Partager

Bab Enam Fitnah

Auteur: Miss Rose
last update Date de publication: 2026-10-23 14:17:29

Grup WA itu telah ramai oleh komentar-komentar miring pada Andra. Mereka percaya begitu saja tanpa mencari kebenaran. Andra telah menjadi bahan pembicaraan di wa itu.

Ponsel Andra yang tergeletak di atas meja dapur terus bergetar. Notifikasi masuk tanpa henti. Grup Komplek yang biasanya hanya berisi info arisan dan jadwal ronda, kini berubah menjadi sidang pengadilan untuknya. Dan hakimnya adalah Siska.

Andra mengambil ponsel itu dengan tangan kiri. Perban di siku kanannya masih merembes darah tipis. Ia membuka grup itu. Foto profil Siska yang cantik dengan filter glowing masih terpampang di atas, seolah menjadi bukti bahwa ia adalah korban.

"Ya begitulah suami kalau tidak sayang istri. Rejekinya akan seret."

Itu komentar Bu RT. Wanita yang pernah dibantu melunasi hutang-hutangnya di bank supaya rumahnya tidak disita.

Andra masih mengingat, dua tahun yang lalu. Bu RT datang menangis ke rumahnya membawa surat sita bank. Andra langsung menyuruh Anton membereskan hutang Bu RT sebesar 120juta. Tanpa bunga. Kini ibu RT yang pertama melempar batu.

Andra membaca komentar itu dengan senyum miring yang getir. Bukan marah. Lebih ke muak.

"Kurang apa lagi bu Siska. Selain cantik, dia juga influencer yang sedang naik daun. Apa pak Andra tidak menggunakan mata hatinya dengan baik. Wanita sebaik itu diselingkuhi."

Komentar itu dari Mom Kenzo teman arisan Siska. Influencer yang sedang naik daun? Andra hampir tertawa. Naik daun karena menjual citra korban. Naik daun karena menjual skincare Abal Abal. Jika Siska menerima endorse dari perusahaan besar. Bisa dipastikan itu karena campur tangan Andra.

Bukan untuk mengungkit apa yang pernah diberikan. Mom Kenzo juga pernah mendapatkan bantuan dari Andra. Saat itu, suaminya hampir bankrut. Kalau bukan Andra yang menyuntikkan dana. Suaminya mom Kenzo bisa dipastikan tidak bisa bangkit lagi.

"Lihat saja, Usahanya akan semakin seret. Dia pasti tidak akan bisa bangkit lagi."

Satu per satu, mereka melempari batu tanpa tahu cerita di balik batu itu.

Andra membaca komentar itu dengan tersenyum miring. Siska, ternyata tidak sepolos yang dia pikirkan selama ini. Ternyata Siska adalah wanita yang licik. Kali ini, Andra merasa benar benar tertipu.

Lima tahun pernikahan. Lima tahun Andra menutup mata rapat-rapat pada semua kejanggalan Siska demi kata cinta. Menerima kekurangannya tanpa syarat. Ternyata selama ini ia tidur di samping ular yang cantik.

Hancur. Perasaannya benar-benar hancur berkeping-keping bukan karena kehilangan istri, tapi karena merasa bodoh.

Dibalik perasaannya yang hancur. Andra masih bersyukur. Siska tidak menemukan Mawar. Jika saja Siska melihat Mawar... Andra tidak bisa membayangkan fitnah apa lagi yang akan Siska sebarkan di grup WA itu. Mungkin judulnya akan berubah menjadi "Suami Selingkuh Bawa Pelakor Ke Rumah sebelum sah Cerai".

Mengingat gadis itu, Andra berkeliling di sekitar rumahnya. Dapur, taman belakang tak luput dari pencarian nya. Mawar tidak ada di tempat itu.

Andra merasakan jantung berdetak kencang. "Apakah Mawar diculik tadi malam" pikirnya kacau.

Pikiran itu muncul begitu saja, liar dan menusuk. Semalam Mawar memang pamit sebentar ke warung.

Rumah yang tadinya terasa lega karena Siska pergi, kini terasa sesak dan mencekam.

"Mawar," panggil Andra bernada khawatir.

Suara Andra yang biasanya tegas dan berat, kali ini terdengar parau dan bergetar.

"Mawar......"

Tidak ada jawaban. Nama mawar berkali-kali dipanggil tetap juga tidak ada jawaban.

Andra melangkah cepat. Dapur yang baru kemarin dibersihkan Mawar sampai mengkilap, kini kosong. Hanya ada panci yang masih hangat. Taman belakang, yang biasanya ada Mawar sedang menyiram bunga sambil bersenandung pelan, juga kosong. Selang air masih menetes.

