LOGINMobil BMW hitam mewah itu meluncur membelah jalanan Seoul yang mulai ditutupi salju tebal. Di dalam kabin yang kedap suara, suasana terasa begitu mencekam. Winda duduk menyudut di dekat pintu, menatap keluar jendela dengan pandangan kosong. Di sampingnya, Han Seonwoo duduk dengan tenang, jemarinya yang panjang sesekali mengetuk layar tablet, seolah-olah ia tidak baru saja menghancurkan hidup seorang wanita.
Winda melirik pergelangan tangannya yang memerah akibat cengkeraman Seonwoo tadi. Rasa perih itu seolah menjadi pengingat permanen bahwa pelariannya telah berakhir. Ia kini terikat kontrak yang lebih buruk daripada penjara. “Berhenti menatap jendela seperti itu. Kau tidak akan bisa lari.” Suara berat Seonwoo memecah kesunyian, tanpa mengalihkan pandangan dari pekerjaannya. Winda tidak menjawab. Ia mengepalkan tangannya di atas pangkuan. “Ke mana kau membawaku?” “Ke tempat yang akan menjadi penjara sekaligus rumahmu mulai sekarang,” jawab Seonwoo dingin. Mobil itu akhirnya berbelok masuk ke sebuah kawasan apartemen paling elit di distrik Gangnam. Sebuah gedung pencakar langit dengan pengamanan super ketat yang hanya dihuni oleh para konglomerat. Setelah melewati lift pribadi yang langsung menuju lantai penthouse, pintu terbuka dan memperlihatkan kemewahan yang tidak pernah dibayangkan Winda sebelumnya. Apartemen itu sangat luas dengan dinding kaca setinggi langit-langit yang memperlihatkan kerlap-kerlip lampu kota Seoul. Lantainya terbuat dari batu alam yang hangat karena sistem pemanas bawah lantai, dan furniturnya tampak seperti karya seni mahal. Namun, bagi Winda, tempat ini tidak lebih dari sebuah sangkar emas yang sunyi. “Ini kamarmu.” Seonwoo menunjuk sebuah pintu di dekat ruang tengah. “Masuklah. Di dalam sudah ada pakaian yang harus kau kenakan malam ini.” Winda masuk ke kamar itu dengan ragu. Di atas ranjang besar berpura-pura sutra, tergeletak sebuah kotak hitam bermerek desainer ternama. Di dalamnya terdapat sebuah gaun tidur berbahan satin tipis berwarna hitam yang sangat seksi sesuatu yang tidak mungkin dipakai oleh seorang asisten pribadi normal. Winda keluar dari kamar dengan wajah yang memerah karena marah. “Apa maksudnya ini? Aku asisten pribadimu, bukan… bukan wanita simpananmu!” Seonwoo yang sedang menuangkan wine ke dalam gelas kristal menoleh perlahan. Ia meletakkan gelasnya dan berjalan mendekati Winda. Setiap langkahnya membuat Winda melangkah mundur hingga punggungnya menabrak dinding dingin. “Aku sudah bilang, Winda. Kau adalah asisten pribadi khusus. Tugasmu adalah melakukan apa pun yang aku perintahkan,” Seonwoo menumpukan satu tangannya di dinding, mengurung Winda. “Pakai gaun itu sekarang, atau aku yang akan memakaikannya untukmu.” “Kau gila! Aku tidak akan melakukannya!” Winda mencoba mendorong dada Seonwoo, namun pria itu tidak bergeming sedikit pun. Seonwoo justru menangkap kedua tangan Winda dan menguncinya di atas kepala wanita itu. Ia merapatkan tubuh tegapnya, membuat Winda bisa merasakan panas tubuh Seonwoo di balik jas mahalnya. “Jangan menguji kesabaranku, Winda. Kau tahu apa yang bisa kulakukan pada keluargamu di Indonesia hanya dengan satu jentikan jari.” Winda mematung. Air mata mulai menggenang kembali. “Kenapa kau melakukan ini padaku? Jika kau membenciku, bunuh saja aku! Jangan hancurkan aku seperti ini!” “Membunuhmu itu terlalu mudah.” Bisik Seonwoo, ia mencondongkan wajahnya, menghirup aroma leher Winda yang membuatnya merasa candu sekaligus benci. “Aku ingin melihatmu menderita setiap hari. Aku ingin kau merasakan bagaimana rasanya menjadi milik seseorang yang sangat kau benci.” Tangan Seonwoo beralih menyentuh helai rambut Winda, membelainya dengan cara yang sangat kontras dengan kata-katanya yang kejam. “Pakai gaun itu, keluar dalam sepuluh menit, dan siapkan makan malam untukku. Jika aku melihatmu masih memakai pakaian lusuh ini, aku akan memastikan adikmu tidak akan pernah lulus dari universitasnya.” Seonwoo