Share

Transmigrasi ke Tubuh Istri Bisu Sang Mafia
Transmigrasi ke Tubuh Istri Bisu Sang Mafia
Author: Kholifah shafa

1

last update publish date: 2026-08-05 19:18:10

"Ayah... Sudah lama kita duduk berhadapan, tapi entah kenapa percakapan kita selalu berhenti di permukaan. Aku ingin bercerita banyak. Aku tahu Ayah peduli. Ayah hanya tak pandai merangkai kata. Namun hari ini... aku ingin kita bicara dari hati ke hati. Tanpa gengsi, tanpa jarak. Ayo kita cerita, Yah. Aku rindu didengarkan... seperti dulu."

Kylie Slavonia menatap layar ponselnya yang retak di ujung. Ibu jarinya melayang di atas tombol Kirim, sebelum akhirnya ia kembali menekan Simpan sebagai Draf.

Pesan itu hanya akan bermukim di sana, di tumpukan catatan kusam ponselnya. Tidak akan pernah terkirim. Padahal, pria yang seharusnya membaca pesan itu—beserta wanita yang paling merengkuhnya di dunia—kini hanya tersisa sebagai dua gundukan tanah berdampingan di bawah nisan yang dingin. Ia sendirian di dunia yang terlalu bising ini.

Langit Jakarta sore itu seolah ikut menanggung beban Kylie. Awan kelabu menggantung rendah, memuntahkan gerimis yang perlahan berubah menjadi hujan deras.

Gadis berusia 24 tahun itu merapatkan jaket hijau kedodorannya, mencoba mencari kehangatan yang tersisa. Di balik kaca helm yang dipenuhi baret, mata indahnya menatap kosong ke deretan lampu merah. Tangannya yang kebas mencengkeram setang motor matic tuanya yang mulai bergetar ringkih.

Dulu, tangan itu bergerak lincah dan anggun. Ia merangkai isyarat, menjembatani dunia hening anak-anak tunarungu yang begitu ia cintai. Namun, keheningan yang indah itu tak bisa membayar tunggakan utang peninggalan orang tuanya. Kylie terpaksa menukar kedamaiannya dengan bisingnya ibu kota. Menjadi pelayan hotel yang membuat punggungnya serasa remuk di pagi hari, lalu membelah macet sebagai kurir makanan hingga petang menyapa.

Wajah ayunya yang lelah tertutup masker dan debu basah. Jakarta tidak peduli pada kecantikan; kota ini hanya menagih keringat dan air mata.

"Satu pesanan lagi, Ky," gumamnya dengan bibir gemetar menahan dingin. "Cuma satu lagi. Habis itu pulang, makan mi instan kuah, lalu tidur."

Lampu lalu lintas di depan matanya akhirnya berpendar hijau.

Kylie menarik tuas gas perlahan, membiarkan motornya melaju menembus tirai hujan di persimpangan jalan. Dalam bayangannya, ia sudah melihat kasur tipisnya yang hangat. Ia hampir sampai.

Namun, di tengah deru hujan, sebuah klakson panjang yang memekakkan telinga merobek udara.

Brummm! TIIIIIINNN!

Kylie menoleh dari balik bahunya. Semuanya terjadi dalam sepersekon yang terasa seperti ditarik paksa. Dua sorot lampu kuning menyilaukan dari sebuah truk tronton yang kehilangan kendali menerjang deras ke arahnya, laksana monster besi yang buta.

"AWAS!"

Jeritan seseorang dari trotoar terdengar samar, tenggelam oleh suara decit ban yang bergesekan putus asa dengan aspal basah. Kylie tak sempat berteriak. Ia bahkan tak sempat bernapas.

BRAKK!

Logam menghantam daging dan tulang dengan suara yang memualkan.

Dunia Kylie berputar hebat. Tubuh rampingnya terlempar ke udara, seringan boneka kain yang terlepas dari pelukan pemiliknya, sebelum akhirnya terhempas menghantam aspal merah dengan bunyi gedebuk yang kasar.

