홈 / Urban / Tuan Andra, Istrimu Meminta Cerai / Perceraian Yang Diminta Siska

공유

Perceraian Yang Diminta Siska

작가: Miss Rose
last update 게시일: 2026-10-08 12:11:32

TOK TOK TOK.

Andra membuka pintu villa dengan kening berkerut. Hujan masih deras.

Di depan pintu berdiri Bu Tini, pengurus villa, dengan payung dan rantang di tangan. Wajahnya cemas.

"Maaf mengganggu, Pak Andra. Saya lihat mobil Ibu Siska keluar tadi. Saya kira Bapak belum makan malam. Saya bawakan sup hangat. Tadi Bapak pesan stok untuk seminggu, tapi saya takut Bapak tidak enak badan kalau tidak makan malam ini."

Andra menghela napas. Kekecewaannya sedikit mereda. Ternyata bukan Siska yang kembali.

"Terima kasih, Bu Tini. Masuk, silakan."

Malam itu, yang menemani Andra bukan alkohol. Ia butuh kepala jernih untuk menilai pernikahannya.

Ia hanya minum sup hangat itu sambil menatap kosong kamar yang sudah ia hiasi seperti kamar pengantin. Tapi yang tidur di sana malam itu hanyalah seorang laki-laki yang baru saja gagal dalam ujiannya sendiri.

"Menyedihkan," batinnya.

Kepalanya berat bukan karena pikiran yang berputar semalaman hingga ia baru tertidur menjelang subuh.

Pagi harinya, Andra terbangun jam satu siang. Perutnya lapar. Ia membasuh muka dan melangkah ke dapur. Kulkas sudah penuh stok makanan untuk seminggu, sesuai pesanannya ke Bu Tini. Rencana awalnya adalah bulan madu kedua tanpa gangguan siapapun.

Dan sekarang, ia yang harus memasak untuk dirinya sendiri.

Sambil menggoreng telur, pikirannya melayang. Lima tahun pernikahan. Kapan terakhir kali Siska turun ke dapur untuknya? Semuanya disiapkan pelayan. Bahkan setelah ia mengaku ekonominya merosot, Siska tak pernah bertanya, "Mas sudah makan atau belum?" Perhatiannya tidak pernah dibalas. Siska terlalu sibuk dengan dirinya sendiri.

Hari pertama, kedua, hingga hari ketujuh di villa itu ia lewati dengan merenung.

"Apakah Siska tipe wanita "Ada uang Abang disayang, tidak ada uang Abang melayang?" batin Andra.

Satu minggu penuh, Siska tidak pernah menghubunginya. Bahkan satu chat pun tidak. Hingga jadwal kepulangan tiba, sosok Siska tak muncul untuk menjemputnya seperti janjinya.

Dengan kecewa, Andra pulang sendiri naik taksi online.

Dan kekecewaan itu berlipat ganda saat ia membuka pintu rumahnya.

Ruang tamu berantakan. Botol dan Gelas-gelas berisi sisa alkohol dan asbak penuh puntung rokok berserakan. Aroma alkohol dan parfum asing menyengat. Rumah itu telah dijadikan pesta miras.

"Jelaskan ini, Siska. Kamu tidak menjemputku, tapi kamu pesta di rumah ini?" tanya Andra, suaranya ditahan agar tidak membentak.

Siska yang sedang rebahan di sofa, terkejut lalu cepat menguasai diri. Ia duduk dan tersenyum.

"Bukan pesta, Mas. Kebetulan aku dapat endorse lumayan banyak. Jadi kami rayakan di sini. Kamu keberatan?" jawabnya ringan. Tanpa merasa bersalah sama sekali.

"Tentu saja aku keberatan. Rumah ini bukan tempat untuk hal seperti ini. Kamu bersenang-senang di sini dan lupa menjemputku."

"Jangan diperpanjang, Mas. Kamu sudah di rumah kan sekarang," jawab Siska santai, masih dengan rasa bersalahnya.

