로그인BRUK! BRUK! BRUK! Pagar besi itu digedor lagi. Lebih sopan dari tadi, tapi tetap memaksa. Tidak ada klakson panjang. Hanya ketukan yang teratur dan suara laki-laki yang tenang. Andra perlahan melangkah ke teras depan. Mawar sudah ia suruh sembunyi di kamar mandi lantai dua. Tapi kali ini, yang datang bukan orang ber-tato. Andra membuka pagar. Di depannya berdiri seorang wanita paruh baya berkerudung rapi dengan seragam yayasan warna biru dongker, dan seorang pria muda berkacamata membawa map dan tablet. Di belakang mereka ada mobil hitam yang terlihat resmi. Mereka tersenyum. Senyum yang justru lebih menyeramkan dari senyum Siska. "Selamat siang, Pak Andra Hartawan? Kami dari Yayasan Cahaya Harapan. Kami mau menjemput anak binaan kami, atas nama Mawar Ayu Lestari," kata wanita berkerudung itu dengan sangat sopan. Ia bahkan menunjukkan ID Card yayasan. Andra mengernyit. "Yayasan?. Orang yang kalian cari tidak ada di sini. Kalian salah alamat." "Bapak tidak perlu memb
Grup WA itu telah ramai oleh komentar-komentar miring pada Andra. Mereka percaya begitu saja tanpa mencari kebenaran. Andra telah menjadi bahan pembicaraan di wa itu. Ponsel Andra yang tergeletak di atas meja dapur terus bergetar. Notifikasi masuk tanpa henti. Grup Komplek yang biasanya hanya berisi info arisan dan jadwal ronda, kini berubah menjadi sidang pengadilan untuknya. Dan hakimnya adalah Siska. Andra mengambil ponsel itu dengan tangan kiri. Perban di siku kanannya masih merembes darah tipis. Ia membuka grup itu. Foto profil Siska yang cantik dengan filter glowing masih terpampang di atas, seolah menjadi bukti bahwa ia adalah korban. "Ya begitulah suami kalau tidak sayang istri. Rejekinya akan seret." Itu komentar Bu RT. Wanita yang pernah dibantu melunasi hutang-hutangnya di bank supaya rumahnya tidak disita. Andra masih mengingat, dua tahun yang lalu. Bu RT datang menangis ke rumahnya membawa surat sita bank. Andra langsung menyuruh Anton membereskan hutang Bu R
Luka-luka di tangan dan kaki Andra belum mengering. Perban di sikut kanannya sudah rembes lagi. Darah tipis merembes dari plester yang ditempel Mawar semalam. Kakinya juga perih, lecet karena terseret pagar besi saat menahan empat bodyguard suruhan Bu Ratna. Laki-laki itu duduk di sofa ruang tamu dengan kemeja yang sama sejak semalam, sobek di bagian lengan. Halaman rumahnya masih berantakan. Balok balok yang parah masih berserakan di teras. Dan juga Pot bunga pecah. Lalu suara itu datang lagi. Tok tok tok. Pagar besi diketuk berkali-kali. Ketukannya tidak kasar seperti tadi malam. Ketukan manja. Ketukan yang dibuat-buat sopan. Andra yang tadinya mau merebahkan badan, langsung tegak. Kepalanya masih pusing karena semalam kurang tidur dan karena video podcast Siska yang sudah ditonton 800 ribu orang. Ia mengintip dari balik tirai jendela ruang tamu yang sudah lama tidak pernah ia ganti. Nafasnya berhenti. Siska. Wanita itu berdiri persis di depan pagar yang masih
Satu minggu Mawar tinggal di rumah Andra. Rumah itu sudah tidak ada bau alkohol lagi. Sekarang lantai bersih mengkilap dan bau sabun lantai memanjakan Indra penciuman. Jemuran rapi. Dapur selalu ada nasi hangat jam 6 pagi. Halaman rumah yang dulunya dipenuhi daun daun kering kini telah bersih. Bunga bunga yang dulunya layu kini bermekaran karena sering disiram. Andra jadi sering cepat pulang. Jam 6 sore sudah di rumah. Bukan karena tidak ada kerjaan, tapi karena di rumah sudah tidak sepi lagi. Malam itu, jam 8 malam, Andra baru selesai makan malam. HP pribadinya bergetar terus. Grup WA alumni SMA, grup WA kantor, bahkan Anton mengirim link yang sama. "Dra, lo lihat nggak podcast mantan lo?" "Bos, sabar ya Bos..." Andra membuka link itu. Thumbnail YouTube menampilkan wajah mantan istrinya dengan make-up flawless, mata sembab yang dibuat-buat, duduk di depan podcaster terkenal dengan judul besar: "CURHAT JANDA MANDIRI! RESMI SAH CERAI, DAPAT PENGGANTI LEBIH KAYA & DIHIAN
"Carikan aku pelayan, Ton." Andra berbicara di telepon. Dia berdiri di balkon lantai dua. Dari sana ia bisa melihat Siska di bawah. Wanita itu bersenandung kecil sambil memasukkan koper-koper bermereknya ke dalam bagasi mobil Alphard putihnya. Dibantu asisten pribadinya, wanita dengan kuku panjang dan tas KW yang selalu ikut Siska live jualan skincare. Andra lupa siapa namanya. Tidak ada tatapan sedih, tidak ada air mata. Hanya senyum lega seperti baru lepas dari penjara. Hatinya yang tadi masih sesak, kini berubah menjadi dingin. "Siap, Bos. Kriterianya seperti apa?" jawab Anton, mantan asisten pribadinya di seberang telepon. "Yang jujur. Yang butuh kerjaan beneran. Usia dua puluhan, biar kuat urus rumah besar ini. Yang paling penting sehat jasmani dan rohani. Aku butuh cepat, hari ini." Di seberang, Anton terkekeh. "Oke Bos. Cantik atau biasa aja? Kan Bos sekarang..." "Ton," potong Andra tegas. "Aku butuh pelayan buat urus rumah, bukan buat main-main. Jangan bercanda d
TOK TOK TOK. Andra membuka pintu villa dengan kening berkerut. Hujan masih deras. Di depan pintu berdiri Bu Tini, pengurus villa, dengan payung dan rantang di tangan. Wajahnya cemas. "Maaf mengganggu, Pak Andra. Saya lihat mobil Ibu Siska keluar tadi. Saya kira Bapak belum makan malam. Saya bawakan sup hangat. Tadi Bapak pesan stok untuk seminggu, tapi saya takut Bapak tidak enak badan kalau tidak makan malam ini." Andra menghela napas. Kekecewaannya sedikit mereda. Ternyata bukan Siska yang kembali. "Terima kasih, Bu Tini. Masuk, silakan." Malam itu, yang menemani Andra bukan alkohol. Ia butuh kepala jernih untuk menilai pernikahannya. Ia hanya minum sup hangat itu sambil menatap kosong kamar yang sudah ia hiasi seperti kamar pengantin. Tapi yang tidur di sana malam itu hanyalah seorang laki-laki yang baru saja gagal dalam ujiannya sendiri. "Menyedihkan," batinnya. Kepalanya berat bukan karena pikiran yang berputar semalaman hingga ia baru tertidur menjelang subuh







