LOGINCalvin mendengus muak melihat ketegaran semu di mata istrinya. Pria itu membalikkan badan, melangkah pergi dan membanting pintu tanpa sudi menoleh lagi. Ia meninggalkan istrinya di tengah kekacauan porselen tajam dan sisa makanan yang berserakan.
Begitu getaran dari bantingan pintu itu memudar di telapak kakinya, bahu Kylie merosot. Ia menghela napas panjang. Ditatapnya pecahan beling berlumur bubur di lantai marmer itu, lalu pandangannya beralih kembali ke cermin besar. Ia mengangkat tangan, menyentuh bayangan wajah Kyara di permukaan kaca yang dingin. "Kyara Ardennes..." bisiknya dalam keheningan pikirannya. "Kau punya kekayaan yang tak habis dimakan tujuh turunan, tapi kau membiarkan jiwamu membusuk hanya karena kau tidak bisa mendengar? Hanya karena kau memohon cinta dari pria yang hatinya sudah mati?" Kylie mengepalkan tangannya perlahan. Tulang-tulang jarinya yang kini putih dan halus terasa asing, namun tekad yang mengalir di pembuluhnya tetap sama. "Kylie Slavonia mungkin sudah mati di aspal basah," batinnya, menatap lurus menembus mata sedih di cermin itu. "Tapi aku menolak mati dua kali. Tubuh ini milikku sekarang. Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun menjadikan kita keset kaki lagi." Mata sendu di cermin itu perlahan berubah. Kilap ketakutannya menguap, digantikan oleh ketajaman seekor penyintas. Posturnya yang sejak tadi membungkuk ragu, kini tegak dengan kuda-kuda mantap. Kylie berbalik, melangkah pasti menjauhi cermin. Ia melangkahi pecahan beling itu tanpa repot-repot membersihkannya. Biarkan saja. Itu bukan tugasnya. Ia membuka pintu lemari pakaian yang besar. Deretan gaun berwarna pastel—peach, krem, putih gading—menyambutnya. Warna-warna aman yang menjeritkan permohonan, "Tolong jangan lihat aku, tolong jangan sakiti aku." Tangan Kylie menelusuri deretan kain sutra itu, hingga jemarinya menyentuh sesuatu dengan tekstur berbeda di sudut paling gelap. Ia menariknya keluar. Sebuah gaun beludru berwarna merah marun berpotongan tegas. Label harganya bahkan belum dilepas. Pasti gaun yang dibeli namun disembunyikan Kyara karena ia terlalu takut akan kemarahan Calvin jika tampil mencolok. "Warna pucat hanya membuatmu terlihat seperti mayat hidup, Kyara," batin Kylie. Sudut bibirnya terangkat. "Mulai hari ini, kita hidup." Kylie berdiri mematung memandangi gaun merah itu, membiarkan kain beludrunya jatuh menjuntai membelai kakinya. Gaun itu berat, elegan, dan menantang. Sebuah antitesis sempurna dari masa lalu tubuh ini. Tiba-tiba, pintu kamar terbuka kasar tanpa ketukan. Seorang pelayan wanita paruh baya berseragam hitam-putih melangkah masuk. Bi Surti. Kepala pelayan yang loyalitasnya hanya mengabdi pada keangkuhan keluarga Hargens. Langkah Bi Surti terhenti seketika melihat kekacauan di lantai. Wajahnya langsung memerah padam. Tatapannya mendelik tajam ke arah nyonyanya yang justru asyik memegang gaun. Mulut pelayan itu bergerak cepat, melontarkan bentakan keras. Bagi Kylie, dunia tetap hening. Namun, matanya yang terlatih menangkap setiap gerak bibir dan otot wajah wanita tua itu. "Apa yang Nyonya lakukan?! Tuan Muda barusan keluar menahan marah! Bukannya membersihkan kekacauan ini, Nyonya malah main-main dengan baju?! Nyonya mau cari mati?!" Dalam naskah lama, Kyara akan langsung gemetar, menjatuhkan pakaiannya, lalu berlutut memunguti pecahan beling itu sambil menangis tanpa suara hingga jari-jarinya berdarah. Namun, wanita yang berdiri di sana tidak bergeming. Kylie memutar tubuhnya lambat-lambat. Ia menghadap Bi Surti sepenuhnya. Kakinya berpijak kokoh pada karpet, menyeimbangkan tubuhnya dengan ketenangan