Share

3

last update publish date: 2026-08-05 19:18:29

Jarum jam kakek antik di sudut ruang kerja Calvin berdenting pelan menunjuk angka dua dini hari. Ruangan itu diselimuti bayangan, hanya pendar kekuningan dari lampu meja bercorong hijau dan titik api dari ujung cerutu yang memberikan cahaya.

Calvin Hargens tidak bisa memejamkan mata.

Ia duduk bersandar di kursi kulitnya, menatap kosong kepulan asap yang meliuk di udara sebelum memudar. Sayangnya, bayangan insiden di ruang makan tadi tidak bisa menguap semudah asap cerutu itu.

"Sialan," desisnya. Suaranya serak dan tertahan.

Pria yang ditakuti karena darah dinginnya dalam memimpin sindikat itu kini merasa terusik. Bukan oleh ancaman kartel rival atau penggerebekan polisi, melainkan oleh seorang wanita yang selama dua tahun terakhir tak lebih dari sekadar perabot rusak di rumahnya. Istrinya sendiri.

Memori itu berputar bagai kaset rusak di kepalanya. Sorot mata Kyara.

Dulu, mata itu adalah mata seekor kelinci yang terperangkap jerat pemburu—selalu basah, berkabut, dan menghindari kontak. Namun malam ini, mata itu berubah menjadi bilah pedang. Bening, mematikan, dan angkuh. Ada api di sana, dan api itu baru saja membakar sisa-sisa superioritas Calvin hingga menjadi abu.

Dan isyarat tangannya.

Calvin meneguk whiskey di gelasnya hingga tandas. Ia memang tak paham bahasa isyarat. Dulu, jika Kyara mencoba "berbicara", gerakan tangannya lemah dan memelas, persis burung dengan sayap patah. Tapi tadi... gerakan itu berpola tajam. Patah-patah. Berirama. Seolah jari-jari lentik itu menggenggam belati dan mengayunkannya tepat ke leher Calvin tanpa ampun.

Tok. Tok.

"Masuk," perintah Calvin datar, suaranya kembali sedingin es.

Seorang pria berkacamata dengan setelan rapi melangkah masuk. Rian, asisten pribadinya.

"Maaf mengganggu, Tuan. Ada laporan mendesak mengenai pergeseran logistik di pelabuhan utara," ujar Rian, meletakkan sebuah tablet di atas meja mahoni.

Calvin mengabaikan layar yang menyala itu. Pandangannya justru menancap pada asistennya. "Rian. Kau terlatih menginterogasi musuh. Kau tahu cara membaca bahasa tubuh."

Rian membetulkan letak kacamatanya, sedikit terkejut dengan arah pembicaraan ini. "Benar, Tuan."

"Jika seseorang yang bisu tiba-tiba mengubah cara isyarat tangannya... dari yang biasanya lambat dan memelas, menjadi sangat cepat, kaku, dan presisi, apa artinya?"

Rian terdiam sejenak, memproses pertanyaan ganjil itu. "Gestur fisik tidak bisa berbohong, Tuan. Jika dianalogikan dengan suara, gerakan yang kaku dan bertenaga adalah bentuk dari teriakan. Orang itu sedang menumpahkan amarah absolut, atau... dia baru saja menghancurkan dinding pembatasnya. Dia berhenti menahan diri."

Berhenti menahan diri.

Kalimat itu menancap di benak Calvin. Tiba-tiba, rasa muak di dadanya berevolusi menjadi sesuatu yang jauh lebih berbahaya: rasa penasaran.

"Awasi Kyara mulai besok," perintah Calvin dingin. "Ke mana dia pergi, dengan siapa dia bicara, apa pun itu. Aku ingin tahu siapa sebenarnya yang sedang bersembunyi di balik tubuh istriku."

Sinar matahari pagi menerobos celah tirai sutra berlapis ganda, jatuh tepat mengenai kelopak mata Kylie.

Ia mengerjap perlahan. Seketika, rasa hampa menghantam dadanya. Tidak ada suara kokok ayam tetangga. Tidak ada teriakan pedagang keliling di gang sempit. Semuanya bisu. Hening mutlak.