Motor tuanya hancur berantakan beberapa meter darinya. Namun, Kylie tak lagi memedulikannya. Rasa sakit yang semula merobek sekujur tubuhnya kini perlahan surut, digantikan oleh rasa kebas yang menjalar dari ujung kaki hingga ke dada.

Hujan turun membasuh wajahnya. Bau karat dari darah segar yang mengalir dari pelipisnya bercampur dengan aroma aspal basah. Napasnya tersengal, pendek, dan sangat berat. Kelopak matanya menolak untuk tetap terbuka.

Di ambang batas kesadarannya yang kian menipis, bisingnya klakson dan jeritan orang-orang perlahan memudar. Berganti dengan sebuah keheningan yang familiar. Keheningan yang sangat ia rindukan.

Di ujung cahaya yang hangat, ia melihat dua siluet berdiri menunggunya. Ayah dan Ibunya. Mereka tersenyum, merentangkan tangan dengan kasih yang tak pernah pudar.

"Ayah... Ibu..." batin Kylie lirih. Sudut bibirnya tanpa sadar melengkung, membentuk senyuman tipis yang melegakan. "Apakah akhirnya... aku boleh istirahat?"

Gelap merengkuhnya dengan lembut. Di tengah derasnya hujan Jakarta yang tak mau peduli, Kylie Slavonia—gadis tangguh yang lelah itu—akhirnya tertidur, memeluk keheningannya untuk selamanya.

Aroma lavender yang mahal menyeruak, menyamarkan bau obat-obatan yang kebas.

Sakit...

Itu kesadaran pertamanya. Namun, rasa sakit ini berbeda. Ini bukan ngilu tulang yang remuk dihantam monster besi di tengah hujan Jakarta. Ini adalah denyutan tajam di dalam tengkoraknya, seolah ribuan jarum memaksa masuk, menyuntikkan kepingan memori yang bukan miliknya.

Kelopak mata itu perlahan terbuka.

Alih-alih melihat langit-langit kamar indekosnya yang bernoda air hujan, retinanya menangkap pendar kemilau dari lampu gantung kristal. Langit-langit ruangan itu tinggi, berlapis warna putih gading dan aksen emas yang mengintimidasi.

Kylie—atau jiwa yang kini mendiami tubuh itu—mencoba bangkit. Jemarinya mencengkeram seprai. Ia menunduk, menatap tangannya sendiri dengan kening berkerut. Kulit yang putih, pucat, dengan kuku-kuku lentik yang terawat sempurna. Ke mana perginya kapalan bekas setang motor? Ke mana perginya luka bakar akibat cipratan minyak panas?

Dengan napas tertahan, ia menurunkan kakinya, membiarkan telapak kakinya tenggelam dalam karpet bulu tebal di lantai. Langkahnya tertatih menuju cermin besar berbingkai ukiran klasik di sudut kamar.

Pantulan di sana membuat napasnya tercekat.

Seorang wanita asing menatapnya dengan raut pias. Rambut hitamnya panjang bergelombang, membingkai wajah rapuh dengan sepasang mata bulat yang memancarkan kesedihan pekat.

"Siapa... kau?" gumam Kylie.

Ia merasakan getaran di pita suaranya. Ia merasakan bibirnya bergerak. Namun, dunia di sekitarnya tetap hening. Sunyi senyap. Tidak ada gema. Tidak ada pantulan suara. Kylie menelan ludah, menepuk kaca cermin di depannya keras-keras. Ia merasakan getarannya di telapak tangan, tapi telinganya tak menangkap bunyi apa pun.

Sebuah keheningan absolut. Keheningan yang sangat ia kenal selama bertahun-tahun mengajar anak-anak tunarungu, tapi kini keheningan itu menelannya bulat-bulat.

Bersamaan dengan kesadaran itu, gelombang memori menghantamnya tanpa ampun.

Kyara Ardennes Hargens.

Istri dari Calvin Hargens.

Seorang tunarungu.

Aib bagi keluarganya. Pajangan bisu yang disiksa batinnya oleh pria yang seharusnya melindunginya.