Andra mengatupkan rahangnya. Amarahnya memuncak, tapi ia menahannya.

"Sebentar lagi juga rumah ini bukan rumahmu lagi kan, Mas? Sebentar lagi akan disita?" ucap Siska enteng. Nada bicaranya tersenyum mengejek.

Kalimat itu seperti menyiram cuka ke luka Andra. Sebulan lalu memang ia bercerita rumah itu akan disita. Itu bagian dari ujiannya.

"Mas, setelah aku pikir-pikir selama seminggu ini. Sebaiknya kita berpisah saja."

DUAR!

Seperti petir di siang hari. Itulah yang dirasakan Andra saat ini.

"Apa kamu bilang, Siska?" Andra sampai menggosok telinganya.

"Kita bercerai saja. Di antara kita tidak ada anak yang mengharuskan kita mempertahankan pernikahan ini."

Jari-jari Andra mengepal. Bukan karena takut miskin, tapi karena ia sadar, Siska bukan wanita yang bisa diajak berjuang bersama.

Jika Siska mencintainya, ia pasti akan menyemangatinya untuk bangkit, bukan meninggalkannya. Seorang istri yang baik pasti akan memberikan dukungan pada suaminya. Tapi Siska tidak seperti itu.

"Baik. Kalau itu mau kamu," jawab Andra tegas. "Sebesar apa pun cintaku, tidak ada gunanya mempertahankan pernikahan kalau hanya aku yang berjuang."

"Terima kasih, Mas. Aku tidak menuntut apa pun. Dan aku harap kamu pun tidak menuntut apa pun dariku," kata Siska cepat, wajahnya terlihat lega dan bahagia.

"Karena memang tidak ada lagi yang bisa diharapkan darimu, Mas. Dan aku tidak rela pendapatanku dinikmati laki-laki pengangguran seperti kamu", batin Siska.

Seperti sudah dipersiapkan, Siska mengeluarkan berkas dari laci.

"Tanda tangani di sini, Mas. Aku yang akan ajukan gugatan. Supaya sah secara agama, ucapkan talak untukku, Mas," pintanya.

Andra tidak banyak membantah. Dengan suara berat namun jelas, ia mengucapkan talak. Kini mereka bukan lagi suami istri. Andra tersenyum sinis menyadari betapa cepat status itu berubah.

"Aku pamit keluar dari rumah ini, Mas."

"Pergilah dan jangan pernah menyesal," kata Andra.

Siska tertawa sinis. "Mana mungkin aku menyesal berpisah dari laki-laki parasit, Mas."

"Siska!" seru Andra, matanya memerah mendengar kata parasit.

"Jangan teriaki aku begitu. Aku bukan siapa siapa lagi bagimu. Dengan sikapmu yang tidak punya apa apa seperti ini, bisa dipastikan kamu akan jadi duda selamanya."

"Aku pastikan, sepuluh wanita sepertimu pun bisa aku dapatkan. Tapi aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Jika suatu saat aku menikah lagi, aku pastikan perempuan itu jauh di atas kamu. Dari segi kecantikan dan tingkah laku," balas Andra.

Setelah itu, Andra keluar dari kamar dengan membanting pintu. Sikap dan perkataan Siska benar benar keterlaluan.

Malam itu, Andra duduk sendirian di ruang tamu yang berantakan itu. Ia mengambil ponselnya dan menghubungi satu nomor.

"Halo, Anton. Tolong carikan aku seorang pelayan. Perempuan, yang bisa urus rumah. Aku butuh mulai besok. Syaratku satu, dia harus orang baik dan jujur."

Karena bagi Andra, setelah ujian yang gagal ini, ia tidak butuh wanita cantik yang hanya ada saat senang. Ia butuh seseorang yang tulus, bahkan jika statusnya hanya seorang pelayan di rumah itu.