Keheningan itu yang paling menakutkan.

Mawar memang bukan siapa-siapa. Tapi sejak Mawar diterima menjadi pelayan di rumah itu. Andra merasa jika Mawar adalah tanggung jawabnya.

Jika Mawar hilang karena kelalaiannya, Andra tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri.

"Mawar hilang," kata Andra pada Anton ditelepon.

Suara Andra di telepon terdengar putus asa. Tangan kirinya mengepal sampai buku-buku jarinya memutih.

"Pasti sudah diculik itu bos. Saya dengar dengar. Mawar itu sudah dibayar dua ratus juta oleh pelanggan. Majikannya pasti tidak mau rugi. Kasihan Mawar bos. Dia gadis yang baik."

Anton, asisten kepercayaan Andra, memang sudah menyelidiki orang orang yang merekrut Mawar dulu sejak tiga hari lalu. Informasi itu belum sempat ia laporkan karena Andra melarang Anton bergerak terlalu dekat. Ternyata jaringan mereka lebih cepat.

Kekhawatiran Andra semakin berlipat ganda mendengar informasi itu. Hampir dua Minggu di rumah itu. Mawar memang terlihat gadis yang baik dan tulus.

Dua ratus juta. Harga seorang gadis lugu yang tidak tahu apa-apa tentang dunia luar. Harga yang sangat murah bagi hidung belang, tapi sangat mahal bagi seorang Mawar yang bahkan tidak punya ongkos untuk pulang ke kampungnya.

Bayangan wajah Mawar yang menangis ketakutan menghadapi laki laki hidung belang membuat darah Andra mendidih.

"Cari Mawar sampai dapat," perintah Andra.

Nada suaranya berubah. Dari khawatir menjadi perintah seorang CEO yang terbiasa memimpin ribuan karyawan. Perintah yang tidak bisa dibantah.

"Berisiko Bos. Mereka mempunyai deking orang dalam yang kuat. Jika kita terlalu ikut campur. Saya takut perusahaan Bos yang menjadi taruhannya."

Anton tidak asal bicara. Dia sudah mengetahui siapa wanita yang merekrut Mawar. Ada nama pejabat di belakangnya. Jika Andra yang asli, pemilik perusahaan properti sampai turun tangan dengan ceroboh, semua proyek propertinya bisa dihentikan dengan satu tanda tangan.

"Apa aku perlu mengulang dua kali Anton. Jika perlu, keluarkan uang dua ratus juta asalkan Mawar bebas tanpa disakiti."

Uang bukan masalah. Andra pura-pura bangkrut di depan Siska, tapi rekeningnya di luar negeri masih penuh. Dua ratus juta tidak ada apa-apanya dibanding rasa bersalah seumur hidup jika Mawar kenapa-kenapa.

Di seberang telepon, suasana hening sejenak.

Anton mengernyitkan dahinya di seberang. Selain pada Siska, Andra tidak pernah menunjukkan sikap seperduli itu pada wanita lain.

Selama lima tahun jadi asisten Andra, Anton hanya melihat Andra peduli pada satu wanita: Siska. Bahkan jika Siska minta tas Hermes harga seratus juta, Andra akan belikan tanpa kedip. Tapi kepedulian kali ini berbeda. Ini bukan kepedulian karena cinta buta. Ini kepedulian karena tanggung jawab seorang laki-laki yang ingin melindungi.

"Siap bos."

Anton tahu, jika Andra sudah bicara seperti itu, tidak ada ruang untuk debat. Ini bukan lagi soal bisnis. Ini soal harga diri.

Akhirnya Anton tak membantah. Dia mengetahui jika nada Andra terdengar tegas seperti itu. Itu artinya perintah harus dijalankan.

Baru saja, Andra memutus panggilan dan hendak naik ke lantai dua. Andra terkejut dengan sosok yang berdiri di atas sana. Andra menghela nafas lega. Ternyata Mawar tidak kemana-mana.

Jantung Andra yang tadi hampir lepas, kini kembali ke tempatnya. Di bordes tangga lantai dua, berdiri sesosok gadis kecil dengan pakaian berdebu dan tangan penuh tanah.

"Darimana Mawar?"

Suara Andra masih menyisakan khawatir yang tebal.

"Dari roof top pak. Bunga bunga di lantai atas itu sudah banyak yang mati. Jadi saya tanam ulang."

Mawar mengangkat pot kecil berisi bunga yang baru ia tanam. Wajahnya polos, tidak tahu bahwa lima menit yang lalu, Andra hampir mengerahkan satu tim dan uang dua ratus juta hanya untuk mencarinya.

"Syukurlah," batin Andra.

