Share

Bab 7: Butuh Sienna

Author: Noona Aurora
last update publish date: 2026-09-06 13:45:41

Ruangan ini semakin membeku. Kata "Sienna" yang diucapkan di depan Damian terasa seperti pemicu bom waktu yang sewaktu-waktu bisa meledak.

Damian menatap manajer divisi dengan tatapan membunuh. Keheningan berlangsung selama beberapa detik yang menyiksa, sebelum akhirnya Damian menegakkan tubuhnya, merapikan kancing jasnya dengan jari yang sedikit tegang.

"Perusahaan ini dibayar dengan angka triliunan rupiah untuk mempekerjakan tim profesional, bukan untuk bergantung pada seorang wanita yang bah
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Tuan CEO, Istri Kontrakmu Pergi!   Bab 7: Butuh Sienna

    Ruangan ini semakin membeku. Kata "Sienna" yang diucapkan di depan Damian terasa seperti pemicu bom waktu yang sewaktu-waktu bisa meledak.Damian menatap manajer divisi dengan tatapan membunuh. Keheningan berlangsung selama beberapa detik yang menyiksa, sebelum akhirnya Damian menegakkan tubuhnya, merapikan kancing jasnya dengan jari yang sedikit tegang."Perusahaan ini dibayar dengan angka triliunan rupiah untuk mempekerjakan tim profesional, bukan untuk bergantung pada seorang wanita yang bahkan tidak masuk dalam struktur organisasi," kata Damian dengan suara rendah dan penuh penekanan.Tidak ada yang tahu soal pernikahan kontrak mereka, dan karena itu tidak ada yang boleh tahu soal akhir dari kontrak pernikahan Damian dengan Sienna.Damian bangkit dari duduknya dengan cepat, lalu dia menyambar ponselnya dengan kasar."Rapat selesai," ucap Damian tanpa menoleh lagi. "Saya tidak mau mendengar kalian bergentu pada Sienna. Jika besok pagi laporan ini belum sempurna, Anda dan seluruh ti

  • Tuan CEO, Istri Kontrakmu Pergi!   Bab 6: Pulang

    Sienna tiba di rumah peninggalan ibunya.Tatapannya penuh haru, setelah satu tahun bersabar dalam pernikahan kontrak yang menyesakkan. Akhirnya Sienna bebas.Sienna melangkah menuju pintu utama rumah tua ini. Dia membuka pintu ini dengan kunci yang dimilikinya.Aroma debu dan kayu lapuk menyambut Sienna begitu daun pintu kayu ini terbuka.Sienna melangkah masuk, meletakkan koper tua dan kardus kecilnya di lantai ruang tamu yang berdebu tebal. Dia berdiri sejenak di tengah ruangan, memandangi sekeliling. Selapis debu tipis menutupi perabotan yang ditinggalkan terbungkus kain putih sejak bertahun-tahun lalu.Sienna menarik napas panjang, meresapi bau udara lembap yang terasa begitu jujur di hidungnya."Aku pulang, Ibu," bisik Sienna dengan suara serak.Senyum Sienna membalut kepedihan. Mulai sekarang, dia akan tinggal di sini, sendiri. Tanpa tekanan, dan tanpa ikatan yang membelenggunya, yang memintanya berpura-pura dalam kepalsuan.Sienna menyingsingkan lengan kemeja putihnya hingga k

  • Tuan CEO, Istri Kontrakmu Pergi!   Bab 5: Akhirnya Pergi

    Matahari pagi baru saja terbit, memancarkan semburat jingga di langit timur saat jam dinding besar di lorong rumah Blackwell menunjukkan pukul tujuh lewat empat puluh lima menit.Damian terbangun dengan rasa tidak nyaman yang pekat di dadanya. Semalaman dia tidak bisa tidur dengan nyenyak. Bayangan tanda tangan Sienna di surat cerai itu terus membayangi pikirannya. Damian membuang jauh apa yang mengganjal di pikirannya. Dia bangkit dari ranjang dan segera mandi, lalu memakai kemeja kerjanya, dan turun ke lantai bawah dengan langkah yang sedikit lebih terburu-buru dari biasanya.“Joana!" panggil Damian begitu tiba di ruang tengah. Dia mencari keberadaan kepala pelayan rumahnya.Tidak ada jawaban. Rumah itu terasa sangat lenggang, seolah seluruh energinya telah tersedot keluar. Damian melangkah menuju dapur, menemukan Joana sedang berdiri di dekat meja makan dengan wajah mendung dan mata yang sedikit sembap."Di mana Sienna?" tanya Damian, nadanya menuntut, berusaha mengusir firasat b