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Tuan Andra, Istrimu Meminta Cerai    Tanda Tangan itu Asli

    BRUK! BRUK! BRUK! Pagar besi itu digedor lagi. Lebih sopan dari tadi, tapi tetap memaksa. Tidak ada klakson panjang. Hanya ketukan yang teratur dan suara laki-laki yang tenang. Andra perlahan melangkah ke teras depan. Mawar sudah ia suruh sembunyi di kamar mandi lantai dua. Tapi kali ini, yang datang bukan orang ber-tato. Andra membuka pagar. Di depannya berdiri seorang wanita paruh baya berkerudung rapi dengan seragam yayasan warna biru dongker, dan seorang pria muda berkacamata membawa map dan tablet. Di belakang mereka ada mobil hitam yang terlihat resmi. Mereka tersenyum. Senyum yang justru lebih menyeramkan dari senyum Siska. "Selamat siang, Pak Andra Hartawan? Kami dari Yayasan Cahaya Harapan. Kami mau menjemput anak binaan kami, atas nama Mawar Ayu Lestari," kata wanita berkerudung itu dengan sangat sopan. Ia bahkan menunjukkan ID Card yayasan. Andra mengernyit. "Yayasan?. Orang yang kalian cari tidak ada di sini. Kalian salah alamat." "Bapak tidak perlu memb

  • Tuan Andra, Istrimu Meminta Cerai   Bab Enam Fitnah

    Grup WA itu telah ramai oleh komentar-komentar miring pada Andra. Mereka percaya begitu saja tanpa mencari kebenaran. Andra telah menjadi bahan pembicaraan di wa itu. Ponsel Andra yang tergeletak di atas meja dapur terus bergetar. Notifikasi masuk tanpa henti. Grup Komplek yang biasanya hanya berisi info arisan dan jadwal ronda, kini berubah menjadi sidang pengadilan untuknya. Dan hakimnya adalah Siska. Andra mengambil ponsel itu dengan tangan kiri. Perban di siku kanannya masih merembes darah tipis. Ia membuka grup itu. Foto profil Siska yang cantik dengan filter glowing masih terpampang di atas, seolah menjadi bukti bahwa ia adalah korban. "Ya begitulah suami kalau tidak sayang istri. Rejekinya akan seret." Itu komentar Bu RT. Wanita yang pernah dibantu melunasi hutang-hutangnya di bank supaya rumahnya tidak disita. Andra masih mengingat, dua tahun yang lalu. Bu RT datang menangis ke rumahnya membawa surat sita bank. Andra langsung menyuruh Anton membereskan hutang Bu R

  • Tuan Andra, Istrimu Meminta Cerai   Tamu Bergaun Merah

    Luka-luka di tangan dan kaki Andra belum mengering. Perban di sikut kanannya sudah rembes lagi. Darah tipis merembes dari plester yang ditempel Mawar semalam. Kakinya juga perih, lecet karena terseret pagar besi saat menahan empat bodyguard suruhan Bu Ratna. Laki-laki itu duduk di sofa ruang tamu dengan kemeja yang sama sejak semalam, sobek di bagian lengan. Halaman rumahnya masih berantakan. Balok balok yang parah masih berserakan di teras. Dan juga Pot bunga pecah. Lalu suara itu datang lagi. Tok tok tok. Pagar besi diketuk berkali-kali. Ketukannya tidak kasar seperti tadi malam. Ketukan manja. Ketukan yang dibuat-buat sopan. Andra yang tadinya mau merebahkan badan, langsung tegak. Kepalanya masih pusing karena semalam kurang tidur dan karena video podcast Siska yang sudah ditonton 800 ribu orang. Ia mengintip dari balik tirai jendela ruang tamu yang sudah lama tidak pernah ia ganti. Nafasnya berhenti. Siska. Wanita itu berdiri persis di depan pagar yang masih

