Share

Bagian 06 : Siapa Anak Itu?

last update Last Updated: 2026-03-04 15:12:57

Clara masuk ke dalam ruangan dengan wajah cemberut, langsung duduk di depan Adrian Nicholas Laurent. Adrian sedang sibuk menatap ponselnya, namun ia bisa merasakan aura negatif dari wanita di depannya.

"Ada apa? Kenapa wajahmu ditekuk begitu?" tanya Adrian tanpa mengalihkan pandangan.

"Tadi di luar ada anak kecil nakal sekali! Dia menabrakku, lalu bicara hal yang tidak masuk akal. Benar-benar tidak berpendidikan," keluh Clara sambil menyesap minumannya.

Adrian hanya merespons dengan gumaman pendek. Namun, Clara tiba-tiba terdiam, matanya menerawang teringat wajah bocah tadi.

"Tapi... kalau dipikir-pikir, anak itu familiar sekali. Wajahnya... dia mirip sekali dengan foto-fotomu saat masih kecil dulu, Adrian. Sangat mirip."

Adrian langsung mengangkat wajahnya. Jantungnya berdenyut aneh. "Mirip aku?"

"Iya, sangat mirip. Aku masih ingat saat dulu kita melihat-lihat album foto lamamu di rumah Ibu...saat kita masih TK kalau gak salah"

"Kamu bilang TK, berarti sekitar usia empat tahun?" potong Adrian cepat, suaranya mendadak berat. "Di mana dia sekarang?"

"Di sa—"

Belum sempat Clara menyelesaikan kalimatnya, Adrian sudah berdiri dan lari keluar ruangan. Ia menyisir setiap sudut lorong, matanya mencari sosok kecil yang dimaksud Clara.

Napasnya memburu, ada dorongan insting yang sangat kuat yang tidak bisa ia jelaskan. Namun, koridor itu sudah sepi. Pintu VVIP Room 2 tertutup rapat.

Adrian berdiri di tengah lorong dengan tatapan kecewa yang sangat dalam. Ia merasa seolah baru saja kehilangan sesuatu yang sangat berharga yang bahkan belum sempat ia miliki.

Clara menyusul keluar dengan tawa mengejek. "Ada apa? Jangan-jangan kamu berpikir anak kecil tadi adalah anakmu? Adrian, sadarlah. Kamu sendiri yang memastikan Livia pergi dan menyingkirkan beban itu lima tahun lalu."

Adrian tak menjawab. Rahangnya mengeras. Ia melirik asistennya yang baru saja mendekat.

"Cari tahu siapa yang melakukan reservasi di VVIP Room 2 malam ini," perintah Adrian dengan suara rendah namun tajam. "Sekarang."

Adrian berdiri mematung di tengah koridor yang kini terasa begitu hampa. Napasnya masih memburu, namun dadanya terasa sesak seolah oksigen di sekitarnya mendadak hilang. Tatapannya kosong, terpaku pada pintu lift yang baru saja tertutup, membawa pergi sosok kecil yang—menurut instingnya—bukanlah orang asing.

Clara melangkah mendekat, langkah stiletto-nya beradu tajam dengan lantai marmer, menciptakan irama yang memuakkan di telinga Adrian. Ia melipat tangan di dada, menatap Adrian dengan tawa mengejek yang menghina.

"Ada apa, Adrian? Jangan-jangan kamu berpikir anak kecil tadi adalah anakmu?" tebak Clara dengan nada meremehkan. Suara tawanya bergema, kering dan penuh kemenangan.

"Sadarlah. Kamu sendiri yang mengatakan kalau Livia dulu selingkuh. Kamu juga yang menyuruhnya menggugurkan kandungan itu sebelum mengusirnya, bukan?"

Adrian tidak menjawab. Sorot matanya yang biasanya tajam dan mengintimidasi, kini tampak layu. Kelopak matanya terasa berat, menyimpan beban penyesalan yang selama lima tahun ini menggerogoti kewarasannya dari dalam.

Ia melirik Clara dengan tatapan malas, sebuah tatapan yang menyiratkan rasa muak yang mendalam terhadap wanita di depannya—dan terhadap dirinya sendiri.

Kalimat Clara barusan adalah belati yang diputar di atas luka lama. Lima tahun lalu, Adrian membiarkan amarah dan kecemburuan buta menutup logikanya.

Ia menelan mentah-mentah fitnah yang disuntikkan Clara dan ibunya, menuduh Livia mengkhianati ranjang pernikahan mereka.

Dengan lidah yang tajam, ia telah memaki Livia, meragukan janin yang dikandungnya, dan memaksa wanita itu melenyapkan darah dagingnya sendiri sebelum menceraikannya dengan cara yang paling hina.

Namun, kebenaran selalu punya cara untuk menghantui.

Beberapa bulan setelah kepergian Livia, sebuah penyelidikan mendalam yang ia lakukan secara rahasia membongkar segalanya. Livia tidak pernah berselingkuh.

