共有

Luka Dua Kali Sakit

作者: Miss Rose
last update 公開日: 2026-10-08 12:15:19

Satu minggu Mawar tinggal di rumah Andra.

Rumah itu sudah tidak ada bau alkohol lagi. Sekarang lantai bersih mengkilap dan bau sabun lantai memanjakan Indra penciuman. Jemuran rapi. Dapur selalu ada nasi hangat jam 6 pagi. Halaman rumah yang dulunya dipenuhi daun daun kering kini telah bersih. Bunga bunga yang dulunya layu kini bermekaran karena sering disiram.

Andra jadi sering cepat pulang. Jam 6 sore sudah di rumah. Bukan karena tidak ada kerjaan, tapi karena di rumah sudah tidak sepi lagi.

Malam itu, jam 8 malam, Andra baru selesai makan malam. HP pribadinya bergetar terus. Grup WA alumni SMA, grup WA kantor, bahkan Anton mengirim link yang sama.

"Dra, lo lihat nggak podcast mantan lo?"

"Bos, sabar ya Bos..."

Andra membuka link itu. Thumbnail YouTube menampilkan wajah mantan istrinya dengan make-up flawless, mata sembab yang dibuat-buat, duduk di depan podcaster terkenal dengan judul besar:

"CURHAT JANDA MANDIRI! RESMI SAH CERAI, DAPAT PENGGANTI LEBIH KAYA & DIHIANATI SUAMI PARASIT TUKANG SELINGKUH!"

Video itu baru 6 jam tayang, sudah 800 ribu penonton.

Jari Andra dingin saat mengklik play.

Di dalam studio, Siska menangis cantik. Host-nya bertanya dengan nada kasihan.

"Jadi gimana status kamu sekarang sama mantan suami?"

Siska mengusap air mata dengan tisu.

"Alhamdulillah Kak, sudah resmi sah bercerai minggu lalu di pengadilan. Aku yang gugat. Aku sudah tidak kuat hidup sama parasit," kata Siska, suaranya bergetar.

Andra membeku. Resmi sah bercerai? Putusan belum ketok palu. Bahkan mereka harus melewati mediasi dulu sebelum lanjut ke sidang sidang selanjutnya. Siska berbohong di depan hampir satu juta orang.

Siska melanjutkan, lebih keras.

"Selama nikah, dia parasit, Kak. Nggak pernah kasih nafkah. Kerjaannya cuma selingkuh, bawa perempuan ke rumah. Aku yang banting tulang jualan skincare dari pagi ke pagi buat bayar listrik rumah itu. Bahkan menanggung ibunya yang sudah stroke."

Siska tersenyum puas melihat host mengangguk-angguk, lalu ia memberikan pukulan terakhir.

"Tapi aku sudah move on, Kak. Tuhan sudah kasih aku pengganti yang jauh lebih baik. Pengusaha dari Jakarta, jauh lebih kaya, jauh lebih menghargai aku. Bentar lagi kami mau tunangan."

Video itu dimatikan Andra dengan kasar. HP-nya ia lempar ke kasur.

Parasit. Tukang selingkuh. Sudah sah cerai. Sudah punya pengganti lebih kaya.

Andra mengulang kata kata itu dengan keras. Tiga fitnah itu ditusukkan sekaligus di depan hampir satu juta orang. Padahal selama ini. Andra sudah berusaha menjadi suami yang terbaik dan juga setia.

"Hebat kamu ya," teriak Andra, matanya merah tapi tidak ada air mata yang keluar.

Ia turun ke bawah untuk ambil air putih. Dadanya masih sesak.

Saat ia di dapur, Mawar keluar dari kamarnya dengan wajah pucat, membawa tas ransel bututnya.

"Pak Andra... maaf... saya mau jujur..."

"Ada apa, Mawar?"

Mawar merogoh saku celananya dengan tangan gemetar. Ia mengeluarkan sebuah HP lipat Samsung jadul, layarnya retak, warnanya pink pudar.

"Ini... ini HP pemberian mantan bosku waktu di ruko, Pak. Katanya biar gampang dihubungi kalau ada job. Saya lupa buang, Pak. Dari tadi siang bunyi terus. Saya takut angkat."

Andra mengambil HP itu. Layarnya menyala. Ada 23 panggilan tak terjawab dari nama "Bu Majikan". Dan ada satu pesan WA yang baru masuk 10 menit lalu, dengan foto share location.

