Home / Rumah Tangga / Tuan, Ibu dari Anakmu Bukan Perempuan Biasa / Bagian 04: Lima Tahun yang Mengubah Segalanya

Share

Bagian 04: Lima Tahun yang Mengubah Segalanya

last update Last Updated: 2026-03-02 09:08:13

Seorang anak laki-laki berlarian di atas rumput taman sekolah, dengan sepatu yang sedikit kebesaran. Rambutnya sedikit berantakan karena tertiup angin sore.

"Mama lihat!"

Anak itu berlari ke arah Livia. Sambil memamerkan piala kecilnya.

"Ethan juara dua, Ma!" Tambahnya.

Livia berlutut dan segera memeluknya erat. "Selamat, Sayang. Mama bangga dengan Ethan. Meskipun juara dua, Ethan tetap nomor satu di hati Mama." Tuturnya.

Ethan tertawa kecil dan tawa itu membuat perasaan Livia menghangat.

Perlahan, Livia menutup pandangannya sejenak.

Lima tahun yang lalu, ia hampir kehilangan mutiara indahnya selamanya. Dan, hari ini ia menyadari satu hal bahwa ia tidak menyesal mempertahankan sang buah hati.

Ternyata, menjadi orang tua tunggal bagi Ethan tidak seburuk dan semenakutkan itu. Karena, ia mendapat dukungan dari Gabriel dan Naomi, orang tua Livia. Semuanya berjalan dengan sangat baik.

Apalagi, bocah itu memiliki kepekaan yang tidak dimiliki oleh anak-anak seusianya. Dia mampu membaca niat dari orang-orang di sekitar nya.

Mungkin karena saat masih dalam kandungan, ia sudah merasakan kesedihan mamanya yang mendalam. Ataukah hanya sekadar berkah dari Tuhan?

Namun, apapun itu Livia tetap mensyukurinya.

******

Lampu di ruangan kerja Livia masih dibiarkan menyala. Kota Norvastia, dalam pandangannya sangat berkilauan di balik jendela tinggi yang membatasi.

Terdengar suara ketukan pintu, pelan.

"Silakan masuk." Ujar Livia.

Setelah diizinkan masuk, Selena Maria Callister masuk ruangan dengan membawa map hitam di tangan nya.

"Permisi Ibu. Mohon maaf mengganggu waktunya. Ada proposal baru yang masuk pagi tadi." Ujar Selena sambil meletakkan map hitam di atas meja Livia.

"Darimana datangnya proposal itu?" Tanya Livia yang masih mengalihkan pandangannya dari Selena.

"Perusahaan properti dan infrastruktur terbesar di Sentara." Jawab Selena.

Aktifitas Livia terhenti sejenak ketika mendengar darimana datangnya proposal tersebut.

Terlihat dari nama pengirimnya yaitu Skyline Inc. Nama yang sangat familiar untuknya. Namun, sayangnya sekarang terasa asing baginya.

"Perusahaan tersebut sedang mengalami krisis likuiditas. Beberapa proyek yang dikerjakan oleh mereka tertunda.

Berdasarkan laporan internal yang berhasil kami himpun, mereka sedang membutuhkan investor yang menjanjikan untuk dapat bertahan pada kuartal tahun ini." Terang Selena panjang lebar.

Livia membaca perlahan proposal itu. Ketika sampai di halaman terakhir, terdapat tanda tangan CEO Skyline Inc, yaitu Adrian Nicholas Laurent. Dan disamping tanda tangan Adrian, terdapat kotak kosong dimana Livia membubuhkan tanda tangan nya.

"Oke. Aku setuju." Ucap Livia mantap.

Selena sedikit terkejut. "Apa ibu tidak ingin membacanya terlebih dahulu secara teliti?" Tanya Selena yang masih dipenuhi rasa kebingungan.

"Tidak perlu. Aku sudah setuju." Livia mengulang perkataan nya dengan tenang dan sedikit diperjelas.