Livia adalah satu-satunya orang yang paling tulus mencintainya di tengah serigala-serigala yang hanya menginginkan takhta Skyline Inc. Adrian telah membunuh masa depannya sendiri demi sebuah kebohongan yang dirancang dengan rapi.

"Diamlah, Clara," suara Adrian keluar sangat rendah, nyaris seperti bisikan yang bergetar.

"Kenapa? Kamu menyesal?" Clara kembali memancing, suaranya naik satu oktav. "Kamu sudah menceraikannya, Adrian.

Kamu sudah memilihku untuk ada di sampingmu sekarang. Jangan katakan padaku kalau bayangan wanita itu masih menghantuimu hanya karena melihat anak kecil yang entah anak siapa!"

Adrian memalingkan wajah, tidak sudi menatap Clara lebih lama. Rasa bersalah itu kini terasa nyata di ulu hatinya.

Jika benar anak itu berusia empat tahun, maka logikanya... Livia tidak pernah menggugurkan kandungannya. Livia telah berjuang sendirian di luar sana untuk membesarkan anak yang pernah ia tolak.

"Cari tahu siapa yang memesan kamar VVIP itu," perintah Adrian kepada asistennya yang baru saja mendekat, mengabaikan Clara sepenuhnya.

"Tuan, tapi reservasi itu atas nama perusahaan investasi dari luar..."

"Aku tidak peduli," potong Adrian dengan suara yang mendadak mengeras, memancarkan otoritas yang tak terbantahkan. "Cari tahu siapa wanita itu. Sekarang."

Adrian melangkah pergi meninggalkan Clara yang mematung dengan wajah merah padam. Di dalam kepalanya, hanya ada satu nama yang terus berdengung, meruntuhkan semua pertahanan yang ia bangun selama ini. Livia.

Jika benar itu dia, Adrian bersumpah akan melakukan apa pun—bahkan jika harus membakar seluruh Sentara—untuk mendapatkan pengampunan dari wanita yang telah ia hancurkan hidupnya.

******

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tuan, Ibu dari Anakmu Bukan Perempuan Biasa    Bagian 07 : Kejutan

    Malam di Sentara tidak pernah benar-benar gelap, namun bagi Livia, kegelapan itu kini berpindah ke dalam sepasang matanya yang menyimpan amarah dan dendam. Di dalam suite mewah yang telah disiapkan asistennya, Livia berdiri di balkon, menatap kerlip lampu kota yang seolah mengejek masa lalunya. Suara pintu yang diketuk pelan membuyarkan lamunan pahit itu. Selena, asisten pribadinya selama di Sentara, melangkah masuk dengan raut wajah serius. "Ibu Livia," panggil Selena pelan. Livia tidak berbalik. "Katakan, Selena. Apa yang terjadi di restoran tadi setelah kita pergi?" "Prediksi Ibu tepat. Sesaat setelah kita meninggalkan basement, beberapa orang suruhan Adrian Nicholas Laurent menyisir area VVIP. Mereka menekan pihak manajemen restoran untuk membuka data reservasi. Bahkan, Adrian sendiri sempat terlihat di lobi dengan wajah yang... cukup kacau," lapor Selena detail. Livia menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. Senyum dingin tersungging di bibirnya. "Dia mula

  • Tuan, Ibu dari Anakmu Bukan Perempuan Biasa    Bagian 06 : Siapa Anak Itu?

    Clara masuk ke dalam ruangan dengan wajah cemberut, langsung duduk di depan Adrian Nicholas Laurent. Adrian sedang sibuk menatap ponselnya, namun ia bisa merasakan aura negatif dari wanita di depannya."Ada apa? Kenapa wajahmu ditekuk begitu?" tanya Adrian tanpa mengalihkan pandangan."Tadi di luar ada anak kecil nakal sekali! Dia menabrakku, lalu bicara hal yang tidak masuk akal. Benar-benar tidak berpendidikan," keluh Clara sambil menyesap minumannya.Adrian hanya merespons dengan gumaman pendek. Namun, Clara tiba-tiba terdiam, matanya menerawang teringat wajah bocah tadi. "Tapi... kalau dipikir-pikir, anak itu familiar sekali. Wajahnya... dia mirip sekali dengan foto-fotomu saat masih kecil dulu, Adrian. Sangat mirip."Adrian langsung mengangkat wajahnya. Jantungnya berdenyut aneh. "Mirip aku?""Iya, sangat mirip. Aku masih ingat saat dulu kita melihat-lihat album foto lamamu di rumah Ibu...saat kita masih TK kalau gak salah""Kamu bilang TK, berarti sekitar usia empat tahun?" pot

  • Tuan, Ibu dari Anakmu Bukan Perempuan Biasa    Bagian 05 : Rahasia yang Mulai Terlihat

