ログインMereka meninggalkan area pemakaman tepat saat gerimis berubah menjadi hujan badai. Kylie berjalan gontai, sebagian berat tubuhnya bersandar pada lengan Calvin—bukan bermanja, melainkan karena sisa tenaganya telah menguap bersama air mata di depan nisannya sendiri.
Saat mereka mendekati sedan hitam yang terparkir di bahu jalan raya, sebuah truk kontainer raksasa melaju kencang menembus tirai hujan, menggilas genangan air hingga memercik deras ke trotoar. BRUMMM!Malam itu, Grand Ballroom Hotel Hargens disulap menjadi lautan kemewahan. Lampu-lampu kristal raksasa memancarkan pendar keemasan, memantul apik pada deretan gelas sampanye dan perhiasan miliaran rupiah milik para elit Jakarta. Ini adalah malam penobatan bagi Clarissa. Malam di mana ia akan diresmikan sebagai "Malaikat Keluarga Hargens", sosok muda yang dicitrakan memiliki kepedulian sosial tanpa batas. Di sudut ruangan yang agak temaram, Calvin Hargens berdiri tenang. Jemarinya memutar pelan gelas single malt whiskey. Matanya tidak menyapu ruangan untuk mencari rekan bisnis, melainkan terkunci pada satu sosok: istrinya. Kyara—atau siapa pun jiwa yang kini bersemayam di sana—berdiri di sisi lain ballroom, tampak mematikan dalam balutan gaun sutra maroon backless yang memeluk lekuk tubuhnya dengan sempurna. "Kau benar-benar membiarkannya, Cal?" bisik Rian, merapat ke sisi bosnya dengan wajah tegang. "Jika Nyonya meledakkan bom itu di sini, di depan pa
Pagi itu, ruang makan utama kediaman Hargens terasa ganjil. Meski matahari bersinar cerah menembus jendela kaca patri, suhu di dalam ruangan seolah anjlok sepuluh derajat. Udara terasa berat, membawa firasat buruk yang mengendap di dasar lantai marmer. Clarissa melangkah turun dari tangga besar dengan gaun rumah berbahan sutra merah muda yang melambai elegan. Wajahnya segar bercahaya, cerminan dari tidur malam yang nyenyak tanpa diganggu rasa bersalah. Ia sama sekali tidak tahu bahwa semalam, di balik pintu kayu ruang kerja Calvin, surat vonis matinya telah ditandatangani. Ia masih merasa menjadi ratu kecil yang tak tersentuh di istana ini. "Selamat pagi, Nenek," sapa Clarissa riang. Ia mengecup pipi wanita tua yang tengah serius membalik halaman koran bisnis. "Pagi, Sayang," jawab Nenek Hargens tanpa mengalihkan pandangan dari deretan saham. "Duduklah. Hari ini kita akan sibuk bersiap untuk Gala Amal Tahunan. Kau sudah menyempurnakan pidato pembukaa
Mereka meninggalkan area pemakaman tepat saat gerimis berubah menjadi hujan badai. Kylie berjalan gontai, sebagian berat tubuhnya bersandar pada lengan Calvin—bukan bermanja, melainkan karena sisa tenaganya telah menguap bersama air mata di depan nisannya sendiri. Saat mereka mendekati sedan hitam yang terparkir di bahu jalan raya, sebuah truk kontainer raksasa melaju kencang menembus tirai hujan, menggilas genangan air hingga memercik deras ke trotoar. BRUMMM! Gelombang suara mesin diesel dan getaran aspal itu menghantam saraf Kylie bak palu godam. Trauma fisik yang terekam di sel-sel tubuh aslinya bangkit dengan beringas. Napas Kylie tercekat di tenggorokan. Paru-parunya seolah menolak udara. Matanya melebar, terkunci pada sisi badan truk yang melesat itu. Waktu melambat. Di sana, tergambar sebuah logo besar: Seekor Ular Merah yang melingkari Roda Gigi. PT. RED COBRA LOGISTICS. Ingatan detik-detik kematiann
Pagi itu, langit Jakarta menggantung rendah dengan awan abu-abu yang pekat, seolah bersiap menumpahkan beban yang sama beratnya dengan hati penumpang di bawahnya.Di dalam kabin sedan Eropa hitam metalik, keheningan terasa mencekik. Tidak ada sopir yang mengantar. Calvin Hargens sendiri yang memegang kemudi. Jemari besarnya mencengkeram setir berlapis kulit itu begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih, sementara ekor matanya terus mencuri pandang ke arah kursi penumpang.Di sana, Kylie duduk mematung bak patung lilin. Tatapannya kosong, menembus kaca jendela yang mulai berembun oleh rintik hujan pertama. Ia mengenakan gaun terusan hitam pekat yang sederhana, namun membalut posturnya dengan sisa-sisa keanggunan yang menyayat hati. Di pangkuannya, tangannya mencengkeram erat seikat bunga lili putih—bunga kesukaan ibunya; bunga yang kini ia beli untuk menyambut kematiannya sendiri.Calvin merasa seperti sedang menyetir bersama orang asing. Istrinya, Kyara, adalah wan
Malam harinya, saat Calvin Hargens melangkah masuk ke dalam mansion, ia disambut oleh sisa-sisa badai. Neneknya telah mengunci diri di kamar dengan dokter keluarga yang sibuk menenangkannya, Clarissa menolak keluar, sementara pelayan membersihkan pecahan kristal di ruang tamu dengan wajah pucat.Dan sumber dari semua kekacauan itu? Istrinya sedang duduk tenang di ujung meja makan kayu mahoni panjang, menyesap segelas wine merah seolah dunia sedang baik-baik saja.Calvin mendekat, melempar jas mahalnya asal-asalan ke atas kursi. "Kau benar-benar berniat menghancurkan kediaman ini dalam satu hari, Kyara?"Kylie menoleh. Tatapannya tenang, sedingin es. Tanpa terburu-buru, ia meraih botol wine, menuangkan isinya ke gelas kosong di sebelahnya, lalu mendorong gelas itu ke arah Calvin.Calvin menghela napas kasar dan menjatuhkan diri ke kursi. Ia menatap istrinya dengan sorot mata yang rumit. Beberapa jam yang lalu, Rian baru saja melaporkan hasil penyelidikannya: Nihil. Tidak ada satu p
Di tengah napasnya yang masih memburu setelah melumpuhkan ketiga preman, indra kewaspadaan Kylie menangkap perubahan drastis di sekelilingnya.Bising pasar itu mendadak mati. Orang-orang yang semula menonton tiba-tiba melangkah mundur secara serentak, membuka jalan dengan kepala tertunduk ngeri. Melalui ekor matanya, Kylie menangkap sebuah pergerakan bayangan yang tegap. Ia memutar tubuh, bersiap untuk serangan susulan, namun gerakannya terhenti.Calvin Hargens berdiri hanya dua langkah di depannya.Aura pria itu sedingin es utara, namun matanya berkilat seperti neraka yang bocor. Tanpa aba-aba, Calvin melangkah maju, memangkas sisa jarak. Tangan besarnya mencengkeram lengan atas Kylie. Cengkeraman itu tak berniat mematahkan tulang, namun sarat akan kepemilikan mutlak dan rasa frustrasi yang tak tertampung.Wajah Calvin menunduk, mendekat hingga ujung hidung mereka nyaris bersentuhan. Pria itu tidak berteriak untuk memamerkan amarahnya, melainkan mendesiskan kata-kata agar hanya gerak







