MasukAdrian berbalik, melangkah pergi dengan langkah angkuh, meninggalkan Livia yang hancur berkeping-keping di atas lantai dingin. Sepatu pantofelnya berbunyi berirama, menjauh tanpa sedikit pun niat untuk menoleh.
Clara, yang sedari tadi diam menonton, tidak langsung mengikuti langkah Adrian. Ia tetap berdiri di sana, mengamati penderitaan Livia dengan binar kepuasan di matanya. Baginya, pemandangan Livia yang menangis meraung adalah mahakarya terindah. Ia melangkah perlahan, mendekati Livia yang masih terisak hebat. Clara membungkuk sedikit, mensejajarkan wajahnya dengan telinga Livia. Ia berbisik dengan nada mengejek yang sangat kental, seperti desis ular yang menyemprotkan bisa. "Kasihan sekali ya, Livia... jangan khawatir, aku sudah menyiapkan alamat klinik yang sangat privat untukmu. Aku akan segera mengirimkannya padamu, agar kamu bisa membuang bayi haram itu secepat mungkin. Lagipula, anak itu bahkan tidak diinginkan oleh ayahnya sendiri. Buat apa dipelihara?" Mendengar janinnya dihina sebagai "bayi haram" dan disarankan untuk "dibuang", sesuatu yang besar meledak di dalam dada Livia. Rasa sakit, pengkhianatan, dan kesedihan yang tadi melumpuhkannya tiba-tiba berubah menjadi kemarahan yang membara. Naluri seorang Ibu bangkit dalam sekejap. Ia tidak akan membiarkan wanita ular ini menginjak-injak nyawa yang ada di rahimnya. "Tutup mulutmu! Jangan pernah hina anakku!" Dengan seluruh sisa tenaga dan amarah yang meluap, Livia mendorong tubuh Clara sekuat mungkin. Ia tidak peduli lagi pada etika atau kepatuhan yang selama tiga tahun ini ia jaga. Clara, yang mengenakan sepatu hak tinggi berujung runcing dan tidak menyangka akan mendapat perlawanan fisik, kehilangan keseimbangan. Tubuhnya terjungkal ke belakang dengan sangat tidak anggun. Bagian pinggangnya menghantam sudut tajam meja makan kayu jati sebelum akhirnya jatuh terjerembab ke lantai. "Awh... aduh! Livia!" Clara berteriak dengan suara yang sengaja dikeraskan, penuh dengan nada dramatis yang memuakkan. "Adrian! Tolong! Sakit sekali... Adrian!" Adrian yang belum jauh segera berlari kembali. Ia melihat Clara yang terduduk lemas dan Livia yang berdiri dengan mata merah penuh amarah. Tanpa bertanya, Adrian menarik Clara ke dalam pelukannya dan menatap Livia dengan pandangan penuh kecewa dan kemarahan. "Sudah selingkuh, sekarang mau menjadi pembunuh juga?" desis Adrian tajam. Kata-kata itu sangat menyakiti Livia yang kini berdiri mematung, menatap suaminya yang sedang mendekap Clara dengan begitu protektif—pelukan yang bahkan tidak pernah ia rasakan selama satu tahun terakhir. "Dia yang menghina anakku, Adrian! Dia menyebut bayiku haram!" teriak Livia dengan suara pecah. “Apa dia salah?” sahut Adrian "Aku istrimu dan yang ada dalam perutku ini anakmu! Bagaimana bisa kamu lebih membela dia yang jelas-jelas merendahkan darah dagingmu sendiri?" Adrian tidak bergeming. Alih-alih merasa bersalah, ia justru mempererat dekapannya pada Clara yang mulai terisak dramatis di dadanya. "Darah dagingku? Jangan berhalusinasi, Livia! Foto-foto itu sudah cukup membuktikan bahwa kamu wanita kotor. Dan sekarang, kamu mencoba mencelakai Clara hanya karena dia bicara jujur?" "Jujur?" Livia tertawa getir di sela tangisnya. "Kamu lebih percaya foto sampah itu daripada tiga tahun kesetiaanku? Aku bahkan tidak pernah keluar rumah tanpa izinmu, Adrian! Aku menghabiskan waktuku di dapur ini, di rumah ini, menunggumu pulang seperti orang bodoh!" "Awh... Adrian, sakit sekali... sepertinya pinggangku memar," rintih Clara dengan suara yang memilukan. Kemudian, Ia