แชร์

5

ผู้เขียน: Kholifah shafa
last update วันที่เผยแพร่: 2026-08-05 19:18:49

Di tengah napasnya yang masih memburu setelah melumpuhkan ketiga preman, indra kewaspadaan Kylie menangkap perubahan drastis di sekelilingnya.

Bising pasar itu mendadak mati. Orang-orang yang semula menonton tiba-tiba melangkah mundur secara serentak, membuka jalan dengan kepala tertunduk ngeri. Melalui ekor matanya, Kylie menangkap sebuah pergerakan bayangan yang tegap. Ia memutar tubuh, bersiap untuk serangan susulan, namun gerakannya terhenti.

Calvin Hargens berdiri hanya dua langkah di depannya.

Aura pria itu sedingin es utara, namun matanya berkilat seperti neraka yang bocor. Tanpa aba-aba, Calvin melangkah maju, memangkas sisa jarak. Tangan besarnya mencengkeram lengan atas Kylie. Cengkeraman itu tak berniat mematahkan tulang, namun sarat akan kepemilikan mutlak dan rasa frustrasi yang tak tertampung.

Wajah Calvin menunduk, mendekat hingga ujung hidung mereka nyaris bersentuhan. Pria itu tidak berteriak untuk memamerkan amarahnya, melainkan mendesiskan kata-kata agar hanya gerakan bibirnya yang bisa dibaca oleh istrinya.

"Apa. Yang. Kau. Lakukan. Di sini?" Rahang Calvin mengeras, napas hangatnya menerpa wajah Kylie. "Kau nyaris terbunuh. Dan sejak kapan... kau bisa bertarung seperti itu, Kyara?"

Kylie menatap tepat ke dalam manik kelam suaminya. Tidak ada sisa-sisa kilat ketakutan dan rasa bersalah seperti yang biasa Kyara berikan. Hanya ada tatapan kebosanan absolut.

Dengan satu sentakan kuat, Kylie menarik lengannya dari cengkeraman sang mafia. Tarikan itu begitu bertenaga dan licin, membuat Calvin secara refleks harus melepaskannya karena terkejut. Dengan ekspresi datar, Kylie merogoh ponselnya, mengetik sesuatu dengan kecepatan kilat, lalu menyodorkan layar terang itu tepat di depan dada Calvin.

[Berhenti mengikutiku. Egomu tidak lebih penting dari urusanku.]

Mata Calvin bergerak membaca rentetan kata tajam itu. Harga dirinya seolah ditampar terang-terangan di tengah jalan berdebu ini. Rahangnya semakin kaku.

"Aku suamimu," bisik Calvin, suaranya sarat akan dominasi yang mencekik. "Aku punya hak mutlak atas setiap langkah yang kau ambil di luar rumahku."

Bibir Kylie perlahan melengkung ke atas, mengulas senyuman sinis. Ia menarik kembali ponselnya, menghapus kalimat sebelumnya, lalu mengetik satu balasan terakhir.

[Kemarin aku hanya pajangan bisu. Hari ini aku istrimu? Pulanglah, Calvin. Aku sedang sibuk.]

Kylie memutar tubuhnya, tak memberi Calvin kesempatan untuk bereaksi. Ia berjalan tenang menuju Ducati merahnya, memungut kacamata hitamnya yang salah satu lensanya sedikit retak, lalu memakainya. Ia mengayunkan kaki menaiki jok motor, menghidupkan mesin dengan satu putaran kunci.

VROOOM!

Deru parau knalpot mesin seribu cc itu meraung membelah kesunyian, dengan congkak menenggelamkan segala kemarahan yang mungkin sedang diteriakkan Calvin.

Sebelum melepas tuas gas, Kylie menatap wajah suaminya dari balik kaca spion. Pria itu mematung dengan kepalan tangan yang memutih di sisi tubuhnya. Kylie mengangkat tangan kirinya, menempelkan dua jari di pelipis, lalu mengibaskannya ke udara. Sebuah salam perpisahan jalanan yang lugas.

Motor itu melesat pergi, meninggalkan Calvin Hargens yang—untuk pertama kalinya dalam hidup—dipaksa bertekuk lutut oleh kepulan debu.

Rian, yang sejak tadi menahan napas di kejauhan, perlahan melangkah ke sisi tuannya.

"Tuan... apakah kita perlu mengejarnya lagi?"

Calvin tidak segera menjawab. Matanya menolak berkedip, terus terpaku pada aspal yang baru saja dilindas roda motor istrinya. Ada sensasi panas yang asing merayap lambat di dadanya—sebuah ketertarikan brutal yang jauh lebih mematikan dari rasa benci.