mutlak layaknya saat ia menaklukkan jalanan berlubang di bawah tekanan beban yang nyaris mustahil dibawanya dulu. Sepasang mata bulat itu menyorot Bi Surti. Dingin. Menguliti. Menindas. Sorot yang sama saat ia menatap preman terminal yang berani mengancamnya. Bi Surti yang baru saja menarik napas untuk kembali mengomel, mendadak tersedak ludahnya sendiri. Kata-katanya mati di tenggorokan. Ada sesuatu yang salah. Nyonya bisu yang biasanya gemetar seperti daun kering ini... mengapa auranya terasa begitu berat dan mencekik? Kylie melangkah maju. Satu langkah. Dua langkah. Tanpa suara, namun mengintimidasi. Ia mengangkat tangan kanannya. Menunjuk pecahan beling di lantai, lalu menunjuk lurus tepat ke hidung Bi Surti. Gerakannya tidak terburu-buru, melainkan lambat dan sarat akan otoritas absolut. Selanjutnya, jemari Kylie bergerak merangkai isyarat. Tegas, patah-patah, dan mematikan. (Bersihkan. Itu. Tugasmu. Bukan. Tugasku.) Bi Surti melongo. Pelayan itu tidak paham bahasa isyarat, tapi insting purbanya menangkap gestur pengusiran yang Kylie berikan setelahnya. Sebuah ayunan tangan meremehkan yang menuntutnya untuk segera berlutut dan bekerja, atau menyingkir dari pandangan. "N-Nyonya... kau..." Bi Surti tergagap, tanpa sadar mundur selangkah, terpojok oleh tekanan tak kasat mata dari wanita yang bahkan tak mengeluarkan sepatah kata pun. Kylie tak lagi mempedulikan pelayan yang mematung itu. Ia berbalik anggun, membawa gaun merah darahnya ke kamar mandi, lalu menutup pintu. Brak! Getaran pintunya menjalar ke lantai, menjadi garis batas yang tegas bahwa masa penindasan di kamar ini telah berakhir. Di balik pintu marmer itu, Kylie menatap pantulan dirinya, bersiap membakar sangkar emas ini dari dalam. Ruang makan kediaman Hargens malam itu terasa sebeku ruang interogasi. Meja kayu mahoni hitam yang dirancang untuk dua puluh orang itu tampak terlalu lapang, hanya menyisakan Calvin Hargens yang duduk sendirian di ujung kepala meja. Pria itu memotong steak medium rare di piringnya dengan gerakan pisau yang presisi, namun sarat akan kebrutalan yang tertahan. Cairan kemerahan merembes dari serat daging, menodai porselen putihnya. Pikirannya masih keruh. Insiden di kamar tadi dan bayangan tentang Belva membuat dadanya sesak oleh amarah. Ia menekan garpunya kuat-kuat. Mengapa ia harus terjebak dalam pernikahan konyol dengan pajangan cacat yang membosankan? Udara di ruangan itu terasa mati. Para pelayan berdiri mematung bak ornamen di sudut-sudut redup, menahan napas agar tak memicu murka sang majikan. Hingga keheningan itu dirobek secara paksa. Tuk... Tuk... Tuk... Ketukan hak tinggi beradu dengan lantai marmer. Ritmenya tidak tergesa-gesa, melainkan konstan, menggema dari arah tangga utama. Rahang Calvin mengeras. Alisnya bertaut tajam. Kyara biasanya mengenakan selop kain yang menelan suara langkahnya, merayap menyusuri rumah ini layaknya bayangan yang takut pada cahaya. Siapa yang berani melangkah dengan arogansi seperti itu di teritorinya? Calvin mendongak, dan gerak tangannya terhenti di udara. Di ambang batas cahaya lampu gantung, berdiri siluet yang membekukan darahnya. Itu Kyara. Namun, sekaligus bukan wanita yang ia kenal. Ia terbalut gaun beludru merah marun yang jatuh memeluk lekuk tubuhnya dengan sempurna, mengekspos garis leher dan bahu seputih porselen. Rambut bergelombangnya yang biasa dibiarkan layu kini digelung elegan ke atas, menyisakan beberapa anak rambut yang membingkai wajah tajam. Poles mata yang pekat menonjolkan sepasang netra yang tak lagi menunduk, sementara bibirnya disaput warna merah darah yang seakan menantang kewarasan. Wanita itu