Beranda / Rumah Tangga / Tuan, Ibu dari Anakmu Bukan Perempuan Biasa / Bagian 05 : Rahasia yang Mulai Terlihat

Share

Bagian 05 : Rahasia yang Mulai Terlihat

Penulis: Renjana Senja
last update Terakhir Diperbarui: 2026-03-04 15:11:32

Sentara masih sama. Kota yang dibangun dari beton dan ambisi, di mana lampu-lampu neon dipaksa terus menyala seolah-olah kegagalan adalah dosa yang tak termaafkan.

Dari balik kaca jendela mobil yang gelap, Livia menatap gedung-gedung pencakar langit yang menusuk awan. Baginya, setiap sudut kota ini adalah luka yang dibalut kemewahan.

"Mama, ini namanya kota apa? Ini kota yang sering Mama ceritakan dulu, ya?" suara cempreng namun tenang milik Ethan memecah lamunan Livia.

Livia mengalihkan pandangannya pada bocah laki-laki berusia empat tahun di sampingnya. Ia mengusap rambut Ethan, berusaha menyalurkan ketenangan yang sebenarnya tidak ia miliki. "Betul, Sayang. Ini Sentara."

"Ini kota yang banyak orang pentingnya, Ma?" Ethan bertanya lagi, matanya yang besar dan cerdas menatap keluar dengan rasa ingin tahu yang dalam.

Livia hanya tersenyum tipis. Orang-orang penting yang sombong, batinnya pahit.

Mereka tiba di sebuah restoran eksklusif di jantung kota. Bangunan tiga lantai itu megah, menjunjung tinggi privasi yang hanya bisa dibeli oleh kalangan atas. Livia sengaja memilih VVIP Room 2 di lantai tiga untuk menghindari tatapan publik. Namun, saat mereka duduk, telapak tangan Livia mulai berkeringat dingin.

Ethan, yang biasanya lincah, duduk dengan tegak. Tatapannya menyapu ruangan dengan ketajaman yang tidak lazim untuk anak seusianya. Ia memiliki kepekaan luar biasa—bakat alami yang sering membuat Livia merinding.

"Mama kenapa takut?" tanya Ethan tiba-tiba. "Aku merasa Mama sedang tegang. Ada apa, Ma?"

Livia tersentak. "Tidak, Sayang. Mama hanya lelah saja."

Tak lama kemudian, Ethan meminta izin ke toilet. Livia membiarkannya pergi sendiri karena toilet VVIP sangat dekat dan terjaga. Namun, saat Ethan sedang berjalan kembali menuju ruangan, sebuah tabrakan kecil terjadi di lorong sunyi itu.

Bruk!

Tubuh kecil Ethan menyenggol seorang wanita yang sedang berjalan terburu-buru. Wanita itu adalah Clara Camille Anderson.

"Aduh! Kalau jalan itu lihat-lihat! Jangan lari-larian tidak jelas di tempat seperti ini!" bentak Clara kasar. Ia menatap Ethan dengan pandangan merendah. "Di mana orang tuamu? Benar-benar tidak tahu sopan santun."

Livia, yang mulai cemas karena Ethan terlalu lama, segera keluar dari ruangan. Jantungnya seolah berhenti berdetak saat melihat sosok wanita di depan putranya.

Clara masih sama—anggun namun berbisa. Wanita inilah yang lima tahun lalu menggunakan segala cara untuk menyingkirkan Livia demi mendapatkan Adrian.

Ironisnya, meski Livia sudah lama terusir, Adrian tak kunjung memberinya status istri yang ia idam-idamkan hingga detik ini.

Livia langsung berlutut di depan Ethan, membelakangi lorong VIP lainnya, berusaha menyembunyikan wajahnya dari jangkauan pandangan siapa pun yang mungkin lewat.

"Ethan, kamu tidak apa-apa?" selidik Livia panik. Ia segera meminta maaf tanpa menatap Clara sedikit pun. "Maafkan anak saya, Nona. Dia tidak sengaja."

"Tante ini cantik, tapi dia suka ambil hak orang lain yang bukan haknya," celetuk Ethan tiba-tiba dengan nada datar yang menusuk.

Livia tersentak. Ethan bukan sekadar anak kecil, dia bisa merasakan warna dari jiwa seseorang. Tatapan Ethan pada Clara seolah sedang menelanjangi semua kebusukan wanita itu.

Clara mematung sejenak, wajahnya yang semula putih porselen perlahan berubah menjadi merah padam. Kata-kata Ethan barusan bukan sekadar celoteh bocah, tapi terdengar seperti vonis yang dijatuhkan tepat di depan wajahnya.

"Apa kamu bilang?!" suara Clara meninggi, melengking tajam hingga memecah kesunyian koridor VVIP. "Dasar anak sialan! Siapa yang mengajarimu bicara sekurang ajar itu, hah?"

Ia melangkah maju, jemarinya yang lentur dengan kuku merah menyala menunjuk tepat ke depan hidung Ethan. Matanya melotot, memancarkan kebencian murni yang bahkan tak sanggup ia sembunyikan lagi di balik topeng keanggunannya.