  • Tuan Andra, Istrimu Meminta Cerai   Luka Dua Kali Sakit

    Satu minggu Mawar tinggal di rumah Andra. Rumah itu sudah tidak ada bau alkohol lagi. Sekarang lantai bersih mengkilap dan bau sabun lantai memanjakan Indra penciuman. Jemuran rapi. Dapur selalu ada nasi hangat jam 6 pagi. Halaman rumah yang dulunya dipenuhi daun daun kering kini telah bersih. Bunga bunga yang dulunya layu kini bermekaran karena sering disiram. Andra jadi sering cepat pulang. Jam 6 sore sudah di rumah. Bukan karena tidak ada kerjaan, tapi karena di rumah sudah tidak sepi lagi. Malam itu, jam 8 malam, Andra baru selesai makan malam. HP pribadinya bergetar terus. Grup WA alumni SMA, grup WA kantor, bahkan Anton mengirim link yang sama. "Dra, lo lihat nggak podcast mantan lo?" "Bos, sabar ya Bos..." Andra membuka link itu. Thumbnail YouTube menampilkan wajah mantan istrinya dengan make-up flawless, mata sembab yang dibuat-buat, duduk di depan podcaster terkenal dengan judul besar: "CURHAT JANDA MANDIRI! RESMI SAH CERAI, DAPAT PENGGANTI LEBIH KAYA & DIHIAN

  • Tuan Andra, Istrimu Meminta Cerai   Pelayan itu Bernama Mawar

    "Carikan aku pelayan, Ton." Andra berbicara di telepon. Dia berdiri di balkon lantai dua. Dari sana ia bisa melihat Siska di bawah. Wanita itu bersenandung kecil sambil memasukkan koper-koper bermereknya ke dalam bagasi mobil Alphard putihnya. Dibantu asisten pribadinya, wanita dengan kuku panjang dan tas KW yang selalu ikut Siska live jualan skincare. Andra lupa siapa namanya. Tidak ada tatapan sedih, tidak ada air mata. Hanya senyum lega seperti baru lepas dari penjara. Hatinya yang tadi masih sesak, kini berubah menjadi dingin. "Siap, Bos. Kriterianya seperti apa?" jawab Anton, mantan asisten pribadinya di seberang telepon. "Yang jujur. Yang butuh kerjaan beneran. Usia dua puluhan, biar kuat urus rumah besar ini. Yang paling penting sehat jasmani dan rohani. Aku butuh cepat, hari ini." Di seberang, Anton terkekeh. "Oke Bos. Cantik atau biasa aja? Kan Bos sekarang..." "Ton," potong Andra tegas. "Aku butuh pelayan buat urus rumah, bukan buat main-main. Jangan bercanda d

  • Tuan Andra, Istrimu Meminta Cerai   Perceraian Yang Diminta Siska

    TOK TOK TOK. Andra membuka pintu villa dengan kening berkerut. Hujan masih deras. Di depan pintu berdiri Bu Tini, pengurus villa, dengan payung dan rantang di tangan. Wajahnya cemas. "Maaf mengganggu, Pak Andra. Saya lihat mobil Ibu Siska keluar tadi. Saya kira Bapak belum makan malam. Saya bawakan sup hangat. Tadi Bapak pesan stok untuk seminggu, tapi saya takut Bapak tidak enak badan kalau tidak makan malam ini." Andra menghela napas. Kekecewaannya sedikit mereda. Ternyata bukan Siska yang kembali. "Terima kasih, Bu Tini. Masuk, silakan." Malam itu, yang menemani Andra bukan alkohol. Ia butuh kepala jernih untuk menilai pernikahannya. Ia hanya minum sup hangat itu sambil menatap kosong kamar yang sudah ia hiasi seperti kamar pengantin. Tapi yang tidur di sana malam itu hanyalah seorang laki-laki yang baru saja gagal dalam ujiannya sendiri. "Menyedihkan," batinnya. Kepalanya berat bukan karena pikiran yang berputar semalaman hingga ia baru tertidur menjelang subuh

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status