Pesannya: " Kami bisa melacak keberadaanmu Mawar. Kamu tidak bisa lari dari kami."

Darah Andra langsung naik.

"Jadi mereka lacak kamu pakai HP ini?"

Mawar mengangguk sambil menangis. "Saya nggak tahu kalau ada pelacaknya, Pak. Saya bodoh..."

Andra langsung mematikan HP itu, membongkar baterainya, dan mematahkan kartu SIM-nya jadi dua.

Tapi sudah terlambat.

Lima menit kemudian, suara motor berhenti mendadak di depan pagar. Dua motor bebek.

Tok! Tok! Tok! Pagar besi digedor keras sampai bergetar.

"MAWAR! KAMI TAHU KAMU DI DALAM! KELUAR! BOS BESAR NYURUH JEMPUT SEKARANG!"

Mawar langsung lari ke belakang Andra.

Andra mendorong Mawar ke kamar mandi belakang. "Kunci dari dalam! Jangan keluar!"

Mawar mengunci diri di kamar mandi.

Andra membuka pintu depan, tapi pagar tetap terkunci. Empat laki-laki berbadan besar berdiri di sana.

"Buka pagar! Mana Mawar!. Kami tahu mawar di rumah ini!" bentak yang bertato.

"Tidak ada Mawar di sini! Pergi!" bentak Andra.

Salah satu dari mereka nekat memanjat pagar besi setinggi dua meter itu.

Andra yang masih panas karena fitnah podcast, emosinya meledak. Ia mendorong orang yang memanjat itu sampai jatuh terlentang ke aspal.

Perkelahian tidak terhindarkan.

Salah satu dari laki laki itu mendorong pagar dengan bahunya. Andra menahan dari dalam. Dorong-dorongan itu membuat sikut Andra tergores besi pagar yang karatan. Darah segar langsung mengalir. Kemeja Andra sobek.

Dua orang berhasil masuk ke halaman.

"Mawar! Keluar!" teriak mereka.

Melihat mereka mau masuk ke rumah, Andra menghadang mereka. Memukul dengan apa saja yang bisa diraih tangannya. Dua laki laki itu tidak tinggal diam. Mereka membalas pukulan Andra. Andra mendapat pukulan bertubi-tubi di tubuhnya.

"JANGAN MASUK RUMAH SAYA!"

Teriakan Andra memecah keheningan komplek jam 9 malam. Lampu teras tetangga menyala.

"Woi! Ada apa ribut-ribut! Saya telepon polisi ya!"

Mendengar kata polisi dari tetangga Andra, empat bodyguard itu panik.

"Bang, cabut! Nanti ketahuan bos besar!"

Mereka naik motor dan kabur.

Halaman sepi lagi. Hanya ada balok patah dan darah Andra menetes.

Andra terduduk lemas di teras. Darah terus menetes dari luka di tangan dan kakinya.

Bersamaan dengan itu, pintu kamar mandi terbuka. Mawar lari keluar, melihat darah di kaki dan tangan Andra, Mawar langsung menangis kencang.

"Pak Andra berdarah! Ya Allah Pak, gara-gara HP itu! Gara-gara saya! Maafkan saya pak."

Mawar berlari ke dalam rumah. Ia mengambil kotak P3K dengan tangan gemetar, membersihkan luka Andra dengan kapas. Air matanya jatuh ke luka itu.

"Kenapa Bapak bela saya sampai berdarah begini? Padahal Bapak nggak ada utang apa-apa sama saya... Bapak malah baru difitnah mantan istri Bapak. Aku mendengar bapak bertengkar tadi."

Andra kaget. "Kamu dengar?"

Mawar mengangguk pelan. "Saya dengar Bapak bilang 'fitnah'. Saya nggak tahu siapa mantan istri Bapak. Tapi saya tahu Bapak lagi sakit hati malam ini. Kenapa Bapak masih mau sakit lagi demi saya?"

Mawar berpikir, Andra berbicara di telepon bukan menontonnya di podcast.

Untuk pertama kalinya malam itu, air mata Andra yang ia tahan sejak nonton podcast, jatuh juga. Bukan karena luka di kaki dan tangannya. Tapi karena Siska memfitnah dirinya di depan umum.