terlalu cantik hingga ruangan terasa kehilangan pasokan oksigen. Namun, bukan visual itu yang menahan napas Calvin. Melainkan posturnya. Dagu itu terangkat angkuh. Tidak ada lagi bahu yang melengkung memohon ampun. Kylie melangkah memasuki ruang makan. Ia menikmati getaran lantai di dasar kakinya, sebuah ritme kemenangan. Ia menangkap kilat keterkejutan di mata kelam suaminya, dan bibirnya nyaris melengkung puas. Tanpa repot-repot menunggu dipersilakan, Kylie berjalan melewati deretan kursi kosong. Namun, ia tidak menuju ke ujung seberang yang biasa ditempati Kyara. Ia melangkah terus, berhenti di kursi kedua dari ujung—tepat di sebelah kanan Calvin. Terlalu dekat. Terlalu lancang. Ia menarik kursi itu sendiri, mengabaikan pelayan yang nyaris melompat maju, lalu duduk menyilangkan kaki dengan keanggunan seorang ratu yang baru saja merebut takhtanya. Keterkejutan di mata Calvin langsung tergantikan oleh badai amarah. Egonya tertampar keras. "Apa yang sedang kau lakukan?" Suara Calvin merendah, berat dan dingin, mengiris udara di antara mereka. "Sejak kapan kau berani duduk di jarak sejauh ini dariku? Dan dari mana kau dapatkan keberanian memakai kain murahan itu?" Kylie menatap wajah pria itu lekat-lekat. Mata kelam Calvin membara, tapi Kylie tidak ciut. Jika ia bisa menghadapi preman mabuk bersenjata tajam di warung tenda tanpa berkedip, gertakan pria berjas mahal ini tak ada bedanya dengan angin lalu. Kylie mengambil serbet, membentangkannya di pangkuan dengan gerakan pelan dan disengaja. Ia menatap Calvin lurus-lurus. Diam. Sebuah kebisuan yang tidak lagi menyiratkan kepatuhan, melainkan ejekan mutlak. Ia mengangkat tangan, menjentikkan jari ke arah kepala pelayan tanpa memalingkan wajahnya dari Calvin. Lalu, tangannya menunjuk piring kosong, menunjuk steak berdarah milik suaminya, dan menunjuk mulutnya sendiri. (Aku. Lapar. Beri. Aku. Makan. Sekarang.) Gestur itu sederhana, namun otoritasnya menekan seluruh isi ruangan. BRAK! Calvin menghantam meja. Denting kristal beradu keras dengan porselen. "Jangan menguji kesabaranku, Kyara!" desis pria itu, urat di lehernya menegang. "Kau mungkin tuli, tapi kau tidak bodoh. Ganti pakaian memalukanmu, atau aku yang akan merobeknya." Getaran kasar dari hantaman meja itu menjalar hingga ke kursi Kylie. Bukannya meringkuk ketakutan, Kylie justru perlahan bangkit berdiri. Aksinya membuat udara di ruangan itu terasa membeku. Pelayan menahan napas, menanti kapan Tuan mereka akan meledak. Kylie mencondongkan tubuhnya, menumpukan kedua telapak tangannya di pinggiran meja kayu, memangkas jarak hingga ia bisa mencium aroma kayu manis dan maskulinitas yang menguar dari tubuh Calvin. Ia membalas tatapan membunuh pria itu dengan ketenangan yang mematikan. Lalu, ia mengangkat tangannya. Bukan untuk memohon. Jari-jemarinya mulai merajut kata di udara. Cepat, presisi, dan sarat akan emosi yang menggelegak. Kylie menunjuk sepasang matanya, lalu menunjuk lurus ke mata Calvin. (Lihat aku.) Ia menelusurkan tangannya ke atas gaun merahnya, lalu menepuk dadanya sendiri. (Ini tubuhku. Ini wilayahku.) Tatapannya menajam, mengunci netra kelam pria itu, lalu menepuk dada kirinya keras-keras, sebelum mengayunkan tangannya seolah membuang sesuatu ke udara. (Rasa takutku padamu sudah mati.) Sebagai penutup, ia menyatukan ibu jari dan telunjuknya membentuk lingkaran, lalu menjentikkannya ke arah Calvin seolah menyentil debu yang tak kasat mata. Gestur universal yang tak butuh penerjemah: (Kau bukan apa-apa.) Calvin terpaku. Rahangnya terkunci rapat. Ia tak paham kosakata isyarat itu, namun intensitasnya menghantamnya telak bak pukulan