LOGINDi tengah napasnya yang masih memburu setelah melumpuhkan ketiga preman, indra kewaspadaan Kylie menangkap perubahan drastis di sekelilingnya.
Bising pasar itu mendadak mati. Orang-orang yang semula menonton tiba-tiba melangkah mundur secara serentak, membuka jalan dengan kepala tertunduk ngeri. Melalui ekor matanya, Kylie menangkap sebuah pergerakan bayangan yang tegap. Ia memutar tubuh, bersiap untuk serangan susulan, namun gerakannya terhenti. Calvin Hargens berdiri hanya dua langkah di depannya. Aura pria itu sedingin es utara, namun matanya berkilat seperti neraka yang bocor. Tanpa aba-aba, Calvin melangkah maju, memangkas sisa jarak. Tangan besarnya mencengkeram lengan atas Kylie. Cengkeraman itu tak berniat mematahkan tulang, namun sarat akan kepemilikan mutlak dan rasa frustrasi yang tak tertampung. Wajah Calvin menunduk, mendekat hingga ujung hidung mereka nyaris bersentuhan. Pria itu tidak berteriak untuk memamerkan amarahnya, melainkan mendesiskan kata-kata agar hanya gerakan bibirnya yang bisa dibaca oleh istrinya. "Apa. Yang. Kau. Lakukan. Di sini?" Rahang Calvin mengeras, napas hangatnya menerpa wajah Kylie. "Kau nyaris terbunuh. Dan sejak kapan... kau bisa bertarung seperti itu, Kyara?" Kylie menatap tepat ke dalam manik kelam suaminya. Tidak ada sisa-sisa kilat ketakutan dan rasa bersalah seperti yang biasa Kyara berikan. Hanya ada tatapan kebosanan absolut. Dengan satu sentakan kuat, Kylie menarik lengannya dari cengkeraman sang mafia. Tarikan itu begitu bertenaga dan licin, membuat Calvin secara refleks harus melepaskannya karena terkejut. Dengan ekspresi datar, Kylie merogoh ponselnya, mengetik sesuatu dengan kecepatan kilat, lalu menyodorkan layar terang itu tepat di depan dada Calvin. [Berhenti mengikutiku. Egomu tidak lebih penting dari urusanku.] Mata Calvin bergerak membaca rentetan kata tajam itu. Harga dirinya seolah ditampar terang-terangan di tengah jalan berdebu ini. Rahangnya semakin kaku. "Aku suamimu," bisik Calvin, suaranya sarat akan dominasi yang mencekik. "Aku punya hak mutlak atas setiap langkah yang kau ambil di luar rumahku." Bibir Kylie perlahan melengkung ke atas, mengulas senyuman sinis. Ia menarik kembali ponselnya, menghapus kalimat sebelumnya, lalu mengetik satu balasan terakhir. [Kemarin aku hanya pajangan bisu. Hari ini aku istrimu? Pulanglah, Calvin. Aku sedang sibuk.] Kylie memutar tubuhnya, tak memberi Calvin kesempatan untuk bereaksi. Ia berjalan tenang menuju Ducati merahnya, memungut kacamata hitamnya yang salah satu lensanya sedikit retak, lalu memakainya. Ia mengayunkan kaki menaiki jok motor, menghidupkan mesin dengan satu putaran kunci. VROOOM! Deru parau knalpot mesin seribu cc itu meraung membelah kesunyian, dengan congkak menenggelamkan segala kemarahan yang mungkin sedang diteriakkan Calvin. Sebelum melepas tuas gas, Kylie menatap wajah suaminya dari balik kaca spion. Pria itu mematung dengan kepalan tangan yang memutih di sisi tubuhnya. Kylie mengangkat tangan kirinya, menempelkan dua jari di pelipis, lalu mengibaskannya ke udara. Sebuah salam perpisahan jalanan yang lugas. Motor itu melesat pergi, meninggalkan Calvin Hargens yang—untuk pertama kalinya dalam hidup—dipaksa bertekuk lutut oleh kepulan debu. Rian, yang sejak tadi menahan napas di kejauhan, perlahan melangkah ke sisi tuannya. "Tuan... apakah kita perlu mengejarnya lagi?" Calvin tidak segera menjawab. Matanya menolak berkedip, terus terpaku pada aspal yang baru saja dilindas roda motor istrinya. Ada sensasi panas yang asing merayap lambat di dadanya—sebuah