melirik Livia dari balik bahu Adrian, memberikan sebuah senyum kemenangan yang sangat tipis—sebuah ejekan bahwa dialah pemenangnya. Adrian dengan sigap mengangkat tubuh Clara dengan raut wajah penuh kepanikan yang luar biasa. Ia mendekap Clara begitu erat. "Pak Man! Siapkan mobil! Cepat ke rumah sakit!" teriak Adrian menggelegar ke arah halaman, suaranya pecah karena rasa khawatir yang berlebihan. Livia berlari tertatih, menghalangi langkah Adrian di ambang pintu. "Adrian, lihat aku! Kalau kamu melangkah pergi sekarang demi dia, aku bersumpah saat kamu pulang nanti, kamu tidak akan pernah bertemu denganku lagi! Aku akan pergi selamanya!" Adrian berhenti sejenak, namun bukan untuk memeluk Livia. Ia menatap istrinya dengan sorot mata penuh kebencian dan kejijikan yang mendalam. "Aku tidak peduli!" bentak Adrian kasar tepat di depan wajah Livia. "Pergi saja kalau mau pergi! Wanita penghianat sepertimu memang tidak pantas ada di rumah ini!" Tanpa menoleh lagi, Adrian menggendong Clara masuk ke dalam mobil. Deru mesin menderu keras, meninggalkan Livia yang mematung dan tenggelam dalam kekecewaan yang tidak dapat dia deskripsikan.Malam di Sentara tidak pernah benar-benar gelap, namun bagi Livia, kegelapan itu kini berpindah ke dalam sepasang matanya yang menyimpan amarah dan dendam. Di dalam suite mewah yang telah disiapkan asistennya, Livia berdiri di balkon, menatap kerlip lampu kota yang seolah mengejek masa lalunya. Suara pintu yang diketuk pelan membuyarkan lamunan pahit itu. Selena, asisten pribadinya selama di Sentara, melangkah masuk dengan raut wajah serius. "Ibu Livia," panggil Selena pelan. Livia tidak berbalik. "Katakan, Selena. Apa yang terjadi di restoran tadi setelah kita pergi?" "Prediksi Ibu tepat. Sesaat setelah kita meninggalkan basement, beberapa orang suruhan Adrian Nicholas Laurent menyisir area VVIP. Mereka menekan pihak manajemen restoran untuk membuka data reservasi. Bahkan, Adrian sendiri sempat terlihat di lobi dengan wajah yang... cukup kacau," lapor Selena detail. Livia menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. Senyum dingin tersungging di bibirnya. "Dia mula
Clara masuk ke dalam ruangan dengan wajah cemberut, langsung duduk di depan Adrian Nicholas Laurent. Adrian sedang sibuk menatap ponselnya, namun ia bisa merasakan aura negatif dari wanita di depannya."Ada apa? Kenapa wajahmu ditekuk begitu?" tanya Adrian tanpa mengalihkan pandangan."Tadi di luar ada anak kecil nakal sekali! Dia menabrakku, lalu bicara hal yang tidak masuk akal. Benar-benar tidak berpendidikan," keluh Clara sambil menyesap minumannya.Adrian hanya merespons dengan gumaman pendek. Namun, Clara tiba-tiba terdiam, matanya menerawang teringat wajah bocah tadi. "Tapi... kalau dipikir-pikir, anak itu familiar sekali. Wajahnya... dia mirip sekali dengan foto-fotomu saat masih kecil dulu, Adrian. Sangat mirip."Adrian langsung mengangkat wajahnya. Jantungnya berdenyut aneh. "Mirip aku?""Iya, sangat mirip. Aku masih ingat saat dulu kita melihat-lihat album foto lamamu di rumah Ibu...saat kita masih TK kalau gak salah""Kamu bilang TK, berarti sekitar usia empat tahun?" pot