fisik. Udara di sekitarnya terasa panas. Wanita bisu ini baru saja memakinya. Mempermalukannya tanpa mengeluarkan satu desibel suara pun. Setelah menyelesaikan deklarasi perangnya, Kylie duduk kembali. Tubuhnya rileks. Seorang pelayan maju dengan tangan gemetar parah, meletakkan piring berisi steak di hadapan sang Nyonya. Kengerian terlukis di wajah pelayan itu, yakin bahwa pertumpahan darah akan segera terjadi. Namun Kylie hanya mengulas senyum tipis pada si pelayan. Sebuah senyum yang hangat dan tulus, kontras luar biasa dengan aura membunuh yang baru saja ia pancarkan. Dengan anggun, ia meraih pisau dan garpu. Ia mulai memotong daging itu, memasukkannya ke mulut, dan mengunyah dengan ketenangan absolut—mengabaikan eksistensi pria paling berbahaya di ruangan itu seakan ia hanyalah serangga yang tak pantas diperhatikan. Di seberang meja, Calvin Hargens masih mematung. Dadanya naik-turun menahan gejolak yang asing. Amarahnya masih membara, ya, tetapi di balik rasa ingin mencekik leher jenjang itu... terselip secercah ketertarikan yang membuat kewarasannya di ujung tanduk. Kau bukan Kyara, batin Calvin, matanya menatap lekat wanita yang tengah makan dengan penuh kemenangan itu. Untuk pertama kalinya sejak ia mewarisi takhta keluarga ini, rumah besarnya terasa terlalu sempit untuk menampung dua pemangsa di bawah satu atap yang sama.Sinar matahari pagi menyusup malu-malu dari sela-sela tirai beludru tebal berwarna merah marun yang menutupi jendela setinggi langit-langit. Hujan badai yang semalaman mengamuk menghancurkan Jakarta kini telah berganti menjadi fajar yang tenang, menyisakan embun di kaca antipeluru dan aroma tanah basah yang samar-samar tercium melalui sistem ventilasi canggih mansion tersebut. Di atas ranjang king-size yang lebih menyerupai sebuah altar persembahan itu, selimut sutra hitam teracak berantakan. Sepasang senjata api—sebuah Beretta 92FS perak dan Glock-19 kustom—tergeletak begitu saja di atas nakas kayu mahoni, berdampingan dengan sebotol Bourbon yang isinya tinggal separuh. Atlas Mahardika membuka matanya. Tidak ada erangan malas atau proses mengumpulkan kesadaran layaknya manusia normal. Insting predatornya selalu membuatnya terbangun dengan kejernihan penuh. Pemuda yang kini menyandang gelar sebagai raja tak bermahkota dari dunia bawah tanah itu tidak segera beranjak. Ia memirin
Hujan badai menghantam kaca antipeluru setebal tiga inci di mansion eksklusif yang bertengger angkuh di puncak bukit Sentul. Petir menyambar, membelah langit malam Jakarta dengan kilatan putih yang kejam, namun tak sedikit pun mampu mengusik ketenangan absolut di dalam ruang kerja utama sang penguasa dunia bawah tanah. Tiga tahun telah berlalu sejak malam pembantaian di Puncak. Tiga tahun sejak kepala Vladimir Sokolov dipenggal dan dilemparkan ke hadapan Dewan Agung Bratva, membungkam segala bentuk pemberontakan. Kini, tidak ada lagi faksi yang terpecah. Yang ada hanyalah Kekaisaran Mahardika-Kendoveks. Sebuah aliansi monarki berdarah yang menguasai bursa saham di siang hari dan memonopoli kartel bayaran di malam hari. Atlas Mahardika berdiri di depan perapian batu marmer hitam. Kemeja sutra gelapnya dibiarkan terbuka di bagian dada, memperlihatkan tato lambang bintang delapan Vor v Zakone yang bersanding dengan logo Mahardika Group—sebuah simbol penyatuan yang ia ukir sendiri
