Share

Bagian 03: Tanda Tangan Paksa

last update Last Updated: 2026-03-01 15:09:21

"Bersiaplah. Kita akan segera ke klinik."

Livia yang belum sempat menjawab ketika pintu kamarnya dibuka kasar oleh Ravina, ibu mertua Livia. Raut wajahnya tenang, tubuhnya dibalut dengan setelan krem yang terlihat mahal.

"Apa maksudnya, Mama?" tanya Livia pelan.

"Aku tak menyangka bahwa kau ternyata bodoh sekali. Masalah ini harus diselesaikan sebelum menjadi bahan gunjingan."

"Mama pikir anakku aib hingga harus jadi bahan gunjingan?" Suara Livia nyaris tak terdengar.

Ravina mengalihkan pandangannya ke perut Livia dengan ekspresi jijik. "Anak itu tidak akan pernah diterima di keluarga ini."

“Kamu masih beruntung Adrian tidak menceraikanmu!” tambahnya lagi.

Livia lalu mengalihkan pandangannya ke arah Adrian yang mematung tak jauh dari lemari dan tidak membela nya sedikit pun.

"Sayang, Adrian...." suara Livia terdengar bergetar, hampir pecah tangisnya.

Adrian menghela napas dalam, "Lakukan saja. Mama hanya ingin kepastian."

"Untuk siapa lagi? Ini benar anak kamu, Adrian." Tanya Livia.

"Untuk semuanya dan ini sudah keputusan bulat." Respon Adrian tenang.

APA?

RASIONAL?

Kata singkat itu seolah belati kecil yang menembus sanubarinya pelan.

Dengan langkah pelan, Ravina mendekat dan mencengkram pergelangan tangan Livia kasar.

"Kamu cukup bodoh untuk mengerti bahwa tidak ada yang menginginkanmu disini. Ku peringatkan sekali lagi. Jangan memaksakan sesuatu yang memang bukan tempatmu."

"Sampai kapanpun saya tidak ingin menghabisi anak saya."

"Sayangnya, kamu tidak punya hak untuk menolak."

Cengkeraman tangan Ravina lama-lama kuat. Livia mencoba melepaskan diri, namun sayangnya Ravina sudah berhasil menyeret dirinya keluar dari kamar.

"Jangan sentuh saya!"

Livia terus memberontak, namun sayangnya tenaganya kalah kuat dari Ravina.

Disisi lain, Adrian sang suami hanya terdiam ketika istrinya diperlakukan tidak hormat oleh Ravina.

Butuh waktu kurang lebih lima belas menit untuk mencapai klinik. Sesampainya di klinik, suasana klinik itu sangat bersih.

Bau antiseptik menguar menusuk indra penciuman siapa pun. Lampu berwarna putih telah lama tergantung di langit-langit.

Ravina langsung mengatakan apa tujuan mereka datang ke klinik.

"Apa semuanya sudah diatur? Apa dokter sudah menunggu di dalam?" Tanya nya pada resepsionis tanpa melihat Livia yang masih terduduk di ruang tunggu.

"Semuanya sudah siap. Sudah ada dokter pribadi anda di dalam menunggu." Kata resepsionis.

"Nona Livia. Suami anda sudah menyetujui tindakan." Ucap seorang perawat sambil menyerahkan lembar formulir yang sudah lengkap.

Livia merasa dunianya runtuh. Ia masih tak percaya bahwa suaminya sendiri yang menyetujui.

"Apa? Suami saya....?" Suara Livia terdengar bergetar hebat.

"Betul, Nyonya. Berikut tanda tangan suami anda."

Perawat pun menunjukkan letak dimana tanda tangan Adrian dibubuhkan.

Memang benar, itu tanda tangan Adrian. Ternyata, di balik diam nya. Adrian ikut memutuskan.

Perlahan, Livia merasakan sesuatu yang menyedihkan merayap di dadanya.

Perawat segera memintanya untuk masuk ke ruang tindakan. Namun, Ravina tak ikut masuk ke ruangan.

"Jangan ada yang terlewat." Satu kalimat yang terdengar seolah tak sabar untuk menunggu baik.

Sedangkan, suasana di ruangan tindakan terasa lebih dingin dari biasanya.

