공유

Tamu Bergaun Merah

작가: Miss Rose
last update 게시일: 2026-10-08 12:17:35

Luka-luka di tangan dan kaki Andra belum mengering.

Perban di sikut kanannya sudah rembes lagi. Darah tipis merembes dari plester yang ditempel Mawar semalam. Kakinya juga perih, lecet karena terseret pagar besi saat menahan empat bodyguard suruhan Bu Ratna. Laki-laki itu duduk di sofa ruang tamu dengan kemeja yang sama sejak semalam, sobek di bagian lengan.

Halaman rumahnya masih berantakan. Balok balok yang parah masih berserakan di teras. Dan juga Pot bunga pecah.

Lalu suara itu datang lagi.

Tok tok tok.

Pagar besi diketuk berkali-kali. Ketukannya tidak kasar seperti tadi malam. Ketukan manja. Ketukan yang dibuat-buat sopan.

Andra yang tadinya mau merebahkan badan, langsung tegak. Kepalanya masih pusing karena semalam kurang tidur dan karena video podcast Siska yang sudah ditonton 800 ribu orang.

Ia mengintip dari balik tirai jendela ruang tamu yang sudah lama tidak pernah ia ganti.

Nafasnya berhenti.

Siska.

Wanita itu berdiri persis di depan pagar yang masih penyok karena didorong tadi malam. Memakai gaun merah selutut yang ketat, pas di badan. Kacamata hitam besar menutupi setengah wajahnya, tas branded warna krem menggantung di lengan, masker hitam diturunkan setengah sampai dagu. Bibirnya merah menyala.

Sangat cantik. Persis seperti di thumbnail podcast tadi malam.

Di belakangnya, terparkir sebuah mobil Alphard hitam mengkilap. Bukan mobil Avanza putih yang dulu. Ini mobil baru

"Mas Andra, buka dong pintunya," teriak Siska pelan. Suaranya dibuat mendayu-dayu, sopa. "Aku mau mengambil barang-barangku yang ketinggalan."

Andra menarik nafas panjang. Luka di sikutnya berdenyut lebih kencang.

Ia membuka pintu rumah, lalu membuka pagar. Tapi tidak lebar. Hanya setengah badan.

Seperti seorang istri yang baik sebelumnya, Siska mengulurkan tangannya, ingin menyalami Andra. Tangannya wangi, kukunya panjang dan rapi.

Andra tidak menyambut tangan itu. Dia membiarkan tangan Siska menggantung di udara.

"Kita sedang proses cerai, Mas. Tapi aku masih istrimu yang sah," kata Siska, masih dengan senyum manis yang ia latih di depan kamera podcaster. "Secara hukum, aku masih bisa bebas masuk ke rumah ini mengambil barang-barangku yang ketinggalan."

"Barang apa?" jawab Andra datar. "Tidak ada lagi barang-barangmu di rumah ini."

Siska membuka kacamata hitamnya perlahan. Matanya terlihat sembab. Tapi Andra tahu itu hanya efek riasan supaya terlihat seperti orang yang tersakiti. Air mata Buaya.

"Jangan gitu dong, Mas. Ada ijazahku dan ada juga foto almarhum mamaku. Seingatku, aku menyimpannya di gudang belakang. Aku cek ke sana sebentar ya. Lima menit aja."

Andra tidak langsung mengiyakan. Ia tahu itu hanya alasan. Siska tidak pernah lulus kuliah, mana mungkin ada ijazah. Tapi Siska tidak peduli. Dengan gerakan yang sudah ia perhitungkan, ia menabrakkan tubuhnya pelan ke tubuh Andra yang sedang menghalangi pagar.

Andra meringis kesakitan karena senggolan itu mengenai perbannya dan mundur selangkah. Celah itu cukup.

Siska melenggang masuk.

Namun kali ini rumah itu berbeda dari yang Siska bayangkan. Rumah itu bersih, tapi bersih yang aneh. Terlalu sepi.

Siska memgedarkan pandangannya. Tidak ada suara perempuan. Tidak ada sandal perempuan di teras. Jemuran di belakang kosong.