ketertarikan brutal yang jauh lebih mematikan dari rasa benci. "Rian," suara Calvin terdengar rendah dan berbahaya. "Cari tahu segala hal tentang kecelakaan kurir bernama Kylie Slavonia. Setiap detailnya. Dan cari tahu garis darah apa yang mengikatnya dengan istriku... Sekarang." Sinar matahari sore menyusut, meninggalkan semburat keemasan yang dingin di atas deretan pilar marmer kediaman Hargens. Namun, kehangatan senja tak sanggup mencairkan atmosfer ruang tamu utama yang membeku. Di atas kursi kayu ukir kebesarannya, Nenek Hargens—sang matriark pemegang kendali kekayaan keluarga—duduk dengan punggung tegak lurus. Di sampingnya, Clarissa setengah berlutut, terisak pelan sambil menyapukan sapu tangan sutra ke sudut matanya yang kering. "Nek, Kak Kyara benar-benar kesetanan..." bisik Clarissa dengan suara gemetar yang diperhitungkan. "Dia menamparku, Nek! Dia bahkan... dia memaksakan suaranya dan mengancamku dengan kata-kata yang mengerikan!" Nenek Hargens mengetukkan tongkat kayu cendananya ke lantai marmer. Tak! Satu ketukan berat yang menuntut keheningan mutlak. "Cukup, Clarissa. Jangan mengada-ada," tegur Nenek dingin, tanpa berpaling. "Pita suaranya sudah mati sejak dia kecil. Kau terlalu panik sampai berimajinasi yang tidak-tidak. Tapi..." Mata tua yang tajam itu menggelap. "...jika benar si bisu itu mulai berani menaikkan dagunya, dia harus diingatkan kembali di tanah mana dia berpijak." Tepat di detik itu, pintu kayu mahoni berukir terbuka lebar. Kylie melangkah masuk. Langkah kakinya tegas dan konstan. Kemeja sutra hitamnya kusam oleh debu jalanan, beberapa helai rambutnya berantakan diterpa angin, dan jejak kelelahan tercetak jelas di balik riasannya. Namun, matanya berkilat dingin—sama sekali tidak menyerupai sosok wanita yang baru saja menangis di atas aspal pasar. Kylie menghentikan langkah di tengah ruangan. Dari jarak sepuluh meter, ia menangkap ekspresi Nenek yang murka serta tangisan teatrikal Clarissa. Ia tidak mendekat, melainkan bersedakap, menatap kedua wanita itu dengan pendar kebosanan yang tak ditutupi. Nenek Hargens bangkit perlahan, berdiri kokoh dengan bantuan tongkatnya. "Dari mana kau, Kyara?" Suara sang Nenek terdengar rendah, namun sarat akan tekanan yang mencekik udara. "Mengapa penampilanmu seperti gelandangan jalanan? Clarissa bilang kau mulai bertindak liar. Apa otakmu yang cacat itu mendadak lupa... bahwa tanpa kemurahan hatiku memungutmu dari panti asuhan, kau hanyalah bangkai tak berguna?" Kylie menatap gerak bibir wanita tua itu dengan ketenangan mutlak. Di kehidupan lamanya, Kylie sangat menghormati orang tua, tetapi ia tidak punya setitik pun toleransi untuk penindas bergaun mewah. Kylie merogoh saku, mengeluarkan ponselnya. Jemarinya menari di atas layar dengan gerakan lambat yang sengaja dirancang untuk memancing emosi lawannya. Setelah selesai, ia melangkah maju dua titik, lalu menyodorkan layar terang itu tepat di depan wajah Nenek Hargens. [Aku baru saja membersihkan beberapa ekor anjing liar di pasar. Ternyata, di dalam rumah mewah ini sampah fisiknya jauh lebih banyak.] Otot-otot wajah sang Nenek menegang seketika. Warna kulitnya berubah merah padam, terhina hingga ke dasar tulang. "Kurang ajar..." desis Nenek Hargens, jemarinya mengepal erat pada kepala tongkatnya. "Kau... kau benar-benar tidak tahu diri! Clarissa, panggil Calvin! Suruh suaminya sendiri menyeret wanita bangkang ini ke gudang bawah tanah sampai otaknya jernih!" "Baik, Nek!" Clarissa berbalik cepat, mengulas senyum kemenangan yang tak tertahankan. Namun, sebelum Clarissa sempat mengambil