FAZER LOGIN"Carikan aku pelayan, Ton."
Andra berbicara di telepon. Dia berdiri di balkon lantai dua. Dari sana ia bisa melihat Siska di bawah. Wanita itu bersenandung kecil sambil memasukkan koper-koper bermereknya ke dalam bagasi mobil Alphard putihnya. Dibantu asisten pribadinya, wanita dengan kuku panjang dan tas KW yang selalu ikut Siska live jualan skincare. Andra lupa siapa namanya. Tidak ada tatapan sedih, tidak ada air mata. Hanya senyum lega seperti baru lepas dari penjara. Hatinya yang tadi masih sesak, kini berubah menjadi dingin. "Siap, Bos. Kriterianya seperti apa?" jawab Anton, mantan asisten pribadinya di seberang telepon. "Yang jujur. Yang butuh kerjaan beneran. Usia dua puluhan, biar kuat urus rumah besar ini. Yang paling penting sehat jasmani dan rohani. Aku butuh cepat, hari ini." Di seberang, Anton terkekeh. "Oke Bos. Cantik atau biasa aja? Kan Bos sekarang..." "Ton," potong Andra tegas. "Aku butuh pelayan buat urus rumah, bukan buat main-main. Jangan bercanda di situasi kayak gini. Aku lagi nggak mood." Nada Andra yang dingin membuat Anton langsung serius. "Siap Bos. Paham. Aku ada satu kandidat. Kasihan Bos, baru kabur dari penipuan loker. Dijanjikan jadi asisten pribadi, ternyata mau dijual. Orangnya baik Bos, polos banget. Namanya Mawar." "Antar jam satu siang ke rumah." "Siap Bos." Andra menutup telepon. Kata-kata Siska semalam masih terngiang. "Mana mungkin aku menyesal pisah dari laki-laki parasit." Kata kata itu sangat menyakitkan. Dan bisa jadi tidak akan lupa sepanjang hidupnya. Andra masih berdiri di balkon. Dan Siska menyadarinya. Saat hendak masuk ke dalam mobil, Siska melambaikan tangannya ke arah Andra. Seakan akan tidak terjadi apa apa diantara mereka. Siska melemparkan senyum manisnya. Tak lupa memberikan ciuman jarak jauh. Ini seperti ejekan bagi Andra. "Semoga kamu tidak menyesali keputusanmu, Siska," batin Andra. Dia tidak pernah membayangkan akhir dari pernikahannya seperti ini. Dulu, dia sangat mencintai Siska. Dan mungkin sampai detik ini, sisa cinta itu masih ada. Tapi harus ikhlas melepaskan. Perceraian adalah keinginan Siska disaat rumor tentang perusahaan mengalami kebangkrutan. Tepat jam satu siang, bel rumah berbunyi. Anton datang dengan seorang perempuan muda. Kurus, wajahnya pucat, rambutnya agak berantakan dan matanya sembab seperti habis menangis semalaman. Ia memeluk tas ransel bututnya erat-erat, duduk canggung di ujung sofa ruang tamu yang masih berantakan bekas pesta Siska. Bau alkohol dan parfum wanita masih menyengat di ruangan itu. "Siapa namamu?" tanya Andra. Perempuan itu menatap Andra sebentar kemudian menundukkan kepalanya. Seperti orang yang ketakutan. "Mawar pak." "Mawar Berduri?. Perempuan itu menggelengkan kepalanya sendiri cepat. Sedangkan Anton tertawa kecil. "Namanya Mawar, Bos. Mawar Ayu Lestari, 20 tahun," bisik Anton pelan, tapi cukup terdengar. "Kasihan Bos. Dia dijebak . Menurut keterangan Mawar, Majikannya seorang influencer. Modusnya sama, menawarkan jadi admin olshop gaji 5 juta, eh pas sampai ruko disuruh pakai baju seksi. Kemudian disuruh melayani laki laki hidung belang." Andra mengerutkan kening. Influencer?. "Siapa