Siska melangkahkan kakinya ke dapur. Matanya liar mengamati setiap sudut. Ia membuka laci dapur, pura-pura mencari sesuatu.

Kosong.

Ia masuk ke gudang belakang. Gudang itu berdebu, bau apek, penuh sarang laba-laba. Tidak ada jejak orang tinggal di sana.

"Mana barang-barangku?" kata Siska dengan nada tinggi, mulai kesal karena tidak menemukan apa yang ia cari. "Apakah kamu mempunyai pembantu baru? Jangan-jangan dia yang mengambil semua barangku!"

Andra hanya berdiri di ambang pintu gudang sambil bersedekap. Wajahnya tenang, meski perbannya berdarah lagi.

"Tidak ada pembantu," jawab Andra.

"Bohong! Kalau tidak ada, siapa yang membersihkan rumah ini? Dulu rumah ini seperti kapal pecah!"

Siska keluar dari gudang dengan emosi. Gaun merahnya kotor sedikit karena debu. Ia langsung mengarah ke kamar pembantu di belakang. Kamar itu yang paling ia curigai.

"Siska, berhenti. Tidak ada orang lain di rumah ini," kata Andra tenang. "Tentang ijazah. Seingatku kamu tidak lulus kuliah. Tentang foto ibumu, kamu sudah salah besar menyimpannya di gudang yang bocor."

Kata-kata Andra itu menusuk. Siska terdiam.

"Kenapa? Takut aku lihat pembantu barumu?" Siska mencoba memancing. "Jangan-jangan, pembantu itu bukan hanya mengerjakan pekerjaan rumah. Tapi juga mengerjai dirimu di tempat tidur. Benar kan?"

Tuduhan tanpa bukti. Sama persis seperti di podcast.

Tapi Andra tidak terpancing. Ia justru tersenyum tipis, senyum yang membuat Siska semakin geram.

"Dengar ya, Mas," Siska mengganti strategi. Ia tidak mau terlihat terlalu agresif. Ia harus tetap terlihat sebagai janda tersakiti seperti perkataannya di podcast tadi malam. "Karena kamu ternyata masih sanggup memperkerjakan pembantu dan rumahmu bersih begini, padahal ngakunya nggak punya uang, maka aku berubah pikiran. Aku akan menuntut harta gono-gini dan juga nafkah selama proses perceraian kita. Pengacaraku sudah siap."

Andra masih diam.

Siska sudah kehabisan alasan. Ia sudah cek gudang, cek dapur, cek kamar mandi. Tidak ada. Tidak ada satu pun bukti atas apa yang dicarinya.

Ia menatap Andra dengan tatapan curiga yang dalam.

Dengan kesal, Siska memasang kembali kacamata hitamnya.

"Oke, mungkin ijazahku memang sudah kamu bakar. Aku pulang," kata Siska ketus. Ia membalikkan badan, hak tingginya berbunyi keras di lantai yang sudah dibersihkan oleh Mawar semalam.

Ia melenggang keluar pagar tanpa pamit, masuk ke dalam Alphard hitamnya tapi tidak langsung tancap gas. Siska justru membuka layar ponselnya. Membuka grup wa tetangga kompleks yang sudah lama tidak pernah komentar disana sejak dirinya mulai baik daun.

"Warga komplek yang sayang saya sayangi. Maaf, Siska pamit keluar dari grup ini ya. Aku sudah keluar dari rumah suamiku. Aku tidak tahan harus melihat ada perempatan lain di rumah itu di saat perceraian kami sedang proses. Maaf jadi curhat. Ijin keluar. Terimakasih."

Pesan terkirim. Siska tak lantas keluar dari grup.

Siska tersenyum, Di kompleks itu, banyak dihuni oleh pengusaha pengusaha. Jika para istri yang ada di grup bercerita ke suaminya masing-masing. Siska sangat percaya, Andra akan semakin terpuruk dan tidak akan dipercaya di dunia bisnis. Andra pasti akan semakin susah bangkit lagi.

Dan benar saja. Hanya beberapa menit. Grup itu sudah dibanjiri komentar yang menghujat Andra dan bersimpati ke Siska.