"Rian," suara Calvin terdengar rendah dan berbahaya.

"Cari tahu segala hal tentang kecelakaan kurir bernama Kylie Slavonia. Setiap detailnya. Dan cari tahu garis darah apa yang mengikatnya dengan istriku... Sekarang."

Sinar matahari sore menyusut, meninggalkan semburat keemasan yang dingin di atas deretan pilar marmer kediaman Hargens. Namun, kehangatan senja tak sanggup mencairkan atmosfer ruang tamu utama yang membeku.

Di atas kursi kayu ukir kebesarannya, Nenek Hargens—sang matriark pemegang kendali kekayaan keluarga—duduk dengan punggung tegak lurus. Di sampingnya, Clarissa setengah berlutut, terisak pelan sambil menyapukan sapu tangan sutra ke sudut matanya yang kering.

"Nek, Kak Kyara benar-benar kesetanan..." bisik Clarissa dengan suara gemetar yang diperhitungkan. "Dia menamparku, Nek! Dia bahkan... dia memaksakan suaranya dan mengancamku dengan kata-kata yang mengerikan!"

Nenek Hargens mengetukkan tongkat kayu cendananya ke lantai marmer. Tak! Satu ketukan berat yang menuntut keheningan mutlak.

"Cukup, Clarissa. Jangan mengada-ada," tegur Nenek dingin, tanpa berpaling. "Pita suaranya sudah mati sejak dia kecil. Kau terlalu panik sampai berimajinasi yang tidak-tidak. Tapi..." Mata tua yang tajam itu menggelap. "...jika benar si bisu itu mulai berani menaikkan dagunya, dia harus diingatkan kembali di tanah mana dia berpijak."

Tepat di detik itu, pintu kayu mahoni berukir terbuka lebar.

Kylie melangkah masuk. Langkah kakinya tegas dan konstan. Kemeja sutra hitamnya kusam oleh debu jalanan, beberapa helai rambutnya berantakan diterpa angin, dan jejak kelelahan tercetak jelas di balik riasannya. Namun, matanya berkilat dingin—sama sekali tidak menyerupai sosok wanita yang baru saja menangis di atas aspal pasar.

Kylie menghentikan langkah di tengah ruangan. Dari jarak sepuluh meter, ia menangkap ekspresi Nenek yang murka serta tangisan teatrikal Clarissa. Ia tidak mendekat, melainkan bersedakap, menatap kedua wanita itu dengan pendar kebosanan yang tak ditutupi.

Nenek Hargens bangkit perlahan, berdiri kokoh dengan bantuan tongkatnya.

"Dari mana kau, Kyara?" Suara sang Nenek terdengar rendah, namun sarat akan tekanan yang mencekik udara. "Mengapa penampilanmu seperti gelandangan jalanan? Clarissa bilang kau mulai bertindak liar. Apa otakmu yang cacat itu mendadak lupa... bahwa tanpa kemurahan hatiku memungutmu dari panti asuhan, kau hanyalah bangkai tak berguna?"

Kylie menatap gerak bibir wanita tua itu dengan ketenangan mutlak. Di kehidupan lamanya, Kylie sangat menghormati orang tua, tetapi ia tidak punya setitik pun toleransi untuk penindas bergaun mewah.

Kylie merogoh saku, mengeluarkan ponselnya. Jemarinya menari di atas layar dengan gerakan lambat yang sengaja dirancang untuk memancing emosi lawannya. Setelah selesai, ia melangkah maju dua titik, lalu menyodorkan layar terang itu tepat di depan wajah Nenek Hargens.

[Aku baru saja membersihkan beberapa ekor anjing liar di pasar. Ternyata, di dalam rumah mewah ini sampah fisiknya jauh lebih banyak.]

Otot-otot wajah sang Nenek menegang seketika. Warna kulitnya berubah merah padam, terhina hingga ke dasar tulang.

"Kurang ajar..." desis Nenek Hargens, jemarinya mengepal erat pada kepala tongkatnya. "Kau... kau benar-benar tidak tahu diri! Clarissa, panggil Calvin! Suruh suaminya sendiri menyeret wanita bangkang ini ke gudang bawah tanah sampai otaknya jernih!"

"Baik, Nek!" Clarissa berbalik cepat, mengulas senyum kemenangan yang tak tertahankan.

Namun, sebelum Clarissa sempat mengambil tiga langkah, Kylie bergerak.