Hanya satu kata dalam batin, tapi rasanya seperti baru saja selamat dari jurang. Andra bersandar pelan ke dinding tangga, menarik napas panjang. Lega.

Tak bisa dibayangkan jika Siska melihat Mawar di rumah itu. Sedangkan tidak melihat saja. Dirinya sudah difitnah.

Benar. Fitnah di grup WA itu saja sudah membuatnya jadi penjahat. Apa jadinya jika tadi Siska melihat Mawar, gadis muda yang polos tinggal serumah dengan mantan suaminya? Judulnya pasti akan lebih kejam. Foto Mawar pasti sudah tersebar di grup WA itu dengan caption "PELAKOR BARU PAK ANDRA". Atau bisa saja saat ini, rumahnya dikerumuni para tetangga karena provokasi Siska.

Andra menatap Mawar yang kini turun pelan-pelan, masih membawa tanah di tangannya.

Baru saja, Andra bernafas lega. Kehebohan terdengar di dengan rumahnya.

Suara pagar besi itu kembali digedor dengan sangat keras. Bukan diketuk. Digedor seperti mau dirubuhkan. Disusul dengan suara klakson mobil yang dipencet panjang tanpa henti.

Andra dan Mawar saling tatap. Wajah Mawar langsung pucat.

Itu bukan suara mobil Siska.

Itu suara yang lain. Suara yang lebih berat, lebih arogan.

Seseorang datang lagi. Andra mempunyai firasat. Mereka datang untuk mengambil Mawar.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Tuan Andra, Istrimu Meminta Cerai    Tanda Tangan itu Asli

    BRUK! BRUK! BRUK! Pagar besi itu digedor lagi. Lebih sopan dari tadi, tapi tetap memaksa. Tidak ada klakson panjang. Hanya ketukan yang teratur dan suara laki-laki yang tenang. Andra perlahan melangkah ke teras depan. Mawar sudah ia suruh sembunyi di kamar mandi lantai dua. Tapi kali ini, yang datang bukan orang ber-tato. Andra membuka pagar. Di depannya berdiri seorang wanita paruh baya berkerudung rapi dengan seragam yayasan warna biru dongker, dan seorang pria muda berkacamata membawa map dan tablet. Di belakang mereka ada mobil hitam yang terlihat resmi. Mereka tersenyum. Senyum yang justru lebih menyeramkan dari senyum Siska. "Selamat siang, Pak Andra Hartawan? Kami dari Yayasan Cahaya Harapan. Kami mau menjemput anak binaan kami, atas nama Mawar Ayu Lestari," kata wanita berkerudung itu dengan sangat sopan. Ia bahkan menunjukkan ID Card yayasan. Andra mengernyit. "Yayasan?. Orang yang kalian cari tidak ada di sini. Kalian salah alamat." "Bapak tidak perlu memb

  • Tuan Andra, Istrimu Meminta Cerai   Bab Enam Fitnah

    Grup WA itu telah ramai oleh komentar-komentar miring pada Andra. Mereka percaya begitu saja tanpa mencari kebenaran. Andra telah menjadi bahan pembicaraan di wa itu. Ponsel Andra yang tergeletak di atas meja dapur terus bergetar. Notifikasi masuk tanpa henti. Grup Komplek yang biasanya hanya berisi info arisan dan jadwal ronda, kini berubah menjadi sidang pengadilan untuknya. Dan hakimnya adalah Siska. Andra mengambil ponsel itu dengan tangan kiri. Perban di siku kanannya masih merembes darah tipis. Ia membuka grup itu. Foto profil Siska yang cantik dengan filter glowing masih terpampang di atas, seolah menjadi bukti bahwa ia adalah korban. "Ya begitulah suami kalau tidak sayang istri. Rejekinya akan seret." Itu komentar Bu RT. Wanita yang pernah dibantu melunasi hutang-hutangnya di bank supaya rumahnya tidak disita. Andra masih mengingat, dua tahun yang lalu. Bu RT datang menangis ke rumahnya membawa surat sita bank. Andra langsung menyuruh Anton membereskan hutang Bu R