Deru ombak yang menghantam beton dermaga Tanjung Priok seolah menjadi simfoni pengiring saat Atlas dan Vea berjalan keluar dari gudang raksasa itu. Di belakang mereka, lima tetua faksi netral Bratva masih membeku di kursi masing-masing, terbungkam oleh kombinasi antara teror psikologis yang Atlas tebar dan mahkota berdarah yang Vea tawarkan.Udara siang pelabuhan yang panas dan berdebu menerpa wajah mereka, namun tidak sedikit pun melunturkan aura dingin yang membekukan dari kedua remaja itu.Atlas membukakan pintu penumpang Audi RS7 untuk Vea. Pemuda itu tidak segera menutupnya. Ia berdiri di ambang pintu, menundukkan kepalanya, dan menatap lurus ke dalam sepasang mata legam sang gadis. Hembusan angin laut mengacak pelan rambut hitam Atlas, menambah kesan liar pada wajah aristokratnya yang rahangnya masih mengeras oleh sisa-sisa adrenalin."Lo baru aja menaklukkan setengah dari dewan bawah tanah Jakarta tanpa melepaskan satu pun tembakan, Moya Koroleva," bisik Atlas
Angin laut yang berembus di kawasan Pelabuhan Tanjung Priok pagi itu terasa tebal, membawa campuran aroma garam, solar, dan karat besi tua. Di ujung dermaga sektor utara—area terlarang yang tidak tersentuh oleh otoritas pelabuhan resmi—deretan kontainer pengiriman bersusun menjulang bak tebing-tebing baja berwarna kusam.Di tengah labirin industrial yang suram itulah, Audi RS7 hitam milik Atlas membelah keheningan, meluncur tenang bagaikan seekor hiu predator yang memasuki perairan dangkal musuhnya.Mesin V8 twin-turbo itu mendengkur pelan sebelum akhirnya mati total saat Atlas memarkirkan kendaraannya tepat di depan sebuah gudang raksasa beratap seng. Di depan pintu gudang yang terbuka separuh, belasan pria berbadan tegap bergaya militer paramiliter timur Eropa telah bersiaga. Senapan serbu AK-47 dan Saiga-12 tersandang santai namun mematikan di bahu mereka.Di dalam kabin mobil yang kedap suara, Atlas menoleh menatap Vea. Gadis itu duduk diam membeku, sepasang mata
Sinar matahari pagi Jakarta menyusup malu-malu dari balik tirai otomatis penthouse mewah itu, melukiskan garis-garis keemasan di atas lantai marmer hitam yang dingin. Di atas ranjang berukuran king-size dengan seprai sutra berwarna abu-abu arang, waktu terasa membeku dalam sebuah hening yang mematikan. Atlas Mahardika tidak pernah benar-benar tidur. Pemuda itu duduk bersandar pada headboard ranjang berlapis beludru gelap. Bertelanjang dada, otot-otot perut dan dadanya yang keras tercetak sempurna di bawah bias cahaya fajar. Sebatang rokok Marlboro Black terselip di antara dua jarinya, asapnya mengepul pelan, meliuk-liuk di udara dingin yang diatur pada suhu enam belas derajat celcius. Mata Atlas yang segelap dasar palung samudera menunduk, menatap lekat-lekat sosok perempuan yang bergelung di samping pinggulnya. Vea Kendoveks terlelap dengan separuh wajah tenggelam di balik bantal sutra. Selimut tebal itu hanya menutupi pinggangnya, membi
Mesin V8 twin-turbo milik Audi RS7 itu meraung rendah, membelah keheningan dini hari saat kendaraan melaju menyusuri protokol Sudirman yang sepi. Di dalam kabin kedap suara berbalut kulit alcantara hitam, keheningan yang membentang terasa begitu pekat dan sarat gairah.Atlas Mahardika mengendalikan kemudi hanya dengan tangan kirinya. Jemari tangannya yang panjang dan berotot menggenggam erat roda kemudi, sementara tangan kanannya terentang di atas konsol tengah—jemarinya mengunci jemari lentik Vea yang dingin tanpa niat untuk melepaskannya.Lampu-lampu jalanan ibu kota menyapu kabin secara bertahap, memantulkan bias cahaya keemasan di rahang tegas Atlas. Di sampingnya, Vea bersandar pada jok kulit, matanya menatap kosong ke luar jendela memandangi deretan pencakar langit. Kemeja putihnya yang tertutup hoodie kini berbau mesiu, tetapi fokus gadis itu sepenuhnya berada pada cengkeraman hangat di tangannya."Kita mau ke mana?" tanya Vea pelan. Suaranya agak parau, pecah