Tanpa ekspresi, tanpa menunjukkan amarah, Kylie mengulurkan tangan kanannya ke meja konsol di sampingnya. Jemarinya mencengkeram leher sebuah vas bunga dari kristal berat, lalu menggesernya melewati tepi meja.

Vas itu jatuh dan hancur berkeping-keping di atas lantai marmer.

PRANG!

Kylie tidak mendengar suara ledakan kristal itu, namun gelombang getaran keras merambat cepat dari lantai, menghantam tumitnya, dan memberi tahu bahwa pesan penegasannya telah mendarat dengan sempurna.

Langkah Clarissa terhenti seketika. Seluruh tubuhnya menegang kaku.

Kylie mengikis jarak, berdiri tepat di hadapan Clarissa. Matanya terkunci pada manik mata wanita muda itu. Dengan gerakan tangan yang cepat, patah-patah, dan sangat intimidatif, Kylie merangkai bahasa isyarat jalanan di depan wajah Clarissa.

(Melangkah. Lagi. Dan. Wajahmu. Yang. Kubuat. Pecah. Seperti. Vas. Ini.)

Tidak ada kata-kata verbal, tetapi ancaman murni di mata Kylie tersampaikan tanpa cacat. Clarissa menyusut. Wajahnya pucat pasi, matanya bergerak panik menatap pecahan kristal tajam di lantai, sebelum akhirnya melangkah mundur dan bersembunyi di balik punggung Neneknya—kali ini dengan tubuh yang benar-benar gemetar ketakutan.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Transmigrasi ke Tubuh Istri Bisu Sang Mafia   17

    Kesunyian di Ruang Cerutu​Kylie melepaskan diri dari pelukan Calvin. Ia memberikan isyarat mata yang berarti, "Urus para pengawal di luar, aku yang akan menangani ular itu."​Ia menyelinap di antara kerumunan dengan gerakan yang hampir tak terlihat, seolah ia adalah bayangan yang menyatu dengan dinding. Ia menaiki tangga melalui jalur pelayan yang sepi.​Di depan ruang cerutu, dua pengawal bertubuh kekar berdiri sigap. Namun, sebelum mereka sempat menyadari keberadaan Kylie, dua buah belati kecil yang disembunyikan di balik paha Kylie meluncur tepat ke arah pundak mereka. Bukan untuk membunuh, tapi untuk melumpuhkan saraf gerak mereka seketika.​Pluk. Pluk.​Kedua pria itu jatuh terduduk, tubuh mereka kaku, mata mereka melotot ketakutan namun mulut mereka tak mampu bersuara.​Kylie membuka pintu ruang cerutu dengan sangat tenang.​Di dalam, Menteri Wirawan sedang mengelap jasnya dengan gusar. Ia menoleh saat mendengar pintu terbuka. Ia tertegun melihat i

  • Transmigrasi ke Tubuh Istri Bisu Sang Mafia   16

    Perangkap yang Terbuka​"Menarik, bukan?"​Sebuah suara terdengar dari pengeras suara di sudut ruangan. Kylie tidak mendengarnya, tapi ia merasakan getaran suara yang frekuensinya sangat kuat. Ia segera berbalik, karambitnya sudah siap di tangan.​Seorang pria paruh baya dengan jas laboratorium putih masuk ke ruangan, dikawal oleh sepuluh tentara bayaran bersenjata lengkap. Pria itu adalah Dr. Aris, kepala peneliti Proyek Lazarus.​Dr. Aris memegang sebuah tablet yang menampilkan gelombang otak Kylie secara real-time. "Jangan menyerang, Nyonya Hargens. Atau harus kupanggil Kylie? Kau adalah keajaiban medis yang kami cari. Perpindahan jiwa tanpa bantuan mesin adalah sesuatu yang seharusnya mustahil."​Kylie menatapnya dengan penuh kebencian. Ia tahu pria ini sedang bicara, meski ia tidak bisa membaca gerak bibirnya secara sempurna karena Dr. Aris memakai masker medis.​Kylie tidak menunggu. Ia menendang meja di depannya ke arah para penjaga, menciptakan kekaca