Sensasi mati rasa ini menyiksanya. Tiba-tiba, ia merindukan kebisingan hidupnya yang lama. Ia merindukan suara serak ayahnya yang memanggil, "Nduk, bangun." Ia merindukan deru mesin motor tuanya saat membelah hawa dingin pagi buta di Wonosobo, derak tumpukan karung beras yang bergesekan, hingga bunyi berisik keranjang dan ember plastik yang ia ikat asal-asalan bersama rangka tempat tidur reyot di jok belakang demi sepeser upah tambahan.

Semua beban berat di punggungnya dulu itu nyata. Kasar. Memar. Tapi setidaknya, rasa sakit itu membuktikan bahwa ia hidup. Kini, ia terperangkap dalam tubuh rapuh tak bersuara ini.

Kylie menyentuh daun telinganya yang mati, lalu menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan.

Sadar, Kylie, batinnya menampar diri sendiri. Luka fisik atau luka batin, cara bertahan hidupnya tetap sama. Jangan cengeng.

Setelah menghabiskan waktu berendam air hangat beraroma mawar—sebuah kemewahan konyol yang dulu hanya bisa ia khayalkan saat menjadi babu hotel—Kylie melangkah ke ruang ganti.

Ia harus keluar dari kamar ini.

Tangannya menggeser kasar deretan gaun babydoll yang terlihat seperti pakaian boneka pajangan. Ia menarik sebuah kemeja sutra hitam pekat berkerah V dan celana bahan high-waist berwarna krem. Sederhana, namun garis potongannya memancarkan kekuatan. Ia menggulung lengan kemejanya hingga siku, gestur tidak sadar dari seorang pekerja keras yang bersiap turun ke medan laga.

Di depan meja rias, ia memoles wajah pucat Kyara. Coretan eyeliner tajam, sapuan maskara, dan gincu warna terakota yang tegas. Ia bukan berdandan untuk menarik perhatian suaminya. Ini adalah war paint-nya. Zirah perangnya.

Saat Kylie membuka pintu kamar, seorang pelayan muda yang sedang mengepel selasar langsung melompat mundur, menempel ke dinding dengan wajah pucat pasi. Reputasi insiden semalam rupanya sudah menyebar bagai wabah.

Kylie terus berjalan tanpa menoleh. Rasa takut jauh lebih berharga daripada simpati.

Namun, langkah konfidensialnya terhenti di anak tangga terakhir menuju ruang tengah.

Duduk di sofa beludru sambil menyesap teh pagi dengan keanggunan seorang ratu, adalah wanita yang ingatan Kyara rekam sebagai mimpi buruk paling manis.

Clarissa. Putri angkat keluarga Hargens.

Wanita pujaan Nenek Hargens yang selalu dibalut citra malaikat tanpa cela, namun menyimpan bisa paling mematikan di bawah lidahnya. Clarissa-lah otak di balik setiap penghinaan halus yang membuat Kyara asli nyaris gila.

Mendengar getaran langkah dari tangga, Clarissa menoleh. Begitu melihat sosok Kylie yang berdiri tegak menatapnya dari anak tangga, senyum manis melengkung di bibirnya. Sebuah senyum yang tak pernah mencapai matanya. Senyum sebuah tantangan baru.

Kylie bisa merasakan getaran ringan yang merambat di lantai marmer dari langkah kaki Clarissa. Wanita itu muncul dalam balutan gaun putih selutut, rambut cokelat terangnya ditata sempurna. Wajahnya bak malaikat tanpa dosa, namun mata itu menyiratkan kilat kelicikan yang familier bagi Kylie.

Kylie menghentikan langkah di anak tangga terakhir. Ia berdiri tegak, menyelipkan satu tangan ke saku celana bahannya, dan menatap Clarissa dengan pendar kebosanan yang tak ditutupi.

Clarissa berhenti tepat di hadapannya. Mulut berlapis lip gloss persik itu mulai bergerak. Pelan, dilebih-lebihkan, persis seperti orang arogan yang berbicara pada anak kecil yang lamban.