"Tapi ingat. Jangan gunakan nama asliku. Gunakan inisial saja."

"Dapat dimengerti, Bu."

Jauh di lubuk hatinya, Livia sangat menantikan saat-saat seperti ini.

Setelah semuanya dapat dicerna oleh Selena, Selena meninggalkan ruangan Livia.

Suasana di ruang kerja Livia kembali hening. Di tengah keheningan itu, ponsel Livia bergetar.

Livia bangkit dari kursi kerjanya, dia berjalan mendekati putranya yang sedang terlelap di atas sofa kantornya, ia mengusap lembut kening Ethan yang masih terlelap.

Wajah mungil itu adalah salinan sempurna dari pria yang lima tahun lalu membuangnya seperti sampah. Rasa takut yang sempat menghimpit dadanya perlahan menguap, berganti dengan api tekad yang dingin dan terhitung.

"Adrian, aku kembali bukan untuk meminta maaf," bisik Livia pelan, matanya berkilat di bawah temaram lampu kamar Ethan.

"Aku kembali untuk menunjukkan padamu bahwa anak yang dulu kalian tolak, yang kalian anggap tidak layak ada, sekarang tumbuh dengan wajah yang sangat mirip denganmu."

Livia tersenyum tipis, sebuah senyum yang mengandung luka sekaligus kemenangan. "Apa kamu akan tetap menolak setelah melihatnya? Aku tidak yakin... dan aku sudah tidak sabar melihat bagaimana hancurnya pertahananmu saat bertemu darah dagingmu sendiri."

Ia berbalik, menuju kursi kerjanya kembali setelah menutupi tubuh sang putra dengan seliput tipis dan segera menghubungi Maria lewat intercom.

Ketakutan itu sudah ia kunci rapat-rapat dalam peti masa lalu. Sekarang saatnya ia memegang kendali. Livia melakukan panggilan cepat ke asisten pribadinya.

"Siapkan penerbangan ke Sentara besok pagi," perintah Livia tanpa basa-basi. "Cari tempat tinggal di area privat, pastikan semua fasilitas lengkap dan keamanan tingkat tinggi. Aku ingin Ethan merasa nyaman seolah dia tidak pernah pindah."

"Baik, Bu Livia. Tapi... apakah Ibu benar-benar yakin ingin tinggal di Sentara setelah semua yang terjadi?" suara asistennya terdengar ragu di seberang telepon.

Livia berjalan menuju jendela besar kondominiumnya, menatap kerlip lampu kota yang seolah menantangnya.

"Hanya sementara. Kamu tahu nilai investasiku di Skyline Inc. sangat besar. Aku tidak bisa membiarkan aset sebesar itu dikelola tanpa pengawasan. Aku harus bertemu CEO-nya secara langsung dan memantau setiap proyek yang dijalankan."

"Tapi Bu, CEO Skyline Inc adalah..."

"Aku tahu siapa dia," potong Livia dengan nada penuh perhitungan. "Justru karena itu aku harus ada di sana. Siapkan semua dokumennya.

Aku ingin kunjunganku ke kantor pusat mereka menjadi kejutan yang tidak akan pernah ia lupakan."

Livia menutup teleponnya. Ia tahu langkah ini berbahaya, seperti berjalan di atas tali tipis yang dipasang di antara dua gedung tinggi. Namun, ia bukan lagi Livia yang lemah.

Jika Adrian adalah penguasa Sentara, maka Livia kembali sebagai seseorang yang tidak dapat ditolak sebagai penyelamatnya.