  • Transmigrasi ke Tubuh Istri Bisu Sang Mafia   15

    Kelahiran Sang Pembunuh Sunyi​Malam itu, setelah insiden di Gudang 404, kediaman Hargens tidak lagi menjadi tempat istirahat. Rumah itu berubah menjadi pusat komando yang mencekam. Lampu-lampu kristal di ruang kerja utama dimatikan, digantikan oleh jajaran monitor komputer yang berpendar biru, menampilkan data aliran dana global dan satelit pemantau.​Kylie berdiri di tengah ruangan. Ia telah membersihkan debu dan darah dari tubuhnya. Kini, ia mengenakan pakaian taktis serba hitam yang membalut tubuhnya dengan ketat, memberikan siluet yang tajam dan berbahaya. Di pinggangnya, tersampit belati karambit ganda—senjata tradisional yang ia pelajari secara otodidak saat dulu harus bertahan hidup di jalanan Jakarta yang keras.​Calvin duduk di kursi kebesarannya, menatap istrinya dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia baru saja memerintahkan Rian untuk memindahkan dana sebesar lima ratus miliar rupiah ke rekening rahasia yang hanya bisa diakses oleh Kylie.​"Kau yakin den

  • Transmigrasi ke Tubuh Istri Bisu Sang Mafia   14

    Tarian Darah di Gudang 404​Calvin segera mengarahkan pistolnya ke arah Bara. "Aku tidak tahu siapa kau, dan aku tidak peduli seberapa gila halusinasimu. Kau menyentuh asetku dan mengancam istriku. Itu berarti hukuman mati."​Bara tertawa terbahak-bahak, memperlihatkan giginya yang tidak rata. "Istrimu? Kau menikahi berlian yang paling tajam di jalanan, Tuan Mafia. Tapi dia bukan milikmu. Dia punya utang padaku yang belum lunas."​Tanpa peringatan, tiga orang anak buah Bara muncul dari atas kontainer, menjatuhkan diri dengan jaring besi. Calvin terpaksa menghindar dan melepaskan tembakan.​BANG! BANG!​Pertempuran pecah. Calvin tertahan oleh anak buah Bara yang menggunakan taktik gerilya di antara peti-peti kayu.​Sementara itu, Bara melompat ke arah Kylie. "Ayo, Mata Kucing! Tunjukkan padaku apakah gaun mahal itu membuatmu lemah!"​Kylie tidak punya waktu untuk menjelaskan atau menggunakan ponselnya. Ia melempar tas tangannya ke wajah Bara untuk mengalih

  • Transmigrasi ke Tubuh Istri Bisu Sang Mafia   13

    Amis Laut dan Bayangan Maut​Langit Jakarta Utara berubah menjadi kelabu besi saat mobil Rolls Royce milik Calvin membelah kawasan industri pelabuhan yang gersang. Aroma amis air laut yang payau bercampur dengan bau karat kontainer memenuhi udara yang panas dan lembap.​Calvin mengemudikan mobilnya dengan kecepatan yang tidak wajar. Tangannya mencengkeram kemudi hingga buku-buku jarinya memutih. Di sampingnya, Kylie duduk tenang, namun tangannya diam-diam memeriksa sepatu hak tingginya—ia memastikan bahwa sepatu itu bisa dilepas dengan cepat jika ia harus berlari atau menendang.​"Tetap di belakangku saat kita sampai," perintah Calvin tanpa menoleh. Suaranya rendah, penuh otoritas yang tak terbantahkan. "Ini bukan lagi sekadar drama keluarga, Kyara. Ini adalah wilayah di mana nyawa tidak lebih berharga daripada debu."​Kylie hanya melirik suaminya. Ia mengambil ponselnya dan mengetik sesuatu dengan tenang.​[Aku bukan tawananmu, Calvin. Aku adalah istrimu. Dan ji

  • Transmigrasi ke Tubuh Istri Bisu Sang Mafia   12

    Kantor pusat Silent Express bukanlah menara kaca steril yang menjulang di kawasan bisnis elit. Kylie sengaja memilih sebuah gudang tua bernuansa industrial modern di sudut sibuk Jakarta Utara. Dinding bata ekspos, pipa-pipa besi hitam yang melintang di langit-langit, dan konsep ruang kerja terbuka (open space) sengaja dirancang untuk meruntuhkan batasan hierarki yang kaku.​Di lobi utama, sebuah mural besar membentang di dinding: lukisan seorang kurir wanita dengan sayap malaikat yang merentang di atas aspal—sebuah monumen rahasia untuk mengenang dirinya di masa lalu.​Kylie melangkah masuk, disambut oleh deru aktivitas pagi. Para karyawan—sebagian besar di antaranya adalah penyandang disabilitas rungu yang direkrutnya secara khusus—berhenti sejenak untuk menyapanya dengan lambaian tangan dan isyarat hormat.​(Pagi, Bu Boss!) sapa salah satu kurir muda dengan senyum lebar.​Kylie membalasnya dengan anggukan ramah dan isyarat tangannya yang luwes. (Pagi. Jaga keselama

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status