Share

Bagian 07 : Kejutan

Penulis: Renjana Senja
last update Terakhir Diperbarui: 2026-03-04 15:16:01

Malam di Sentara tidak pernah benar-benar gelap, namun bagi Livia, kegelapan itu kini berpindah ke dalam sepasang matanya yang menyimpan amarah dan dendam.

Di dalam suite mewah yang telah disiapkan asistennya, Livia berdiri di balkon, menatap kerlip lampu kota yang seolah mengejek masa lalunya.

Suara pintu yang diketuk pelan membuyarkan lamunan pahit itu. Selena, asisten pribadinya selama di Sentara, melangkah masuk dengan raut wajah serius.

"Ibu Livia," panggil Selena pelan.

Livia tidak berbalik. "Katakan, Selena. Apa yang terjadi di restoran tadi setelah kita pergi?"

"Prediksi Ibu tepat. Sesaat setelah kita meninggalkan basement, beberapa orang suruhan Adrian Nicholas Laurent menyisir area VVIP.

Mereka menekan pihak manajemen restoran untuk membuka data reservasi. Bahkan, Adrian sendiri sempat terlihat di lobi dengan wajah yang... cukup kacau," lapor Selena detail.

Livia menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. Senyum dingin tersungging di bibirnya.

"Dia mulai merasa kehilangan sesuatu yang bahkan dia anggap sudah mati lima tahun lalu. Lucu, bukan?"

"Apakah kita perlu memperketat keamanan Ethan, Bu? Saya khawatir Adrian akan melacak posisi kita malam ini juga."

"Jangan sampai dia tahu. Setidaknya dalam waktu dekat ini," ucap Livia tegas sembari berbalik. Matanya berkilat penuh otoritas.

"Aku tidak ingin dia bertemu Ethan dulu. Belum saatnya darah daging yang dia buang berdiri di hadapannya tanpa persiapan."

Selena mengangguk patuh. "Baik, Bu. Semuanya sudah dikondisikan. Lalu, bagaimana dengan agenda besok?"

"Kamu siapkan saja semua dokumen untuk meeting besar di Skyline Inc. jam sepuluh pagi. Kita akan memberikan kejutan manis yang sudah tertunda selama lima tahun untuknya."

Livia berdiri di depan cermin besar setinggi plafon. Ia menatap pantulan dirinya sendiri, namun ia hampir tidak mengenali wanita yang ada di sana.

Livia yang dulu telah mati bersama isak tangis di bawah hujan saat diusir dari kediaman Laurent.

Dulu, Livia adalah bayangan Adrian. Ia memelihara rambutnya hingga sepanjang pinggang karena Adrian menyukai wanita berambut panjang.

Ia selalu mengenakan gaun-gaun berwarna cerah—merah muda, kuning gading, atau biru langit—hanya karena Adrian bilang warna-warna itu membuatnya terlihat lembut dan patuh.

Dulu, setiap helai pakaian dan setiap polesan riasan di wajahnya adalah persembahan untuk pria yang akhirnya menghancurkannya.

Namun kini, sosok di cermin itu adalah manifestasi dari kekuatan yang murni. Livia tampil jauh lebih segar dengan potongan rambut bob pendek yang tajam, memamerkan leher jenjangnya yang indah dan garis rahang yang tegas.

Tidak ada lagi warna-warna cerah yang manja. Ia mengenakan gaun formal berbahan linen premium dengan palet warna monochrome—hitam pekat yang dipadu dengan blazer putih gading yang terstruktur sempurna.

Penampilannya memancarkan kemewahan yang tenang, tipe kemewahan yang membuat orang segan untuk menyapa. Ia terlihat mahal, berkuasa, dan berjarak.

"Mama cantik sekali," suara kecil Ethan terdengar dari arah tempat tidur.

Livia menoleh, seketika tatapan dinginnya melunak. Ia menghampiri putranya yang sedang memegang buku cerita.

"Terima kasih, Sayang. Besok Mama harus bekerja sebentar. Ethan di rumah bersama Tante Selena dan penjaga, ya?"

Ethan menatap ibunya dengan tatapan cerdas yang melampaui usianya. "Mama mau bertemu pria yang di restoran kemarin?"

Livia tertegun sejenak. Kepekaan Ethan selalu berhasil menembus pertahanannya. "Mama hanya ingin mengambil kembali apa yang seharusnya milik kita, Ethan."

Ethan mengangguk pelan.

Livia memeluk putranya erat. Air matanya nyaris jatuh, namun ia menahannya. Demi Ethan, ia bisa berdiri tegak seperti ini.

Demi Ethan, ia akan memastikan bahwa nama Laurent tidak akan lagi menjadi beban, melainkan pijakan untuk kesuksesan mereka.

Keesokan Harinya: Gedung Skyline Inc.

Suasana di ruang rapat utama Skyline Inc. sangat tegang. Adrian duduk di kursi kebesarannya dengan raut wajah yang menggelap.