nama influencer itu?" tanya Andra pelan. "Saya tidak tahu bos. Kata Mawar, dia berurusan sama asistennya. Belum bertemu langsung dengan si influencer Itu. Mawar ini tadi malam kabur, dia dipukul si laki laki hidung belang karena tidak mau melayani. Dia memukul balik bosnya pakai tumbler terus lari. Sekarang dia cari bos." Andra menatap Mawar. Tidak ada kesan menggoda sama sekali. Yang ada hanya takut. Bahunya gemetar. Di pipi kanannya terlihat bekas tamparan yang hampir memudar. "Anton, kamu tunggu di luar dulu," perintah Andra. Anton keluar. Kini hanya Andra dan Mawar di ruang tamu. Andra tidak langsung duduk di sebelahnya. Ia menjaga jarak dua meter, duduk di sofa seberang, agar Mawar tidak takut. " Mawar?" panggil Andra dengan suara paling lembut yang ia bisa. Mawar mendongak sebentar kemudian menundukkan kepalanya. "Iya pak." "Berapa lama kamu di tempat itu, Mawar?" "Tiga jam, Pak," jawab Mawar dengan suara pelan hampir tak terdengar. Air matanya langsung menetes. "Saya ditipu pak. Katanya jadi admin olshop. Pas sampai ruko di daerah Kota, disuruh ganti baju. Disuruh foto pakai kalung. Kalungnya ada huruf S nya, Pak. Katanya biar pelanggan kenal siapa bos besarnya. Saya nggak mau, saya dipukul." Jantung Andra berdegup sedikit lebih kencang mendengar huruf S. Tapi ia tahan. Bisa saja kebetulan. Inisial S itu umum. "Mereka pasti mencari saya pak. Tidak akan membiarkan saya kabur. Karena saya dengar dari tamu. Saya sudah dibayar ke bos besar," sambung Mawar. Mawar menangis. Mengusap air matanya dengan punggung tangannya. Jelas terlihat ketakutan di wajahnya. "Mawar, dengarkan saya," kata Andra tenang. "Di rumah ini, kamu aman. Tidak ada yang akan menyentuh kamu tanpa izin kamu. Saya butuh pelayan untuk bersih-bersih, masak, dan urus rumah ini. Gajinya saya kasih 4 juta sebulan, makan dan tempat tinggal saya tanggung. Hari libur seminggu sekali. Kalau kamu tidak betah, kamu boleh pergi kapan saja." Mawar mendongak. Matanya yang basah menatap Andra tidak percaya. "Beneran, Pak? Cuma bersih-bersih?" tanya Mawar memastikan. "Bener. Pelayan yang lama telah dipecat mantan istriku, Mawar. Rumah ini berantakan, saya nggak bisa urus sendiri. Saya cuma butuh bantuan. Saya janji sama kamu, selama kamu kerja di sini, saya yang akan melindungi kamu. Kalau orang-orang yang cari kamu datang ke sini, biar saya yang hadapi." Kalimat itu seperti air sejuk bagi Mawar yang selama dua hari tidur di mushola pom bensin. Terlihat binar di kedua matanya. "Saya mau, Pak. Terima kasih, Pak," isak Mawar. Kedatangannya ke kota itu akhirnya tidak sia sia. Sekalipun tidak jadi admin olshop. Setidaknya dia memperkirakan pekerjaan dan gaji yang akan dikirimkan ke kampung nanti. Andra tersenyum untuk pertama kalinya, Ia menyodorkan tisu. "Kalau begitu, mulai hari ini panggil saya Pak Andra. Kamu tinggal di kamar belakang dekat dapur. Kamu istirahat dulu hari ini." Mawar berdiri, membungkuk hormat. Ia memeluk tasnya dan berjalan ke arah dapur. Saat ia lewat, samar-samar Andra mencium aroma parfum. Parfum murahan, menyengat, vanilla campur bunga. Parfum yang sangat familiar. Itu parfum yang sering dipakai Siska saat live jualan. Siska