"Silakan berbaring, Nyonya." Pinta dokter dengan suara yang profesional.

Livia mematung.

Para perawat yang berada di ruangan membantu membaringkan tubuh Livia di ranjang sempit. Di atas perutnya, sudah terpasang sabuk pengaman ringan.

"Jangan takut, Nyonya. Tindakan ini bisa cepat."

Dokter berusaha menghibur Livia supaya tidak tegang. Dokter tersebut menggunakan sarung tangan putih.

Cepat? Secepat apa tindakan yang akan dilakukan padanya?

Beberapa alat sudah disiapkan. Suara besi saling beradu, terdengar nyaring di ruangan yang sangat sunyi.

Livia mengarahkan pandangannya ke atas. Lampu ruangan itu terlalu silau dan terang.

Namun, ini bukan sekadar sakit fisik. Akan tetapi tentang seorang anak tak bersalah yang berusaha dihilangkan sebelum dia lahir ke dunia.

Tanpa terasa, air mata Livia tumpah.

"Kita mulai," ucap dokter.

Namun, ketika alat itu hampir menyentuh perutnya, Livia memberontak.

"Tidak! Hentikan! Aku tidak mengijinkannya! Ini Anakku!."

Suaranya terdengar tegas.

"Apa maksudnya?" Dokter pun berhenti melakukan tindakan.

"Aku bilang Tidak! Apa kau tidak dengar?"

Dengan gerakan yang sangat tiba-tiba, Livia menarik selang infus yang sudah terpasang di tangannya. Ada setetes darah kecil yang menetes. Dengan sekuat tenang, ia mendorong nampan alat dengan kuat yang menyebabkan suara logam memantul.

"Jangan biarkan dia kabur. Pegang dia!" Teriak perawat.

Namun, semuanya terlambat. Livia sudah berhasil bangkit. Sabuk yang ada di perutnya terlepas. Dengan kaki yang masih bergetar, ia berusaha mendorong pintu ruang tindakan.

Ravina yang menunggu di lorong pun terkejut. Raut wajahnya berubah.

"Berhenti, Livia!" Perintah Ravina.

Livia menghentikan langkahnya beberapa langkah dari ruang tindakan. Dengan napas yang memburu, rambut yang sudah tidak karuan dan tangannya yang masih meninggalkan noda merah.

Ia menatap Ravina lekat-lekat. Tak ada lagi rasa takut di penglihatan nya.

"Cukup, Mama. Hari ini, anda memang bisa memperlakukan saya semau anda. Namun anda harus ingat, sampai kapan pun anda tidak akan pernah bisa mengendalikan hidup saya!"

Ravina pun terdiam sejenak.

"Dan anak ini akan lahir ke dunia. Dengan atau tanpa nama keluarga Adrian."

Perlahan, suara Livia melemah. Ia tak berteriak dan juga tak menangis.

Ravina menatap tajam ke arah Livia.

"Kau tidak tau resikonya, gadis bodoh!" Cela Ravina.

"Memang saya tidak tahu. Yang hanya saya tahu adalah ini anak saya." Jawab lirih Livia.

Suasana klinik menjadi lebih dingin dari biasanya. Ravina melangkah mendekati Livia dan mencengkram keras pergelangan tangan Livia sambil berbisik, "Jangan menjadi gadis pembangkang. Hidupmu tak ada artinya jika tidak ada putraku."

Perlahan, Livia mencoba melepaskan diri dari cengkeraman Ravina.

Ketika tubuhnya kembali ditarik Ravina, Livia menolak dengan keras.

Livia berlari kembali ke pintu darurat.

"Livia! Berhenti kataku!"

"Livia! Kalau kamu pergi, artinya kamu setuju Adrian menceraikanmu!"

Livia tidak menggubris pernyataan Ravina. Iya tidak menoleh ketika Ravina memintanya untuk berhenti. Namun dia berhenti sebentar, kemudian berbalik.

“Aku setuju bercerai dengan Adrian. Detik ini juga!”

Pintu darurat terbuka dan hujan malam menyambut tubuhnya yang masih mengenakan pakaian rumah sakit.

Dengan tangan yang gemetar, ia menyentuh pelan perutnya. Anak ini bahkan belum lahir, namun bahkan kelahirannya sangat tidak diinginkan oleh keluarga itu.