"Oh, Kakak Ipar sudah bangun? Kudengar semalam kau membuat ulah lagi? Kasihan Kak Calvin, lelah bekerja malah harus meladeni orang cacat tak tahu diri sepertimu."

Itulah yang dibaca oleh mata tajam Kylie.

Dalam naskah masa lalu, kata "cacat" adalah tombol otomatis yang akan membuat bahu Kyara asli melengkung turun, memicu air mata penyesalan. Namun bagi Kylie? Rasanya menggelikan. Kepalsuan wanita ini begitu klise, nyaris membosankan.

Merasa terhina karena tak mendapat reaksi ketakutan yang ia cari, Clarissa memangkas jarak. Tangannya mencengkeram lengan kemeja Kylie dengan kuku yang sengaja ditekan.

"Kau dengar aku tidak, sih? Ah, aku lupa. Kau kan tuli," cibir Clarissa. Bahunya bergetar, pertanda ia sedang tertawa mengejek meski Kylie tak bisa mendengarnya. "Harusnya kau sadar diri. Nenek memungutmu hanya karena kasihan. Tanpa janji bodoh itu, kau cuma sampah."

Kylie menunduk menatap tangan Clarissa di lengannya, lalu menepisnya lambat-lambat. Begitu santai, seolah baru saja membersihkan kotoran burung dari kerahnya.

Clarissa melotot, rahangnya jatuh. "Berani kau—"

Kylie tidak membiarkan wanita itu menyelesaikan omong kosongnya. Ia melangkah maju, menghapus sisa jarak. Secara postur, tinggi mereka setara, namun tekanan aura Kylie membuat Clarissa terlihat menyusut.

Kylie mengangkat sebelah tangannya perlahan. Secara insting, mata Clarissa terpejam rapat. Tubuhnya menegang, bersiap menerima tamparan dan sudah merencanakan jeritan histeris untuk memanggil para pelayan.

Namun, rasa sakit itu tak kunjung mendarat.

Alih-alih tamparan, jari-jari Kylie justru menyentuh dagu Clarissa. Cengkeramannya lembut, namun memiliki tenaga baja yang memaksa wajah wanita itu mendongak menatap matanya.

Dengan tangan kirinya yang bebas, Kylie merangkai isyarat tepat di depan wajah Clarissa. Tajam, patah-patah, dan mengintimidasi.

(Mulutmu. Bau. Sampah.)

Kylie mengulas senyum. Sangat manis, hingga membuat bulu kuduk berdiri.

Ia melepaskan dagu Clarissa, lalu menepuk pipi wanita itu dua kali dengan punggung tangannya. Pluk. Pluk. Persis gestur majikan yang mendisiplinkan anjing peliharaannya yang rewel.

Mata Clarissa terbelalak ngeri. Wajahnya memerah padam, terbakar amarah dan penghinaan yang belum pernah ia rasakan seumur hidup.

"Kau gila! Kau wanita gila!" jerit Clarissa histeris. Urat di lehernya menonjol. "AKAN KUADUKAN KAU PADA KAK CALVIN!"

Kylie, yang dunianya tetap hening mutlak, hanya mengangkat bahu acuh tak acuh. Ia berbalik, melenggang tenang menuju pintu utama.

Namun, tepat sebelum tangannya menyentuh gagang pintu, ia berhenti. Ia memutar tubuhnya kembali, menatap Clarissa yang dadanya masih naik-turun memburu napas.

Kylie membuka bibirnya. Ia memfokuskan pikirannya pada otot-otot di tenggorokannya yang telah lama tertidur. Ia memaksa udara merangkak naik melewati pita suaranya. Rasanya sakit. Kering, kaku, seolah ada serpihan kaca yang menggores di dalam sana. Namun, ia mendorongnya keluar.

"A-du... kan... sa-ja."

Suara itu serak, berat, dan patah-patah—vokal canggung dari seseorang yang terlalu lama hidup dalam sunyi. Namun, intonasinya sedingin dasar lautan.