Kylie memegangi tepi cermin, membiarkan kepalanya berdenyut hebat. Ia mengerti sekarang. Kylie Slavonia telah tamat di aspal basah Jakarta. Takdir dengan selera humornya yang kejam telah melempar jiwanya ke dalam tubuh rapuh ini. Ke dalam sebuah sangkar emas yang sunyi.

Kylie merasakan getaran kasar yang merambat dari lantai marmer ke telapak kakinya, disusul perubahan tekanan udara di dalam ruangan. Seseorang baru saja membanting pintu kamar.

Ia menoleh.

Seorang pria berdiri di ambang pintu. Posturnya tinggi menjulang, dibalut setelan jas hitam yang memeluk tubuh atletisnya. Rahangnya mengeras, membentuk garis tegas yang menakutkan, sementara sepasang mata kelamnya menatap Kylie dengan kebencian yang telanjang.

Calvin Hargens.

Suami sah dari tubuh ini. Sang algojo dari neraka Kyara.

Pria itu melangkah lebar menghampirinya. Aura dominasinya begitu pekat hingga Kylie merasa pasokan oksigen di ruangan itu tersedot habis. Tatapan Calvin beralih pada sebuah nampan di atas nakas—berisi semangkuk bubur hangat dan obat yang disiapkan Kyara asli sebelum pingsan, sebuah upaya menyedihkan untuk mencari perhatian suaminya.

Calvin berhenti tepat di hadapan Kylie. Urat di lehernya menonjol. Tanpa suara, mulut pria itu mulai bergerak.

Kylie menatap bibir itu lekat-lekat. Insting lamanya sebagai guru bahasa isyarat bekerja otomatis, membaca setiap silabel yang dimuntahkan suaminya dengan akurasi yang menyakitkan.

"Kau pikir... dengan wajah memelasmu itu... aku akan luluh?"

Tangan besar Calvin tiba-tiba mencengkeram bahu Kylie. Kuku-kukunya menembus piyama sutra tipis yang dikenakannya, menekan kulit dengan kekuatan yang memaksa Kylie mendongak.

"Ingat posisimu, Kyara," Calvin mendesis tepat di depan wajahnya, matanya menyorotkan kilat amarah. "Aku menikahimu hanya demi Nenek. Cintaku hanya milik Belva. Kau... hanyalah pajangan bisu di rumah ini."

Dalam satu gerakan kasar, Calvin melepaskan cengkeramannya, beralih menepis nampan di atas nakas.

Mangkuk porselen itu melayang, pecah berkeping-keping di lantai. Kylie tak mendengar suara pecahannya, tapi ia merasakan cipratan bubur panas yang mengenai pergelangan kakinya.

Panas. Perih.

Dalam kepingan memori Kyara, tubuh ini seharusnya sudah luruh ke lantai. Bersimpuh, menangis tanpa suara, memohon ampun, dan memunguti pecahan porselen itu dengan tangan bergetar.

Namun, yang berdiri di sini sekarang bukan lagi Kyara.

Ini adalah Kylie Slavonia. Perempuan yang pernah menghajar preman pasar demi mempertahankan lapak dagangannya. Perempuan yang terbiasa ditampar oleh kerasnya aspal jalanan. Alih-alih menunduk, Kylie berdiri tegak.

Ia mengangkat wajahnya. Sepasang mata bulat yang biasanya menyiratkan ketakutan itu kini menatap lurus menembus manik kelam Calvin. Tidak ada air mata. Tidak ada bahu yang bergetar. Yang ada hanyalah sorot mata sedingin baja—tatapan menilai dari seseorang yang tak sudi direndahkan.

Dengan gerakan lambat namun sangat disengaja, Kylie mengangkat tangannya, lalu menepis sisa cengkeraman Calvin di bahunya seolah pria itu adalah kotoran yang menempel di bajunya.