Di sampingnya, beberapa jajaran direksi tampak berkeringat dingin. Perusahaan mereka sedang berada di titik nadir setelah beberapa proyek besar tersendat, dan satu-satunya harapan mereka adalah suntikan dana masif dari The Phoenix Group, investor misterius yang baru saja masuk ke pasar Sentara.

"Mana mereka? Ini sudah lewat lima menit," desis Adrian tajam. Pikirannya tidak fokus. Sejak kejadian di restoran semalam, ia tidak bisa tidur.

"Sekretaris mereka bilang mereka sudah di lobi, Pak Adrian," lapor salah satu manajer dengan gugup.

Tepat saat itu, pintu ganda ruang rapat terbuka lebar. Suara langkah sepatu hak tinggi yang tegas menggema di lantai marmer, menciptakan irama yang penuh intimidasi.

Adrian mendongak dengan tatapan malas yang biasanya penuh penghinaan. Namun, detik itu juga, seluruh oksigen di paru-parunya seolah tersedot keluar. Jantungnya berdegup kencang hingga terasa menyakitkan.

Seorang wanita melangkah masuk dengan aura yang begitu mendominasi. Rambut bob pendeknya bergoyang mengikuti langkah kakinya yang anggun. Gaun monochrome yang dikenakannya menegaskan bahwa dialah penguasa di ruangan ini.

Adrian mematung. Matanya melebar, tangannya yang berada di atas meja mendadak gemetar hebat. Garis wajah itu, tatapan mata itu... meskipun rambutnya berbeda, meskipun auranya telah berubah total dari air menjadi api, Adrian tidak mungkin salah.

Wanita itu berhenti di ujung meja, tepat berhadapan dengan Adrian. Ia tidak menunduk, tidak pula tersenyum manis seperti lima tahun lalu. Ia menatap Adrian dengan tatapan yang kosong, seolah pria di depannya hanyalah butiran debu di atas sepatu mahalnya.

"Selamat pagi, Tuan Adrian Nicholas Laurent," suara Livia terdengar rendah, merdu, namun setajam pisau bedah. "Saya Livia, perwakilan dari The Phoenix Group. Sepertinya Anda sedang membutuhkan bantuan saya untuk menyelamatkan perusahaan ini?"

******

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Tuan, Ibu dari Anakmu Bukan Perempuan Biasa    Bagian 07 : Kejutan

    Malam di Sentara tidak pernah benar-benar gelap, namun bagi Livia, kegelapan itu kini berpindah ke dalam sepasang matanya yang menyimpan amarah dan dendam. Di dalam suite mewah yang telah disiapkan asistennya, Livia berdiri di balkon, menatap kerlip lampu kota yang seolah mengejek masa lalunya. Suara pintu yang diketuk pelan membuyarkan lamunan pahit itu. Selena, asisten pribadinya selama di Sentara, melangkah masuk dengan raut wajah serius. "Ibu Livia," panggil Selena pelan. Livia tidak berbalik. "Katakan, Selena. Apa yang terjadi di restoran tadi setelah kita pergi?" "Prediksi Ibu tepat. Sesaat setelah kita meninggalkan basement, beberapa orang suruhan Adrian Nicholas Laurent menyisir area VVIP. Mereka menekan pihak manajemen restoran untuk membuka data reservasi. Bahkan, Adrian sendiri sempat terlihat di lobi dengan wajah yang... cukup kacau," lapor Selena detail. Livia menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. Senyum dingin tersungging di bibirnya. "Dia mula

  • Tuan, Ibu dari Anakmu Bukan Perempuan Biasa    Bagian 06 : Siapa Anak Itu?

    Clara masuk ke dalam ruangan dengan wajah cemberut, langsung duduk di depan Adrian Nicholas Laurent. Adrian sedang sibuk menatap ponselnya, namun ia bisa merasakan aura negatif dari wanita di depannya."Ada apa? Kenapa wajahmu ditekuk begitu?" tanya Adrian tanpa mengalihkan pandangan."Tadi di luar ada anak kecil nakal sekali! Dia menabrakku, lalu bicara hal yang tidak masuk akal. Benar-benar tidak berpendidikan," keluh Clara sambil menyesap minumannya.Adrian hanya merespons dengan gumaman pendek. Namun, Clara tiba-tiba terdiam, matanya menerawang teringat wajah bocah tadi. "Tapi... kalau dipikir-pikir, anak itu familiar sekali. Wajahnya... dia mirip sekali dengan foto-fotomu saat masih kecil dulu, Adrian. Sangat mirip."Adrian langsung mengangkat wajahnya. Jantungnya berdenyut aneh. "Mirip aku?""Iya, sangat mirip. Aku masih ingat saat dulu kita melihat-lihat album foto lamamu di rumah Ibu...saat kita masih TK kalau gak salah""Kamu bilang TK, berarti sekitar usia empat tahun?" pot

  • Tuan, Ibu dari Anakmu Bukan Perempuan Biasa    Bagian 05 : Rahasia yang Mulai Terlihat