Clarissa mematung seolah disambar petir. Matanya membulat nyaris keluar dari sarangnya. Lututnya kehilangan tenaga, memaksanya mundur selangkah, menatap punggung Kylie yang menghilang di balik pintu kayu mahoni itu bak melihat iblis yang baru bangkit dari neraka.

Di luar mansion, angin pagi menghantam wajah Kylie. Matahari Jakarta menyengat sama teriknya dengan kehidupan masa lalunya, tetapi bernapas di atas hamparan marmer mewah ini memberikan udara yang berbeda.

Seorang sopir pribadi yang tengah memoles bodi sedan hitam bergegas menghampirinya dengan gestur panik.

"Nyonya mau pergi? Perlu saya siapkan mobil?" tanya Pak Ujang, tangannya bergerak kaku mencoba meniru bahasa isyarat yang asal-asalan.

Kylie menggeleng tegas. Ia merogoh saku, mengeluarkan ponsel pintar Kyara. Ia mengetik sesuatu dengan cepat lalu menyodorkan layarnya ke wajah pria paruh baya itu.

[Kunci motor. Yang mana saja. Bawa ke sini.]

Mata Pak Ujang melotot membaca teks itu. "Mo-motor, Nyonya? Tapi Nyonya kan tidak pernah..."

Tatapan Kylie menajam. Ia mengetik satu baris lagi.

[Jangan banyak tanya. Cepat.]

Gemetar, sopir itu berlari menuju pos keamanan dan kembali membawa kunci motor. Itu kunci sebuah Ducati merah menyala milik salah satu kepala pengawal yang sedang lepas piket. Satu-satunya kendaraan roda dua di garasi ini.

Kylie menerima kunci itu. Ia menatap siluet kuda besi tersebut dengan mata berbinar. Di sinilah dunianya.

Tanpa mempedulikan gaun kemeja sutranya atau fakta bahwa ia tak memakai helm pelindung di area kompleks privat ini, Kylie mengayunkan kakinya menaiki motor tersebut. Ia memutar kunci kontak.

Mesin Ducati itu menderu liar. Getarannya menjalar dari rangka motor, merambat ke paha, dan beresonansi hingga ke dadanya. Darah Kylie berdesir. Inilah sensasi yang ia rindukan. Dulu, jangankan mengendalikan mesin buas ini, ia bahkan terbiasa menyeimbangkan motor tuanya yang ringkih di bawah siksaan beban berat—mulai dari tumpukan karung yang menggunung, keranjang dan ember yang dikaitkan di sisi bodi, hingga harus mengikat paksa rangka tempat tidur di jok belakangnya.

Bagi tubuh yang pernah menaklukkan gravitasi gila semacam itu, menjinakkan sebuah Ducati sport hanyalah permainan anak-anak.

Kylie menarik tuas gas. Motor itu melesat membelah halaman mansion bak peluru merah, meninggalkan Pak Ujang yang mematung dengan mulut menganga, serta Clarissa yang mungkin masih memeluk lutut di ruang tamu.

Tujuannya hanya satu: Pasar Lama.

Ia butuh melihat aspal tempatnya menjemput maut. Ia harus tahu apa yang terjadi pada jasad Kylie Slavonia. Di balik kacamata hitam yang membingkai wajah cantiknya, pandangannya mengabur oleh genangan air mata.

Tunggu aku, Ayah... Ibu... Anakmu pulang. Meski di dalam cangkang yang berbeda.

Sementara itu, di lantai dua mansion, di balik jendela kaca ruang kerjanya yang gelap, sepasang mata kelam merekam segalanya.

Calvin berdiri kaku. Ia menatap sosok istrinya yang membelokkan motor sport besar itu dengan kemiringan yang hanya bisa dilakukan oleh pengendara berpengalaman, lalu menghilang di balik gerbang besi tempa.

Tidak ada yang mematahkan rokok atau mengumpat. Calvin hanya terdiam. Jari-jarinya mengetuk pelan ambang jendela. Kekaguman yang asing kini merayap, mencekik egonya. Istrinya yang selalu menunduk gemetar itu... baru saja melesat membawa motor seribu cc layaknya penguasa jalanan.