Calvin tertegun. Pria itu membeku selama sepersekian detik. Sudut matanya berkedut, tidak siap menerima perlawanan hening dari istri penurutnya. "Kau—"

Kylie mundur selangkah, menjaga jaraknya. Sudut bibirnya nyaris tak terlihat mengangkat, membentuk seringai tipis yang meremehkan. Ia tidak butuh suara untuk melawan. Biarkan kebisuan ini yang menjadi senjatanya. Biarkan pria angkuh ini menyadari, bahwa boneka porselennya baru saja hancur, digantikan oleh sesuatu yang jauh lebih berbahaya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Transmigrasi ke Tubuh Istri Bisu Sang Mafia   16

    Perangkap yang Terbuka​"Menarik, bukan?"​Sebuah suara terdengar dari pengeras suara di sudut ruangan. Kylie tidak mendengarnya, tapi ia merasakan getaran suara yang frekuensinya sangat kuat. Ia segera berbalik, karambitnya sudah siap di tangan.​Seorang pria paruh baya dengan jas laboratorium putih masuk ke ruangan, dikawal oleh sepuluh tentara bayaran bersenjata lengkap. Pria itu adalah Dr. Aris, kepala peneliti Proyek Lazarus.​Dr. Aris memegang sebuah tablet yang menampilkan gelombang otak Kylie secara real-time. "Jangan menyerang, Nyonya Hargens. Atau harus kupanggil Kylie? Kau adalah keajaiban medis yang kami cari. Perpindahan jiwa tanpa bantuan mesin adalah sesuatu yang seharusnya mustahil."​Kylie menatapnya dengan penuh kebencian. Ia tahu pria ini sedang bicara, meski ia tidak bisa membaca gerak bibirnya secara sempurna karena Dr. Aris memakai masker medis.​Kylie tidak menunggu. Ia menendang meja di depannya ke arah para penjaga, menciptakan kekaca

  • Transmigrasi ke Tubuh Istri Bisu Sang Mafia   15

    Kelahiran Sang Pembunuh Sunyi​Malam itu, setelah insiden di Gudang 404, kediaman Hargens tidak lagi menjadi tempat istirahat. Rumah itu berubah menjadi pusat komando yang mencekam. Lampu-lampu kristal di ruang kerja utama dimatikan, digantikan oleh jajaran monitor komputer yang berpendar biru, menampilkan data aliran dana global dan satelit pemantau.​Kylie berdiri di tengah ruangan. Ia telah membersihkan debu dan darah dari tubuhnya. Kini, ia mengenakan pakaian taktis serba hitam yang membalut tubuhnya dengan ketat, memberikan siluet yang tajam dan berbahaya. Di pinggangnya, tersampit belati karambit ganda—senjata tradisional yang ia pelajari secara otodidak saat dulu harus bertahan hidup di jalanan Jakarta yang keras.​Calvin duduk di kursi kebesarannya, menatap istrinya dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia baru saja memerintahkan Rian untuk memindahkan dana sebesar lima ratus miliar rupiah ke rekening rahasia yang hanya bisa diakses oleh Kylie.​"Kau yakin den

  • Transmigrasi ke Tubuh Istri Bisu Sang Mafia   14

    Tarian Darah di Gudang 404​Calvin segera mengarahkan pistolnya ke arah Bara. "Aku tidak tahu siapa kau, dan aku tidak peduli seberapa gila halusinasimu. Kau menyentuh asetku dan mengancam istriku. Itu berarti hukuman mati."​Bara tertawa terbahak-bahak, memperlihatkan giginya yang tidak rata. "Istrimu? Kau menikahi berlian yang paling tajam di jalanan, Tuan Mafia. Tapi dia bukan milikmu. Dia punya utang padaku yang belum lunas."​Tanpa peringatan, tiga orang anak buah Bara muncul dari atas kontainer, menjatuhkan diri dengan jaring besi. Calvin terpaksa menghindar dan melepaskan tembakan.​BANG! BANG!​Pertempuran pecah. Calvin tertahan oleh anak buah Bara yang menggunakan taktik gerilya di antara peti-peti kayu.​Sementara itu, Bara melompat ke arah Kylie. "Ayo, Mata Kucing! Tunjukkan padaku apakah gaun mahal itu membuatmu lemah!"​Kylie tidak punya waktu untuk menjelaskan atau menggunakan ponselnya. Ia melempar tas tangannya ke wajah Bara untuk mengalih