"Berani-beraninya kamu menghina saya! Kamu tahu siapa saya?!" Clara berteriak tepat di depan wajah Livia yang masih berlutut membelakanginya. "Lihat anakmu ini! Benar-benar sampah! Pantas saja ibunya hanya bisa bersembunyi, ternyata dia memelihara monster kecil yang tidak punya tata krama!"

Livia merasakan bahu Ethan sedikit menegang, namun putranya itu tidak menangis. Ethan justru menatap Clara dengan mata yang jernih namun dingin—tatapan yang membuat Clara semakin merasa terpojok oleh rasa bersalah yang selama ini ia kubur.

"Kenapa diam saja?! Minta maaf!" Clara nyaris menjerit, kakinya menghentak lantai marmer dengan emosi yang meledak-ledak.

"Kalau tidak, aku pastikan kalian berdua ditendang keluar dari restoran ini dan tidak akan pernah bisa menginjakkan kaki lagi di Sentara! Kamu dengar, perempuan kampung?!"

Napas Clara memburu, dadanya naik turun karena amarah yang meluap. Baginya, tatapan Ethan adalah penghinaan terbesar yang pernah ia terima,

“Dia galak sekali, Ma! Kaya monster!” tambah Ethan

"Ethan! Cukup! “Nona…sekali lagi maafkan anak saya!”" Livia langsung menarik Ethan masuk kembali ke ruangan sebelum Clara sempat menyadari siapa wanita di hadapannya.

Clara hanya mendengus kesal, merapikan gaunnya, dan melangkah menuju ruangan utama tempat Adrian menunggunya.

"Kita pulang ya, Sayang," bisik Livia panik.

"Tapi Ma, makanan Ethan belum habis..."

"Nanti Mama belikan yang lebih enak. Kita harus pergi sekarang!"

Livia langsung menggendong putranya.

‘Belum saatnya kamu bertemu dengan Papamu, Ethan. Papa yang tidak pernah menginginkanmu!’

******

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Tuan, Ibu dari Anakmu Bukan Perempuan Biasa    Bagian 07 : Kejutan

    Malam di Sentara tidak pernah benar-benar gelap, namun bagi Livia, kegelapan itu kini berpindah ke dalam sepasang matanya yang menyimpan amarah dan dendam. Di dalam suite mewah yang telah disiapkan asistennya, Livia berdiri di balkon, menatap kerlip lampu kota yang seolah mengejek masa lalunya. Suara pintu yang diketuk pelan membuyarkan lamunan pahit itu. Selena, asisten pribadinya selama di Sentara, melangkah masuk dengan raut wajah serius. "Ibu Livia," panggil Selena pelan. Livia tidak berbalik. "Katakan, Selena. Apa yang terjadi di restoran tadi setelah kita pergi?" "Prediksi Ibu tepat. Sesaat setelah kita meninggalkan basement, beberapa orang suruhan Adrian Nicholas Laurent menyisir area VVIP. Mereka menekan pihak manajemen restoran untuk membuka data reservasi. Bahkan, Adrian sendiri sempat terlihat di lobi dengan wajah yang... cukup kacau," lapor Selena detail. Livia menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. Senyum dingin tersungging di bibirnya. "Dia mula

  • Tuan, Ibu dari Anakmu Bukan Perempuan Biasa    Bagian 06 : Siapa Anak Itu?

    Clara masuk ke dalam ruangan dengan wajah cemberut, langsung duduk di depan Adrian Nicholas Laurent. Adrian sedang sibuk menatap ponselnya, namun ia bisa merasakan aura negatif dari wanita di depannya."Ada apa? Kenapa wajahmu ditekuk begitu?" tanya Adrian tanpa mengalihkan pandangan."Tadi di luar ada anak kecil nakal sekali! Dia menabrakku, lalu bicara hal yang tidak masuk akal. Benar-benar tidak berpendidikan," keluh Clara sambil menyesap minumannya.Adrian hanya merespons dengan gumaman pendek. Namun, Clara tiba-tiba terdiam, matanya menerawang teringat wajah bocah tadi. "Tapi... kalau dipikir-pikir, anak itu familiar sekali. Wajahnya... dia mirip sekali dengan foto-fotomu saat masih kecil dulu, Adrian. Sangat mirip."Adrian langsung mengangkat wajahnya. Jantungnya berdenyut aneh. "Mirip aku?""Iya, sangat mirip. Aku masih ingat saat dulu kita melihat-lihat album foto lamamu di rumah Ibu...saat kita masih TK kalau gak salah""Kamu bilang TK, berarti sekitar usia empat tahun?" pot

  • Tuan, Ibu dari Anakmu Bukan Perempuan Biasa    Bagian 05 : Rahasia yang Mulai Terlihat