"Kyara Ardennes..." bisiknya, suaranya sangat pelan, sarat akan obsesi yang baru saja tersulut. "Makhluk apa yang sebenarnya merasukimu?"

Calvin meraih ponsel di mejanya, menekan panggilan cepat.

"Rian. Siapkan mobil. Ikuti dia sekarang juga. Jangan sampai kehilangan jejaknya."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Transmigrasi ke Tubuh Istri Bisu Sang Mafia   9

    Pagi itu, ruang makan utama kediaman Hargens terasa ganjil. Meski matahari bersinar cerah menembus jendela kaca patri, suhu di dalam ruangan seolah anjlok sepuluh derajat. Udara terasa berat, membawa firasat buruk yang mengendap di dasar lantai marmer. ​Clarissa melangkah turun dari tangga besar dengan gaun rumah berbahan sutra merah muda yang melambai elegan. Wajahnya segar bercahaya, cerminan dari tidur malam yang nyenyak tanpa diganggu rasa bersalah. Ia sama sekali tidak tahu bahwa semalam, di balik pintu kayu ruang kerja Calvin, surat vonis matinya telah ditandatangani. Ia masih merasa menjadi ratu kecil yang tak tersentuh di istana ini. ​"Selamat pagi, Nenek," sapa Clarissa riang. Ia mengecup pipi wanita tua yang tengah serius membalik halaman koran bisnis. ​"Pagi, Sayang," jawab Nenek Hargens tanpa mengalihkan pandangan dari deretan saham. "Duduklah. Hari ini kita akan sibuk bersiap untuk Gala Amal Tahunan. Kau sudah menyempurnakan pidato pembukaa

  • Transmigrasi ke Tubuh Istri Bisu Sang Mafia   8

    Mereka meninggalkan area pemakaman tepat saat gerimis berubah menjadi hujan badai. Kylie berjalan gontai, sebagian berat tubuhnya bersandar pada lengan Calvin—bukan bermanja, melainkan karena sisa tenaganya telah menguap bersama air mata di depan nisannya sendiri. ​Saat mereka mendekati sedan hitam yang terparkir di bahu jalan raya, sebuah truk kontainer raksasa melaju kencang menembus tirai hujan, menggilas genangan air hingga memercik deras ke trotoar. ​BRUMMM! ​Gelombang suara mesin diesel dan getaran aspal itu menghantam saraf Kylie bak palu godam. Trauma fisik yang terekam di sel-sel tubuh aslinya bangkit dengan beringas. Napas Kylie tercekat di tenggorokan. Paru-parunya seolah menolak udara. ​Matanya melebar, terkunci pada sisi badan truk yang melesat itu. Waktu melambat. Di sana, tergambar sebuah logo besar: Seekor Ular Merah yang melingkari Roda Gigi. PT. RED COBRA LOGISTICS. ​Ingatan detik-detik kematiann

  • Transmigrasi ke Tubuh Istri Bisu Sang Mafia   7

    Pagi itu, langit Jakarta menggantung rendah dengan awan abu-abu yang pekat, seolah bersiap menumpahkan beban yang sama beratnya dengan hati penumpang di bawahnya.​Di dalam kabin sedan Eropa hitam metalik, keheningan terasa mencekik. Tidak ada sopir yang mengantar. Calvin Hargens sendiri yang memegang kemudi. Jemari besarnya mencengkeram setir berlapis kulit itu begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih, sementara ekor matanya terus mencuri pandang ke arah kursi penumpang.​Di sana, Kylie duduk mematung bak patung lilin. Tatapannya kosong, menembus kaca jendela yang mulai berembun oleh rintik hujan pertama. Ia mengenakan gaun terusan hitam pekat yang sederhana, namun membalut posturnya dengan sisa-sisa keanggunan yang menyayat hati. Di pangkuannya, tangannya mencengkeram erat seikat bunga lili putih—bunga kesukaan ibunya; bunga yang kini ia beli untuk menyambut kematiannya sendiri.​Calvin merasa seperti sedang menyetir bersama orang asing. Istrinya, Kyara, adalah wan