Siska tersenyum. Dia memang tidak menemukan apa yang dia cari. Tapi Siska sangat puas bisa menghasut warga untuk menilai Andra negatif.

"Kena kau Andra. Ini masih permulaan. Berani ikut campur urusanku. Kelar kamu," batin Siska.

Siska tersenyum sangat yakin.

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Tuan Andra, Istrimu Meminta Cerai    Tanda Tangan itu Asli

    BRUK! BRUK! BRUK! Pagar besi itu digedor lagi. Lebih sopan dari tadi, tapi tetap memaksa. Tidak ada klakson panjang. Hanya ketukan yang teratur dan suara laki-laki yang tenang. Andra perlahan melangkah ke teras depan. Mawar sudah ia suruh sembunyi di kamar mandi lantai dua. Tapi kali ini, yang datang bukan orang ber-tato. Andra membuka pagar. Di depannya berdiri seorang wanita paruh baya berkerudung rapi dengan seragam yayasan warna biru dongker, dan seorang pria muda berkacamata membawa map dan tablet. Di belakang mereka ada mobil hitam yang terlihat resmi. Mereka tersenyum. Senyum yang justru lebih menyeramkan dari senyum Siska. "Selamat siang, Pak Andra Hartawan? Kami dari Yayasan Cahaya Harapan. Kami mau menjemput anak binaan kami, atas nama Mawar Ayu Lestari," kata wanita berkerudung itu dengan sangat sopan. Ia bahkan menunjukkan ID Card yayasan. Andra mengernyit. "Yayasan?. Orang yang kalian cari tidak ada di sini. Kalian salah alamat." "Bapak tidak perlu memb

  • Tuan Andra, Istrimu Meminta Cerai   Bab Enam Fitnah

    Grup WA itu telah ramai oleh komentar-komentar miring pada Andra. Mereka percaya begitu saja tanpa mencari kebenaran. Andra telah menjadi bahan pembicaraan di wa itu. Ponsel Andra yang tergeletak di atas meja dapur terus bergetar. Notifikasi masuk tanpa henti. Grup Komplek yang biasanya hanya berisi info arisan dan jadwal ronda, kini berubah menjadi sidang pengadilan untuknya. Dan hakimnya adalah Siska. Andra mengambil ponsel itu dengan tangan kiri. Perban di siku kanannya masih merembes darah tipis. Ia membuka grup itu. Foto profil Siska yang cantik dengan filter glowing masih terpampang di atas, seolah menjadi bukti bahwa ia adalah korban. "Ya begitulah suami kalau tidak sayang istri. Rejekinya akan seret." Itu komentar Bu RT. Wanita yang pernah dibantu melunasi hutang-hutangnya di bank supaya rumahnya tidak disita. Andra masih mengingat, dua tahun yang lalu. Bu RT datang menangis ke rumahnya membawa surat sita bank. Andra langsung menyuruh Anton membereskan hutang Bu R

  • Tuan Andra, Istrimu Meminta Cerai   Tamu Bergaun Merah

    Luka-luka di tangan dan kaki Andra belum mengering. Perban di sikut kanannya sudah rembes lagi. Darah tipis merembes dari plester yang ditempel Mawar semalam. Kakinya juga perih, lecet karena terseret pagar besi saat menahan empat bodyguard suruhan Bu Ratna. Laki-laki itu duduk di sofa ruang tamu dengan kemeja yang sama sejak semalam, sobek di bagian lengan. Halaman rumahnya masih berantakan. Balok balok yang parah masih berserakan di teras. Dan juga Pot bunga pecah. Lalu suara itu datang lagi. Tok tok tok. Pagar besi diketuk berkali-kali. Ketukannya tidak kasar seperti tadi malam. Ketukan manja. Ketukan yang dibuat-buat sopan. Andra yang tadinya mau merebahkan badan, langsung tegak. Kepalanya masih pusing karena semalam kurang tidur dan karena video podcast Siska yang sudah ditonton 800 ribu orang. Ia mengintip dari balik tirai jendela ruang tamu yang sudah lama tidak pernah ia ganti. Nafasnya berhenti. Siska. Wanita itu berdiri persis di depan pagar yang masih