******

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tuan, Ibu dari Anakmu Bukan Perempuan Biasa    Bagian 07 : Kejutan

    Malam di Sentara tidak pernah benar-benar gelap, namun bagi Livia, kegelapan itu kini berpindah ke dalam sepasang matanya yang menyimpan amarah dan dendam. Di dalam suite mewah yang telah disiapkan asistennya, Livia berdiri di balkon, menatap kerlip lampu kota yang seolah mengejek masa lalunya. Suara pintu yang diketuk pelan membuyarkan lamunan pahit itu. Selena, asisten pribadinya selama di Sentara, melangkah masuk dengan raut wajah serius. "Ibu Livia," panggil Selena pelan. Livia tidak berbalik. "Katakan, Selena. Apa yang terjadi di restoran tadi setelah kita pergi?" "Prediksi Ibu tepat. Sesaat setelah kita meninggalkan basement, beberapa orang suruhan Adrian Nicholas Laurent menyisir area VVIP. Mereka menekan pihak manajemen restoran untuk membuka data reservasi. Bahkan, Adrian sendiri sempat terlihat di lobi dengan wajah yang... cukup kacau," lapor Selena detail. Livia menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. Senyum dingin tersungging di bibirnya. "Dia mula

  • Tuan, Ibu dari Anakmu Bukan Perempuan Biasa    Bagian 06 : Siapa Anak Itu?

    Clara masuk ke dalam ruangan dengan wajah cemberut, langsung duduk di depan Adrian Nicholas Laurent. Adrian sedang sibuk menatap ponselnya, namun ia bisa merasakan aura negatif dari wanita di depannya."Ada apa? Kenapa wajahmu ditekuk begitu?" tanya Adrian tanpa mengalihkan pandangan."Tadi di luar ada anak kecil nakal sekali! Dia menabrakku, lalu bicara hal yang tidak masuk akal. Benar-benar tidak berpendidikan," keluh Clara sambil menyesap minumannya.Adrian hanya merespons dengan gumaman pendek. Namun, Clara tiba-tiba terdiam, matanya menerawang teringat wajah bocah tadi. "Tapi... kalau dipikir-pikir, anak itu familiar sekali. Wajahnya... dia mirip sekali dengan foto-fotomu saat masih kecil dulu, Adrian. Sangat mirip."Adrian langsung mengangkat wajahnya. Jantungnya berdenyut aneh. "Mirip aku?""Iya, sangat mirip. Aku masih ingat saat dulu kita melihat-lihat album foto lamamu di rumah Ibu...saat kita masih TK kalau gak salah""Kamu bilang TK, berarti sekitar usia empat tahun?" pot

  • Tuan, Ibu dari Anakmu Bukan Perempuan Biasa    Bagian 05 : Rahasia yang Mulai Terlihat

    Sentara masih sama. Kota yang dibangun dari beton dan ambisi, di mana lampu-lampu neon dipaksa terus menyala seolah-olah kegagalan adalah dosa yang tak termaafkan. Dari balik kaca jendela mobil yang gelap, Livia menatap gedung-gedung pencakar langit yang menusuk awan. Baginya, setiap sudut kota ini adalah luka yang dibalut kemewahan."Mama, ini namanya kota apa? Ini kota yang sering Mama ceritakan dulu, ya?" suara cempreng namun tenang milik Ethan memecah lamunan Livia.Livia mengalihkan pandangannya pada bocah laki-laki berusia empat tahun di sampingnya. Ia mengusap rambut Ethan, berusaha menyalurkan ketenangan yang sebenarnya tidak ia miliki. "Betul, Sayang. Ini Sentara.""Ini kota yang banyak orang pentingnya, Ma?" Ethan bertanya lagi, matanya yang besar dan cerdas menatap keluar dengan rasa ingin tahu yang dalam.Livia hanya tersenyum tipis. Orang-orang penting yang sombong, batinnya pahit.Mereka tiba di sebuah restoran eksklusif di jantung kota. Bangunan tiga lantai itu megah,

  • Tuan, Ibu dari Anakmu Bukan Perempuan Biasa    Bagian 04: Lima Tahun yang Mengubah Segalanya

