LOGINSiang hari, di sebuah restoran kecil di pusat kota tampak ramai oleh pengunjung yang sedang menikmati jam makan siang. Julian duduk sendirian di salah satu meja dekat jendela, sesekali memeriksa ponselnya sambil menunggu pesanan yang baru saja dia buat.Belum lama menunggu, sebuah suara riang menyapa dari samping mejanya."Tuan Mercer?"Julian menoleh, mendapati seorang wanita muda berpenampilan modis berdiri tak jauh darinya, tersenyum seolah mengenalinya dengan baik. Julian mengerutkan kening, mencoba mengingat-ingat wajah itu."Maaf, apa kita pernah bertemu?" tanya Julian sopan, meski nada suaranya tetap berjarak."Zoe Hayes," ucap wanita itu memperkenalkan diri, tersenyum manis sambil duduk di kursi kosong seberang Julian tanpa diminta. "Kita memang belum pernah bertemu, tapi aku kenal siapa kamu. Aku adik Sienna."Julian tersentak mendengar nama itu disebutkan. Dia mengingat samar-samar sosok Zoe, apakah dia pernah melihat wanita ini selama Julian mengenal Sienna? Sayangnya Jul
Pagi itu, matahari baru saja menyingsing ketika Damian melangkah keluar dari kamarnya, sudah rapi dengan setelan jas kerja lengkap dengan tas kerja di tangannya. Baru saja dia menuruni tangga, suara ketukan pintu depan yang cukup keras terdengar menggema di seluruh rumah.Joana bergegas membukakan pintu, dan tak lama, sosok Vivian sudah melangkah masuk dengan senyum lebar, membawa sebuah kotak kado yang sama dengan yang tadi malam ditinggalkan begitu saja oleh Damian di meja rumah Beatrice."Damian," sapa Vivian riang, matanya berbinar melihat pria itu sudah berada di anak tangga terakhir. "Untung kamu belum berangkat. Aku bawakan kadomu yang semalam kamu tinggal."Vivian melangkah mendekat. “Kamu lupa membawanya, hm? Padahal aku sudah memilihkan hadiah ini dengan serius agar kamu suka.”Damian melirik kotak itu sekilas, tidak menunjukkan antusiasme sedikit pun. "Taruh saja di meja," ucapnya datar, melangkah melewati Vivian menuju ruang tengah.Vivian tidak menyerah begitu saja. Dia
Simon terkejut mendengar pengakuan itu. Dia menegakkan posisi duduknya, menatap Damian dengan sorot mata penuh selidik. "Apa tujuanmu, Damian?" tanya Simon, suaranya tenang namun serius. "Papa hanya ingin memastikan, apa yang sebenarnya kamu inginkan dari semua ini? Setelah membiarkan Sienna pergi seolah kamu tak butuh, sekarang kamu ingin mengejarnya? Apa yang sebenarnya kamu inginkan?"Damian terdiam sejenak, memikirkan jawaban yang tepat. Namun tak lama, sebuah senyum kecil terbit di sudut bibirnya, dan dia menatap ayahnya dengan mata yang begitu jujur."Aku memang tidak bisa hidup tanpa Sienna, Pa," ucap Damian pelan. "Papa dulu berkata benar. Aku yang tidak bisa lepas darinya, sementara dia... dia bisa dengan mudah melepaskanku."Simon diam, menimbang setiap kata yang baru saja diucapkan putranya. Dia mengamati raut wajah Damian yang begitu berbeda dari biasanya—tidak ada lagi keangkuhan atau kesombongan yang biasa menyelimuti setiap ucapannya, hanya kejujuran polos yang jarang
"Tidak perlu," ucap Damian datar, menggeleng pelan tanpa terlihat berpikir panjang apalagi mempertimbangkan.Vivian tersentak mendengar penolakan itu, senyumnya sempat memudar sesaat sebelum dia buru-buru menguasai ekspresinya kembali. Damian sebelumnya tak pernah menolak ucapan atau sarannya, tapi sekarang berbeda.Tidak hanya Vivian, Beatrice dan Elena yang duduk di sisi lain meja juga menatap Damian dengan raut tidak percaya."Kenapa tidak perlu?" tanya Beatrice, alisnya terangkat heran. "Pesta seperti itu bukankah bagus untukmu? Kamu bisa mengundang lebih banyak relasi bisnis, mempererat hubungan dengan investor-investor penting. Bukankah itu menguntungkan untuk perusahaan?"Damian tidak langsung menjawab. Dia menyendok makanannya dengan gerakan malas, seolah pertanyaan itu sama sekali tidak layak untuk ditanggapi serius. "Tidak perlu repot-repot," jawab Damian akhirnya, singkat dan datar, tanpa memberikan alasan lebih lanjut.Beatrice mengerutkan kening, jelas tidak puas dengan j
Damian baru saja melajukan mobilnya beberapa ratus meter dari rumah Sienna ketika ponsel yang sejak tadi dia tinggalkan di dashboard bergetar nyaring. Dia meliriknya sekilas, mendapati nama Beatrice terpampang di layar.Damian meraih ponsel itu dan menjawab panggilan tersebut sambil tetap fokus pada jalanan."Ya, Ma?" sapa Damian singkat."Damian!" Suara Beatrice terdengar tinggi dari seberang telepon, penuh kekesalan yang tertahan. "Ke mana saja kamu seharian ini? Mama sudah menelepon berkali-kali, mengirim pesan berulang-ulang, tapi kamu sama sekali tidak membalasnya!"Damian sengaja meninggalkan ponselnya di dalam mobil sepanjang hari ini, tidak ingin ada gangguan apa pun yang bisa merusak waktunya bersama Sienna. Namun, dia tidak berniat menjelaskan alasan itu pada ibunya."Ada apa, Ma?" tanya Damian datar, mengalihkan topik tanpa menjawab pertanyaan itu.Beatrice menghela napas kesal di seberang telepon, namun akhirnya melanjutkan. "Datanglah ke rumah utama sekarang. Kami sudah
"Tidak apa-apa," jawab Damian pelan, senyum tipis terukir di bibirnya. "Aku hanya senang."Sienna terdiam sejenak, wajahnya kembali merona mendengar jawaban jujur itu. Dia buru-buru mengalihkan pandangan kembali ke luar jendela, meski senyum kecil tidak bisa dia sembunyikan.Sebelum meninggalkan taman bermain, mereka berhenti di depan sebuah photo booth kecil yang berdiri di sudut area permainan. Sienna menarik Damian masuk ke dalam bilik itu, keduanya masih memakai bando bertelinga hewan yang tadi mereka beli."Ayo foto," ajak Sienna riang, mengatur posisi duduk mereka berdua agar pas dalam bingkai kamera.Damian duduk canggung di sebelah Sienna, namun tidak menolak sedikit pun. Begitu hitungan mundur kamera dimulai, Sienna tersenyum lebar menghadap lensa, sementara Damian—meski awalnya terlihat kaku—akhirnya ikut tersenyum tulus, sesuatu yang jarang sekali terekam dalam bingkai foto mana pun sepanjang hidupnya.Klik.Beberapa kali jepretan terus berlanjut, menangkap berbagai ekspre