    Sentara masih sama. Kota yang dibangun dari beton dan ambisi, di mana lampu-lampu neon dipaksa terus menyala seolah-olah kegagalan adalah dosa yang tak termaafkan. Dari balik kaca jendela mobil yang gelap, Livia menatap gedung-gedung pencakar langit yang menusuk awan. Baginya, setiap sudut kota ini adalah luka yang dibalut kemewahan."Mama, ini namanya kota apa? Ini kota yang sering Mama ceritakan dulu, ya?" suara cempreng namun tenang milik Ethan memecah lamunan Livia.Livia mengalihkan pandangannya pada bocah laki-laki berusia empat tahun di sampingnya. Ia mengusap rambut Ethan, berusaha menyalurkan ketenangan yang sebenarnya tidak ia miliki. "Betul, Sayang. Ini Sentara.""Ini kota yang banyak orang pentingnya, Ma?" Ethan bertanya lagi, matanya yang besar dan cerdas menatap keluar dengan rasa ingin tahu yang dalam.Livia hanya tersenyum tipis. Orang-orang penting yang sombong, batinnya pahit.Mereka tiba di sebuah restoran eksklusif di jantung kota. Bangunan tiga lantai itu megah,

  • Tuan, Ibu dari Anakmu Bukan Perempuan Biasa    Bagian 04: Lima Tahun yang Mengubah Segalanya

    Seorang anak laki-laki berlarian di atas rumput taman sekolah, dengan sepatu yang sedikit kebesaran. Rambutnya sedikit berantakan karena tertiup angin sore."Mama lihat!"Anak itu berlari ke arah Livia. Sambil memamerkan piala kecilnya."Ethan juara dua, Ma!" Tambahnya.Livia berlutut dan segera memeluknya erat. "Selamat, Sayang. Mama bangga dengan Ethan. Meskipun juara dua, Ethan tetap nomor satu di hati Mama." Tuturnya.Ethan tertawa kecil dan tawa itu membuat perasaan Livia menghangat. Perlahan, Livia menutup pandangannya sejenak.Lima tahun yang lalu, ia hampir kehilangan mutiara indahnya selamanya. Dan, hari ini ia menyadari satu hal bahwa ia tidak menyesal mempertahankan sang buah hati.Ternyata, menjadi orang tua tunggal bagi Ethan tidak seburuk dan semenakutkan itu. Karena, ia mendapat dukungan dari Gabriel dan Naomi, orang tua Livia. Semuanya berjalan dengan sangat baik. Apalagi, bocah itu memiliki kepekaan yang tidak dimiliki oleh anak-anak seusianya. Dia mampu membaca nia

  • Tuan, Ibu dari Anakmu Bukan Perempuan Biasa    Bagian 03: Tanda Tangan Paksa

    "Bersiaplah. Kita akan segera ke klinik."Livia yang belum sempat menjawab ketika pintu kamarnya dibuka kasar oleh Ravina, ibu mertua Livia. Raut wajahnya tenang, tubuhnya dibalut dengan setelan krem yang terlihat mahal."Apa maksudnya, Mama?" tanya Livia pelan."Aku tak menyangka bahwa kau ternyata bodoh sekali. Masalah ini harus diselesaikan sebelum menjadi bahan gunjingan." "Mama pikir anakku aib hingga harus jadi bahan gunjingan?" Suara Livia nyaris tak terdengar. Ravina mengalihkan pandangannya ke perut Livia dengan ekspresi jijik. "Anak itu tidak akan pernah diterima di keluarga ini."“Kamu masih beruntung Adrian tidak menceraikanmu!” tambahnya lagi.Livia lalu mengalihkan pandangannya ke arah Adrian yang mematung tak jauh dari lemari dan tidak membela nya sedikit pun."Sayang, Adrian...." suara Livia terdengar bergetar, hampir pecah tangisnya.Adrian menghela napas dalam, "Lakukan saja. Mama hanya ingin kepastian." "Untuk siapa lagi? Ini benar anak kamu, Adrian." Tanya Livia

  • Tuan, Ibu dari Anakmu Bukan Perempuan Biasa    Bagian 02 : Anak Haram

    Adrian berbalik, melangkah pergi dengan langkah angkuh, meninggalkan Livia yang hancur berkeping-keping di atas lantai dingin. Sepatu pantofelnya berbunyi berirama, menjauh tanpa sedikit pun niat untuk menoleh.Clara, yang sedari tadi diam menonton, tidak langsung mengikuti langkah Adrian. Ia tetap berdiri di sana, mengamati penderitaan Livia dengan binar kepuasan di matanya. Baginya, pemandangan Livia yang menangis meraung adalah mahakarya terindah. Ia melangkah perlahan, mendekati Livia yang masih terisak hebat.Clara membungkuk sedikit, mensejajarkan wajahnya dengan telinga Livia. Ia berbisik dengan nada mengejek yang sangat kental, seperti desis ular yang menyemprotkan bisa. "Kasihan sekali ya, Livia... jangan khawatir, aku sudah menyiapkan alamat klinik yang sangat privat untukmu. Aku akan segera mengirimkannya padamu, agar kamu bisa membuang bayi haram itu secepat mungkin. Lagipula, anak itu bahkan tidak diinginkan oleh ayahnya sendiri. Buat apa dipelihara?"Mendengar janinn

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status