jelas. Namun, kamar asrama yang tadinya sunyi itu tiba-tiba dipenuhi suar

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status