  • Tuan Andra, Istrimu Meminta Cerai   Luka Dua Kali Sakit

    Satu minggu Mawar tinggal di rumah Andra. Rumah itu sudah tidak ada bau alkohol lagi. Sekarang lantai bersih mengkilap dan bau sabun lantai memanjakan Indra penciuman. Jemuran rapi. Dapur selalu ada nasi hangat jam 6 pagi. Halaman rumah yang dulunya dipenuhi daun daun kering kini telah bersih. Bunga bunga yang dulunya layu kini bermekaran karena sering disiram. Andra jadi sering cepat pulang. Jam 6 sore sudah di rumah. Bukan karena tidak ada kerjaan, tapi karena di rumah sudah tidak sepi lagi. Malam itu, jam 8 malam, Andra baru selesai makan malam. HP pribadinya bergetar terus. Grup WA alumni SMA, grup WA kantor, bahkan Anton mengirim link yang sama. "Dra, lo lihat nggak podcast mantan lo?" "Bos, sabar ya Bos..." Andra membuka link itu. Thumbnail YouTube menampilkan wajah mantan istrinya dengan make-up flawless, mata sembab yang dibuat-buat, duduk di depan podcaster terkenal dengan judul besar: "CURHAT JANDA MANDIRI! RESMI SAH CERAI, DAPAT PENGGANTI LEBIH KAYA & DIHIAN

  • Tuan Andra, Istrimu Meminta Cerai   Pelayan itu Bernama Mawar

    "Carikan aku pelayan, Ton." Andra berbicara di telepon. Dia berdiri di balkon lantai dua. Dari sana ia bisa melihat Siska di bawah. Wanita itu bersenandung kecil sambil memasukkan koper-koper bermereknya ke dalam bagasi mobil Alphard putihnya. Dibantu asisten pribadinya, wanita dengan kuku panjang dan tas KW yang selalu ikut Siska live jualan skincare. Andra lupa siapa namanya. Tidak ada tatapan sedih, tidak ada air mata. Hanya senyum lega seperti baru lepas dari penjara. Hatinya yang tadi masih sesak, kini berubah menjadi dingin. "Siap, Bos. Kriterianya seperti apa?" jawab Anton, mantan asisten pribadinya di seberang telepon. "Yang jujur. Yang butuh kerjaan beneran. Usia dua puluhan, biar kuat urus rumah besar ini. Yang paling penting sehat jasmani dan rohani. Aku butuh cepat, hari ini." Di seberang, Anton terkekeh. "Oke Bos. Cantik atau biasa aja? Kan Bos sekarang..." "Ton," potong Andra tegas. "Aku butuh pelayan buat urus rumah, bukan buat main-main. Jangan bercanda d

  • Tuan Andra, Istrimu Meminta Cerai   Perceraian Yang Diminta Siska

    TOK TOK TOK. Andra membuka pintu villa dengan kening berkerut. Hujan masih deras. Di depan pintu berdiri Bu Tini, pengurus villa, dengan payung dan rantang di tangan. Wajahnya cemas. "Maaf mengganggu, Pak Andra. Saya lihat mobil Ibu Siska keluar tadi. Saya kira Bapak belum makan malam. Saya bawakan sup hangat. Tadi Bapak pesan stok untuk seminggu, tapi saya takut Bapak tidak enak badan kalau tidak makan malam ini." Andra menghela napas. Kekecewaannya sedikit mereda. Ternyata bukan Siska yang kembali. "Terima kasih, Bu Tini. Masuk, silakan." Malam itu, yang menemani Andra bukan alkohol. Ia butuh kepala jernih untuk menilai pernikahannya. Ia hanya minum sup hangat itu sambil menatap kosong kamar yang sudah ia hiasi seperti kamar pengantin. Tapi yang tidur di sana malam itu hanyalah seorang laki-laki yang baru saja gagal dalam ujiannya sendiri. "Menyedihkan," batinnya. Kepalanya berat bukan karena pikiran yang berputar semalaman hingga ia baru tertidur menjelang subuh

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status