  • Transmigrasi ke Tubuh Istri Bisu Sang Mafia   6

    Malam harinya, saat Calvin Hargens melangkah masuk ke dalam mansion, ia disambut oleh sisa-sisa badai. Neneknya telah mengunci diri di kamar dengan dokter keluarga yang sibuk menenangkannya, Clarissa menolak keluar, sementara pelayan membersihkan pecahan kristal di ruang tamu dengan wajah pucat.​Dan sumber dari semua kekacauan itu? Istrinya sedang duduk tenang di ujung meja makan kayu mahoni panjang, menyesap segelas wine merah seolah dunia sedang baik-baik saja.​Calvin mendekat, melempar jas mahalnya asal-asalan ke atas kursi. "Kau benar-benar berniat menghancurkan kediaman ini dalam satu hari, Kyara?"​Kylie menoleh. Tatapannya tenang, sedingin es. Tanpa terburu-buru, ia meraih botol wine, menuangkan isinya ke gelas kosong di sebelahnya, lalu mendorong gelas itu ke arah Calvin.​Calvin menghela napas kasar dan menjatuhkan diri ke kursi. Ia menatap istrinya dengan sorot mata yang rumit. Beberapa jam yang lalu, Rian baru saja melaporkan hasil penyelidikannya: Nihil. Tidak ada satu p

  • Transmigrasi ke Tubuh Istri Bisu Sang Mafia   5

    Di tengah napasnya yang masih memburu setelah melumpuhkan ketiga preman, indra kewaspadaan Kylie menangkap perubahan drastis di sekelilingnya.Bising pasar itu mendadak mati. Orang-orang yang semula menonton tiba-tiba melangkah mundur secara serentak, membuka jalan dengan kepala tertunduk ngeri. Melalui ekor matanya, Kylie menangkap sebuah pergerakan bayangan yang tegap. Ia memutar tubuh, bersiap untuk serangan susulan, namun gerakannya terhenti.Calvin Hargens berdiri hanya dua langkah di depannya.Aura pria itu sedingin es utara, namun matanya berkilat seperti neraka yang bocor. Tanpa aba-aba, Calvin melangkah maju, memangkas sisa jarak. Tangan besarnya mencengkeram lengan atas Kylie. Cengkeraman itu tak berniat mematahkan tulang, namun sarat akan kepemilikan mutlak dan rasa frustrasi yang tak tertampung.Wajah Calvin menunduk, mendekat hingga ujung hidung mereka nyaris bersentuhan. Pria itu tidak berteriak untuk memamerkan amarahnya, melainkan mendesiskan kata-kata agar hanya gerak

  • Transmigrasi ke Tubuh Istri Bisu Sang Mafia   4

    Deru mesin Ducati merah itu membelah kemacetan pinggiran ibu kota dengan buas. Di balik kacamata hitamnya, Kylie—dalam cangkang tubuh Kyara—membiarkan angin panas Jakarta menerpa wajah dan mengacak-acak sanggul rapinya. Baginya, tamparan angin ini adalah pelukan; getaran mesin bertenaga besar di bawahnya adalah detak jantung yang meyakinkan bahwa ia masih bernapas. Melewati gedung-gedung pencakar langit, pemandangan perlahan menyusut menjadi deretan ruko kusam dan jalanan berlubang. Udara yang semula terfiltrasi AC gedung kini berganti menjadi aroma tajam bensin eceran yang bercampur dengan bau anyir sampah pasar. Laju Ducati itu perlahan mengendur saat sebuah persimpangan besar mulai terlihat. Persimpangan maut itu. Kylie menepikan motornya di trotoar retak. Begitu ujung sepatunya memijak aspal, lututnya mendadak kehilangan tenaga. Ini adalah tanah yang sama tempat napas terakhir Kylie Slavonia direnggut paksa. Ia melangkah gontai mendekati sudut jalan. Sisa-sisa garis polisi ber

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status