  • Tuan Andra, Istrimu Meminta Cerai   Tamu Bergaun Merah

    Luka-luka di tangan dan kaki Andra belum mengering. Perban di sikut kanannya sudah rembes lagi. Darah tipis merembes dari plester yang ditempel Mawar semalam. Kakinya juga perih, lecet karena terseret pagar besi saat menahan empat bodyguard suruhan Bu Ratna. Laki-laki itu duduk di sofa ruang tamu dengan kemeja yang sama sejak semalam, sobek di bagian lengan. Halaman rumahnya masih berantakan. Balok balok yang parah masih berserakan di teras. Dan juga Pot bunga pecah. Lalu suara itu datang lagi. Tok tok tok. Pagar besi diketuk berkali-kali. Ketukannya tidak kasar seperti tadi malam. Ketukan manja. Ketukan yang dibuat-buat sopan. Andra yang tadinya mau merebahkan badan, langsung tegak. Kepalanya masih pusing karena semalam kurang tidur dan karena video podcast Siska yang sudah ditonton 800 ribu orang. Ia mengintip dari balik tirai jendela ruang tamu yang sudah lama tidak pernah ia ganti. Nafasnya berhenti. Siska. Wanita itu berdiri persis di depan pagar yang masih

  • Tuan Andra, Istrimu Meminta Cerai   Luka Dua Kali Sakit

    Satu minggu Mawar tinggal di rumah Andra. Rumah itu sudah tidak ada bau alkohol lagi. Sekarang lantai bersih mengkilap dan bau sabun lantai memanjakan Indra penciuman. Jemuran rapi. Dapur selalu ada nasi hangat jam 6 pagi. Halaman rumah yang dulunya dipenuhi daun daun kering kini telah bersih. Bunga bunga yang dulunya layu kini bermekaran karena sering disiram. Andra jadi sering cepat pulang. Jam 6 sore sudah di rumah. Bukan karena tidak ada kerjaan, tapi karena di rumah sudah tidak sepi lagi. Malam itu, jam 8 malam, Andra baru selesai makan malam. HP pribadinya bergetar terus. Grup WA alumni SMA, grup WA kantor, bahkan Anton mengirim link yang sama. "Dra, lo lihat nggak podcast mantan lo?" "Bos, sabar ya Bos..." Andra membuka link itu. Thumbnail YouTube menampilkan wajah mantan istrinya dengan make-up flawless, mata sembab yang dibuat-buat, duduk di depan podcaster terkenal dengan judul besar: "CURHAT JANDA MANDIRI! RESMI SAH CERAI, DAPAT PENGGANTI LEBIH KAYA & DIHIAN

  • Tuan Andra, Istrimu Meminta Cerai   Pelayan itu Bernama Mawar

    "Carikan aku pelayan, Ton." Andra berbicara di telepon. Dia berdiri di balkon lantai dua. Dari sana ia bisa melihat Siska di bawah. Wanita itu bersenandung kecil sambil memasukkan koper-koper bermereknya ke dalam bagasi mobil Alphard putihnya. Dibantu asisten pribadinya, wanita dengan kuku panjang dan tas KW yang selalu ikut Siska live jualan skincare. Andra lupa siapa namanya. Tidak ada tatapan sedih, tidak ada air mata. Hanya senyum lega seperti baru lepas dari penjara. Hatinya yang tadi masih sesak, kini berubah menjadi dingin. "Siap, Bos. Kriterianya seperti apa?" jawab Anton, mantan asisten pribadinya di seberang telepon. "Yang jujur. Yang butuh kerjaan beneran. Usia dua puluhan, biar kuat urus rumah besar ini. Yang paling penting sehat jasmani dan rohani. Aku butuh cepat, hari ini." Di seberang, Anton terkekeh. "Oke Bos. Cantik atau biasa aja? Kan Bos sekarang..." "Ton," potong Andra tegas. "Aku butuh pelayan buat urus rumah, bukan buat main-main. Jangan bercanda d

  • Tuan Andra, Istrimu Meminta Cerai   Perceraian Yang Diminta Siska

    TOK TOK TOK. Andra membuka pintu villa dengan kening berkerut. Hujan masih deras. Di depan pintu berdiri Bu Tini, pengurus villa, dengan payung dan rantang di tangan. Wajahnya cemas. "Maaf mengganggu, Pak Andra. Saya lihat mobil Ibu Siska keluar tadi. Saya kira Bapak belum makan malam. Saya bawakan sup hangat. Tadi Bapak pesan stok untuk seminggu, tapi saya takut Bapak tidak enak badan kalau tidak makan malam ini." Andra menghela napas. Kekecewaannya sedikit mereda. Ternyata bukan Siska yang kembali. "Terima kasih, Bu Tini. Masuk, silakan." Malam itu, yang menemani Andra bukan alkohol. Ia butuh kepala jernih untuk menilai pernikahannya. Ia hanya minum sup hangat itu sambil menatap kosong kamar yang sudah ia hiasi seperti kamar pengantin. Tapi yang tidur di sana malam itu hanyalah seorang laki-laki yang baru saja gagal dalam ujiannya sendiri. "Menyedihkan," batinnya. Kepalanya berat bukan karena pikiran yang berputar semalaman hingga ia baru tertidur menjelang subuh

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status