selalu semprot parfum itu berlebihan sampai satu rumah bau. Entah kenapa, bulu kuduk Andra merinding sesaat. Tapi ia menggelengkan kepala. Mungkin Mawar tadi diberi parfum itu oleh Bu Ratna biar kelihatan menarik di depan tamu. Ia menepis pikiran itu. Malam itu, Andra duduk sendirian di ruang tamu yang sudah mulai rapi karena dibersihkan oleh Mawar. Ia menatap foto pernikahannya yang masih tergantung.BRUK! BRUK! BRUK! Pagar besi itu digedor lagi. Lebih sopan dari tadi, tapi tetap memaksa. Tidak ada klakson panjang. Hanya ketukan yang teratur dan suara laki-laki yang tenang. Andra perlahan melangkah ke teras depan. Mawar sudah ia suruh sembunyi di kamar mandi lantai dua. Tapi kali ini, yang datang bukan orang ber-tato. Andra membuka pagar. Di depannya berdiri seorang wanita paruh baya berkerudung rapi dengan seragam yayasan warna biru dongker, dan seorang pria muda berkacamata membawa map dan tablet. Di belakang mereka ada mobil hitam yang terlihat resmi. Mereka tersenyum. Senyum yang justru lebih menyeramkan dari senyum Siska. "Selamat siang, Pak Andra Hartawan? Kami dari Yayasan Cahaya Harapan. Kami mau menjemput anak binaan kami, atas nama Mawar Ayu Lestari," kata wanita berkerudung itu dengan sangat sopan. Ia bahkan menunjukkan ID Card yayasan. Andra mengernyit. "Yayasan?. Orang yang kalian cari tidak ada di sini. Kalian salah alamat." "Bapak tidak perlu memb
Grup WA itu telah ramai oleh komentar-komentar miring pada Andra. Mereka percaya begitu saja tanpa mencari kebenaran. Andra telah menjadi bahan pembicaraan di wa itu. Ponsel Andra yang tergeletak di atas meja dapur terus bergetar. Notifikasi masuk tanpa henti. Grup Komplek yang biasanya hanya berisi info arisan dan jadwal ronda, kini berubah menjadi sidang pengadilan untuknya. Dan hakimnya adalah Siska. Andra mengambil ponsel itu dengan tangan kiri. Perban di siku kanannya masih merembes darah tipis. Ia membuka grup itu. Foto profil Siska yang cantik dengan filter glowing masih terpampang di atas, seolah menjadi bukti bahwa ia adalah korban. "Ya begitulah suami kalau tidak sayang istri. Rejekinya akan seret." Itu komentar Bu RT. Wanita yang pernah dibantu melunasi hutang-hutangnya di bank supaya rumahnya tidak disita. Andra masih mengingat, dua tahun yang lalu. Bu RT datang menangis ke rumahnya membawa surat sita bank. Andra langsung menyuruh Anton membereskan hutang Bu R
Luka-luka di tangan dan kaki Andra belum mengering. Perban di sikut kanannya sudah rembes lagi. Darah tipis merembes dari plester yang ditempel Mawar semalam. Kakinya juga perih, lecet karena terseret pagar besi saat menahan empat bodyguard suruhan Bu Ratna. Laki-laki itu duduk di sofa ruang tamu dengan kemeja yang sama sejak semalam, sobek di bagian lengan. Halaman rumahnya masih berantakan. Balok balok yang parah masih berserakan di teras. Dan juga Pot bunga pecah. Lalu suara itu datang lagi. Tok tok tok. Pagar besi diketuk berkali-kali. Ketukannya tidak kasar seperti tadi malam. Ketukan manja. Ketukan yang dibuat-buat sopan. Andra yang tadinya mau merebahkan badan, langsung tegak. Kepalanya masih pusing karena semalam kurang tidur dan karena video podcast Siska yang sudah ditonton 800 ribu orang. Ia mengintip dari balik tirai jendela ruang tamu yang sudah lama tidak pernah ia ganti. Nafasnya berhenti. Siska. Wanita itu berdiri persis di depan pagar yang masih