Tanpa ia sadari, air matanya jatuh tanpa suara. Kini, iya kehilangan rumah, nama, dan masa depan yang dulu tampak sempurna di bayangannya.

Akan tetapi, ada satu hal yang berusaha ia pertahankan.

"Walaupun seluruh dunia tidak menginginkanmu, Mama akan tetap mendekap mu, Sayang."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tuan, Ibu dari Anakmu Bukan Perempuan Biasa    Bagian 07 : Kejutan

    Malam di Sentara tidak pernah benar-benar gelap, namun bagi Livia, kegelapan itu kini berpindah ke dalam sepasang matanya yang menyimpan amarah dan dendam. Di dalam suite mewah yang telah disiapkan asistennya, Livia berdiri di balkon, menatap kerlip lampu kota yang seolah mengejek masa lalunya. Suara pintu yang diketuk pelan membuyarkan lamunan pahit itu. Selena, asisten pribadinya selama di Sentara, melangkah masuk dengan raut wajah serius. "Ibu Livia," panggil Selena pelan. Livia tidak berbalik. "Katakan, Selena. Apa yang terjadi di restoran tadi setelah kita pergi?" "Prediksi Ibu tepat. Sesaat setelah kita meninggalkan basement, beberapa orang suruhan Adrian Nicholas Laurent menyisir area VVIP. Mereka menekan pihak manajemen restoran untuk membuka data reservasi. Bahkan, Adrian sendiri sempat terlihat di lobi dengan wajah yang... cukup kacau," lapor Selena detail. Livia menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. Senyum dingin tersungging di bibirnya. "Dia mula

  • Tuan, Ibu dari Anakmu Bukan Perempuan Biasa    Bagian 06 : Siapa Anak Itu?

    Clara masuk ke dalam ruangan dengan wajah cemberut, langsung duduk di depan Adrian Nicholas Laurent. Adrian sedang sibuk menatap ponselnya, namun ia bisa merasakan aura negatif dari wanita di depannya."Ada apa? Kenapa wajahmu ditekuk begitu?" tanya Adrian tanpa mengalihkan pandangan."Tadi di luar ada anak kecil nakal sekali! Dia menabrakku, lalu bicara hal yang tidak masuk akal. Benar-benar tidak berpendidikan," keluh Clara sambil menyesap minumannya.Adrian hanya merespons dengan gumaman pendek. Namun, Clara tiba-tiba terdiam, matanya menerawang teringat wajah bocah tadi. "Tapi... kalau dipikir-pikir, anak itu familiar sekali. Wajahnya... dia mirip sekali dengan foto-fotomu saat masih kecil dulu, Adrian. Sangat mirip."Adrian langsung mengangkat wajahnya. Jantungnya berdenyut aneh. "Mirip aku?""Iya, sangat mirip. Aku masih ingat saat dulu kita melihat-lihat album foto lamamu di rumah Ibu...saat kita masih TK kalau gak salah""Kamu bilang TK, berarti sekitar usia empat tahun?" pot

  • Tuan, Ibu dari Anakmu Bukan Perempuan Biasa    Bagian 05 : Rahasia yang Mulai Terlihat

    Sentara masih sama. Kota yang dibangun dari beton dan ambisi, di mana lampu-lampu neon dipaksa terus menyala seolah-olah kegagalan adalah dosa yang tak termaafkan. Dari balik kaca jendela mobil yang gelap, Livia menatap gedung-gedung pencakar langit yang menusuk awan. Baginya, setiap sudut kota ini adalah luka yang dibalut kemewahan."Mama, ini namanya kota apa? Ini kota yang sering Mama ceritakan dulu, ya?" suara cempreng namun tenang milik Ethan memecah lamunan Livia.Livia mengalihkan pandangannya pada bocah laki-laki berusia empat tahun di sampingnya. Ia mengusap rambut Ethan, berusaha menyalurkan ketenangan yang sebenarnya tidak ia miliki. "Betul, Sayang. Ini Sentara.""Ini kota yang banyak orang pentingnya, Ma?" Ethan bertanya lagi, matanya yang besar dan cerdas menatap keluar dengan rasa ingin tahu yang dalam.Livia hanya tersenyum tipis. Orang-orang penting yang sombong, batinnya pahit.Mereka tiba di sebuah restoran eksklusif di jantung kota. Bangunan tiga lantai itu megah,