    Sentara masih sama. Kota yang dibangun dari beton dan ambisi, di mana lampu-lampu neon dipaksa terus menyala seolah-olah kegagalan adalah dosa yang tak termaafkan. Dari balik kaca jendela mobil yang gelap, Livia menatap gedung-gedung pencakar langit yang menusuk awan. Baginya, setiap sudut kota ini adalah luka yang dibalut kemewahan."Mama, ini namanya kota apa? Ini kota yang sering Mama ceritakan dulu, ya?" suara cempreng namun tenang milik Ethan memecah lamunan Livia.Livia mengalihkan pandangannya pada bocah laki-laki berusia empat tahun di sampingnya. Ia mengusap rambut Ethan, berusaha menyalurkan ketenangan yang sebenarnya tidak ia miliki. "Betul, Sayang. Ini Sentara.""Ini kota yang banyak orang pentingnya, Ma?" Ethan bertanya lagi, matanya yang besar dan cerdas menatap keluar dengan rasa ingin tahu yang dalam.Livia hanya tersenyum tipis. Orang-orang penting yang sombong, batinnya pahit.Mereka tiba di sebuah restoran eksklusif di jantung kota. Bangunan tiga lantai itu megah,

  • Tuan, Ibu dari Anakmu Bukan Perempuan Biasa    Bagian 04: Lima Tahun yang Mengubah Segalanya

    Seorang anak laki-laki berlarian di atas rumput taman sekolah, dengan sepatu yang sedikit kebesaran. Rambutnya sedikit berantakan karena tertiup angin sore."Mama lihat!"Anak itu berlari ke arah Livia. Sambil memamerkan piala kecilnya."Ethan juara dua, Ma!" Tambahnya.Livia berlutut dan segera memeluknya erat. "Selamat, Sayang. Mama bangga dengan Ethan. Meskipun juara dua, Ethan tetap nomor satu di hati Mama." Tuturnya.Ethan tertawa kecil dan tawa itu membuat perasaan Livia menghangat. Perlahan, Livia menutup pandangannya sejenak.Lima tahun yang lalu, ia hampir kehilangan mutiara indahnya selamanya. Dan, hari ini ia menyadari satu hal bahwa ia tidak menyesal mempertahankan sang buah hati.Ternyata, menjadi orang tua tunggal bagi Ethan tidak seburuk dan semenakutkan itu. Karena, ia mendapat dukungan dari Gabriel dan Naomi, orang tua Livia. Semuanya berjalan dengan sangat baik. Apalagi, bocah itu memiliki kepekaan yang tidak dimiliki oleh anak-anak seusianya. Dia mampu membaca nia

  • Tuan, Ibu dari Anakmu Bukan Perempuan Biasa    Bagian 03: Tanda Tangan Paksa

    "Bersiaplah. Kita akan segera ke klinik."Livia yang belum sempat menjawab ketika pintu kamarnya dibuka kasar oleh Ravina, ibu mertua Livia. Raut wajahnya tenang, tubuhnya dibalut dengan setelan krem yang terlihat mahal."Apa maksudnya, Mama?" tanya Livia pelan."Aku tak menyangka bahwa kau ternyata bodoh sekali. Masalah ini harus diselesaikan sebelum menjadi bahan gunjingan." "Mama pikir anakku aib hingga harus jadi bahan gunjingan?" Suara Livia nyaris tak terdengar. Ravina mengalihkan pandangannya ke perut Livia dengan ekspresi jijik. "Anak itu tidak akan pernah diterima di keluarga ini."“Kamu masih beruntung Adrian tidak menceraikanmu!” tambahnya lagi.Livia lalu mengalihkan pandangannya ke arah Adrian yang mematung tak jauh dari lemari dan tidak membela nya sedikit pun."Sayang, Adrian...." suara Livia terdengar bergetar, hampir pecah tangisnya.Adrian menghela napas dalam, "Lakukan saja. Mama hanya ingin kepastian." "Untuk siapa lagi? Ini benar anak kamu, Adrian." Tanya Livia

  • Tuan, Ibu dari Anakmu Bukan Perempuan Biasa    Bagian 02 : Anak Haram

    Adrian berbalik, melangkah pergi dengan langkah angkuh, meninggalkan Livia yang hancur berkeping-keping di atas lantai dingin. Sepatu pantofelnya berbunyi berirama, menjauh tanpa sedikit pun niat untuk menoleh.Clara, yang sedari tadi diam menonton, tidak langsung mengikuti langkah Adrian. Ia tetap berdiri di sana, mengamati penderitaan Livia dengan binar kepuasan di matanya. Baginya, pemandangan Livia yang menangis meraung adalah mahakarya terindah. Ia melangkah perlahan, mendekati Livia yang masih terisak hebat.Clara membungkuk sedikit, mensejajarkan wajahnya dengan telinga Livia. Ia berbisik dengan nada mengejek yang sangat kental, seperti desis ular yang menyemprotkan bisa. "Kasihan sekali ya, Livia... jangan khawatir, aku sudah menyiapkan alamat klinik yang sangat privat untukmu. Aku akan segera mengirimkannya padamu, agar kamu bisa membuang bayi haram itu secepat mungkin. Lagipula, anak itu bahkan tidak diinginkan oleh ayahnya sendiri. Buat apa dipelihara?"Mendengar janinn

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status