    Sentara masih sama. Kota yang dibangun dari beton dan ambisi, di mana lampu-lampu neon dipaksa terus menyala seolah-olah kegagalan adalah dosa yang tak termaafkan. Dari balik kaca jendela mobil yang gelap, Livia menatap gedung-gedung pencakar langit yang menusuk awan. Baginya, setiap sudut kota ini adalah luka yang dibalut kemewahan."Mama, ini namanya kota apa? Ini kota yang sering Mama ceritakan dulu, ya?" suara cempreng namun tenang milik Ethan memecah lamunan Livia.Livia mengalihkan pandangannya pada bocah laki-laki berusia empat tahun di sampingnya. Ia mengusap rambut Ethan, berusaha menyalurkan ketenangan yang sebenarnya tidak ia miliki. "Betul, Sayang. Ini Sentara.""Ini kota yang banyak orang pentingnya, Ma?" Ethan bertanya lagi, matanya yang besar dan cerdas menatap keluar dengan rasa ingin tahu yang dalam.Livia hanya tersenyum tipis. Orang-orang penting yang sombong, batinnya pahit.Mereka tiba di sebuah restoran eksklusif di jantung kota. Bangunan tiga lantai itu megah,

  • Tuan, Ibu dari Anakmu Bukan Perempuan Biasa    Bagian 04: Lima Tahun yang Mengubah Segalanya

    Seorang anak laki-laki berlarian di atas rumput taman sekolah, dengan sepatu yang sedikit kebesaran. Rambutnya sedikit berantakan karena tertiup angin sore."Mama lihat!"Anak itu berlari ke arah Livia. Sambil memamerkan piala kecilnya."Ethan juara dua, Ma!" Tambahnya.Livia berlutut dan segera memeluknya erat. "Selamat, Sayang. Mama bangga dengan Ethan. Meskipun juara dua, Ethan tetap nomor satu di hati Mama." Tuturnya.Ethan tertawa kecil dan tawa itu membuat perasaan Livia menghangat. Perlahan, Livia menutup pandangannya sejenak.Lima tahun yang lalu, ia hampir kehilangan mutiara indahnya selamanya. Dan, hari ini ia menyadari satu hal bahwa ia tidak menyesal mempertahankan sang buah hati.Ternyata, menjadi orang tua tunggal bagi Ethan tidak seburuk dan semenakutkan itu. Karena, ia mendapat dukungan dari Gabriel dan Naomi, orang tua Livia. Semuanya berjalan dengan sangat baik. Apalagi, bocah itu memiliki kepekaan yang tidak dimiliki oleh anak-anak seusianya. Dia mampu membaca nia

  • Tuan, Ibu dari Anakmu Bukan Perempuan Biasa    Bagian 03: Tanda Tangan Paksa

    "Bersiaplah. Kita akan segera ke klinik."Livia yang belum sempat menjawab ketika pintu kamarnya dibuka kasar oleh Ravina, ibu mertua Livia. Raut wajahnya tenang, tubuhnya dibalut dengan setelan krem yang terlihat mahal."Apa maksudnya, Mama?" tanya Livia pelan."Aku tak menyangka bahwa kau ternyata bodoh sekali. Masalah ini harus diselesaikan sebelum menjadi bahan gunjingan." "Mama pikir anakku aib hingga harus jadi bahan gunjingan?" Suara Livia nyaris tak terdengar. Ravina mengalihkan pandangannya ke perut Livia dengan ekspresi jijik. "Anak itu tidak akan pernah diterima di keluarga ini."“Kamu masih beruntung Adrian tidak menceraikanmu!” tambahnya lagi.Livia lalu mengalihkan pandangannya ke arah Adrian yang mematung tak jauh dari lemari dan tidak membela nya sedikit pun."Sayang, Adrian...." suara Livia terdengar bergetar, hampir pecah tangisnya.Adrian menghela napas dalam, "Lakukan saja. Mama hanya ingin kepastian." "Untuk siapa lagi? Ini benar anak kamu, Adrian." Tanya Livia

  • Tuan, Ibu dari Anakmu Bukan Perempuan Biasa    Bagian 02 : Anak Haram

    Adrian berbalik, melangkah pergi dengan langkah angkuh, meninggalkan Livia yang hancur berkeping-keping di atas lantai dingin. Sepatu pantofelnya berbunyi berirama, menjauh tanpa sedikit pun niat untuk menoleh.Clara, yang sedari tadi diam menonton, tidak langsung mengikuti langkah Adrian. Ia tetap berdiri di sana, mengamati penderitaan Livia dengan binar kepuasan di matanya. Baginya, pemandangan Livia yang menangis meraung adalah mahakarya terindah. Ia melangkah perlahan, mendekati Livia yang masih terisak hebat.Clara membungkuk sedikit, mensejajarkan wajahnya dengan telinga Livia. Ia berbisik dengan nada mengejek yang sangat kental, seperti desis ular yang menyemprotkan bisa. "Kasihan sekali ya, Livia... jangan khawatir, aku sudah menyiapkan alamat klinik yang sangat privat untukmu. Aku akan segera mengirimkannya padamu, agar kamu bisa membuang bayi haram itu secepat mungkin. Lagipula, anak itu bahkan tidak diinginkan oleh ayahnya sendiri. Buat apa dipelihara?"Mendengar janinn

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status