Share

4

last update publish date: 2026-08-05 19:18:38

Deru mesin Ducati merah itu membelah kemacetan pinggiran ibu kota dengan buas. Di balik kacamata hitamnya, Kylie—dalam cangkang tubuh Kyara—membiarkan angin panas Jakarta menerpa wajah dan mengacak-acak sanggul rapinya. Baginya, tamparan angin ini adalah pelukan; getaran mesin bertenaga besar di bawahnya adalah detak jantung yang meyakinkan bahwa ia masih bernapas.

Melewati gedung-gedung pencakar langit, pemandangan perlahan menyusut menjadi deretan ruko kusam dan jalanan berlubang. Udara yang semula terfiltrasi AC gedung kini berganti menjadi aroma tajam bensin eceran yang bercampur dengan bau anyir sampah pasar.

Laju Ducati itu perlahan mengendur saat sebuah persimpangan besar mulai terlihat. Persimpangan maut itu.

Kylie menepikan motornya di trotoar retak. Begitu ujung sepatunya memijak aspal, lututnya mendadak kehilangan tenaga. Ini adalah tanah yang sama tempat napas terakhir Kylie Slavonia direnggut paksa.

Ia melangkah gontai mendekati sudut jalan. Sisa-sisa garis polisi berwarna kuning-hitam tampak kusam, terputus ditiup angin. Di sana, di atas permukaan aspal yang kasar, terdapat noda kecokelatan yang telah mengering dan meresap ke dalam pori-pori jalan. Darahnya sendiri. Seseorang yang baik hati telah meletakkan beberapa kuntum bunga kamboja yang kini mulai layu tersapu debu.

Kylie luruh. Ia bersimpuh begitu saja, tak memedulikan celana bahan krem mahalnya yang kini ternoda kotoran jalanan. Ujung jemarinya yang lentik dan terawat bergetar saat menyentuh permukaan aspal dingin itu.

Di tengah bisingnya klakson dan riuhnya pedagang pasar di seberang jalan, Kylie terjebak dalam keheningan total dunianya. Air mata yang sejak tadi ia bendung akhirnya jebol, menganak sungai merusak riasan mahalnya.

Ingatannya terlempar pada masa-masa saat tubuh lamanya masih bernapas. Ia merindukan udara pagi yang dingin saat tamasya keluarga di Wonosobo. Ia merindukan rasa pegal di lengannya saat harus menyeimbangkan motor matic tuanya yang sarat muatan—mulai dari tumpukan karung berukuran raksasa, keranjang dan ember yang bergelantungan di sisi motor, hingga rangka tempat tidur yang diikat paksa di jok belakang. Beban yang dulu terasa mencekik leher itu, kini justru sangat ia rindukan.

Ayah... Ibu... batinnya menjerit, merengkuh kekosongan di dadanya. Kylie pulang. Tapi kenapa tempat ini sepi sekali? Ke mana raga anakmu dibawa pergi?

Di dalam tubuh pewaris kekayaan yang tak bersuara ini, Kylie merasa tak lebih dari seorang pencuri yang merampas takdir orang lain, menangisi nisannya sendiri tanpa nama.

Hanya berjarak belasan meter di belakangnya, sebuah SUV hitam pekat menepi perlahan. Berkat sinyal pelacak GPS yang tertanam di semua kendaraan mansion, Rian berhasil mengejar jejak Nyonya Mudanya menembus kemacetan.

Di kursi penumpang belakang, Calvin Hargens duduk membeku. Rahangnya mengeras hingga urat lehernya menonjol. Matanya tak lepas menatap dari balik kaca film yang gelap.

Ia melihat semuanya. Ia melihat istrinya—wanita bisu yang ia anggap tak ubahnya boneka porselen tanpa perasaan—bersimpuh di atas debu jalanan yang menjijikkan. Ia melihat bahu ramping itu bergetar hebat, meratapi sesuatu di atas aspal dengan keputusasaan yang meluluhlantakkan.