"Karena kamu satu-satunya orang di rumah ini yang nggak nuduh saya parasit, Mawar. Di luar sana satu juta orang percaya saya tukang selingkuh. Cuma kamu di sini yang tahu saya nggak begitu. Padahal kita baru saling kenal.'

Mawar terdiam. Ia tidak tahu nama Siska. Ia tidak tahu mantan istri Andra. Ia hanya tahu, malam ini Pak Andra difitnah mantan istrinya, dan malam ini juga Pak Andra berdarah demi dia.

Malam itu, di teras yang berantakan, Andra duduk dengan sikut berdarah, dan Mawar menangis di depannya. Dua orang yang sama-sama terluka, tanpa tahu bahwa orang yang melukai mereka adalah orang yang sama.

Andra menatap pecahan kartu SIM di tempat sampah. Di dalam hatinya ia berjanji, ia akan cari tahu siapa bos besar itu. Tanpa melibatkan Mawar dulu.

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Tuan Andra, Istrimu Meminta Cerai   Bab Enam Fitnah

    Grup WA itu telah ramai oleh komentar-komentar miring pada Andra. Mereka percaya begitu saja tanpa mencari kebenaran. Andra telah menjadi bahan pembicaraan di wa itu. Ponsel Andra yang tergeletak di atas meja dapur terus bergetar. Notifikasi masuk tanpa henti. Grup Komplek yang biasanya hanya berisi info arisan dan jadwal ronda, kini berubah menjadi sidang pengadilan untuknya. Dan hakimnya adalah Siska. Andra mengambil ponsel itu dengan tangan kiri. Perban di siku kanannya masih merembes darah tipis. Ia membuka grup itu. Foto profil Siska yang cantik dengan filter glowing masih terpampang di atas, seolah menjadi bukti bahwa ia adalah korban. "Ya begitulah suami kalau tidak sayang istri. Rejekinya akan seret." Itu komentar Bu RT. Wanita yang pernah dibantu melunasi hutang-hutangnya di bank supaya rumahnya tidak disita. Andra masih mengingat, dua tahun yang lalu. Bu RT datang menangis ke rumahnya membawa surat sita bank. Andra langsung menyuruh Anton membereskan hutang Bu R

  • Tuan Andra, Istrimu Meminta Cerai   Tamu Bergaun Merah

    Luka-luka di tangan dan kaki Andra belum mengering. Perban di sikut kanannya sudah rembes lagi. Darah tipis merembes dari plester yang ditempel Mawar semalam. Kakinya juga perih, lecet karena terseret pagar besi saat menahan empat bodyguard suruhan Bu Ratna. Laki-laki itu duduk di sofa ruang tamu dengan kemeja yang sama sejak semalam, sobek di bagian lengan. Halaman rumahnya masih berantakan. Balok balok yang parah masih berserakan di teras. Dan juga Pot bunga pecah. Lalu suara itu datang lagi. Tok tok tok. Pagar besi diketuk berkali-kali. Ketukannya tidak kasar seperti tadi malam. Ketukan manja. Ketukan yang dibuat-buat sopan. Andra yang tadinya mau merebahkan badan, langsung tegak. Kepalanya masih pusing karena semalam kurang tidur dan karena video podcast Siska yang sudah ditonton 800 ribu orang. Ia mengintip dari balik tirai jendela ruang tamu yang sudah lama tidak pernah ia ganti. Nafasnya berhenti. Siska. Wanita itu berdiri persis di depan pagar yang masih

  • Tuan Andra, Istrimu Meminta Cerai   Luka Dua Kali Sakit

    Satu minggu Mawar tinggal di rumah Andra. Rumah itu sudah tidak ada bau alkohol lagi. Sekarang lantai bersih mengkilap dan bau sabun lantai memanjakan Indra penciuman. Jemuran rapi. Dapur selalu ada nasi hangat jam 6 pagi. Halaman rumah yang dulunya dipenuhi daun daun kering kini telah bersih. Bunga bunga yang dulunya layu kini bermekaran karena sering disiram. Andra jadi sering cepat pulang. Jam 6 sore sudah di rumah. Bukan karena tidak ada kerjaan, tapi karena di rumah sudah tidak sepi lagi. Malam itu, jam 8 malam, Andra baru selesai makan malam. HP pribadinya bergetar terus. Grup WA alumni SMA, grup WA kantor, bahkan Anton mengirim link yang sama. "Dra, lo lihat nggak podcast mantan lo?" "Bos, sabar ya Bos..." Andra membuka link itu. Thumbnail YouTube menampilkan wajah mantan istrinya dengan make-up flawless, mata sembab yang dibuat-buat, duduk di depan podcaster terkenal dengan judul besar: "CURHAT JANDA MANDIRI! RESMI SAH CERAI, DAPAT PENGGANTI LEBIH KAYA & DIHIAN