tiga langkah, Kylie bergerak. Tanpa ekspresi, tanpa menunjukkan amarah, Kylie mengulurkan tangan kanannya ke meja konsol di sampingnya. Jemarinya mencengkeram leher sebuah vas bunga dari kristal berat, lalu menggesernya melewati tepi meja. Vas itu jatuh dan hancur berkeping-keping di atas lantai marmer. PRANG! Kylie tidak mendengar suara ledakan kristal itu, namun gelombang getaran keras merambat cepat dari lantai, menghantam tumitnya, dan memberi tahu bahwa pesan penegasannya telah mendarat dengan sempurna. Langkah Clarissa terhenti seketika. Seluruh tubuhnya menegang kaku. Kylie mengikis jarak, berdiri tepat di hadapan Clarissa. Matanya terkunci pada manik mata wanita muda itu. Dengan gerakan tangan yang cepat, patah-patah, dan sangat intimidatif, Kylie merangkai bahasa isyarat jalanan di depan wajah Clarissa. (Melangkah. Lagi. Dan. Wajahmu. Yang. Kubuat. Pecah. Seperti. Vas. Ini.) Tidak ada kata-kata verbal, tetapi ancaman murni di mata Kylie tersampaikan tanpa cacat. Clarissa menyusut. Wajahnya pucat pasi, matanya bergerak panik menatap pecahan kristal tajam di lantai, sebelum akhirnya melangkah mundur dan bersembunyi di balik punggung Neneknya—kali ini dengan tubuh yang benar-benar gemetar ketakutan.Sinar matahari pagi menyusup malu-malu dari sela-sela tirai beludru tebal berwarna merah marun yang menutupi jendela setinggi langit-langit. Hujan badai yang semalaman mengamuk menghancurkan Jakarta kini telah berganti menjadi fajar yang tenang, menyisakan embun di kaca antipeluru dan aroma tanah basah yang samar-samar tercium melalui sistem ventilasi canggih mansion tersebut. Di atas ranjang king-size yang lebih menyerupai sebuah altar persembahan itu, selimut sutra hitam teracak berantakan. Sepasang senjata api—sebuah Beretta 92FS perak dan Glock-19 kustom—tergeletak begitu saja di atas nakas kayu mahoni, berdampingan dengan sebotol Bourbon yang isinya tinggal separuh. Atlas Mahardika membuka matanya. Tidak ada erangan malas atau proses mengumpulkan kesadaran layaknya manusia normal. Insting predatornya selalu membuatnya terbangun dengan kejernihan penuh. Pemuda yang kini menyandang gelar sebagai raja tak bermahkota dari dunia bawah tanah itu tidak segera beranjak. Ia memirin
Hujan badai menghantam kaca antipeluru setebal tiga inci di mansion eksklusif yang bertengger angkuh di puncak bukit Sentul. Petir menyambar, membelah langit malam Jakarta dengan kilatan putih yang kejam, namun tak sedikit pun mampu mengusik ketenangan absolut di dalam ruang kerja utama sang penguasa dunia bawah tanah. Tiga tahun telah berlalu sejak malam pembantaian di Puncak. Tiga tahun sejak kepala Vladimir Sokolov dipenggal dan dilemparkan ke hadapan Dewan Agung Bratva, membungkam segala bentuk pemberontakan. Kini, tidak ada lagi faksi yang terpecah. Yang ada hanyalah Kekaisaran Mahardika-Kendoveks. Sebuah aliansi monarki berdarah yang menguasai bursa saham di siang hari dan memonopoli kartel bayaran di malam hari. Atlas Mahardika berdiri di depan perapian batu marmer hitam. Kemeja sutra gelapnya dibiarkan terbuka di bagian dada, memperlihatkan tato lambang bintang delapan Vor v Zakone yang bersanding dengan logo Mahardika Group—sebuah simbol penyatuan yang ia ukir sendiri