Sentara masih sama. Kota yang dibangun dari beton dan ambisi, di mana lampu-lampu neon dipaksa terus menyala seolah-olah kegagalan adalah dosa yang tak termaafkan. Dari balik kaca jendela mobil yang gelap, Livia menatap gedung-gedung pencakar langit yang menusuk awan. Baginya, setiap sudut kota ini adalah luka yang dibalut kemewahan."Mama, ini namanya kota apa? Ini kota yang sering Mama ceritakan dulu, ya?" suara cempreng namun tenang milik Ethan memecah lamunan Livia.Livia mengalihkan pandangannya pada bocah laki-laki berusia empat tahun di sampingnya. Ia mengusap rambut Ethan, berusaha menyalurkan ketenangan yang sebenarnya tidak ia miliki. "Betul, Sayang. Ini Sentara.""Ini kota yang banyak orang pentingnya, Ma?" Ethan bertanya lagi, matanya yang besar dan cerdas menatap keluar dengan rasa ingin tahu yang dalam.Livia hanya tersenyum tipis. Orang-orang penting yang sombong, batinnya pahit.Mereka tiba di sebuah restoran eksklusif di jantung kota. Bangunan tiga lantai itu megah,
Seorang anak laki-laki berlarian di atas rumput taman sekolah, dengan sepatu yang sedikit kebesaran. Rambutnya sedikit berantakan karena tertiup angin sore."Mama lihat!"Anak itu berlari ke arah Livia. Sambil memamerkan piala kecilnya."Ethan juara dua, Ma!" Tambahnya.Livia berlutut dan segera memeluknya erat. "Selamat, Sayang. Mama bangga dengan Ethan. Meskipun juara dua, Ethan tetap nomor satu di hati Mama." Tuturnya.Ethan tertawa kecil dan tawa itu membuat perasaan Livia menghangat. Perlahan, Livia menutup pandangannya sejenak.Lima tahun yang lalu, ia hampir kehilangan mutiara indahnya selamanya. Dan, hari ini ia menyadari satu hal bahwa ia tidak menyesal mempertahankan sang buah hati.Ternyata, menjadi orang tua tunggal bagi Ethan tidak seburuk dan semenakutkan itu. Karena, ia mendapat dukungan dari Gabriel dan Naomi, orang tua Livia. Semuanya berjalan dengan sangat baik. Apalagi, bocah itu memiliki kepekaan yang tidak dimiliki oleh anak-anak seusianya. Dia mampu membaca nia
"Bersiaplah. Kita akan segera ke klinik."Livia yang belum sempat menjawab ketika pintu kamarnya dibuka kasar oleh Ravina, ibu mertua Livia. Raut wajahnya tenang, tubuhnya dibalut dengan setelan krem yang terlihat mahal."Apa maksudnya, Mama?" tanya Livia pelan."Aku tak menyangka bahwa kau ternyata bodoh sekali. Masalah ini harus diselesaikan sebelum menjadi bahan gunjingan." "Mama pikir anakku aib hingga harus jadi bahan gunjingan?" Suara Livia nyaris tak terdengar. Ravina mengalihkan pandangannya ke perut Livia dengan ekspresi jijik. "Anak itu tidak akan pernah diterima di keluarga ini."“Kamu masih beruntung Adrian tidak menceraikanmu!” tambahnya lagi.Livia lalu mengalihkan pandangannya ke arah Adrian yang mematung tak jauh dari lemari dan tidak membela nya sedikit pun."Sayang, Adrian...." suara Livia terdengar bergetar, hampir pecah tangisnya.Adrian menghela napas dalam, "Lakukan saja. Mama hanya ingin kepastian." "Untuk siapa lagi? Ini benar anak kamu, Adrian." Tanya Livia
Adrian berbalik, melangkah pergi dengan langkah angkuh, meninggalkan Livia yang hancur berkeping-keping di atas lantai dingin. Sepatu pantofelnya berbunyi berirama, menjauh tanpa sedikit pun niat untuk menoleh.Clara, yang sedari tadi diam menonton, tidak langsung mengikuti langkah Adrian. Ia tetap berdiri di sana, mengamati penderitaan Livia dengan binar kepuasan di matanya. Baginya, pemandangan Livia yang menangis meraung adalah mahakarya terindah. Ia melangkah perlahan, mendekati Livia yang masih terisak hebat.Clara membungkuk sedikit, mensejajarkan wajahnya dengan telinga Livia. Ia berbisik dengan nada mengejek yang sangat kental, seperti desis ular yang menyemprotkan bisa. "Kasihan sekali ya, Livia... jangan khawatir, aku sudah menyiapkan alamat klinik yang sangat privat untukmu. Aku akan segera mengirimkannya padamu, agar kamu bisa membuang bayi haram itu secepat mungkin. Lagipula, anak itu bahkan tidak diinginkan oleh ayahnya sendiri. Buat apa dipelihara?"Mendengar janinn