  • Tuan, Ibu dari Anakmu Bukan Perempuan Biasa    Bagian 04: Lima Tahun yang Mengubah Segalanya

    Seorang anak laki-laki berlarian di atas rumput taman sekolah, dengan sepatu yang sedikit kebesaran. Rambutnya sedikit berantakan karena tertiup angin sore."Mama lihat!"Anak itu berlari ke arah Livia. Sambil memamerkan piala kecilnya."Ethan juara dua, Ma!" Tambahnya.Livia berlutut dan segera memeluknya erat. "Selamat, Sayang. Mama bangga dengan Ethan. Meskipun juara dua, Ethan tetap nomor satu di hati Mama." Tuturnya.Ethan tertawa kecil dan tawa itu membuat perasaan Livia menghangat. Perlahan, Livia menutup pandangannya sejenak.Lima tahun yang lalu, ia hampir kehilangan mutiara indahnya selamanya. Dan, hari ini ia menyadari satu hal bahwa ia tidak menyesal mempertahankan sang buah hati.Ternyata, menjadi orang tua tunggal bagi Ethan tidak seburuk dan semenakutkan itu. Karena, ia mendapat dukungan dari Gabriel dan Naomi, orang tua Livia. Semuanya berjalan dengan sangat baik. Apalagi, bocah itu memiliki kepekaan yang tidak dimiliki oleh anak-anak seusianya. Dia mampu membaca nia

  • Tuan, Ibu dari Anakmu Bukan Perempuan Biasa    Bagian 03: Tanda Tangan Paksa

    "Bersiaplah. Kita akan segera ke klinik."Livia yang belum sempat menjawab ketika pintu kamarnya dibuka kasar oleh Ravina, ibu mertua Livia. Raut wajahnya tenang, tubuhnya dibalut dengan setelan krem yang terlihat mahal."Apa maksudnya, Mama?" tanya Livia pelan."Aku tak menyangka bahwa kau ternyata bodoh sekali. Masalah ini harus diselesaikan sebelum menjadi bahan gunjingan." "Mama pikir anakku aib hingga harus jadi bahan gunjingan?" Suara Livia nyaris tak terdengar. Ravina mengalihkan pandangannya ke perut Livia dengan ekspresi jijik. "Anak itu tidak akan pernah diterima di keluarga ini."“Kamu masih beruntung Adrian tidak menceraikanmu!” tambahnya lagi.Livia lalu mengalihkan pandangannya ke arah Adrian yang mematung tak jauh dari lemari dan tidak membela nya sedikit pun."Sayang, Adrian...." suara Livia terdengar bergetar, hampir pecah tangisnya.Adrian menghela napas dalam, "Lakukan saja. Mama hanya ingin kepastian." "Untuk siapa lagi? Ini benar anak kamu, Adrian." Tanya Livia

  • Tuan, Ibu dari Anakmu Bukan Perempuan Biasa    Bagian 02 : Anak Haram

    Adrian berbalik, melangkah pergi dengan langkah angkuh, meninggalkan Livia yang hancur berkeping-keping di atas lantai dingin. Sepatu pantofelnya berbunyi berirama, menjauh tanpa sedikit pun niat untuk menoleh.Clara, yang sedari tadi diam menonton, tidak langsung mengikuti langkah Adrian. Ia tetap berdiri di sana, mengamati penderitaan Livia dengan binar kepuasan di matanya. Baginya, pemandangan Livia yang menangis meraung adalah mahakarya terindah. Ia melangkah perlahan, mendekati Livia yang masih terisak hebat.Clara membungkuk sedikit, mensejajarkan wajahnya dengan telinga Livia. Ia berbisik dengan nada mengejek yang sangat kental, seperti desis ular yang menyemprotkan bisa. "Kasihan sekali ya, Livia... jangan khawatir, aku sudah menyiapkan alamat klinik yang sangat privat untukmu. Aku akan segera mengirimkannya padamu, agar kamu bisa membuang bayi haram itu secepat mungkin. Lagipula, anak itu bahkan tidak diinginkan oleh ayahnya sendiri. Buat apa dipelihara?"Mendengar janinn

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status