"Rian," panggil Calvin. Suaranya rendah, berbahaya, dan nyaris menyerupai geraman.

"Ya, Tuan?" Rian melirik dari kaca spion tengah.

"Cari tahu. Kenapa dia menangis di sana? Apa yang terjadi di persimpangan kumuh itu?"

Jari-jari Rian menari cepat di atas layar tabletnya, meretas laporan kepolisian setempat dalam hitungan detik. "Tuan, dua hari yang lalu terjadi kecelakaan lalu lintas fatal di titik tersebut. Seorang wanita, kurir pengantar makanan, tewas di tempat tertabrak truk bermuatan berlebih." Rian menelan ludah sebelum melanjutkan. "Nama korban adalah... Kylie Slavonia."

Alis Calvin bertaut tajam. "Kylie Slavonia? Apa Kyara mengenalnya?"

"Tidak ada data yang saling bersilangan, Tuan. Nyonya Kyara tidak pernah keluar dari lingkaran pergaulan elitnya, apalagi berinteraksi dengan pekerja jalanan." Rian menoleh ke belakang dengan ragu. "Tapi... Nyonya menangis seolah ia baru saja kehilangan belahan jiwanya sendiri."

Calvin terdiam. Kuku-kukunya tanpa sadar menancap kuat pada bantalan jok kulit di bawahnya.

Ada sensasi asing yang menyengat dadanya. Selama dua tahun pernikahan mereka, Calvin terbiasa menjadi satu-satunya poros emosi Kyara. Ia adalah pusat ketakutan, pusat kesedihan, dan pusat penderitaan wanita itu. Melihat Kyara hancur lebur karena sesuatu yang sepenuhnya berada di luar kendali dan pengetahuannya... mengoyak ego Calvin.

Sangkar emasnya telah dijebol dari luar, dan ia tidak tahu siapa pencurinya.

"Tetap di sini," perintah Calvin dingin, matanya tak berkedip menatap siluet rapuh istrinya di kejauhan. "Jangan sampai dia tahu kita mengamatinya."

Kylie mengusap kasar jejak air mata di pipinya, tak peduli jika maskaranya sedikit luntur. Ia tidak boleh terlihat hancur di sini. Ia harus mencari tahu di mana jasadnya disemayamkan. Dengan napas yang mulai teratur, ia bangkit, berniat menuju warung tenda di seberang jalan yang dulu sering memberinya kopi gratis.

Namun, baru dua langkah ia memutar tumit, bayangan tiga sosok besar memblokir jalannya.

Aroma alkohol murahan yang menguar dari napas mereka langsung menusuk hidung. Tiga pria dengan tato pudar dan kulit terbakar matahari mengepungnya. Mereka adalah lintah pasar yang sama, yang dulu sering memalak uang keamanan dari lapak aksesorisnya.

Pria di tengah—dengan kaus dalam dekil yang tercetak bentuk perut buncitnya—menyeringai. Mulutnya bergerak, dan mata Kylie tanpa kesulitan membaca setiap silabel kotornya.

"Wah... ada bidadari nyasar. Baju mahal, motor mahal. Rezeki sore-sore, nih."

Pria kedua tidak banyak bicara. Ia langsung melangkah maju, memangkas jarak secara agresif, dan mencoba merangkul pinggang Kylie. "Sendirian, Neng? Temenin abang dulu, yuk."

Kylie mundur setengah langkah. Matanya menajam. Awan kelabu kedukaannya seketika menguap, terbakar habis oleh kemarahan murni. Ia sedang meratapi kematiannya, dan lintah-lintah ini berani merusak keheningannya?

Kylie mengangkat tangan kanannya. Bukannya gemetar ketakutan, ia justru mengacungkan ibu jarinya ke bawah, lalu meludah ke aspal tepat di ujung sepatu pria itu. Sebuah isyarat universal yang merendahkan.

(Kalian. Sampah.)

Tawa kasar pria pertama meledak. "Eh, bisu ternyata! Heh, kalau mulut lu nggak bisa ngomong, mending dipake buat hal lain aja sama kita!"