Deru ombak yang menghantam beton dermaga Tanjung Priok seolah menjadi simfoni pengiring saat Atlas dan Vea berjalan keluar dari gudang raksasa itu. Di belakang mereka, lima tetua faksi netral Bratva masih membeku di kursi masing-masing, terbungkam oleh kombinasi antara teror psikologis yang Atlas tebar dan mahkota berdarah yang Vea tawarkan.Udara siang pelabuhan yang panas dan berdebu menerpa wajah mereka, namun tidak sedikit pun melunturkan aura dingin yang membekukan dari kedua remaja itu.Atlas membukakan pintu penumpang Audi RS7 untuk Vea. Pemuda itu tidak segera menutupnya. Ia berdiri di ambang pintu, menundukkan kepalanya, dan menatap lurus ke dalam sepasang mata legam sang gadis. Hembusan angin laut mengacak pelan rambut hitam Atlas, menambah kesan liar pada wajah aristokratnya yang rahangnya masih mengeras oleh sisa-sisa adrenalin."Lo baru aja menaklukkan setengah dari dewan bawah tanah Jakarta tanpa melepaskan satu pun tembakan, Moya Koroleva," bisik Atlas
Angin laut yang berembus di kawasan Pelabuhan Tanjung Priok pagi itu terasa tebal, membawa campuran aroma garam, solar, dan karat besi tua. Di ujung dermaga sektor utara—area terlarang yang tidak tersentuh oleh otoritas pelabuhan resmi—deretan kontainer pengiriman bersusun menjulang bak tebing-tebing baja berwarna kusam.Di tengah labirin industrial yang suram itulah, Audi RS7 hitam milik Atlas membelah keheningan, meluncur tenang bagaikan seekor hiu predator yang memasuki perairan dangkal musuhnya.Mesin V8 twin-turbo itu mendengkur pelan sebelum akhirnya mati total saat Atlas memarkirkan kendaraannya tepat di depan sebuah gudang raksasa beratap seng. Di depan pintu gudang yang terbuka separuh, belasan pria berbadan tegap bergaya militer paramiliter timur Eropa telah bersiaga. Senapan serbu AK-47 dan Saiga-12 tersandang santai namun mematikan di bahu mereka.Di dalam kabin mobil yang kedap suara, Atlas menoleh menatap Vea. Gadis itu duduk diam membeku, sepasang mata
Sinar matahari pagi Jakarta menyusup malu-malu dari balik tirai otomatis penthouse mewah itu, melukiskan garis-garis keemasan di atas lantai marmer hitam yang dingin. Di atas ranjang berukuran king-size dengan seprai sutra berwarna abu-abu arang, waktu terasa membeku dalam sebuah hening yang mematikan. Atlas Mahardika tidak pernah benar-benar tidur. Pemuda itu duduk bersandar pada headboard ranjang berlapis beludru gelap. Bertelanjang dada, otot-otot perut dan dadanya yang keras tercetak sempurna di bawah bias cahaya fajar. Sebatang rokok Marlboro Black terselip di antara dua jarinya, asapnya mengepul pelan, meliuk-liuk di udara dingin yang diatur pada suhu enam belas derajat celcius. Mata Atlas yang segelap dasar palung samudera menunduk, menatap lekat-lekat sosok perempuan yang bergelung di samping pinggulnya. Vea Kendoveks terlelap dengan separuh wajah tenggelam di balik bantal sutra. Selimut tebal itu hanya menutupi pinggangnya, membi
Mesin V8 twin-turbo milik Audi RS7 itu meraung rendah, membelah keheningan dini hari saat kendaraan melaju menyusuri protokol Sudirman yang sepi. Di dalam kabin kedap suara berbalut kulit alcantara hitam, keheningan yang membentang terasa begitu pekat dan sarat gairah.Atlas Mahardika mengendalikan kemudi hanya dengan tangan kirinya. Jemari tangannya yang panjang dan berotot menggenggam erat roda kemudi, sementara tangan kanannya terentang di atas konsol tengah—jemarinya mengunci jemari lentik Vea yang dingin tanpa niat untuk melepaskannya.Lampu-lampu jalanan ibu kota menyapu kabin secara bertahap, memantulkan bias cahaya keemasan di rahang tegas Atlas. Di sampingnya, Vea bersandar pada jok kulit, matanya menatap kosong ke luar jendela memandangi deretan pencakar langit. Kemeja putihnya yang tertutup hoodie kini berbau mesiu, tetapi fokus gadis itu sepenuhnya berada pada cengkeraman hangat di tangannya."Kita mau ke mana?" tanya Vea pelan. Suaranya agak parau, pecah