  • Tuan Andra, Istrimu Meminta Cerai   Pelayan itu Bernama Mawar

    "Carikan aku pelayan, Ton." Andra berbicara di telepon. Dia berdiri di balkon lantai dua. Dari sana ia bisa melihat Siska di bawah. Wanita itu bersenandung kecil sambil memasukkan koper-koper bermereknya ke dalam bagasi mobil Alphard putihnya. Dibantu asisten pribadinya, wanita dengan kuku panjang dan tas KW yang selalu ikut Siska live jualan skincare. Andra lupa siapa namanya. Tidak ada tatapan sedih, tidak ada air mata. Hanya senyum lega seperti baru lepas dari penjara. Hatinya yang tadi masih sesak, kini berubah menjadi dingin. "Siap, Bos. Kriterianya seperti apa?" jawab Anton, mantan asisten pribadinya di seberang telepon. "Yang jujur. Yang butuh kerjaan beneran. Usia dua puluhan, biar kuat urus rumah besar ini. Yang paling penting sehat jasmani dan rohani. Aku butuh cepat, hari ini." Di seberang, Anton terkekeh. "Oke Bos. Cantik atau biasa aja? Kan Bos sekarang..." "Ton," potong Andra tegas. "Aku butuh pelayan buat urus rumah, bukan buat main-main. Jangan bercanda d

  • Tuan Andra, Istrimu Meminta Cerai   Perceraian Yang Diminta Siska

    TOK TOK TOK. Andra membuka pintu villa dengan kening berkerut. Hujan masih deras. Di depan pintu berdiri Bu Tini, pengurus villa, dengan payung dan rantang di tangan. Wajahnya cemas. "Maaf mengganggu, Pak Andra. Saya lihat mobil Ibu Siska keluar tadi. Saya kira Bapak belum makan malam. Saya bawakan sup hangat. Tadi Bapak pesan stok untuk seminggu, tapi saya takut Bapak tidak enak badan kalau tidak makan malam ini." Andra menghela napas. Kekecewaannya sedikit mereda. Ternyata bukan Siska yang kembali. "Terima kasih, Bu Tini. Masuk, silakan." Malam itu, yang menemani Andra bukan alkohol. Ia butuh kepala jernih untuk menilai pernikahannya. Ia hanya minum sup hangat itu sambil menatap kosong kamar yang sudah ia hiasi seperti kamar pengantin. Tapi yang tidur di sana malam itu hanyalah seorang laki-laki yang baru saja gagal dalam ujiannya sendiri. "Menyedihkan," batinnya. Kepalanya berat bukan karena pikiran yang berputar semalaman hingga ia baru tertidur menjelang subuh

  • Tuan Andra, Istrimu Meminta Cerai   Surprise Yang Gagal

    Hujan turun deras di kawasan Puncak. Kabut tebal menempel di kaca-kaca villa. Di dalam kamar yang hangat, Andra Hartawan duduk di tepi ranjang. Ranjang king size itu sudah ia hias sendiri sejak jam empat sore tadi. Kelopak mawar merah ia tabur membentuk hati. Dua handuk ia bentuk angsa. Lampu ia redupkan. Aroma vanilla dan kayu cendana dari diffuser menguar pelan. Di atas ranjang itu, seharusnya malam ini ada dua orang. Merayakan lima tahun pernikahan mereka. Tapi malam ini hanya ada satu. Suara resleting koper yang ditarik kasar memecah keheningan. Lebih nyaring daripada hujan di luar. Siska, istrinya, bergerak cepat. Gaun tidurnya yang seksi sudah ia ganti lagi dengan dress. Riasannya kembali tebal. "Kita baru sampai, Sis. Kamu langsung mau pulang?" tanya Andra pelan. Suaranya hampir tenggelam oleh hujan. Siska tidak menatapnya. Ia terus memasukkan pakaiannya ke dalam tas dengan gerakan kesal. "Dari awal aku sudah bilang, Mas. Aku sibuk. Nggak ada waktu buat libur

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status