Kalimat menjijikkan itu adalah pelatuknya. Darah Kylie mendidih.

Di saat yang sama, belasan meter dari sana, pintu SUV hitam terbuka dengan bantingan keras. Calvin Hargens melompat keluar. Rahangnya mengeras, matanya memancarkan niat membunuh yang pekat. Jantung pria itu berdegup dengan ritme panik yang tak ia kenali; tak ada satu pun tangan kotor yang boleh menyentuh istrinya.

"Tuan, bahaya!" Rian berseru, ikut melompat keluar menyusul majikannya.

Namun, langkah Calvin tertahan di tengah jalan. Matanya melebar, menyaksikan pemandangan yang meruntuhkan segala logikanya.

Saat tangan kotor preman kedua hampir menyentuh pinggangnya, Kylie tidak menjerit. Ia bergerak.

Kylie menangkap pergelangan tangan pria itu dengan kedua tangannya, memelintirnya dengan paksa menggunakan seluruh berat badannya, dan—KRAK!—bunyi tulang bergeser terdengar mengerikan. Tanpa memberi jeda, Kylie menarik bahu pria itu ke bawah, menyambut ulu hatinya dengan hantaman lutut yang mematikan.

Bugh! Pria itu tumbang, meringkuk seperti udang rebus sambil memegangi perutnya yang kehabisan oksigen.

Dua temannya terbelalak. "Sialan! Mati lu, jalang!"

Mereka menerjang bersamaan. Kylie menarik lepas kacamata hitamnya dan melemparnya sembarangan ke aspal. Ia memasang kuda-kuda. Posturnya kokoh. Kakinya memijak aspal dengan keseimbangan absolut—keseimbangan yang ditempa bukan di sasana bela diri, melainkan memori otot saat ia harus menaklukkan jalanan menanjak Wonosobo di atas motor matic tuanya, menahan guncangan luar biasa saat membawa muatan raksasa berisi tumpukan karung, kerangka tempat tidur yang diikat paksa, hingga rentengan keranjang dan ember di sisi bodi motor. Kaki seorang pekerja kasar itu kini menjadi senjata.

Saat preman kedua mengayunkan tinju mentahnya, Kylie menunduk dengan luwes—gerakan yang sangat kontras dengan tubuh ramping Kyara—lalu memutar pinggulnya, melontarkan upper-cut kasar namun bertenaga tepat ke rahang bawah lawannya. Pria itu terhuyung hebat ke belakang, menabrak dan menghancurkan tumpukan keranjang sayur berbau busuk.

Preman ketiga, yang kini panik, mencabut sebilah pisau lipat dari saku celananya.

Calvin mempercepat langkahnya, tangannya merogoh pistol di balik jasnya. Tapi istrinya kembali membuktikan bahwa ia tidak butuh pahlawan.

Saat pisau itu terayun buta ke arahnya, Kylie mengayunkan tas kulit mahalnya berdesain kaku bak tameng baja, menangkis pergelangan tangan pria itu hingga senjatanya terlempar. Di detik berikutnya, Kylie bertumpu pada satu kaki, memutar tubuhnya, dan melepaskan tendangan menyamping yang brutal ke pelipis pria terakhir itu.

Brak! Preman itu menghantam aspal dan kehilangan kesadaran seketika.

Hening.

Sore di pinggiran Pasar Lama itu mendadak sunyi. Orang-orang dan pedagang asongan yang sedari tadi menonton hanya bisa mematung dengan mulut terbuka.

Di tengah erangan pelan pria-pria yang tumbang di sekitarnya, Kylie berdiri tegak. Dadanya naik-turun memburu pasokan udara. Kemeja sutra hitamnya kusut, beberapa helai rambutnya terlepas dari sanggulan dan menempel di peluh dahinya.