  • Tuan CEO, Istri Kontrakmu Pergi!   Bab 4: Surat Cerai

    Sienna menatap Damian yang berdiri di ambang pintu dengan napas yang sedikit memburu. Ketegangan langsung memenuhi ruangan kecil itu. Sienna tidak mencoba menyembunyikan berkas di atas meja atau kardus di bawahnya. Dia meletakkan buku yang dipegangnya dengan perlahan, lalu berdiri tegak menghadapi suaminya."Ini bukan di belakangmu, Damian," ucap Sienna, suaranya tetap terjaga di nada yang datar dan tenang. "Besok adalah hari terakhir kontrak kita. Aku hanya mempersiapkan apa yang sudah menjadi kesepakatan tertulis kita sejak satu tahun lalu."Damian melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka hingga dia bisa melihat dengan jelas guratan kelelahan tapi sekaligus ketetapan hati di wajah Sienna."Kesepakatan kita adalah berpisah secara baik-baik setelah tujuan masing-masing tercapai," kata Damian, suaranya rendah dan tajam. "Tapi sikapmu beberapa hari ini seolah-olah aku adalah penjahat di sini. Kamu menarik diri dari rumah, mengabaikan keluargaku, dan sekarang kamu menyiapkan ber

  • Tuan CEO, Istri Kontrakmu Pergi!   Bab 3: Perlahan Berubah

    Tiga hari kemudian.Suasana di ruang rapat utama Blackwell Group terasa mencekam. Damian Blackwell duduk di ujung meja, menatap tajam ke arah jajaran direksi yang tertunduk lesu. Laporan analisis pasar untuk proyek Mall baru di wilayah selatan menunjukkan angka yang tidak stabil."Hanya ini yang bisa kalian lakukan?" Suara Damian memotong keheningan seperti belati. "Analisis ini tidak memiliki dasar mitigasi risiko yang kuat. Jika kita mengeksekusi ini sekarang, Blackwell Group akan kehilangan momentum dalam tiga bulan pertama."Seorang manajer senior berdehem gugup. "Maaf, Pak Damian. Biasanya ... Nyonya Sienna yang membantu merapikan catatan sekunder dan analisis perilaku konsumen dari perspektif yayasan dan komunitas lokal sebelum rapat besar seperti ini. Kali ini, kami tidak menerima data tambahan dari beliau."Damian terdiam. Tangannya yang memegang pena perak berhenti bergerak.Logikanya menolak mengakui, tapi fakta berbicara. Selama setahun ini, Sienna dengan latar belakang

  • Tuan CEO, Istri Kontrakmu Pergi!   Bab 2: Membangun Batas

    Sinar matahari pagi menembus jendela kaca besar di ruang makan kediaman mewah Blackwell. Biasanya, jam tujuh pagi adalah waktu di mana Sienna sibuk di dapur, memastikan kopi hitam tanpa gula kesukaan Damian diseduh dengan suhu yang tepat, dan dasi pria itu sudah disiapkan di kursi dekat pintu.Namun pagi ini, ruang makan itu sunyi.Damian turun dengan langkah tegap, manik kemejanya sudah terkancing, tapi ada sesuatu yang mengganjal di lehernya. Dasinya belum terpasang. Matanya langsung tertuju pada meja makan. Di sana hanya ada sepiring roti bakar dan secangkir kopi yang mengepul, tapi suasana sekelilingnya kosong. Tidak ada Sienna yang berdiri menyambutnya dengan senyuman lembut.Damian menarik kursi dengan kasar, menciptakan bunyi berdecit yang memecah keheningan. Dia menoleh pada kepala pelayan yang sedang merapikan meja pantry."Di mana Sienna?" tanya Damian, suaranya terdengar dingin dan penuh penekanan.Kepala Pelayan membungkuk gugup. "Nyonya Muda sudah sarapan lebih awal d

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status