    Seorang anak laki-laki berlarian di atas rumput taman sekolah, dengan sepatu yang sedikit kebesaran. Rambutnya sedikit berantakan karena tertiup angin sore."Mama lihat!"Anak itu berlari ke arah Livia. Sambil memamerkan piala kecilnya."Ethan juara dua, Ma!" Tambahnya.Livia berlutut dan segera memeluknya erat. "Selamat, Sayang. Mama bangga dengan Ethan. Meskipun juara dua, Ethan tetap nomor satu di hati Mama." Tuturnya.Ethan tertawa kecil dan tawa itu membuat perasaan Livia menghangat. Perlahan, Livia menutup pandangannya sejenak.Lima tahun yang lalu, ia hampir kehilangan mutiara indahnya selamanya. Dan, hari ini ia menyadari satu hal bahwa ia tidak menyesal mempertahankan sang buah hati.Ternyata, menjadi orang tua tunggal bagi Ethan tidak seburuk dan semenakutkan itu. Karena, ia mendapat dukungan dari Gabriel dan Naomi, orang tua Livia. Semuanya berjalan dengan sangat baik. Apalagi, bocah itu memiliki kepekaan yang tidak dimiliki oleh anak-anak seusianya. Dia mampu membaca nia

  • Tuan, Ibu dari Anakmu Bukan Perempuan Biasa    Bagian 03: Tanda Tangan Paksa

    "Bersiaplah. Kita akan segera ke klinik."Livia yang belum sempat menjawab ketika pintu kamarnya dibuka kasar oleh Ravina, ibu mertua Livia. Raut wajahnya tenang, tubuhnya dibalut dengan setelan krem yang terlihat mahal."Apa maksudnya, Mama?" tanya Livia pelan."Aku tak menyangka bahwa kau ternyata bodoh sekali. Masalah ini harus diselesaikan sebelum menjadi bahan gunjingan." "Mama pikir anakku aib hingga harus jadi bahan gunjingan?" Suara Livia nyaris tak terdengar. Ravina mengalihkan pandangannya ke perut Livia dengan ekspresi jijik. "Anak itu tidak akan pernah diterima di keluarga ini."“Kamu masih beruntung Adrian tidak menceraikanmu!” tambahnya lagi.Livia lalu mengalihkan pandangannya ke arah Adrian yang mematung tak jauh dari lemari dan tidak membela nya sedikit pun."Sayang, Adrian...." suara Livia terdengar bergetar, hampir pecah tangisnya.Adrian menghela napas dalam, "Lakukan saja. Mama hanya ingin kepastian." "Untuk siapa lagi? Ini benar anak kamu, Adrian." Tanya Livia

  • Tuan, Ibu dari Anakmu Bukan Perempuan Biasa    Bagian 02 : Anak Haram

    Adrian berbalik, melangkah pergi dengan langkah angkuh, meninggalkan Livia yang hancur berkeping-keping di atas lantai dingin. Sepatu pantofelnya berbunyi berirama, menjauh tanpa sedikit pun niat untuk menoleh.Clara, yang sedari tadi diam menonton, tidak langsung mengikuti langkah Adrian. Ia tetap berdiri di sana, mengamati penderitaan Livia dengan binar kepuasan di matanya. Baginya, pemandangan Livia yang menangis meraung adalah mahakarya terindah. Ia melangkah perlahan, mendekati Livia yang masih terisak hebat.Clara membungkuk sedikit, mensejajarkan wajahnya dengan telinga Livia. Ia berbisik dengan nada mengejek yang sangat kental, seperti desis ular yang menyemprotkan bisa. "Kasihan sekali ya, Livia... jangan khawatir, aku sudah menyiapkan alamat klinik yang sangat privat untukmu. Aku akan segera mengirimkannya padamu, agar kamu bisa membuang bayi haram itu secepat mungkin. Lagipula, anak itu bahkan tidak diinginkan oleh ayahnya sendiri. Buat apa dipelihara?"Mendengar janinn

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status