Calvin Hargens berdiri terpaku hanya lima meter dari tempat itu. Pistolnya masih tertahan di balik jas. Tatapannya terkunci pada sosok wanita yang selama ini ia anggap sebagai pajangan rapuh yang tak berguna. Di bawah cahaya matahari sore yang keemasan, istrinya itu tidak terlihat seperti bidadari patah sayap; ia terlihat seperti dewi perang yang baru saja turun dari langit untuk menaklukkan bumi.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Transmigrasi ke Tubuh Istri Bisu Sang Mafia   .

    ​Sinar matahari pagi menyusup malu-malu dari sela-sela tirai beludru tebal berwarna merah marun yang menutupi jendela setinggi langit-langit. Hujan badai yang semalaman mengamuk menghancurkan Jakarta kini telah berganti menjadi fajar yang tenang, menyisakan embun di kaca antipeluru dan aroma tanah basah yang samar-samar tercium melalui sistem ventilasi canggih mansion tersebut. ​Di atas ranjang king-size yang lebih menyerupai sebuah altar persembahan itu, selimut sutra hitam teracak berantakan. Sepasang senjata api—sebuah Beretta 92FS perak dan Glock-19 kustom—tergeletak begitu saja di atas nakas kayu mahoni, berdampingan dengan sebotol Bourbon yang isinya tinggal separuh. ​Atlas Mahardika membuka matanya. Tidak ada erangan malas atau proses mengumpulkan kesadaran layaknya manusia normal. Insting predatornya selalu membuatnya terbangun dengan kejernihan penuh. ​Pemuda yang kini menyandang gelar sebagai raja tak bermahkota dari dunia bawah tanah itu tidak segera beranjak. Ia memirin

  • Transmigrasi ke Tubuh Istri Bisu Sang Mafia   .

    ​Hujan badai menghantam kaca antipeluru setebal tiga inci di mansion eksklusif yang bertengger angkuh di puncak bukit Sentul. Petir menyambar, membelah langit malam Jakarta dengan kilatan putih yang kejam, namun tak sedikit pun mampu mengusik ketenangan absolut di dalam ruang kerja utama sang penguasa dunia bawah tanah. ​Tiga tahun telah berlalu sejak malam pembantaian di Puncak. Tiga tahun sejak kepala Vladimir Sokolov dipenggal dan dilemparkan ke hadapan Dewan Agung Bratva, membungkam segala bentuk pemberontakan. ​Kini, tidak ada lagi faksi yang terpecah. Yang ada hanyalah Kekaisaran Mahardika-Kendoveks. Sebuah aliansi monarki berdarah yang menguasai bursa saham di siang hari dan memonopoli kartel bayaran di malam hari. ​Atlas Mahardika berdiri di depan perapian batu marmer hitam. Kemeja sutra gelapnya dibiarkan terbuka di bagian dada, memperlihatkan tato lambang bintang delapan Vor v Zakone yang bersanding dengan logo Mahardika Group—sebuah simbol penyatuan yang ia ukir sendiri

  • Transmigrasi ke Tubuh Istri Bisu Sang Mafia   .

    ​Deru ombak yang menghantam beton dermaga Tanjung Priok seolah menjadi simfoni pengiring saat Atlas dan Vea berjalan keluar dari gudang raksasa itu. Di belakang mereka, lima tetua faksi netral Bratva masih membeku di kursi masing-masing, terbungkam oleh kombinasi antara teror psikologis yang Atlas tebar dan mahkota berdarah yang Vea tawarkan.​Udara siang pelabuhan yang panas dan berdebu menerpa wajah mereka, namun tidak sedikit pun melunturkan aura dingin yang membekukan dari kedua remaja itu.​Atlas membukakan pintu penumpang Audi RS7 untuk Vea. Pemuda itu tidak segera menutupnya. Ia berdiri di ambang pintu, menundukkan kepalanya, dan menatap lurus ke dalam sepasang mata legam sang gadis. Hembusan angin laut mengacak pelan rambut hitam Atlas, menambah kesan liar pada wajah aristokratnya yang rahangnya masih mengeras oleh sisa-sisa adrenalin.​"Lo baru aja menaklukkan setengah dari dewan bawah tanah Jakarta tanpa melepaskan satu pun tembakan, Moya Koroleva," bisik Atlas

  • Transmigrasi ke Tubuh Istri Bisu Sang Mafia   .