melepaskan Winda dan berjalan pergi menuju ruang kerjanya tanpa menoleh lagi. Winda jatuh terduduk di lantai, terisak dalam diam. Rasa terhina itu membakar dadanya. Ia merasa seperti pengkhianat bagi dirinya sendiri. Namun, bayangan wajah adiknya yang penuh harapan membuat Winda bangkit dengan kaki gemetar. Sepuluh menit kemudian, Winda keluar dari kamar dengan gaun satin hitam itu. Gaun itu melekat sempurna di tubuhnya, menonjolkan setiap lekuk tubuhnya dengan cara yang sangat berani. Ia merasa telanjang di bawah cahaya lampu apartemen yang terang. Seonwoo sedang duduk di meja makan, menunggunya. Saat melihat Winda, tatapan pria itu berubah gelap. Ada kilat gairah yang berusaha ia tutupi dengan kebencian di balik matanya yang tajam. “Mendekatlah,” perintah Seonwoo. Winda berjalan mendekat dengan kepala tertunduk. Seonwoo berdiri, ia melangkah memutari meja dan berhenti tepat di belakang Winda. Ia menyentuh bahu Winda yang polos, kulit jarinya yang dingin bersentuhan dengan kulit hangat Winda, memberikan efek kejut yang membuat Winda merinding. “Ayahmu dulu selalu membanggakan betapa cantiknya putrinya.” Seonwoo berbisik tepat di telinga Winda, membuat napas Winda tertahan. “Dia benar. Kau memang cantik, Winda. Cantik sekaligus mematikan, persis seperti pengkhianatan yang ia lakukan.” Seonwoo lantas membalikkan tubuh Winda agar menghadapnya. Ia menatap dalam ke mata Winda yang penuh air mata. Winda ingin berteriak, ingin memaki pria di depannya, namun bibirnya seolah terkunci saat Seonwoo menarik pinggangnya kasar dan menyatukan bibir mereka dalam ciuman yang penuh dengan tuntutan dan kemarahan. Ciuman itu tidak memberikan ruang bagi Winda untuk bernapas, seolah Seonwoo ingin menghisap seluruh nyawa dari tubuhnya. “Mulai malam ini, kau akan tidur di sini. Di sampingku. Setiap kali kau menutup mata, aku ingin kau ingat bahwa kau ada di sini karena dosa ayahmu.”Lampu lift pribadi yang bergerak menuju penthouse mewah milik Seonwoo berkedip dalam kesunyian yang mencekam. Di dalamnya, Seonwoo berdiri membelakangi Winda, namun aura kemarahannya terasa penuh hingga memenuhi ruang sempit itu seperti gas beracun yang siap meledak. Winda bisa melihat pantulan wajah Seonwoo di dinding lift yang mengilap, rahangnya mengeras, dan urat-urat di lehernya menegang, tanda bahwa pria itu sedang menahan ledakan amarah yang luar biasa.Begitu pintu lift terbuka, Seonwoo tidak menunggu. Ia langsung merenggut pergelangan tangan Winda dengan cengkeraman yang membuat tulang wanita itu terasa ngilu, Seonwoo menyeretnya masuk ke dalam ruang pribadi luas yang hanya diterangi lampu kota dari balik jendela kaca raksasa."Sakit, Seonwoo! Lepaskan!" rintih Winda saat tubuhnya dihempaskan ke atas sofa kulit.Seonwoo tidak berhenti. Ia menanggalkan jas tuksedonya, melemparnya ke lantai, lalu merangkak naik ke atas sofa, mengunci tubuh Winda di bawah kungkungannya. Matanya
Puncak hotel Grand Hyatt Seoul malam itu tampak seperti mahkota bercahaya di tengah kegelapan kota. Namun, di dalam restoran privat yang telah dipesan khusus oleh HanGroup, suasananya jauh dari kata hangat. Cahaya lampu gantung kristal yang memantul di permukaan meja mahoni justru menciptakan bayangan-bayangan panjang yang tajam, serupa dengan niat orang-orang yang duduk di sekelilingnya.Winda berdiri di samping Seonwoo, mengenakan gaun velvet biru tua yang membalut tubuhnya dengan sempurna namun terasa seperti baju zirah yang berat.Seonwoo tidak membiarkan tangannya lepas dari pinggang Winda sedikit pun, cengkeramannya yang posesif adalah pengingat bahwa di sini, Winda bukanlah tamu, melainkan jarahan yang akan dipamerkan."Lihatlah wajah mereka, Winda." bisik Seonwoo tepat di telinganya sebelum mereka duduk. "Mereka adalah orang-orang yang meludahi nama ayahmu dua puluh dua tahun lalu. Dan malam ini, mereka harus melihatmu berdiri di sampingku. Bukankah itu sebuah ironi yang indah