  • Transmigrasi ke Tubuh Istri Bisu Sang Mafia   13

    Amis Laut dan Bayangan Maut​Langit Jakarta Utara berubah menjadi kelabu besi saat mobil Rolls Royce milik Calvin membelah kawasan industri pelabuhan yang gersang. Aroma amis air laut yang payau bercampur dengan bau karat kontainer memenuhi udara yang panas dan lembap.​Calvin mengemudikan mobilnya dengan kecepatan yang tidak wajar. Tangannya mencengkeram kemudi hingga buku-buku jarinya memutih. Di sampingnya, Kylie duduk tenang, namun tangannya diam-diam memeriksa sepatu hak tingginya—ia memastikan bahwa sepatu itu bisa dilepas dengan cepat jika ia harus berlari atau menendang.​"Tetap di belakangku saat kita sampai," perintah Calvin tanpa menoleh. Suaranya rendah, penuh otoritas yang tak terbantahkan. "Ini bukan lagi sekadar drama keluarga, Kyara. Ini adalah wilayah di mana nyawa tidak lebih berharga daripada debu."​Kylie hanya melirik suaminya. Ia mengambil ponselnya dan mengetik sesuatu dengan tenang.​[Aku bukan tawananmu, Calvin. Aku adalah istrimu. Dan ji

  • Transmigrasi ke Tubuh Istri Bisu Sang Mafia   12

    Kantor pusat Silent Express bukanlah menara kaca steril yang menjulang di kawasan bisnis elit. Kylie sengaja memilih sebuah gudang tua bernuansa industrial modern di sudut sibuk Jakarta Utara. Dinding bata ekspos, pipa-pipa besi hitam yang melintang di langit-langit, dan konsep ruang kerja terbuka (open space) sengaja dirancang untuk meruntuhkan batasan hierarki yang kaku.​Di lobi utama, sebuah mural besar membentang di dinding: lukisan seorang kurir wanita dengan sayap malaikat yang merentang di atas aspal—sebuah monumen rahasia untuk mengenang dirinya di masa lalu.​Kylie melangkah masuk, disambut oleh deru aktivitas pagi. Para karyawan—sebagian besar di antaranya adalah penyandang disabilitas rungu yang direkrutnya secara khusus—berhenti sejenak untuk menyapanya dengan lambaian tangan dan isyarat hormat.​(Pagi, Bu Boss!) sapa salah satu kurir muda dengan senyum lebar.​Kylie membalasnya dengan anggukan ramah dan isyarat tangannya yang luwes. (Pagi. Jaga keselama

  • Transmigrasi ke Tubuh Istri Bisu Sang Mafia   11

    Enam bulan telah berlalu sejak malam penghakiman di Grand Ballroom itu.​Waktu seakan berjalan dengan ritme yang sama sekali baru di balik gerbang kediaman Hargens. Nenek Hargens, yang menolak menanggung malu pasca-serangan jantung ringannya, kini mengasingkan diri ke vila pribadinya di Puncak—menjauh dari tatapan menghakimi para sosialita ibu kota. Sementara Clarissa? Wanita itu telah dikirim ke sebuah fasilitas rehabilitasi mental kelas atas yang terisolasi ketat di luar negeri. Calvin membiayai semuanya, murni hanya untuk memastikan wanita beracun itu tak akan pernah lagi menginjakkan kaki di tanah yang sama dengan istrinya.​Kini, mansion pualam megah itu sepenuhnya berada di bawah kekuasaan Calvin dan Kyara.​Suasananya telah berubah drastis. Jika dulu rumah ini terasa seperti mausoleum yang mencekik dan menyimpan rahasia mati, kini denyutnya menyerupai markas komando dua jenderal yang saling beradu dominasi.​Pagi itu, ketukan hak sepatu tinggi beradu dengan la

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status