    ​Angin laut yang berembus di kawasan Pelabuhan Tanjung Priok pagi itu terasa tebal, membawa campuran aroma garam, solar, dan karat besi tua. Di ujung dermaga sektor utara—area terlarang yang tidak tersentuh oleh otoritas pelabuhan resmi—deretan kontainer pengiriman bersusun menjulang bak tebing-tebing baja berwarna kusam.​Di tengah labirin industrial yang suram itulah, Audi RS7 hitam milik Atlas membelah keheningan, meluncur tenang bagaikan seekor hiu predator yang memasuki perairan dangkal musuhnya.​Mesin V8 twin-turbo itu mendengkur pelan sebelum akhirnya mati total saat Atlas memarkirkan kendaraannya tepat di depan sebuah gudang raksasa beratap seng. Di depan pintu gudang yang terbuka separuh, belasan pria berbadan tegap bergaya militer paramiliter timur Eropa telah bersiaga. Senapan serbu AK-47 dan Saiga-12 tersandang santai namun mematikan di bahu mereka.​Di dalam kabin mobil yang kedap suara, Atlas menoleh menatap Vea. Gadis itu duduk diam membeku, sepasang mata

  • Transmigrasi ke Tubuh Istri Bisu Sang Mafia   .

    ​Sinar matahari pagi Jakarta menyusup malu-malu dari balik tirai otomatis penthouse mewah itu, melukiskan garis-garis keemasan di atas lantai marmer hitam yang dingin. Di atas ranjang berukuran king-size dengan seprai sutra berwarna abu-abu arang, waktu terasa membeku dalam sebuah hening yang mematikan. ​Atlas Mahardika tidak pernah benar-benar tidur. ​Pemuda itu duduk bersandar pada headboard ranjang berlapis beludru gelap. Bertelanjang dada, otot-otot perut dan dadanya yang keras tercetak sempurna di bawah bias cahaya fajar. Sebatang rokok Marlboro Black terselip di antara dua jarinya, asapnya mengepul pelan, meliuk-liuk di udara dingin yang diatur pada suhu enam belas derajat celcius. ​Mata Atlas yang segelap dasar palung samudera menunduk, menatap lekat-lekat sosok perempuan yang bergelung di samping pinggulnya. ​Vea Kendoveks terlelap dengan separuh wajah tenggelam di balik bantal sutra. Selimut tebal itu hanya menutupi pinggangnya, membi

  • Transmigrasi ke Tubuh Istri Bisu Sang Mafia   .

    ​Mesin V8 twin-turbo milik Audi RS7 itu meraung rendah, membelah keheningan dini hari saat kendaraan melaju menyusuri protokol Sudirman yang sepi. Di dalam kabin kedap suara berbalut kulit alcantara hitam, keheningan yang membentang terasa begitu pekat dan sarat gairah.​Atlas Mahardika mengendalikan kemudi hanya dengan tangan kirinya. Jemari tangannya yang panjang dan berotot menggenggam erat roda kemudi, sementara tangan kanannya terentang di atas konsol tengah—jemarinya mengunci jemari lentik Vea yang dingin tanpa niat untuk melepaskannya.​Lampu-lampu jalanan ibu kota menyapu kabin secara bertahap, memantulkan bias cahaya keemasan di rahang tegas Atlas. Di sampingnya, Vea bersandar pada jok kulit, matanya menatap kosong ke luar jendela memandangi deretan pencakar langit. Kemeja putihnya yang tertutup hoodie kini berbau mesiu, tetapi fokus gadis itu sepenuhnya berada pada cengkeraman hangat di tangannya.​"Kita mau ke mana?" tanya Vea pelan. Suaranya agak parau, pecah

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status