Keheningan yang mencekam kembali menyelimuti ruang kerja CEO setelah Andre melangkah keluar dari ruangan ity. Ruangan luas itu kini terasa seperti ruang hampa udara, oksigen seolah ikut terbawa pergi bersama langkah kaki Andre yang terus menjauh. Winda masih berdiri mematung di tengah ruangan, punggungnya tegak namun kaku, hingga akhirnya seluruh kekuatannya luruh seketika. Ia jatuh berlutut di atas karpet beludru yang mahal, napasnya terengah-engah menahan ledakan isak tangis yang sedari tadi ia bendung mati-matian di depan pria yang menghormatinya.Seonwoo berdiri di belakangnya, menatap bahu Winda yang berguncang dengan ekspresi yang sulit ditebak. Ada kepuasan sosiopat yang berkilau di matanya karena ia berhasil menghapus "Winnie" dari dunia ini namun juga ada percikan kemarahan yang belum padam sejak ia melihat betapa hancurnya Winda demi pria lain."Kau melakukannya dengan sangat baik, Winda." suara Seonwoo terdengar seperti gesekan pisau di atas kristal. Ia berjalan perlahan me
Pagi itu, kota Seoul diselimuti kabut kelabu yang tebal. Di dalam ruang istirahat pribadi gedung HanGroup, Winda berdiri mematung di depan cermin besar yang memperlihatkan tubuhnya dengan jelas. Seonwoo telah menyiapkan segalanya; sebuah dress sutra berwarna hitam yang elegan namun terlihat sangat terbuka, melekat sempurna di tubuh Winda, memperlihatkan lekuk tubuhnya yang selama ini tersembunyi di balik seragam kantor yang kaku."Gunakan ini." perintah Seonwoo dingin sambil meletakkan sebuah kotak berisi kalung berlian di atas meja rias. "Tamu istimewamu sudah tiba di lobi. Jangan membuatku harus melakukan hal kasar pada pria itu hanya karena kau tidak bisa mengontrol ekspresi wajahmu."Winda mengenakan perhiasan itu dengan tangan gemetar. Ia merasa seperti domba yang sedang dihias sebelum disembelih. Seonwoo mendekat dari belakang, melingkarkan tangan kekarnya di pinggang Winda yang hampir remyk matanya beralih menatap pantulan mereka di cermin besar itu."Ingat, Winda. Satu kata
Dinding kaca ruang kerja CEO HanGroup memantulkan pemandangan kota Seoul yang mulai meredup tertutup awan mendung, menciptakan suasana mencekam meskipun ruangan itu sangat megah. Di dalam ruang istirahat pribadi yang tersembunyi di balik rak buku besar yaitu sebuah ruangan yang kini menjadi saksi bisu penaklukan absolut. Winda terbangun dengan tubuh yang terasa remuk bahkan terlalu remuk dan semakin remuk. Aroma parfum Sandalwood milik Seonwoo juga seolah telah meresap ke dalam setiap inci tubuhnya dan seluruh bagian pori-porinya, menjadikannya menjadi salah satu tanda kepemilikan Seonwoo yang tidak terlihat namun terasa sangat menyesakkan.Ia melihat ke sekelilingnya, mendapati Seonwoo yang sudah tidak ada di sampingnya. Pria itu sudah kembali ke meja kerjanya sejak matahari menyingsing, seolah-olah dia tidak butuh tidur setelah beberapa jam lalu menghabiskan energinya untuk mematahkan setiap jengkal pertahanan mental Winda.Winda bangkit dengan langkah gontai, jemarinya yang gemetar
Suasana di lantai lima puluh tujuh masih membeku pasca insiden di ruang arsip yadi. Winda duduk di sudut ruangan dengan jemari yang masih gemetar, mencoba mengetik laporan di bawah pengawasan mata elang Seonwoo. Harapannya untuk bebas baru saja dihancurkan, namun ada satu hal yang membuatnya terkejut kali ni.Park Jae-hyun tidak benar-benar pergi. Tok Tok TokPintu ruangan terbuka, dan Jae-hyun melangkah masuk dengan setelan jas yang tetap rapi, meski wajahnya terlihat lebih tegang dari biasanya. Ia meletakkan sebuah map di meja Seonwoo."Laporan audit bulan keempat, Tuan Han." ucap Jae-hyun dengan suara stabil.Seonwoo mendongak, matanya menyipit penuh kebencian. "Aku sudah memecatmu, Jae-hyun. Kenapa kau masih berani menginjakkan kaki di kantorku?"Jae-hyun menatap Seonwoo tanpa rasa takut. "Dewan Komisaris, termasuk paman Anda sendiri menolak surat pemecatan itu, Tuan Han. Mereka tahu hanya departemenku yang bisa menjaga stabilitas saham HanGroup saat ini. Selama merger VVIP Group