Satu minggu Mawar tinggal di rumah Andra. Rumah itu sudah tidak ada bau alkohol lagi. Sekarang lantai bersih mengkilap dan bau sabun lantai memanjakan Indra penciuman. Jemuran rapi. Dapur selalu ada nasi hangat jam 6 pagi. Halaman rumah yang dulunya dipenuhi daun daun kering kini telah bersih. Bunga bunga yang dulunya layu kini bermekaran karena sering disiram. Andra jadi sering cepat pulang. Jam 6 sore sudah di rumah. Bukan karena tidak ada kerjaan, tapi karena di rumah sudah tidak sepi lagi. Malam itu, jam 8 malam, Andra baru selesai makan malam. HP pribadinya bergetar terus. Grup WA alumni SMA, grup WA kantor, bahkan Anton mengirim link yang sama. "Dra, lo lihat nggak podcast mantan lo?" "Bos, sabar ya Bos..." Andra membuka link itu. Thumbnail YouTube menampilkan wajah mantan istrinya dengan make-up flawless, mata sembab yang dibuat-buat, duduk di depan podcaster terkenal dengan judul besar: "CURHAT JANDA MANDIRI! RESMI SAH CERAI, DAPAT PENGGANTI LEBIH KAYA & DIHIAN
"Carikan aku pelayan, Ton." Andra berbicara di telepon. Dia berdiri di balkon lantai dua. Dari sana ia bisa melihat Siska di bawah. Wanita itu bersenandung kecil sambil memasukkan koper-koper bermereknya ke dalam bagasi mobil Alphard putihnya. Dibantu asisten pribadinya, wanita dengan kuku panjang dan tas KW yang selalu ikut Siska live jualan skincare. Andra lupa siapa namanya. Tidak ada tatapan sedih, tidak ada air mata. Hanya senyum lega seperti baru lepas dari penjara. Hatinya yang tadi masih sesak, kini berubah menjadi dingin. "Siap, Bos. Kriterianya seperti apa?" jawab Anton, mantan asisten pribadinya di seberang telepon. "Yang jujur. Yang butuh kerjaan beneran. Usia dua puluhan, biar kuat urus rumah besar ini. Yang paling penting sehat jasmani dan rohani. Aku butuh cepat, hari ini." Di seberang, Anton terkekeh. "Oke Bos. Cantik atau biasa aja? Kan Bos sekarang..." "Ton," potong Andra tegas. "Aku butuh pelayan buat urus rumah, bukan buat main-main. Jangan bercanda d
TOK TOK TOK. Andra membuka pintu villa dengan kening berkerut. Hujan masih deras. Di depan pintu berdiri Bu Tini, pengurus villa, dengan payung dan rantang di tangan. Wajahnya cemas. "Maaf mengganggu, Pak Andra. Saya lihat mobil Ibu Siska keluar tadi. Saya kira Bapak belum makan malam. Saya bawakan sup hangat. Tadi Bapak pesan stok untuk seminggu, tapi saya takut Bapak tidak enak badan kalau tidak makan malam ini." Andra menghela napas. Kekecewaannya sedikit mereda. Ternyata bukan Siska yang kembali. "Terima kasih, Bu Tini. Masuk, silakan." Malam itu, yang menemani Andra bukan alkohol. Ia butuh kepala jernih untuk menilai pernikahannya. Ia hanya minum sup hangat itu sambil menatap kosong kamar yang sudah ia hiasi seperti kamar pengantin. Tapi yang tidur di sana malam itu hanyalah seorang laki-laki yang baru saja gagal dalam ujiannya sendiri. "Menyedihkan," batinnya. Kepalanya berat bukan karena pikiran yang berputar semalaman hingga ia baru tertidur menjelang subuh







