Masuk"Aku hendak menyusulmu ke kediaman Aldrdige. Kenapa kamu bisa berada disini? Jangan-jangan kamu pakai teleportasi?" tanya Lune, tidak menyangka Lunara sudah punya teleportasi. Lunara menggelengkan kepalanya. "Tidak kakak. Aku tidak. Bukan. Maksudku, sihir teleportasi aku belum punya tetapi aku sebentar lagi akan punya, aku yakin. Lebih penting lagi, bagaimana keadaan yang lain?" tanyanya ramah. "Mereka masih bertarung. Nero sangat merepotkan. Kita harus membunuhnya terlebih dahulu," kata Lune. Lunara menoleh ke Raga. Raga menoleh ke Lunara karena dia sempat memperhatikan Lunara lalu mendengarkan Lune berbicara. "Raga, bisa bantu aku mengalahkan Nero?" tanya Lunara. "Apakah kamu sudah gila? Aku kan berada di pihak dia," kata Raga. Para prajurit langsung menatap penuh kebencian pada Lunara dan Lune. Lunara langsung berbalik dan dia merasa sedih tanpa alasan. "Ya sudah jika tidak bisa membantu. Aku tidak sepenuhnya berkhianat. Apakah salah jika membalas perbuatan seseo
Lunara sangat tidak punya waktu untuk terus menerus membuang waktu disini. Keluarganya mungkin dalam bahaya. Namun kenapa Raga justru menanyakan sesuatu yang sangat penting dan berharga seperti itu? Lunara merasa, Raga sangat berbeda dengan Yeshe, Svanhildr, dan Allan Asier. Insitingnya begitu kuat. Kutu buku memang semengerikan itu ya? "Kenapa kamu bertanya soal itu?" Lunara tahu kalau dia sempat membicarakan soal Lunara yang asli. Namun tidak menyangka kalau Raga malah akan menganggapnya sangat serius dan justru menanyakannya. Seharusnya Arzu saja yang tahu. Bahkan ayahnya tidak percaya kalau dia sebenarnya bukanlah Lunara. "Maaf tetapi aku Lunara. Mungkin benar seperti katamu, aku mengalami stres ekstrim," kata Lunara. "Kebohongan seperti itu malah semakin membuatku yakin bahwa kau memang bukan Lunara," kata Raga. "Sial. Sepertinya kau memang sangat cerdas ya? Sayang sekali Lunara menyia-nyiakan pria sepertimu," kata Lunara. "Aku tidak tahu dimana Lunara y
Bukannya Lunara tidak ingin bersama pemuda itu. Hanya saja, dia jatuh cinta pada Lunara yang asli. Tidak ada yang menaruh perhatian padanya sebagai Lunara yang masuk ke dalam buku. Pemuda itu kemudian teleportasi ke titik medan perang yang sempat ia jelajahi. Itu cukup jauh dari Yeshe dan yang lain. Banyak prajurit sekarat dan sedang disembuhkan oleh pasukan penyihir. Pemuda itu sempat kesini karena disuruh oleh profesor untuk menyampaikan beberapa ramuan. Dia juga sempat disuruh mengawal perlengkapan supaya tidak dicuri musuh. Penolakan dari Lunara membuatnya menghabiskan waktu sebagian besar di perpustakaan."Sebaiknya ambil alih pasukanmu," kata pemuda itu. "Sebelum itu, katakan dulu namamu. Aku harus tahu nama orang yang sudah membantuku," kata Lunara. "Jika saja aku bertemu dengan pemuda ini lebih awal, aku mungkin mengalami banyak kemajuan tidak seperti sekarang. Svanhildr sangat gegabah dan musuh juga terlalu tidak bisa dipercaya. Mereka kuat tetapi mereka bahkan kewalaha
"Lunara yang asli? Apa yang dia katakan? Perubhannya ternyata benar-benar terjadi ya? Kupikir dia masih sama seperti sebelumnya," batin pemuda itu. Pemuda itu terus memandangi Lunara yang menjauh. Ada dorongan ingin menyusulnya tetapi dia ragu-ragu. Sampai akhirnya dia mengikutinya dengan berlari dan berteriak memanggil namanya. Lunara menoleh. Dia rencananya adalah mencari penyihir yang tersisa. Tidak mungkin bukan semua penyihir pergi ke medan perang pasti ada sebagian besar penyihir yang masih tetap tinggal di ibukota. Beberapa mayat telah dibereskan. Pemulihannya tidak seperti pasca perang melainkan dalam masa peperangan. Rakyat disini memang sangat bekerja keras. "Sial. Aku merasa pusing. Aku merasa sangat lelah dan butuh istirahat," batin Lunara setelah berjalan beberapa langkah ternyata tubuhnya meminta istirahat. Penggunaan sihir sangat menguras tenaga. Di sisi lain, Yeshe menghadapi banyak musuh. Dia dibantu oleh Aerio dan pasukan penyihir lain. "Tuan
Lunara menganggukkan kepalanya. "Benar. Jadi tolong rahasiakan ini," kata Lunara. "Bohong!" ketus pemuda tersebut. "Apakah dia hendak ke perpustakaan? Kalau begitu, aku bisa masuk ke dalam bersamanya. Karena sudah jelas aku dilarang masuk ke dalam," kata Lunara. "Untuk apa aku bohong?" "Kau pasti pura-pura melupakanku. Kau mencari alasan. Kau mungkin memang benar-benar lupa. Kenapa harus sampai sejauh itu? Aku tahu kok. Stres ekstrim bisa merubah seseorang. Karena kau ditolak oleh Duke Aldridge kau sampai berpikir membuat skenario ini bukan? Karena jika tidak karena stres ekstrim akibat penolakan Duke Aldridge, kau tidak mungkin sampai membuat keputusan-keputusan yang tidak masuk akal," kata pemuda itu. Lunara terkejut. "Kamu tampaknya sangat tahu soal aku ya? Seperti paling paham soal diriku." "Tentu saja. Dibandingkan semua orang yang mengenalmu, bahkan keluargamu sendiri, aku yang paling tahu soal dirimu. Aku bahkan tahu pakaian dalam favoritmu," kata pemuda itu yan
"Astaga, kamu pasti berpikir kalau bosmu itu adalah makhluk immortal. Padahal dia juga bisa sangat mudah mati tahu dan kalian tidak boleh mengabaikan fakta bahwa sekuat apapun dirinya, bukan berarti tidak ada yang bisa mengalahkannya dan tidak ada yang lebih kuat dari dia," kata Lunara. Louis tampaknya terpancing ucapan Liunara. Sebelum burung yang menjadi mata-mata Yeshe kembali, Louis bergegas mengambil kuda. Dia meminta kepada pengawal setianya, yang akan menuruti apapun perintahnya dan mengabaikan perintah Yeshe. Lunara tersenyum senang pada Louis. Dia sampai mengusap kepala anak kecil itu. "Terima kasih banyak Louis Aldrdige. Aku berhutang budi padamu jika tindakanmu ini berhasil menyelamatkan nyawa keluargaku. Mengenai akuarium itu, kupikir aku berencana membuat di rumah kemudian memberikannya kepadamu. Nanti tinggal isi air dan ikannya," kata Lunara. "Mungkin kita juga bisa memodifikasinya lewat sihir," kata Lunara. "Ah benar juga. Apa yang kulakukan barusan soal







