ログインSerena dan Vincen menjalani hidup masing-masing di negeri yang berbeda, sudah hampir lima hari Keduanya berjauhan bahkan Serina sering mengabari Arce. Tapi anehnya hari ini tidak ada kabar sama sekali dari Serina membuat kedua pria berbeda umur itu khawatir, Arce terus merengek pada Vincen ingin mendengar suara Serina. “Dad, mau Ommy,” ujar Arce dengan wajah sedih. Arce sudah sehat kembali tiga hari yang lalu. "Ommy lagi kerja Abang, jangan ganggu dulu ya." "Tapi Abang lindu, bukankah Daddy sudah kelja telus kenapa Ommy halus kelja juga." Diberi pertanyaan seperti itu membuat Vincen bingung jawab apa. "Ekhem, bagaimana kalo kita main puzzle sambil nunggu Ommy telepon lagi. Abang mau?" tanya Vincen sekaligus mengalihkan pembicaraan. "Baiklah, ayo main." Keduanya bermain bersama, sampai bunyi ponsel Vincen terdengar ternyata orang suruhan dia yang mengikuti Serina. "Sebentar, Daddy angkat telpon
"Ommy, bukan gitu calanya. Nih, Abang kasih tahu." Arce menyusun puzzle dan selesai dalam dalam waktu tiga menit. "Wow, Arce keren banget!" seru Serina. Berusaha menghibur Arce yang sedari tadi terus menangis, bagaimana mungkin ia bisa meninggalkan Arce dengan keadaan sakit seperti ini. Ditambah ada ingatan lagi yang datang padanya, tentang wanita yang wajahnya terlihat samar sedang menggendong bayi. Di sampingnya ada buah apel yang terbang, apel itu menyebut kata Serina kepada wanita itu. Bukankah itu berarti wanita itu adalah dirinya yang sedang menggendong baby Arce? "Mainnya sudah, sekarang Abang harus istirahat." Arce menggelengkan kepalanya, dia takut saat tidur nanti Serina pergi lagi di hadapannya. Tadi, saat Arce bangun. Dia melihat Serina ada di hadapannya sambil membawa bubur, akhirnya keduanya bermain bersama sesudah Arce makan dan minum obat. "Ndak mau, nanti Ommy pelgi." “Tidak akan sayang, seka
Vincen dan keluarganya sudah berada di rumah sakit, sedangkan Arce tertidur pulas setelah meminum obat. Kata dokter Arce hanya demam saja dan beberapa hari pasti sembuh kembali, Vincen menatap keluarganya datar. "Kenapa Arce bisa sakit, baru Vincen tinggal sebentar dia sudah seperti ini?" tanya Vincen, keluarganya terdiam. "Mungkin karena Abang Arce mendengar perkataan Serina yang akan kembali ke Korea. Makanya dia seperti ini," jawab Casandra sendu. Mereka juga terkejut melihat Arce yang demam disertai menggigil. Deg Tubuh Vincen tersentak, Serina akan pergi? Kenapa hatinya tidak rela jika dia pergi dari hidupnya. Apakah firasatnya benar jika Serina adalah istrinya yang sudah meninggal, tapi apakah takhayul itu benar ada? Dia akan memastikan sesuatu lagi. Jika benar, sumpah demi apapun Vincen tidak akan pernah melepaskannya lagi. "Serina akan pergi?" lirih Vincen. "Iya, malam ini." "Dimana dia sekarang?" tanya Vincen dingin. "Mungkin sedang prepare," sahut Zea. Tanpa berucap
Sepulang dari kantor, Vincen ikut gabung bersama keluarganya. Tatapannya tidak pernah lepas dari Serina yang sedang mengajak main Arce, begitupun keluarga Casanova yang melihat Vincen aneh karena tidak biasanya dia pulang cepat kecuali jika disuruh saja. Tapi ini, entah ada angin dimana Vincen sudah pulang jam empat sore tadi. Serina tertawa melihat kegemasan yang Arce lakukan untuk menarik perhatiannya. "Tidak perlu melakukan itu, kakak bisa kok." "No, no, no, kata Daddy kita halus melakukan hal manis kepada olang yang kita sukai. Kalena Abang menyukai Ommy, jadi Abang lakuin." Arce kembali membuka jeruk untuk Serina, selesai membuka Arce menyuapi Serina dan dengan senang hati Serina memakannya. "Manis banget." Serina tersenyum, saat ia menengok ke samping. Pandangannya tidak sengaja melihat Vincen yang menatap ke arahnya dan Arce. "Ini perasaan aku saja atau memang benar kalo Pak Vincen lagi liatin aku atau dia lagi lihat
"Pak Vincen, tunggu!" Serina mengejar Vincen yang ingin pergi ke kantor, Vincen berhenti dari jalanya dan berbalik menghadap Serina. "Eummm… Soal di ruang makan maaf, saya tidak bermaksud ikut campur. Hanya saja saya..." "Hemm." Vincen melanjutkan jalannya, lagi-lagi Serina menghentikan langkah Vincen dengan manarik baju bagian tangan tapi sayang tangan keduanya tidak sengaja bersentuhan. Lebih tepatnya cincin pernikahan keduanya yang saling bersentuhan, Serena dan Vincen tersentak terkejut, seperti ada sengatan untuk keduanya. Serina memejamkan mata, ingatan seorang pria yang tersenyum di hadapannya kembali terlintas di pikirannya, Serina mendorong Vincen menjauh. Dengan nafas memburu, Serina menatap Vincen tajam. "Pak Vincen, apakah sebelumnya kita pernah bertemu?" "Bukankah sekarang kita sedang berhadapan?" "Bukan itu Pak, apakah kita kenal dari dulu? Vincen yang diberi pertan
Serina bangun dari pingsannya, hal pertama yang ia lihat adalah wajah mungil anak kecil yang sedang melihatnya dengan tangan memangku dagu. "Ommy, ndak papa?" tanya Arce dengan wajah khawatir, Serina tersenyum mengusap rambut Arce. "Gapapa, kamu jangan khawatir," ujar Serina lembut. "Beneran gapapa, Serina?" tanya Zea yang memang masih ada di sana. "Saya tidak apa-apa, kak." "Syukurlah, dokter bilang katanya kamu kelelahan, lebih baik kamu istirahat dulu. Abang, ayo kita keluar. Biarkan Kakak Serina istirahat," ajak Zea. Arce yang memang mengerti Serina butuh istirahat pun menganggukkan kepalanya. Cup Lagi-lagi Arce mengecup pipi Serina dengan lembut. "Semoga cepat sembuh ya, Ommy." Serina tersenyum, berbeda dengan Zea yang melihatnya entah kenapa jadi dia yang malu karena Arce melakukan hal manis seperti itu, biasanya anak itu akan diam saja. Keduanya keluar, meni







